NovelToon NovelToon
Rahasia Perjodohan Anak SMA

Rahasia Perjodohan Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.

Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.

Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10 Terus Bertengkar

Alfian terlihat begitu lincah dalam menyetorkan hafalannya membuat Celia bertanya-tanya dengan terus memperhatikan.

"Good Alfian!" ucap Bu Tati bertepuk tangan.

"Kalian berdua sudah menyelesaikan hafalan dengan baik dan meski Celia kamu masih memiliki sedikit kekurangan dan harus kamu tingkatkan lagi hafalan dalam kesenian.

"Tugas pertama kalian sudah Ibu anggap selesai dan untuk melanjutkan tugas kedua, kalian harus membuat kesenian dengan kreasi kalian berdua, buatlah dalam bentuk apapun itu, harus dikerjakan secara bersamaan," ucap Tati.

"Maksudnya kerja kelompok?" tanya Celia memastikan.

"Benar sekali, Ibu meminta tugas kalian minggu depan dikumpulkan," jawab Bu Tati.

"Baik Bu," sahut Alfian terlihat menurut dan kemudian langsung pergi.

"Heh Alfian tunggu!" panggil Celia.

"Bu saya permisi dulu!" ucap Celia.

"Silahkan Celia," sahut Bu Tati.

"Alfian tunggu," teriak Celia terus mengejar Alfian berjalan dengan santai, sampai langkah itu terhenti ketika Celia berdiri di depannya dengan merenggangkan tangannya.

Alfian mengembuskan napas pelan. Alisnya terangkat sebelah, tatapannya malas-malasan

"Serius? Lo sampai ngejar-ngejar gue?"

"Maksud Lo?" tanya Celia dengan dahi mengkerut.

Alfian mendengus, wajahnya tampak sedikit senyum di ujung bibir, tetapi senyum itu bukan senyum ramah, melainkan senyum penuh percaya diri yang membuat siapa pun ingin membalas ucapannya.

"Lo benar-benar sudah kecintaan sama gue sampai mengejar-ngejar gue," ucap Alfian dengan percaya diri.

Celia mendelik tajam. Wajahnya memerah karena kesal. Ia menyilangkan tangan di dada sebelum mendengus.

"Jangan sok kegantengan, lu! Siapa juga yang ngejar-ngejar lo?"

"Dasar kepedean banget, lu bukan tipe gue!" ucapnya penuh dengan penegasan.

"Lalu ngapain lo menghalangi jalan gue?" tanya Alfian dengan satu alisnya terangkat.

"Heh, merek cat Avian!" ucapnya mengubah nama Alfian dengan merek cat tembok.

"Gue cuma pengen nanya tentang tugas kedua yang diberikan Bu Tati pada kita, bagaimana cara menyelesaikannya?" tanya Celia.

"Kenapa tanya gue?" tanya Alfian.

"Ini tugas bersamaan yang harus dikerjakan dengan kelompok, ya enak aja kalau gue yang harus mengerjakan sendiri," sahut Celia.

"Jadi lo pengen kita berdua mengerjakan bersama-sama?" tanya Alfian lagi-lagi dengan menaikkan sebelah alisnya.

"Alfian lo jangan kepedean, gue juga nggak ingin bekerjasama dengan orang yang paling menyebalkan seperti lo, ini adalah tugas dari Bu Tati yang harus dikerjakan bersama-sama dan gue nggak mau ngerjain sendiri, enak aja lo hanya terima bersih," sahut Celia.

"Tapi gue nggak mau satu kelompok dengan lo," sahut Alfian.

"Ihhhhh, siapa juga yang mau satu kelompok sama lu, lu pemalas dan hanya mau terima enaknya saja!" tegas Celia dengan sewot.

"Heh, jangan sembarangan ngatain orang, tahu dari mana lu gue pemalas, enak aja menjudge," sahut Alfian dengan kesal.

"Ya sudah kalau tidak pemalas lu yang memikirkan ide harus membuat kesenian apa dan lu datang ke rumah gue untuk mengerjakannya!" tegas Celia dengan menaikkan sebelah ujung bibir yang tampak semakin kesal Alfian.

Sebelum darah tingginya semakin naik membuat Celia memilih berlalu dari hadapan Alfian.

"Hah!" Alfian mendengus sampai tidak bisa berkata-kata.

*****

Jam pulang sekolah seperti biasa Alfian pasti nongkrong bersama dengan teman-temannya.

"Kok bisa tugas kamu tidak selesai? bukankah Yogi dan Diego justru meminjam tugas kamu?" tanya Valery.

Alfian terlihat duduk santai dengan satu kakinya ditekuk bersandar pada dinding, dengan vave yang sejak tadi dia hisab dan asapnya menyebar kemana-mana.

"Alfian kamu dengarkan aku apa tidak?" tanya Valery.

"Kenapa harus membahas tugas yang sudah berlalu, gue juga sudah dihukum," jawab Alvian santai tanpa ekspresi.

Diego dan Yogi saling melihat dengan sama-sama membuang nafas perlahan ke depan.

