Belle Ursula yang waktu itu masih pelajar di sekolah menegah atas kelas dua belas di sukai oleh Lettu Harrel Jitro karena kecantikan dan kelincahan Belle di lapangan voli. Pertemuan itu, membuat Harrel berusaha mendekati Belle yang masih duduk di kelas dua belas. Mereka perpacaran. Ketika Belle lulus seleksi kuliah di fakultas kedokteran pada salah satu universitas negeri di Jogja. Cinta mereka di uji waktu dan jarak. Apakah cinta pertama Belle akan abadi??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klinik Nusantara
Pagi - pagi sekali Dokter Belle Ursula Allo, sudah bangun. Hari pertama dia memulai hidup baru, di salah satu tempat di Papua. Selesai berdoa, dia kedapur dan mulai mematikan lampu - lampu dan membuka jendela. Dia ke dapur memasak air menggunakan air mineral yang di beli Hugo. Kemudian dia membersihkan rumah. Dan langsung membuat teh peppermint, daun teh yang dia sukai semenjak kuliah di Jogja. Jadi dia bawa stock yang banyak. Dan memotong buah yang dibawa Hugo serta merebus empat buah telur. Setelah dia bersihkan dan disajikan dimeja makan bulat di dapur, bersama teh peppermint buat Hugo dan dia membawa jatahnya ke kamar. Dia akan sarapan di kamar. Kemudian dia mandi.
Hugo bangun mau mandi, dia lihat di meja makan sudah ada sarapan. Dia pun menikmati sarapan itu dengan senyuman. Dia tahu bahwa semuanya ini disiapkan oleh Belle. Disitu ada pesan yang Belle tulis.
"Maaf om, dua botol air mineral saya bawa ke kamar. Terlalu banyak om beli takut ngak habis dan kadarluarsa. Saya bantu habiskan ya om. "
...\=\= Belle \=\=\=...
"Enak aja, emang aku om kamu." Hugo menyimpan kertas itu takut anak buahnya melihat.
Waktu Hugo mandi, Belle sudah ke klinik agenda hari ini mereka akan mengatur klinik baik dan mulai mengorganisir obat sesuai jenis penyakit dan mulai mensterilkan alat - alat medis. Karena perlengkapan medis mereka sudah sampai sebelum tim medis ini tiba.
Di lapangan sudah ada anggota tentara yang apel pagi. Dan Hugo sedang memberi arahan kepada mereka. Sepuluh menit terlihat ada anggota yang patroli, ada yang mulai kurvei halaman. Dan ada yang ke dapur siap memasak. Semua sudah terorganisasi dengan baik. Sedangkan Hugo selaku komandan memilih melihat tim medis bekerja. Sekalian dia mau melihat anak nakal yang memanggilnya om. Melihat Belle sedang sendiri bekerja, dia pun menghampirinya.
"Sekali lagi kamu panggil saya om. Saya umumkan kisah kita dulu." Kemudian dia meninggalkan Belle dengan kemarahannya.
"Coba aja kalau berani." Ternyata Hugo yang belum jauh dari tempat Belle mendengar celetukannya, langsung membalik badannya.
"Kamu nantang saya??!!" Hugo menatap Belle. dan dia mulai berpikir dua kali, Belle ketakutan.
"Tidak." Hugo senang dalam hatinya. Dia tidak menyangka perempuan ini sedikit takut kepadanya. Ketika teman - teman medis Belle sudah mulai berdatangan di klinik itu. Hugo sengaja membuat Belle malu dan sebel.
"Oooo ya. Dokter Belle terima kasih buat sarapan yang di sediakan buat saya. Semuanya saya makan dan habiskan."
Betul prediksi Hugo, raut wajah Belle berubah menjadi merah, dia berusaha menahan rasa malunya. Hugo tersenyum bahagia. Belle mengumpat dalam hatinya, dia tidak menyangka bahwa Hugo bisa membuat dia salah tingkah, di depan rekan - rekan medis.
"Namanya menumpang, ya harus tahu dirikan guys." Semua tersenyum. Akhirnya hari ini, semua persiapan tim medis di klinik nusantara selesai. Besok mereka siap melayani masyarakat.
Sore hari, Belle kembali ke rumah tempat dia tinggal. Disana Hugo sudah ada, dan dia baru selesai membersihkan rumah dan menyiapkan kue buat minum teh sore. Hugo membuat teh dan menyediakannya di atas meja. Mendengar Belle sudah pulang dia pun mengajak Belle untuk minum teh.
"Dek, ayo minum teh sore."
