Yang baca Author do'akan semoga kalian lancar rezekinya😍😍 up dijam yang sama
Dari Selir yang Diabaikan menjadi Permaisuri
👑 Kaisar Tang Xuanze (唐玄泽)
👸 Permaisuri Mu Qingran (慕清然)
🌸 Gelar: Permaisuri Xianhe (贤和皇后)
🏯 Istana: Istana Ziyun
📜 Era Pemerintahan: Zhengzhou (正州)
Mu Qingran hanyalah seorang selir yang hidup dalam bayang-bayang istana. Diabaikan Kaisar Tang Xuanze, dihina para selir, dan dijadikan pion dalam perebutan kekuasaan, ia memilih bertahan dengan kecerdasan dan kesabarannya. Saat berbagai intrik mengancam takhta, Qingran membuktikan kesetiaan serta keberaniannya hingga perlahan merebut kepercayaan sang kaisar. Namun, jalan menuju singgasana permaisuri dipenuhi pengkhianatan, fitnah, dan pengorbanan. Mampukah seorang wanita yang pernah dianggap tak berharga mengubah nasibnya menjadi Permaisuri Xianhe yang dihormati seluruh negeri? Ataukah ambisi istana akan menghancurkan cinta dan harapan yang akhirnya ia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga di Sudut Istana Dingin
Udara pagi di Istana Ziyun terasa menusuk tulang, membawa serta embun beku yang menempel di kelopak-kelopak bunga Prem yang layu. Di tempat paling terpencil di kompleks harem kekaisaran inilah Mu Qingran menghabiskan hari-harinya. Jauh dari kemegahan aula utama, jauh dari wangi dupa mahal, dan yang paling utama: jauh dari pandangan sang Putra Langit, Kaisar Tang Xuanze.
Bagi para kasim dan pelayan istana, Qingran bukanlah siapa-siapa. Ia hanyalah seorang selir tingkat rendah—pion tak berharga yang dikirim oleh keluarganya sendiri sebagai tumbal politik yang gagal. Di dunia persilatan istana yang kejam ini, di mana darah dan intrik mengalir di balik jubah sutra mewah, ia hidup bagaikan sehelai daun kering yang terabaikan angin.
Di dalam kamarnya yang sederhana, Qingran bersila di atas dipan kayu yang dingin. Di hadapannya, sebuah papan cuxi terbentang rapi. Jemarinya yang lentik memegang bidak hitam, melangkah perlahan tanpa suara. Lawannya bukanlah manusia, melainkan pikirannya sendiri. Ia tengah menghitung langkah, membaca arah angin, dan menelaah setiap kemungkinan terburuk.
“Selir Mu, Anda masih sempat bermain catur di saat genting seperti ini?”
Suara itu milik Chun'er, pelayan setianya yang baru saja kembali dari dapur istana dengan napas memburu dan wajah pucat pasi. Chun'er membanting nampan kayu berisi mangkuk bubur encer yang nyaris tak layak makan.
Qingran bahkan tidak mendongak. Matanya tetap fokus pada papan catur, sementara suaranya meluncur tenang bagaikan air telaga yang membeku, "Ada apa di dapur kekaisaran lagi, Chun'er? Apakah jatah makanan kita dipangkas setengahnya lagi, atau para pelayan Istana Ruyi baru saja melemparkan sisa tulang ikan ke depan pintu kita?"
Chun'er menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir tumpah. "Bukan itu, Nyonya! Selir Mei baru saja mengadakan jamuan minum teh di Taman Jinfeng. Semua selir diundang untuk memamerkan hadiah giok putih yang baru dikirim oleh Kaisar. Dan... dan mereka sengaja mengolok-olok Anda di depan para selir tingkat tinggi."
Mendengar itu, gerakan tangan Qingran berhenti sejenak. Sebuah senyuman tipis, dingin dan setajam bilah pedang tersembunyi, terukir di sudut bibirnya.
Bukannya marah, tersinggung, atau berlari menangis seperti selir-selir naif pada umumnya, Qingran justru meletakkan bidak hitamnya dengan mantap. Suara kayu beradu dengan papan cuxi terdengar begitu Nyaring di dalam ruangan yang sunyi. Ia mendongak, menatap bayangan dirinya di cermin perunggu yang kusam.
Bagi orang-orang bodoh, diabaikan Kaisar adalah bentuk kehancuran mutlak. Tapi bagi Mu Qingran? Diabaikan adalah perisai pelindung terbaik. Di istana yang dipenuhi racun ambisi dan niat membunuh terselubung, berdiri di panggung utama berarti menjadi target pertama panah musuh. Menjadi sosok yang "tak terlihat" memberinya kebebasan penuh untuk mengamati, merancang strategi, dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang balik.
"Biarkan mereka tertawa dan pamer, Chun'er," ucap Qingran, suaranya lembut namun berbobot, mengandung ketenangan batin tingkat tinggi yang membuat pelayannya tertegun. "Pohon yang tumbuh paling tinggi adalah yang paling dulu diterpa badai. Selir Mei merasa dirinya sedang berada di puncak dunia... padahal ia sedang menggali kuburnya sendiri dengan tangannya sendiri."
