NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Nastiti

Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?

layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.

Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....


Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

"Ran," Sapanya saat melihatku. Dia bangkit dari duduknya sambil menenteng boneka panda ukuran jumbo.

"Happy birthday," ucapnya singkat karena banyak orang yang memperhatikan dan mencuri dengar. Biasalah, jiwa emak-emak pasti terpancing mendekat untuk sekedar mendapat hot news.

"Makasih Mas, aku simpan dulu ya... " ucapku sambil tersenyum.

Tidak lama kemudian, keluarga Putri datang. Semua rangkaian acara berlangsung lancar meski dalam suasana yang terbilang sederhana karena semua serba mendadak. Selama acara, Mas Yunus selalu ada di sampingku, membuat para netizen berbisik-bisik lirih berkomentar.

Hingga tidak terasa, acara selesai. Keluarga Putri sudah pamit pulang. Tinggal keluarga kami saja yang masih asik dan betah mengobrol. Para bocil yang berlarian sambil sesekali berebut mainan. Aku tanpa sadar tersenyum, hal yang sangat langka buatku bisa berkumpul dan menggabungkan keluarga dari Ibu dan Bapak.

"Dek, istirahat dulu gih ke kamar Azka. Pasti capek duduk terus dari tadi. Kasihan dedeknya." ucapku pada Putri.

"Ka, antar Putri ke kamar kamu dulu, Dek! Kasihan, pinggangnya pasti capek. Duduk di bawah."

Azka mengangguk, lalu membantu istrinya itu bangun dari duduk lesehan.

"Mas Yunus, mau makan lagi?" tanyaku pada lelaki yang sedari tadi duduk diam sibuk dengan ponsel di tangannya.

"Nggak, masih kenyang. Aku sekalian pamit ya! Ada perlu mendadak ini!"

"oh,...iya Mas. Makasih ya sudah datang."

Dia hanya tersenyum, lalu pamit pada semua yang masih asik bercengkerama di ruang tamu. Setelah itu aku baru mengantarnya ke depan.

Saat aku akan masuk rumah, samar-samar kudengar Ibu curhat pada Budhe Aini. Kakak kandung Ibuku.

"Aku sebenarnya belum pingin mantu Azka, Mbak. Tapi mau bagaimana lagi, lha wong si Putri udah terlanjur hamil. Memang sengaja iku orang tuanya, aku tuh nggak setuju, soalnya aku tahu kehidupan keluarga nya gimana."

"Waduh, si Ibu lepas kontrol ini!" gumamku pelan.

"Bu, sampun njeh. Nggak bagus kalau di dengar orang nanti. Kasihan juga si Putri kalau sampai dengar omongan Ibu. Sekarang Putri itu juga anak Ibu lho, yang berhak di sayangi dan diperlakukan seperti Ibu memperlakukan mbak. Dijaga aibnya, maaf ya... mbak cuma sekedar mengingatkan. Ngapunten kalau mbak salah."

Ibu hanya mengangguk paham. Aku hanya tidak mau Ibu sampai lepas kontrol seperti semalam saat bicara denganku. Takutnya Putri mendengar dan merasa tidak diterima di keluarga kami. Meski sebenarnya, aku menyesalkan apa yang sudah terjadi pada adikku satu-satunya itu. Sudah bisa dipastikan rencananya untuk mengambil kelas malam bakal bubar jalan. Entahlah, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk adikku.

*****

Hari Senin pagi, masih capek sebenarnya. Tapi aku harus tetap berangkat karena cuma dapat ijin sampai hari Sabtu saja. Dan sudah bisa dipastikan banyak pekerjaan yang menumpuk. Bismillah, semangat!

Senin, semua minta cepat dan minta didahulukan. Benar-benar menguji kesabaran. Bagai selembar tisu dibelah jadi tujuh, terkadang sangat syulit ditahan untuk tidak terpancing emosi.

Hingga siang setelah jam istirahat, ada kabar yang sangat mengejutkan. Kabar itu disampaikan sendiri oleh Pak Wandi ke ruanganku.

"Ran, Yunus kecelakaan tadi pas arah balik kantor! Ini aku mau kesana, kamu ikut kah?"

Aku hanya bengong seperti orang cengo. Otakku rasanya masih loading. Dan entah kenapa loading nya kali ini lama sekali. Sampai Nita, datang menghampiri dan menepuk pelan bahuku.

"Hah, apa?" tanyaku.

"Yunus kecelakaan, pas arah balik kantor. Tuh Pak Wandi mau kesana, kamu ikut nggak Mbak Bon?" jelas Nita.

"Hah, enggak Pak. Saya nanti saja habis jam kerja. Ini masih banyak yang belum selesai." jawabku.

"Ya wes, fokus ya! Nanti sampai sana tak VC!" kata Pak Wandi sambil terkekeh, Big bos di kantor ini memang kadang-kadang membuat aku geleng-geleng kepala.

Aku berusaha fokus pada tugas yang harus aku kerjakan. Padahal, hari ini rencananya aku akan memberikan jawaban untuk ungkapan perasaan Mas Yunus yang entah untuk yang ke berapa kalinya. Mungkin, karena dia selalu ada di masa-masa sulit dan titik terendah saat vakum dikhianati pacar dan sahabat. Aku mulai merasa nyaman ada dia di dekatku. Kami sudah janjian di warung lesehan langganan kami.

