Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Grace mengangguk penuh semangat. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Ia mengangkat kedua tangannya.
"Dia kan model internasional terkenal. Pastinya punya banyak uang."
Victoria yang beberapa detik lalu terlihat cemas tiba-tiba tersenyum. Ia menepuk pahanya.
"Benar juga. Kenapa Mommy tidak kepikiran?"
Dominic memejamkan mata sebentar. Ia sudah tahu pembicaraan ini akan mengarah ke mana.
Victoria langsung menatap putranya. "Dominic."
"Apa?" balas sang anak dengan nada lesu.
"Jumat malam ajak Giselle makan malam di sini." Mata Victoria berkilat dan senyum lebar.
Dominic menghela napas. "Mom."
"Kenapa?" tanya Victoria sinis.
"Aku tidak bisa menjamin dia mau datang," jawab Dominic pelan.
Senyum di wajah Victoria, hilang perlahan. "Kamu kekasihnya."
Victoria mengucapkan kalimat itu begitu saja. Dominic langsung menoleh tajam.
"Mom, pelankan suara."
Victoria baru menyadari Billy masih berada di ruangan. Ia segera merendahkan suaranya.
"Pokoknya ajak dia."
Grace ikut tersenyum. "Kalau dia memang sayang sama Kakak, pasti mau membantu."
Dominic tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai. Dia merasa selama ini dianggap sebagai tempat pelarian mulai berubah menjadi beban.
Giselle membutuhkan uang. Keluarganya membutuhkan uang. Tapi Vivienne justru tidak lagi memberikan uang.
Hari-hari berikutnya membuat Dominic semakin gelisah. Ada sesuatu yang berubah di perusahaan. Awalnya hanya terasa seperti gangguan kecil. Namun, semakin hari, perubahan itu semakin jelas.
Pagi itu, Dominic masuk ke ruang rapat dengan sebuah proposal di tangan. Wajahnya terlihat serius. Ia berjalan ke ujung meja, lalu meletakkan berkas tersebut di hadapan para direksi.
“Proyek ini harus segera disetujui,” ujar Dominic tegas sambil mendorong proposal itu ke tengah meja.
Ryan, yang merupakan salah seorang direktur mengambil berkas tersebut. Ia membuka beberapa halaman, kemudian membaca isinya dengan saksama sebelum akhirnya mengangkat wajah.
“Maaf, Tuan Dominic,” kata Ryan dengan hati-hati.
Dominic langsung menatapnya. “Apa?” tanya Dominic dengan nada tidak sabar.
“Proposal ini masih harus melalui bagian keuangan terlebih dahulu,” jawab Ryan sambil menutup dokumen tersebut.
Alis Dominic langsung berkerut.
“Kenapa?” tanya Dominic sambil menyandarkan kedua tangannya di atas meja.
“Nilai proyek ini cukup besar, Tuan,” jawab Ryan. “Jadi, harus melalui pemeriksaan anggaran sebelum mendapatkan persetujuan.”
Dominic mengetuk meja dengan ujung jarinya.
“Dulu aku bisa menyetujuinya langsung,” ujar Dominic dengan suara lebih tegas.
Ryan menundukkan kepala. “Aturannya sudah berubah, Tuan Dominic,” jawabnya tenang.
Tatapan Dominic langsung menajam. “Siapa yang mengubahnya?” tanya Dominic.
“Manajemen, Tuan,” jawab Ryan tersebut.
“Siapa yang memberikan perintah?” desak Dominic sambil menatapnya tanpa berkedip.
Pria itu terdiam beberapa detik. Ia terlihat ragu sebelum akhirnya menjawab. “Direksi,” ujar pria itu pelan.
Dominic menyandarkan tubuhnya ke kursi. Rahangnya mengeras..“Sejak kapan?” tanya Dominic lagi.
“Beberapa hari lalu, Tuan,” jawab Ryan..
Dominic mengangkat alis. “Kenapa aku tidak diberi tahu?” tanya Dominic dengan suara dingin.
