NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 9

***

Gerimis tipis yang semula merayap malu-malu di atas genting joglo mendadak berubah menjadi badai susulan yang beringas. Langit pegunungan seolah terbelah, menumpahkan gemuruh air yang memekakkan telinga. Angin kencang menghantam jendela-jendela jati hingga berderit keras, menciptakan suasana mencekam yang begitu pekat.

Di dalam kamar utama, lampu teplok minyak bergoyang gelisah, melemparkan bayangan yang menari liar di langit-langit kamar yang tinggi. Di atas ranjang jati yang luas, setelah tirai kelambu diturunkan dan guling pembatas disingkirkan, kehangatan selimut jarik motif sidomukti ternyata belum mampu mengusir ketakutan yang mendalam dari benak Larasati.

DAR-JLEGGGG!

Suara petir yang menggelegar dahsyat memekik di atas atap joglo, disusul kilatan cahaya putih yang menyelinap dari celah ventilasi. Tubuh mungil Larasati tersentak hebat. Ia merapatkan kedua lututnya ke dada, meringkuk sekecil mungkin di sisi ranjang. Kedua tangannya menutup telinga rapat-rapat. Sejak kecil, kilat dan gundala selalu menjadi momok yang menakutkan baginya, mengingatkannya pada malam-malam mencekam di gubuk sawah saat badai melanda desa.

Isakan lirih yang gemetar mulai lolos dari sela bibirnya yang terkatup rapat. Air mata dingin merembes, membasahi bantal kapuk di bawah kepalanya. Tubuhnya menggigil, bukan lagi karena dinginnya hawa perbukitan, melainkan karena rasa tak berdaya yang mengepung jiwanya.

Di sampingnya, dekapan hangat yang semula longgar mendadak mengencang. Raden Mas Baskoro terbangun. Pendengarannya yang tajam menangkap getaran tubuh dan isak tangis yang tertahan dari istri kecilnya. Pria empat pukul tahun itu membuka mata, menatap siluet Larasati yang gemetar dalam temaram kelambu.

Tanpa banyak bicara, Baskoro menggeser tubuhnya mendekat. Lengan kanannya yang kokoh terulur, menyusup ke bawah leher Larasati, sementara tangan kirinya yang besar merengkuh pinggang gadis itu, menariknya tanpa jarak ke dalam dada bidangnya.

"Laras... Larasati," bisik Baskoro. Suaranya rendah, bariton, dan bergetar oleh rasa cemas yang dalam. "Lihat aku, Nduk. Aku di sini."

DAR-JLEGGGG!

Petir kembali menyambar, lebih keras dari sebelumnya. Larasati terpekik kecil, refleks membenamkan wajahnya ke ceruk leher Baskoro. Kedua tangan kecilnya mencengkeram erat katun kemeja putih suaminya, meremas kain itu hingga buku-buku jarinya memutih.

"R-Raden Mas... kulo ajrih... kulo takut..." bisik Larasati di sela tangisnya. Tubuhnya masih bergetar hebat di dalam dekapan yang kokoh itu.

Baskoro mempererat pelukannya. Telapak tangannya yang kasar merayap ke punggung Larasati, mengusapnya dengan gerakan turun-naik yang lambat dan penuh takzim—sebuah usaha keras untuk menenangkan gejolak ketakutan istri kecilnya. Aroma minyak kayu cendana yang menguar dari tubuh Baskoro perlahan mengepung indra penciuman Larasati, memberikan rasa aman yang asing namun begitu ia butuhkan.

"Jangan takut. Ada aku, Laras. Dinding jati rumah ini kuat, petir itu tidak akan bisa menyentuhmu," bisik Baskoro tepat di atas ubun-ubun rambut Larasati yang harum minyak cem-ceman. "Tenanglah, Nduk. Tarik napasmu dalam-dalam."

Larasati mencoba menghirup udara, dadanya naik-turun bersandar pada dada Baskoro. Perlahan, detak jantung Baskoro yang konstan dan tenang di bawah telinganya bertindak bagai penawar mistis. Getaran di tubuh Larasati mulai mereda, namun ia sama sekali tidak berniat melepaskan pelukan itu. Untuk pertama kalinya, ia menemukan sebuah benteng yang teramat kokoh yang siap melindunginya dari badai apa pun di dunia luar.

Baskoro menundukkan wajahnya sedikit, menatap wajah Larasati yang berada sangat dekat. Sinar lampu teplok yang temaram menyoroti mata gadis itu yang sembab dan basah oleh sisa air mata.

"Apakah sudah lebih tenang?" tanya Baskoro lembut, jempol tangannya bergerak perlahan menyeka sisa air mata di pipi Larasati.

