Salsa sangat mencintai Arkan, tapi Arkan tidak sama sekali. Dia sudah punya kakasih sebelum menikahi Salsa karena perjodohan.
Ditambah, Salsa adalah wanita yang sombong, jahat, serakah, manja, namun cintanya sangat besar pada Arlan. Selama satu tahun pernikahan, Arlan tidak pernah menyentuh Salsa sama sekali, hingga Salsa menggunakan cara licik agar bisa tidur dengan Arkan.
Arkan semakin murka, dia semakin membenci Salsa karena menjebaknya dan membuat hubungannya dengan kekasihnya semakin berantakan. Hingga Arkan mengusir Salsa dari rumah.
Beberapa tahun berlalu, Arkan bertemu kembali dengan Salsa di jalanan dalam keadaan GILA, namum Salsa bersama dengan seorang gadis kecil yang begitu mirip dengannya.
Ternyata dulu saat dia mengusir Salsa, Salsa sedang hamil. Timbullah penyesalan yang tiada tara dari Arkan dan dalam keadaan gila, Salsa selalu mengatakan....
"Apa salahku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Salsa
Langkah kaki Salsa yang menghentak keras di atas lantai koridor apartemen terdengar bagai dentang lonceng kematian.
Amarah yang membakar dadanya sejak dari rumah tadi kini telah mencapai ubun-ubun, mengubah wajah cantiknya menjadi tegang dan mengerikan.
Ia tidak memedulikan tatapan heran atau risih dari satu-dua penghuni lain yang kebetulan berpapasan dengannya di lorong yang sempit itu. Di dalam kepala Salsa, hanya ada satu tujuan, menghancurkan wanita yang berani mengusik wilayah kekuasaannya.
Salsa berhenti tepat di depan pintu apartemen Nabila. Tanpa ragu, ia mengangkat tangan kanannya yang dihiasi cincin berlian, simbol pernikahannya dengan Arkan, lalu menggedor permukaan pintu kayu itu dengan sangat keras.
Brak..brak...brak...
"Buka pintunya! Nabila, buka!" Teriak Salsa tanpa memedulikan sopan santun sama sekali.
Suaranya yang melengking tinggi menggema kuat di sepanjang lorong, seolah mampu menembus dinding-dinding kokoh apartemen orang lain di sekitarnya.
Ia terus menggedor dan memukul pintu itu berulang kali dengan telapak tangannya. Rasa cemburu yang buta membuat sifat manjanya berubah menjadi kejam. Ia tidak akan pergi dari tempat ini sebelum ia meluapkan seluruh kehinaan yang ia rasakan pagi ini.
Bagi Salsa, setiap detik Arkan berada di tempat ini adalah tamparan bagi harga dirinya sebagai putri tunggal keluarga Brahmantyo.
Brak...brak...
"Nabila! Keluar kamu, perempuan jalang! Jangan bersembunyi di dalam sana!" Teriaknya lagi, semakin menjadi-jadi.
Setelah hampir dua menit gedoran brutal itu bertalu-talu, terdengar bunyi klik dari dalam. Selot pintu digeser, dan daun pintu kayu itu perlahan bergerak terbuka ke dalam.
Muncullah sosok Nabila dari balik pintu. Wanita itu masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat Arkan menemuinya beberapa jam lalu, piyama katun yang kusut dengan rambut yang hanya diikat seadanya.
Wajahnya yang pucat dan sepasang matanya yang bengkak serta sembab menjadi bukti nyata bahwa ia baru saja melewati malam yang panjang dan penuh air mata.
Nabila tertegun saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya dengan napas yang memburu dan mata yang berkilat murka.
"Mbak... Salsa?" Lirih Nabila, suaranya terdengar bergetar dan parau.
Plak...
Belum sempat Nabila menyelesaikan kalimatnya atau mencerna situasi yang terjadi, Salsa sudah melayangkan tangan kanannya dengan kecepatan tinggi.
Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat telak di pipi kiri Nabila. Kekuatan tamparan itu begitu besar hingga membuat kepala Nabila terlempar ke samping, dan tubuh rapuhnya terhuyung mundur beberapa langkah hingga hampir menabrak rak sepatu di dalam ruangan.
Nabila memegangi pipinya yang seketika berubah merah padam dan terasa panas berdenyut. Sudut bibirnya sedikit berdarah, tergores oleh batu berlian besar dari cincin pernikahan Salsa yang baru saja menghantam kulitnya. Ia menatap Salsa dengan tatapan tidak percaya sekaligus ketakutan yang teramat sangat.
"Dasar murahan kamu ya!" Desis Salsa, melangkah maju melintasi ambang pintu, merangsek masuk ke dalam area ruang tamu Nabila tanpa izin. Ia menunjuk wajah Nabila dengan jari telunjuknya yang bergetar karena amarah.
