Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 — TUJUH TAHUN DALAM KEHENINGAN
Tujuh tahun kemudian.
Desa Bellmare terletak di kaki lembah selatan yang sejuk, dikelilingi oleh perbukitan pinus dan ladang gandum yang menguning setiap kali musim gugur mengetuk pintu. Tempat ini begitu jauh dari gemerlap Istana Valerian di Aveloria—cukup jauh hingga berita tentang perebutan takhta, pernikahan politik para bangsawan, dan intrik dewan kerajaan hanya terdengar sebagai bisik-bisik burung migran yang berlalu begitu saja.
Di tepi desa, berdiri sebuah rumah panggung kecil berdinding kayu cemara dengan atap jerami tebal. Pekarangannya dipenuhi tanaman herbal: daun mint, lavender, dan akar manis yang ditanam rapi dalam petak-petak tanah hitam.
Di bawah naungan teras rumah yang dinaungi pohon apel, Alena Virelle—kini berusia dua puluh empat tahun—sedang memilah dedaunan herbal yang baru dipetiknya.
Tujuh tahun hidup di Bellmare telah mengubah sosok gadis muda juru tulis istana yang serba ragu menjadi seorang wanita yang mandiri, matang, dan berhati-hati. Garis-garis kelembutan di wajahnya masih ada, namun matanya yang berwarna hijau hazel kini memancarkan ketenangan yang didapat dari tempaan kesulitan hidup. Kulitnya sedikit lebih hangat diterpa matahari desa, dan gaun yang dikenakannya hanyalah katun sederhana berwarna hijau zaitun tanpa sulaman benang emas.
"Ibu! Lihat apa yang kutemukan di tepi sungai!"
Suara cempreng bersemangat itu memecah keheningan sore.
Alena mendongak. Senyuman hangat yang hanya diperuntukkan bagi satu orang di dunia ini terbit secara alami di bibirnya.
Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun berlari melintasi jalan setapak berkerikil. Bajunya yang terbuat dari linen kasar penuh noda lumpur kering di bagian lutut, dan rambut cokelat keemasannya yang sedikit bergelombang tampak berantakan diterpa angin sore. Di kedua tangannya yang mungil, anak itu memegang sebuah batu sungai berbentuk bulat sempurna dengan urat-urat kristal putih yang berkilau.
Elian.
"Jangan berlari terlalu cepat, Elian," tegur Alena lembut sembari menyapu keringat yang menempel di dahi putranya saat anak itu melompat naik ke teras kayu. "Kau bisa tersandung batu lagi seperti kemarin."
"Tapi batu ini berbeda, Ibu!" Elian menyodorkan batu itu dengan mata berbinar-binar. Matanya—sebuah perpaduan aneh antara hijau hazel milik Alena dan warna abu-abu yang pekat serta dalam—menatap ibunya penuh kebanggaan. "Paman Marc bilang batu kristal seperti ini bisa memancarkan cahaya jika ditaruh di bawah sinar bulan purnama. Bisakah kita mencobanya malam ini?"
Alena menerima batu itu, berpura-pura mengamati guratan kristalnya dengan takjub. "Wah, indah sekali. Tentu saja kita akan mencobanya malam ini. Tapi sebelum itu, siapa yang berjanji akan mencuci tangannya sebelum makan sore?"
Elian meringis kecil, memperlihatkan deretan gigi susunya yang putih dan rapi. Kebiasaan kecilnya setiap kali menyadari kesalahannya—mengernyitkan hidung sedikit sembari memiringkan kepalanya ke kanan—selalu berhasil membuat jantung Alena berdesir halus.
Itu adalah ekspresi yang sama persis dengan yang sering dilakukan Adrian saat pangeran itu sedang memikirkan masalah taktik militer yang rumit di perpustakaan istana tujuh tahun lalu.
Setiap kali melihat Elian tumbuh, Alena seperti melihat hantu dari masa lalunya yang terus bernapas. Struktur rahang anak itu yang tegas meski masih berlemak bayi, caranya berdiri tegak dengan bahu yang ditarik ke belakang, serta rasa ingin tahunya yang amat besar terhadap segala hal... semuanya adalah cetakan sempurna dari darah keluarga Valerian.
"Aku cuci tangan sekarang!" seru Elian, lalu berlari menuju gentong air di samping rumah.
Alena menatap punggung putranya dengan tatapan yang mendadak berubah redup.