"Duluan aja Komandan." Hugo tahu, Belle sedang menjaga jarak dengannya. Maka dia berinisiatif mengantar teh dan kue yang tadi dia beli di tempat jual kue.
"Aku tahu, kamu mau menghindar tatap muka dengan saya. Ini saya ijinkan kamu minum teh di kamar."
Dalam hati Belle berkata "sudah tahu kan, kalau aku berharap ngak melihat kamu." Belle membuka pintu dan menerima teh dan kue yang disiapkan Hugo.
"Ini terakhir makan di kamar. Ingat ya dek." Muka Belle cemberut. Dia langsung menutup pintu. Hugo tersenyum. Makan malamnya, Belle memilih makan bersama tim medis. Karena jam tujuh mereka rapat bersama buat persiapan besok. Karena diberitahukan bahwa besok ada tentara bersama masyarkat dari satgas di kampung sekitar markas yang mau datang berobat. Selesai membantu anggota tentara membersihkan piring dan alat - alat masak, Belle kembali ke rumah.
Hugo yang sudah berada di kamar, sedang telepon dengan mamanya. Mendengar kedatangan Belle. Merasa Hugo sudah di kamar Belle ke dapur mengambil beberapa air mineral untuk di taruh di kamarnya. Langsung dia masuk ke kamar. Pergerakan Belle di ketahui oleh Hugo.
Kembali Hugo mendengar, suara air di kamar mandi. Selesai Hugo menghubungi orangtuanya, dia merasa suasana rumah sudah sepi. Dia keluar melihat pintu - pintu dan jendela. Kemudian dia masuk kamar.
Pagi hari, di klinik mulai disibukan dengan tibanya dua trek berisi masyarakat yang mau berobat, juga bersama tentara. Satgas yang berada di kampung Tuwogi yang mengantar. Kebanyakan dari mereka yang datang sakit. Dan kebanyakan dari mereka sakit kulit, bahkan ada yang luka sudah seminggu dan sudah infeksi. Belle dan rekan - rekan sangat telaten melayani mereka.
"Mama, selama dua hari luka ini tidak boleh kena air."
"Iya dokter cantik."
"Saya cantik kah??"
"Iya dokter ko cantik."
"Terima kasih mama." Belle masih membersihkan luka itu dengan baik. Dan menutup luka itu.
"Dokter cocok dengan anak komandan."
"Mama punya anak ya. Kasih kenal saya."
"Dokter mau kenal dengan anak komandan."
"Iya, kan anaknya mama to."
Mama yang diobati Belle sudah selesai di tangani olehnya. Sekarang Belle sedang memeriksa anak kecil berusia empat atau lima tahun. Tiba - tiba mama yang di obati lukanya datang bersama Hugo.
"Katanya dokter mau kenal dengan saya??" Belle kebingungan. Dia tidak menyangka bahwa ada yang di maksud adalah Hugo.
"Dokter cantik ini anak mama. Mau kenal to??"
"Eh... Iya. Belle."
"Hugo."
"Sudah tahu." Hugo tersenyum, dia senang sekali bisa membuat Belle salah tingkah. Tim medis lainnya yang berada di klinik hanya tersenyum.
"Bagaimana lukanya mama saya dokter cantik."
"Sudah saya bersihkan. Dua hari mama harus balik biar bisa saya bersihkan lagi. Tidak boleh kena air dulu."
"Mama sudah dengar apa kata dokter cantik ini. Jadi dua hari mama harus datang kembali ke sini. Naik ojek dari sana. Nanti saya yang bayar disini."
"Iya anak. Nanti mama datang."
Sampai sore mereka memeriksa pasien. Dan setelah semua selesai. Mereka membersihkan klinik agar besok hari bisa digunaka sudah dalam keadaan bersih dan steril. Belle melihat salah satu anggota sertu Beni yang mengunakan motor mau keluar. Bella pun menghampiri.
"Pak Beni mau keluar ya??"
"Iya mau ketoko di pusat kota."
"Belle ikut boleh??"
"Boleh."
"Tunggu lima menit saya ganti baju."
Hugo mendengar pembicaraan Beni dengan Belle. Langsung dia memerintahkan menggunakan mobil. Sekalian dia juga ikut karena ada sedikit urusan.
"Ayo dokter, silahkan. Kita pakai mobil saja ya."
"Jauh pusat kotanya."
"Sepuluh menit."
Adel masuk di dalam mobil sudah ada Letkol Harrell Hugo Tandean. Adel sedikit kaget. Kenapa orang ini ada didalam mobil.
"Ayo pakai sabuk pengamannya."