Hingga akhirnya, jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Saatnya kami beres-beres dan pulang. Bersama Nita, aku pergi melihat keadaan Mas Yunus yang saat ini masih ada di salah satu klinik dekat TKP dia kecelakaan tadi. Menurut info dari Pak Wandi tadi keadaannya tidak terlalu parah, hanya sedikit luka dan terkilir di pergelangan kaki.

Setelah mampir di salah satu tokoh kue ternama, aku dan Nita segera memacu motor ke arah klinik xxxx. Beberapa belas menit kemudian kami sampai di klinik tersebut. Karena sudah kenal dengan petugas di klinik tersebut, kami langsung diarahkan ke tempat Mas Yunus. Saat hendak masuk langkahku terhenti, karena tidak hanya Mas Yunus dan Ibunya yang kulihat ada disana. Juga ada satu perempuan cantik, dengan rambut panjang sedang duduk dan menyuapi Mas Yunus.

Nita yang melihat ekspresi terkejut ku, lekas menggenggam tangan ku erat memberikan kekuatan. Dia tahu, sesering apa Yunus mengungkapkan perasaan, dan seperti apa perhatian yang dia berikan padaku. Hati mana yang tak meleyot jika terus-terusan digempur seperti itu.

Aku palingkan pandangan ke arah Nita. "It's ok, mbak Bon. Yuk, masuk!" ucapku sambil tersenyum.

"Assalamu'alaikum," ucapku memberi salam.

"Waalaikumsalam," jawab mereka. Mas Yunus nampak terkejut dengan kedatangan ku. Aku berusaha tetap tersenyum, meski aku sebenarnya sedikit resah.

"Ran," ucapnya lirih.

"Lho, Rani. Baru pulang kerja, Nak?" tanya Ibunya Mas Yunus.

"Njeh, Bu. Tadi diberi tahu Pak Wandi. Katanya Mas Yunus nya masih butuh dirawat untuk observasi." jawabku.

"Kok, bisa kecelakaan ini pye Mas? Mosok Iron Man bisa kenalan sama aspal?" ucap Nita bercanda.

"Ya, namanya juga lagi apesnya. Siapa sih yang mau celaka?" ucap Yunus.

"Hem... bener juga sih! By the Way, mbak cantik ini siapa? Kenalin dong!" Nita yang tidak dapat menahan rasa penasaran nya mulai menggali informasi. Tapi yang ditanya cuma diam saja dan menatap sendu ke arahku.

"Oh.... iya, kenalin ini Bia. Calon istrinya Yunus." Kali ini Ibunya Mas Yunus yang menjawab karena sang anak diam saja enggan menjawab.

"Bia baru datang kemarin sore, habis pulang dari Hongkong dia."

Sore? Aku ingat sore kemaren tiba-tiba Mas Yunus sibuk dengan ponselnya lalu mendadak pamit pulang.

"Oh.... njeh Bu." jawabku sambil mengulas senyum dan mengulurkan tangan pada Bia.

"Rani."

"Bianca." ucapnya singkat tanpa senyum dan wajahnya jutek.

"Ooooo, mungkin Mas Yunus tadi nggak fokus di jalan gara-gara mikirin calon istri sudah datang mungkin, Bu!" jawab Nita menggoda sekaligus sedikit menyindir.

"Apaan sih! Sok tahu. Lagi nggak enak badan aja tadi. Tapi tetep maksa kerja." jelas Mas Yunus.

"Iya, aku percaya kok." jawab Nita.

"Eemmm, Bu. Kami pamit ya, ndak enak kalau lama-lama disini. Takutnya malah mengganggu jadwal istirahat Mas Yunus. Apalagi tadi juga belum pulang ke rumah. Takutnya sudah di tunggu sama orang rumah." pamit ku.

"Oalah, iya. Makasih ya, sudah menyempatkan nengok Yunus. Pakai repot-repot bawa kue."

"Iya Bu, cuma sekedar nya saja kok kuenya. Ya sudah kami pamit ya Bu. Assalamu'alaikum."

"Waalaikum salam. Hati-hati di jalan, nggak usah ngebut ya, Nak!"

Aku dan Nita mengangguk lalu kami keluar dari ruangan tempat Mas Yunus dirawat. Kami segara ke parkiran dan menaiki motor kami masing-masing.

"Mbak Bon, nggak papa? Bisa nyetir sendiri kah?" tanya Nita.

"Hahahha, aku nggak papa, santai aja."

"Ya udah, nyetirnya hati-hati ya! Aku duluan ya, maaf. Ada acara arisan keluarga habis ini." pamit Nita.

"Iya Mbak bon, hati-hati. Makasih ya, udah ditemenin nengok Mas Yunus.

Dia hanya mengacungkan dia jempol lalu perlahan mulai berlalu.

Kutarik nafas panjang dan dalam. " Ya Allah, Ya rahman, Yaaa Rohim. Engkau yang maha Tahu segalanya. Dan engkau yang maha tahu apa yang hambanya butuhkan." ucapku dalam hati lalu menarik gas motor dengan kecepatan standart membelah macetnya jalanan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!