Selama tujuh tahun, ia membesarkan Elian di Bellmare dengan bantuan Mira. Mereka menyambung hidup dengan menjual obat-obatan herbal ramuan Alena dan kain tenun buatan Mira. Kehidupan mereka sederhana, jauh dari kemewahan, tetapi dipenuhi oleh kedamaian yang tak pernah Alena dapatkan selama tinggal di lingkungan kerajaan.
Namun, kedamaian itu tidak sepenuhnya tanpa cela.
Seiring bertambahnya usia Elian, pertanyaan-pertanyaan sulit mulai bermunculan dari bibir mungil anak itu. Elian melihat anak-anak lain di desa memiliki ayah yang mengajari mereka menunggang kuda atau membawa mereka berburu ke hutan.
“Ibu, di mana Ayah?”
“Mengapa Ayah tidak tinggal bersama kita?”
“Apakah Ayah tidak menyukaiku?”
Setiap kali pertanyaan itu datang, Alena terpaksa mengulangi kebohongan yang telah ia susun dengan rapi: bahwa ayahnya adalah seorang pedagang yang telah meninggal dunia dalam perjalanan jauh sebelum Elian lahir. Kebohongan yang terasa seperti belati yang menghujam dadanya sendiri setiap kali diucapkan.
"Dia bertanya lagi tentang ayahnya tadi siang saat kita di pasar," suara Mira terdengar dari arah pintu.
Mira keluar membawa nampan berisi teh herbal hangat dan roti gandum. Penampilannya tak banyak berubah, hanya tatapannya yang kini lebih dewasa dan penuh perlindungan terhadap keluarga kecil yang mereka bangun bersama.
Alena menghela napas panjang, meletakkan batu sungai milik Elian di atas meja kayu. "Apa yang dia tanyakan?"
"Dia bertanya apakah ayahnya tinggi, dan apakah ayahnya pandai menunggang kuda," kata Mira seraya mendudukkan diri di bangku kayu di samping Alena. "Anak itu terlalu cerdas, Alena. Dia mulai sadar bahwa penjelasanmu terlalu singkat. Anak-anak desa mulai mengejeknya karena tidak pernah melihat makam ayahnya."
"Aku tidak punya pilihan, Mira," bisik Alena, suaranya sarat dengan kelelahan yang bertahun-tahun ia simpan sendiri. "Aku lebih baik dibenci olehnya karena berbohong daripada memberi tahu kebenaran yang bisa merenggut nyawanya. Jika ada satu saja orang dari Aveloria yang tahu Elian ada di sini..."
Alena tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ketakutan itu—ketakutan bahwa bayang-bayang Istana Valerian akan menemukan mereka—tidak pernah benar-benar lenyap. Ketakutan itu tersembunyi di balik setiap ketukan pintu dari orang asing, di balik setiap derap langkah kuda yang melintas di jalanan desa.
"Aku tahu," ujar Mira lembut, meremas jemari sahabatnya. "Kau telah melakukan hal yang benar. Kita aman di sini. Kerajaan Aveloria sudah melupakan kita sejak lama."
Namun, seolah takdir sedang mendengarkan kata-kata Mira dan memutuskan untuk menertawakannya, keheningan sore di Desa Bellmare mendadak terpecah.
Suara gemuruh yang asing dan berat terdengar dari arah jalan utama desa. Itu bukan suara gerobak sayur milik warga lokal atau langkah kaki kuda beban. Itu adalah derap langkah belasan kuda perang yang terlatih, bergerak dalam formasi rapat, diiringi suara gemerincing rantai besi dan benturan Zirah baja.
Warga desa di sepanjang jalan mulai berbisik-bisik, menghentikan aktivitas mereka dan menepi dengan raut wajah cemas sekaligus penasaran.
Alena berdiri dari bangkunya secara refleks. Tubuhnya membeku. Naluri yang telah terlelap selama tujuh tahun mendadak menyengat seluruh sarafnya.
Dari balik pepohonan pinus di perbatasan desa, muncul sepasukan prajurit penunggang kuda. Mereka mengenakan jubah beludru biru tua bersulam benang perak—seragam kebesaran Pengawal Kerajaan Aveloria. Di tengah-tengah kelompok itu, sebuah kereta kuda megah dari kayu mahoni hitam dengan ukiran lambang elang emas bergerak dengan anggun namun mengintimidasi.