"Hmmmm, artinya kamu bakalan sering bertemu dengan murid kampungan itu bukan?" tanya Kania.

"Kenapa seperti itu?" tanya Valery.

"Aku dengar-dengar kalian mendapatkan tugas kelompok dari Bu Tati untuk membuat kesenian," jawab Kania.

"Sudahlah gue mau cabut!" Alfian tampak tidak mood membahas apapun membuatnya mengambil tasnya dan kemudian langsung pergi.

"Heh Alfian tunggu mau kemana?"

"Guis, kita juga mau cabut dulu," Yogi dan Diego buru-buru mengambil tas mereka dan mengejar Alfian.

"Apa-apaan sih Alfian, kenapa coba semakin hari sikapnya semakin berubah, semakin cuek," ucap Valery.

"Sudahlah biarkan saja, bagaimana kalau kita hari ini shopping saja?" ajak Kania.

"Gue nggak bisa, besok ada ujian bulanan, gue harus belajar, jika nilai gue berantakan Nyokap gue bisa marah," jawab Valery.

"Oke, kalau begitu good luck buat teman gue, gue sih nggak peduli dengan nilai yang penting shopping," sahut Kania.

*****

Celia, Chaca dan Chika terlihat naik motor bertiga dengan Chika yang membawa motor tersebut, meski sudah melanggar peraturan lalu lintas dengan berbonceng tiga, tetapi tiga remaja itu tetap menggunakan helm.

"Lo serius, cat Alvian itu bisa menghafal alat musik beserta dari daerahnya secara lancar?" tanya Chika.

"Gue juga tidak menyangka dia bisa melakukan hal itu, bahkan terlihat enteng tanpa gugup sama sekali seolah-olah dia sedang membaca," jawab Celia.

"Jangan-jangan merek cat Avian itu pintar lagi," tebak Chaca menduga-duga.

"Ahhhh tidak mungkin, anak-anak SMA Bintang punya trik yang cerdas-cerdas, pasti ada trik yang dia lakukan," ucap Chika.

"Mungkin saja," sahut Celia.

"Belok-belok!" keasyikan ngobrol ternyata Chika hampir saja melaju sampai melewati rumah Celia.

"Sorry, sorry," sahut Chika merem secara mendadak membuat kedua temannya itu maju ke depan dan hampir saja mereka sama-sama tersungkur.

"Ihhh, Chika lo gimana sih hampir aja kita dua celaka," sahut Chaca.

"Iya-iya maaf, kan, masih hampir yang penting kalian berdua masih selamat .... buruan turun!" tegas Chika membuat Celia dan Chaca kemudian langsung turun dari motor tersebut yang sudah berhenti tepat di depan rumah Celia.

"Mobil siapa ini?" Chaca tampak kebingungan melihat mobil mewah yang berhenti di depan rumah temannya itu.

"Gue juga nggak tahu ini mobil siapa, kan gue ada di sini sama kalian," jawab Celia.

Celia melihat pintu rumahnya terbuka "kayaknya ada tamu deh, mungkin aja teman Om Darius," jawab Celia.

"Ya sudah mending lo sekarang masuk aja," sahut Chika.

"Kalian berdua nggak jadi mampir?" tanya Celia.

"Kita nggak enak, nanti berisik lagi, lain kali aja kita main ke rumah lo, titip salam aja sama Bunda dan juga Om Darius," jawab Chika.

"Ya sudah kalau begitu kalian hati-hati jangan ngebut-ngebut," ucap Celia.

"Oke sip, bye-bye," jawab Chaca dan Chika dengan keduanya kembali menaiki motor dan melambaikan tangan sebelum meninggalkan kediaman Celia.

"Huhhhh, tumben sekali Om Darius siang-siang begini sudah ada di rumah, padahal banyak banget yang mau di obroli dengan Chika dan juga Chaca," ucapnya tampak kesal dengan menghela nafas.

Celia membuka pagar rumahnya yang sependek tubuhnya dan kemudian melangkah memasuki rumah.

"Assalamualaikum!" sapa Celia.

"Walaikum salam," sahut Bunda.

Celia terlihat begitu kaget melihat tamu yang ada di rumahnya bukanlah teman dari omnya melainkan Alfian.

"Lo kok ada di sini?" tanya Celia tampak shock dengan kebingungan dan sementara ekspresi Alfian tetap tenang.

"Kamu baru pulang Celia? ini sudah jam berapa, Alfian saja sudah pulang sekolah, kamu keluyuran terlebih dahulu?" tanya Bunda.

Celia mengerutkan dahi dan sementara Alfian tampak begitu santai.

Bersambung....

1
Alex
cie...
Japa Yipo
yang kelihatan sempurna blm tentu benar menurut orang yang jalanin🙃 ya memandang sesuatu Jang hanya satu cara saja
Emi Sudiarni
mantap kak
Emi Sudiarni
bgus, kak snang bca klw membuat novel. tentang. sma atau khidupan di kampus
Enz99
bagus
Oma Gavin
ortu egois yg ada valery gila
Herman Lim
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!