Larasati mendongak sedikit, menatap manik mata suaminya. Di dalam keheningan kamar yang terkunci, sorot mata Baskoro tidak lagi menampilkan kekakuan seorang juragan tanah yang angkuh. Yang tersisa hanyalah tatapan seorang pria dewasa yang dipenuhi rasa takzim dan kelegaan.

"Inggih, Raden Mas... matur nuwun," bisik Larasati. Suaranya parau, membawa kepolosan remaja tujuh belas tahun yang kini pasrah seutuhnya pada takdir yang berjalan.

Keheningan baru yang teramat intens mendadak tercipta di antara mereka, mengalahkan gemuruh badai di luar dinding. Jarak usia dua puluh tiga tahun di antara mereka seolah melebur di dalam ruang sempit di balik kelambu sutra. Baskoro menatap bibir Larasati yang sedikit terbuka, sementara napas hangat gadis itu berembus teratur menerpa dagunya.

"Larasati..." suara Baskoro memberat, ada nada tertahan yang bergejolak di dalam dadanya. "Janji yang kuucapkan di depan wedang jahe tadi... aku masih memegangnya. Jika kamu belum siap untuk malam ini, aku tidak akan—"

"Mboten, Raden Mas," potong Larasati lirih, menatap lurus ke dalam mata suaminya dengan kerelaan yang murni dari lubuk hatinya. "Kulo sudah berjanji untuk menyerahkan hidup kulo kepada Anda. Kulo... kulo siap menjadi istri Anda yang sesungguhnya malam ini."

Mendengar kalimat itu, ketahanan batin Baskoro runtuh. Pria paruh baya itu menarik napas dalam-dalam. Dengan gerakan yang diusahakannya selembut mungkin, ia merengkuh wajah Larasati dengan kedua telapak tangannya yang besar, lalu menunduk untuk menyatukan bibir mereka.

Sentuhan pertama itu terasa canggung dan penuh kehati-hatian. Bibir Baskoro yang hangat menyapu bibir Larasati yang lembut dengan ritme yang lambat, seolah takut melukai kelopak mawar yang rapuh. Larasati memejamkan matanya rapat-rapat, jantungnya kembali bertalu keras, namun kali ini bukan karena takut pada petir, melainkan karena getaran aneh yang menjalar ke seluruh aliran darahnya.

Perlahan, Baskoro mulai melepas satu per satu kancing kemeja putihnya, membiarkan dadanya yang bidang bersentuhan langsung dengan kebaya lurik Larasati. Tangan besarnya bergerak ke arah tali simpul kain jarik yang melilit pinggang istrinya. Ketika kain penutup itu terurai perlahan di atas kasur kapuk, Larasati merasakan desiran hawa dingin yang seketika digantikan oleh kehangatan tubuh suaminya yang merapat tanpa sekat.

Kecanggungan dan ketakutan kembali menyelinap di benak Larasati saat raga mereka benar-benar menyatu dalam keheningan malam. Ia memegang erat bahu kekar Baskoro ketika pria itu mulai memposisikan diri di atas tubuh mungilnya.

"Raden Mas... kulo... kulo ajrih..." bisik Larasati dengan napas yang mulai tersengal, matanya menatap langit-langit kelambu dengan guratan cemas.

Baskoro berhenti sejenak, mengecup kening istrinya dengan lama dan takzim, mencoba menyalurkan ketenangan. "Percayakan dirimu padaku, Nduk. Aku akan perlahan," bisik Baskoro parau, suaranya sudah dipenuhi oleh kabut asmara yang pekat.

Ketika penyatuan yang sesungguhnya itu dimulai, Larasati refleks menggigit bibir bawahnya erat-erat. Sebuah sensasi panas yang asing, tajam, dan perih seketika menghantam bagian terdalam rahim belianya. Rasa sakit yang nyata itu membuatnya mengejang, kuku-kuku jarinya tertanam dalam di kulit punggung Baskoro, melukai pria itu sebagai pelampiasan rasa perih yang tak tertahankan untuk pertama kalinya.

"Ahhh... hhh... Raden Mas... s-sakit..." sebuah desahan perih yang sarat akan air komata lolos dari sela bibir Larasati. Wajahnya yang cantik merona merah padam, menahan benturan rasa sakit yang membelah keperawanannya di usia tujuh belas tahun.

Baskoro menahan napasnya, rahangnya mengeras menahan diri agar tidak bergerak terlalu terburu-buru. "Nggghhh..." Baskoro menggeram rendah menahan perih di punggungnya sekaligus gejolak nikmat yang mulai menuntut. Ia membiarkan luka akibat cengkeraman Larasati menjadi saksi pengorbanan istri kecilnya. Dengan penuh ketelatenan, ia terus mengecup kelopak mata, pipi, dan bibir Larasati, membisikkan kata-kata penenang di antara napas mereka yang saling berburu.