"Alena..." suara Mira mendadak gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi. "Itu... itu bendera kerajaan."
Darah di tubuh Alena serasa terkuras habis. Tangan dan kakinya menjadi sangat dingin. Perutnya melilit oleh gelombang kecemasan yang luar biasa dahsyat.
Kenapa pengawal kerajaan Aveloria ada di Bellmare? Desa kecil ini tidak memiliki nilai strategis atau pajak yang cukup besar untuk didatangi oleh kereta kebesaran istana.
"Elian!" Alena berteriak tertahan, berlari menghampiri putranya yang sedang berdiri bingung di samping gentong air, menatap pasukan penunggang kuda yang mendekat dengan mata penuh rasa ingin tahu.
Alena mencengkeram bahu Elian, menarik anak itu ke balik tubuhnya, menyembunyikannya rapat-rapat di balik lipatan gaun hijaunya.
"Ibu? Ada apa?" tanya Elian polos, merasakan ketakutan luar biasa yang memancar dari pegangan tangan ibunya. "Siapa mereka? Baju mereka berkilau sekali..."
"Tutup mulutmu, Elian. Jangan keluar dari balik tubuh Ibu," bisik Alena cepat, suaranya bergetar hebat. Ia menatap Mira dengan mata penuh kepanikan. "Mira, bawa Elian masuk lewat pintu belakang. Sekarang!"
"Tapi Alena—"
"Bawa dia masuk!" tegas Alena, hampir menjerit dalam bisikan.
Namun sudah terlambat.
Rombongan prajurit kerajaan itu tidak melintas begitu saja. Kuda-kuda hitam besar milik para pengawal menghentikan langkah mereka tepat di depan pekarangan rumah panggung Alena. Debu tipis membubung ke udara sore.
Dua orang prajurit turun dari kuda mereka, berdiri bersiap di sisi pintu kereta mahoni. Salah satu dari mereka membukakan pintu kayu berukir tersebut.
Sesosok wanita melangkah keluar dari dalam kereta. Ia mengenakan gaun sutra tebal berwarna krem berhias sulaman benang emas yang sangat rumit, dilapisi jubah bulu rubah putih. Penampilannya begitu berkelas, memancarkan keagungan dan wibawa yang tak tertandingi oleh siapa pun di desa ini.
Ratu Eleanor Valerian.
Ibu dari Pangeran Adrian, Ratu Kerajaan Aveloria.
Ratu Eleanor berdiri di atas tanah berbatu Bellmare, mengibaskan jubahnya pelan. Matanya yang bijaksana, yang memendam kecerdasan serta ketajaman intuisi seorang wanita penguasa, menyapu rumah panggung sederhana di hadapannya sebelum akhirnya terkunci tepat pada sosok Alena.
Alena berdiri terpaku di teras rumahnya. Napasnya tercekat di tenggorokan. Tujuh tahun melarikan diri, tujuh tahun bersembunyi di balik nama rakyat biasa, dan kini Sang Ratu sendiri yang berdiri di halaman rumahnya.
Ratu Eleanor melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah Alena, dibiarkan tanpa pengawalan ketat di belakangnya. Matanya menatap Alena tidak dengan kemarahan atau kebencian, melainkan dengan sebuah tatapan rumit yang dipenuhi rasa iba, rasa ingin tahu, dan ketegasan yang tak terelakkan.
Lalu, pandangan Ratu Eleanor bergeser sedikit... menatap ke arah samping tubuh Alena, tempat di mana Elian sedang mengintip takut-takut dari balik gaun ibunya.
Saat mata Sang Ratu mendarat pada wajah anak laki-laki berumur tujuh tahun itu—pada mata abu-abu pekatnya, pada struktur rahangnya, dan pada cara anak itu memiringkan kepalanya—Alena melihat napas Ratu Eleanor terhenti sekilas. Tangan Sang Ratu yang terbalut sarung tangan sutra gemetar tipis sebelum ia mengepalkannya rapat-rapat.
"Sudah terlalu lama, Alena Virelle," kata Ratu Eleanor, suaranya tenang namun bergema dengan kekuatan yang tidak bisa ditolak. "Raja telah memanggilmu. Kau dan anakmu... harus kembali ke Istana Valerian."
Dunia Alena seakan runtuh seketika. Kebohongan tujuh tahun yang dijaganya dengan darah dan air mata, kini hancur di bawah pijakan kaki Sang Ratu.