Tidak ada satu pun orang yang langsung menjawab. Beberapa direksi hanya saling bertukar pandang. Sebagian lainnya pura-pura kembali membaca dokumen di hadapan mereka. Keheningan itu justru membuat dada Dominic semakin sesak. Akhirnya, rapat kembali dilanjutkan. Namun, sejak saat itu, Dominic tidak mampu lagi berkonsentrasi. Matanya masih menatap dokumen di atas meja, tetapi pikirannya sudah melayang ke mana-mana.
Ada sesuatu yang salah. Ia bisa merasakannya. Hanya saja, Dominic belum tahu dari mana perubahan itu berasal.
Sore harinya, Dominic kembali ke rumah. Begitu memasuki kamar, ia menemukan Vivienne sedang duduk di dekat jendela.
Wanita itu mengenakan pakaian rumah sederhana. Rambutnya tergerai di bahu. Satu tangannya memegang buku tentang kehamilan, sementara tangan lainnya mengusap perutnya yang mulai membesar dengan gerakan lembut.
Vivienne menoleh ketika mendengar langkah kaki.
“Kamu sudah pulang?” sapa Vivienne sambil tersenyum.
Dominic mengangguk pelan.
“Iya,” jawab Dominic singkat. Ia meletakkan tas kerjanya di atas sofa.
Vivienne memperhatikan wajah suaminya beberapa saat. “Kamu terlihat lelah,” ujar Vivienne sambil menutup bukunya perlahan.
Dominic mengembuskan napas. “Sedikit,” jawabnya sambil melonggarkan dasi.
Vivienne kemudian menepuk tempat kosong di sampingnya. “Duduklah,” ajak Vivienne dengan suara lembut.
Dominic menurut. Ia duduk di samping istrinya, tetapi tidak langsung berbicara.
Untuk beberapa saat, Dominic hanya memperhatikan Vivienne. Wajah wanita itu terlihat tenang. Tidak ada kegelisahan. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu.
Justru ketenangan itulah yang membuat Dominic semakin curiga.
“Vivi,” panggil Dominic akhirnya.
Vivienne menoleh.
“Hm?” jawab Vivienne sambil kembali mengusap perutnya.
Dominic menatapnya cukup lama sebelum akhirnya bertanya dengan suara rendah. “Kamu akhir-akhir ini menyembunyikan sesuatu dariku?”
Gerakan tangan Vivienne berhenti sesaat. Setelah itu, ia kembali tersenyum seolah pertanyaan tersebut sama sekali tidak mengganggunya.
“Tidak,” jawab Vivienne tenang. Ia menutup buku kehamilan yang masih berada di pangkuannya.
“Memangnya kenapa?” lanjut Vivienne sambil memiringkan kepala.
Dominic mengamati wajahnya.
“Aku hanya merasa ada sesuatu yang berubah,” ujar Dominic pelan.
Vivienne mengerutkan kening. “Berubah bagaimana?” tanyanya.
Dominic terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa keluarganya mulai kekurangan uang. Ia juga tidak bisa mengatakan bahwa kewenangannya di perusahaan mulai dibatasi. Terlebih lagi, ia tidak mungkin mengakui bahwa pertemuannya dengan Giselle mulai menimbulkan masalah.
Akhirnya, Dominic menggeleng pelan. “Entahlah.”
Vivienne tersenyum lembut.
“Kamu jangan terlalu banyak berpikir,” ujar Vivienne sambil mengangkat tangannya. Jemarinya menyentuh pipi Dominic dengan lembut.
“Nanti stres,” lanjut Vivienne sambil tersenyum.
Dominic menatap mata istrinya. Senyum itu begitu tulus, lembut, dan familiar. Untuk sesaat, kecurigaannya menghilang.
“Baiklah,” jawab Dominic pelan.
“Nah,” ujar Vivienne ringan dan tersenyum puas. Ia mengambil kembali buku kehamilannya.
“Kamu mandi dulu. Setelah itu kita makan,” ujar Vivienne sambil membuka halaman buku tersebut.
“Baik,” jawab Dominic sambil berdiri.
Pria itu berjalan menuju pintu. Namun, sebelum keluar kamar, Dominic menoleh sekali lagi.