"Sabar, Nduk... ahh... sabar, Sayang... ini hanya sebentar," bisik Baskoro dengan suara yang kian berat, diselingi desah napasnya yang memburu panas.

Perlahan namun pasti, seiring berjalannya waktu di dalam kamar yang temaram, rasa perih dan sakit yang menyiksa itu mulai berganti wujud. Gerakan Baskoro yang konsisten, penuh wibawa namun sarat akan kelembutan tersembunyi, mulai menuntun jiwa polos Larasati ke dalam dimensi yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Sensasi panas yang semula menyakitkan kini menjelma menjadi gelombang kenikmatan yang aneh, menjalar dari ujung kaki hingga ubun-ubun kepalanya.

Desahan Larasati yang semula dipenuhi rintihan perih perlahan berubah nada, berpadu dengan suara gerimis di luar dan derak halus ranjang jati kuno.

"Nggghhh... ahh... Raden Mas... Mas Baskoro... hhh..." Larasati mendesah lirih, memanggil nama suaminya untuk pertama kali tanpa sebutan gelar kaku, sebuah tanda bahwa benteng pertahanannya telah roboh seutuhnya demi pria di atasnya.

Baskoro yang mendengar namanya dipanggil tanpa sekat feodal merasakan kepuasan batin yang luar biasa. "Ohhh... Laras...ahhh..." Baskoro mendesah berat, suaranya parau dipenuhi gairah. Ia mempercepat ritme gerakannya, membawa tubuh mereka berdua ke puncak penyatuan asmara yang paling intens. Peluh mulai bercucuran dari dahi mereka, berbaur menjadi satu di atas seprai yang berantakan.

"Hhh... Mas... ahhh..." Larasati mengerang, tangannya meremas bahu Baskoro kian erat saat rasa nikmat yang membuncah tak lagi mampu ia bendung.

Hhingga akhirnya, sebuah dorongan pamungkas yang sarat akan pelepasan emosi dan gairah yang abadi membawa mereka pada titik akhir.

"Nggghhhhhh... Larasati!" Baskoro mengerang rendah dan panjang, membenamkan wajahnya di rambut panjang Larasati saat seluruh kehangatan dirinya tumpah sepenuhnya di dalam rahim suci istri kecilnya.

Larasati sendiri hanya mampu mengeluarkan desahan panjang yang lemas, "Ahhhh..." sebelum akhirnya terkulai pasrah. Napasnya tersengal-sengal panjang dengan dada yang kembang kempis, merasakan kehangatan yang menjalar di dalam dirinya, membawa rasa lelah yang teramat sangat namun dipenuhi oleh kedamaian yang murni.

Beberapa saat setelah badai asmara itu mereda, keheningan kembali menguasai kamar utama. Di luar, gerimis mulai mereda menjadi tetesan air yang lambat dari ujung genting. Lampu teplok minyak bergoyang kecil, menerangi dua raga yang kini berbaring berdampingan tanpa ada sekat guling lagi di antara mereka.

Baskoro menarik kembali kain jarik tebal sidomukti, menyelimuti tubuh Larasati hingga sebatas dada. Ia lalu berbaring miring, menarik kepala Larasati agar kembali bersandar di dada bidangnya yang masih basah oleh peluh. Tangannya yang besar memeluk pinggang Larasati dengan erat, seolah-olah mengumumkan pada dinding-dinding jati bahwa gadis di dalam dekapannya kini telah resmi menjadi miliknya seutuhnya.

Larasati memejamkan matanya, merasakan kecupan lembut dan tulus yang mendarat di keningnya. Rasa sakit dan perih di tubuh belianya masih tersisa samar, namun kepuasan dan rasa aman yang ia temukan di dalam dekapan suaminya malam itu telah menghapus semua luka masa lalu. Di usia tiga belas tahun menuju kedewasaannya yang dipaksa, kini di usia tujuh belas tahun, di bawah atap joglo yang kaku, ia telah melepaskan masa remajanya demi sebuah pengabdian yang kini mulai ia sebut sebagai awal dari rasa cinta.

Bersambung

1
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
falea sezi
biar keguguran aja lah😒 biar gendeng😒 ini aki2 cemburuan amat
partini
judul nya di ganti ya Thor
partini
Kya Majapahit ini cerita
falea sezi
senengnya moga aja anak kembar
sunshine wings
Kagum ceritanya..
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Alissia
bagus thor ceritanya🤭🤭
New Riska
gemes
lanjut tor semangat
imel
waah ceritanya settingan bangsawan Jawa. jadi ngerti dikit². semangat buat otornya💪💪
Dewi Habibah
lanjut
New Riska
semagat tor, tak tunggu bab selanjutya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!