Chun'er terpaku. Ada kilat tajam yang memancar dari dalam mata jernih sang selir—sebuah tatapan penuh kebijaksanaan dan keteguhan jiwa yang sama sekali tidak mencerminkan wanita lemah. Aura yang mengalir dari tubuh Qingran begitu tenang, bagaikan seorang pendekar sakti yang menyimpan seluruh tenaga dalamnya di balik ketenangan permukaan.
Sebelum Chun'er sempat berkata-kata lagi, suara derap langkah kaki berat dan teriakan nyaring memecah keheningan pagi di luar halaman Istana Ziyun.
"Keputusan Kaisar telah tiba!"
Suara kasim agung menggema tajam, memecah ketenangan istana dingin itu. Jantung Chun'er langsung berdegup kencang karena dilanda kepanikan luar biasa. Namun, Mu Qingran perlahan bangkit berdiri. Ia merapikan jubah polosnya yang berwarna biru pudar tanpa terburu-buru. Tidak ada rasa takut, tidak ada tangan yang gemetar.
Permainan catur yang sesungguhnya baru saja dimulai, batin Qingran, menyambut takdir yang datang mendekat.
Kriet...
Pintu kayu tua Istana Ziyun terbuka lebar, membiarkan angin dingin bulan musim gugur menerpa masuk. Seorang kasim senior berwajah licin tanpa janggut melangkah masuk dengan angkuh. Di belakangnya, dua baris prajurit kekaisaran berpakaian zirah perak berdiri tegak, memegang tombak dengan ujung yang berkilau di bawah sinar matahari pagi.
Itu adalah Kasim Pei, orang kepercayaan dekat Kasim Agung yang dikenal sebagai anjing pemburu Istana Ruyi—tempat bermarkasnya Selir Mei.
Chun'er segera berlutut di lantai batu yang dingin, tubuhnya gemetar ketakutan. Di dunia istana, kehadiran pasukan pengawal kekaisaran tanpa undangan resmi bukanlah pertanda berkah, melainkan sinyal maut.
Namun, Mu Qingran tetap berdiri tegak. Ia tidak berlutut, tidak pula membungkuk. Kedua tangannya disilangkan di depan dada dengan postur yang anggun namun penuh wibawa. Tatapannya menatap lurus kepada Kasim Pei, seolah-olah pria paruh baya itu bukanlah siapa-siapa selain angin lalu.
Kasim Pei menyipitkan matanya, merasa terhina dengan sikap tenang sang selir. Ia mendengus dingin, lalu membentangkan gulungan titah kekaisaran bertepi emas.
"Dengarkan titah suci!" suara Kasim Pei melengking tinggi, memecah keheningan. "Selir Mu Qingran dari Istana Ziyun! Karena kelalaianmu dalam menjaga tugas istana dan sikapmu yang tidak tahu aturan, Kaisar memerintahkanmu untuk menghadap ke Paviliun Chaoyang sekarang juga! Jangan berani membuat Kaisar menunggu!"
Chun'er yang bersujud di bawah hampir menjerit ngeri. Paviliun Chaoyang adalah tempat para selir diadili jika melakukan kesalahan besar. Ini adalah jebakan telak! Selir Mei pasti telah memutarbalikkan fakta dan melemparkan fitnah keji untuk menghancurkan nyonya mudanya.
Tetapi, apa reaksi Mu Qingran?
Bukannya panik atau memohon ampun, sudut bibir Qingran justru terangkat membentuk sebuah senyuman tipis yang misterius. Dalam benaknya, roda taktik telah berputar ribuan kali. Fitnah murahan seperti ini terlalu mudah ditebak.
"Kasim Pei," suara Qingran meluncur tenang, memotong napas sang kasim yang hendak melanjutkan ancamannya. "Udara di Istana Ziyun sangat dingin, dan tubuhku tidak dalam kondisi terbaik. Namun, jika Putra Langit sendiri yang memanggilku, sebagai seorang selir yang tahu adat, tentu aku akan mematuhi titah tersebut."
Qingran melangkah maju perlahan. Setiap langkahnya diringi ketenangan mutlak, memancarkan aura seorang ratu sejati meskipun ia hanya mengenakan jubah kain pudar.
Saat melewati Kasim Pei, Qingran berbisik pelan tepat di telinga sang kasim, suaranya begitu rendah namun sarat akan kekuatan tenaga dalam yang membuat bulu kuduk pria itu merinding seketika, "Sampaikan pada yang mengirimmu... seekor harimau yang tidur di dalam gua tidak pernah takut pada sekumpulan anjing yang menggonggong di luar."
Kasim Pei menelan ludah kasar, punggungnya mendadak basah oleh keringat dingin, kakinya sempat sedikit mundur karena tekanan dari Mu Qingran. Ada tekanan tak kasat mata yang menghimpit dadanya, seolah-olah ia sedang berdiri di hadapan seorang pendekar agung, bukan seorang selir yang diabaikan.
"Mari kita pergi, Chun'er," titah Qingran tenang.
Di bawah langit Zhengzhou yang membentang luas, langkah kaki Mu Qingran bergema mantap. Menuju ke sarang singa, tempat badai intrik istana yang sebenarnya telah menunggunya.