Vivienne masih duduk di tempat yang sama. Senyumnya masih menghiasi wajah. Dominic akhirnya keluar dan menutup pintu.
Begitu pintu kamar tertutup rapat, senyum di wajah Vivienne perlahan menghilang. Tatapannya berubah dingin. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Layar ponsel menyala. Satu pesan dari Estelle sudah menunggu.
Estelle: [Dia mulai curiga?]
Sudut bibir Vivienne terangkat. Ia mengetik balasan singkat.
Vivienne: [Sedikit.]
Tidak lama kemudian, ponselnya berdering. Nama Estelle muncul di layar. Vivienne segera mengangkat panggilan tersebut.
“Ada apa?” tanya Vivienne pelan.
Dari seberang terdengar suara tawa kecil. “Aku suka wajahmu tadi,” ujar Estelle sambil terkekeh.
Vivienne mengernyitkan kening. “Wajahku kenapa?”
“Kamu terlihat seperti istri paling polos di dunia,” balas Estelle sambil menahan tawa.
Vivienne menutup mulutnya agar tidak tertawa terlalu keras.
“Memang aku polos,” jawab Vivienne dengan nada pura-pura tersinggung.
“Pembohong,” balas Estelle cepat sambil tertawa.
Vivienne akhirnya ikut terkekeh.
“Aku suka wajahmu ketika pura-pura bodoh,” ujar Estelle dengan nada geli.
Vivienne menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Aku belajar dari suamiku,” jawab Vivienne santai.
Estelle langsung tertawa keras.
“Ya Tuhan, Vivi!” seru Estelle di seberang telepon.
Vivienne ikut tertawa. Namun, setelah tawanya mereda, wajahnya kembali tenang.
“Dia mulai merasa kehilangan kendali,” ujar Vivienne pelan.
“Bagus,” jawab Estelle tanpa ragu.
“Jangan terlalu cepat,” ujar Vivienne sambil mengusap perutnya.
Estelle terdiam sejenak.
“Kamu mau membuatnya semakin panik?” tanya Estelle.
Vivienne tersenyum tipis. “Belum,” jawabnya.
Ia menatap pintu kamar yang baru saja dilewati Dominic. “Aku ingin dia terus berpikir bahwa semua ini hanya kebetulan,” ujar Vivienne tenang.
Estelle terkekeh kecil. “Kamu benar-benar jahat,” kata Estelle.
Vivienne mengangkat sebelah alis.
“Bukan jahat,” bantah Vivienne.
“Terus?” tanya Estelle penasaran.
Tatapan Vivienne beralih ke gelang berlian yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Aku hanya sedang memberinya kesempatan untuk menikmati hari-hari terakhirnya sebagai orang yang merasa masih berkuasa,” jawab Vivienne dengan suara dingin.
Estelle terdiam sesaat. Kemudian terdengar tawa kecil dari seberang telepon.
“Kalau begitu, aku akan menunggu bab berikutnya,” ujar Estelle.
Vivienne tersenyum. “Jangan khawatir,” jawab Vivienne sambil menatap pantulan dirinya di kaca jendela.
Vivienne kemudian memutuskan panggilan. Tatapannya beralih ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu.
Sementara itu, di dalam rumah yang sama, Dominic masih mengira istrinya tidak mengetahui apa pun. Ia tidak tahu bahwa setiap langkahnya sudah mulai diperhatikan. Ia tidak tahu bahwa orang-orang yang dahulu selalu patuh kepadanya kini perlahan menerima arahan dari pihak lain.
Dominic sama sekali tidak tahu bahwa ketakutan terbesar keluarganya mulai mendekat. Bukan karena krisis ekonomi. Bukan pula karena perusahaan tiba-tiba bangkrut. Melainkan karena sumber kehidupan yang selama ini selalu menyelamatkan mereka sudah tidak lagi bersedia mengulurkan tangan.
Dan kali ini, Vivienne tidak akan datang untuk menyelamatkan mereka.
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
dasar keluarga parasit 😡😡😡
dasar lintah darat 😡😡