"Apa yang kamu lakukan sampai Mas Arkan akhirnya pergi meninggalkanku di hari pertama kami menikah, hah?!" Bentak Salsa dengan suara yang bergetar hebat.
"Pasti kamu menggunakan cara licik untuk menarik perhatiannya dan merayunya agar datang ke sini, kan? Kamu sengaja menangis dan mengemis padanya supaya dia merasa kasihan!"
Salsa terus melancarkan tuduhan-tuduhan keji, meluapkan seluruh rasa frustrasinya atas penolakan Arkan semalam. Di dalam logikanya yang sudah terdistorsi oleh obsesi, Arkan tidak akan pernah bersikap sedingin itu jika tidak ada hasutan atau godaan dari wanita lain.
Nabila adalah kambing hitam yang sempurna untuk menutupi kenyataan bahwa suaminya memang sama sekali tidak mencintainya.
Nabila mencoba mengatur napasnya yang sesak, air mata baru mulai mengalir membasahi pipinya yang terluka. Ia menggelengkan kepala, mencoba membela diri dengan sisa keberanian yang ia miliki.
"Saya tidak meminta Mas Arkan datang ke sini Mbak. Demi Allah, dia sendiri yang..."
"Tidak usah banyak alasan!" Sela Salsa dengan kasar, memotong kalimat Nabila dengan teriakan yang memekakkan telinga. Ia melangkah satu tindakan lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Nabila bisa merasakan embusan napas Salsa yang penuh dengan kebencian.
"Kamu harusnya tahu diri, Nabila! Kamu ini siapa? Berkacalah! Kamu pantas tidak untuk bersanding dengan pria sekelas Arkan?" Cemooh Salsa, tatapan matanya menyapu penampilan Nabila dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan yang sangat merendahkan.
Nabila seketika menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kalimat Salsa menghantam bagian paling rapuh dari dirinya. Kenyataan tentang status sosialnya yang rendah, tentang dirinya yang hanya seorang wanita yatim piatu tanpa latar belakang keluarga terpandang, selalu menjadi momok yang membuatnya merasa tidak berdaya di hadapan dunia. Dan kini, luka itu dikuliti dengan kejam oleh istri sah dari pria yang dicintainya.
Salsa membusungkan dadanya, tersenyum sinis melihat ketidakberdayaan Nabila. Sifat sombongnya semakin merajalela saat melihat lawannya tidak berkutik.
"Aku yang ada di saat dia dan keluarganya terpuruk seperti ini! Aku dan uang keluargaku yang membantunya keluar dari masalah kebangkrutan, bukan kamu! Kamu bisa apa, Nabila? Kamu hanya wanita miskin yang menumpang hidup enak sama Arkan! Kamu tidak punya apa-apa untuk disumbangkan selain air mata murahanmu itu!"
Nabila mencengkeram erat pinggiran baju piyamanya, bahunya terguncang hebat karena tangisan yang coba ia tahan agar tidak pecah. Setiap kata yang keluar dari mulut Salsa terasa seperti belati yang dihunus berkali-kali ke dalam dadanya.
"Dengar baik-baik Nabila!" Salsa merendahkan nada suaranya, namun justru terdengar jauh lebih mengancam dan berbahaya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Nabila, membisikkan kalimat yang dipenuhi dengan racun intimidasi.
"Lebih baik kamu pergi dan jauhi Arkan sejauh mungkin dari hidupmu. Jangan pernah berani menemuinya atau menerima kedatangannya lagi. Kalau kamu masih nekat dan tidak ingin perusahaan keluarga Arkan terguncang lalu hancur dalam semalam karena papaku menarik semua sahamnya... maka enyah dari pandangannya! Camkan itu di dalam otak miskinmu!"
Setelah menumpahkan seluruh amarah, memberikan ancaman yang mematikan, dan memastikan bahwa ia telah menginjak-injak harga diri Nabila hingga lumat, Salsa membalikkan badannya dengan anggun. Ia memperbaiki posisi tas mewahnya di lengan, lalu melangkah keluar dari apartemen itu dengan kepala tegak, merasa telah memenangkan pertempuran besar pagi ini.
Brak....
Salsa membanting pintu apartemen itu dari luar dengan sangat keras, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam ruangan.
Begitu pintu tertutup, kekuatan yang sejak tadi dipertahankan oleh Nabila runtuh seketika. Kedua lututnya lemas, tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya sendiri.
Nabila jatuh terduduk di atas lantai dingin di dekat rak sepatu. Ia melipat kedua lututnya di depan dada, menyembunyikan wajahnya di sana, dan membiarkan air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung lagi.
Tangisannya pecah dalam kesunyian kamar yang kelam. Rasa sakit fisik di pipinya akibat tamparan Salsa sama sekali tidak sebanding dengan rasa hancur dan hina yang meremukkan jiwanya.
Kata-kata Salsa terus berputar-putar di dalam kepalanya seperti kaset rusak, mengingatkannya bahwa cintanya pada Arkan kini telah menjadi ancaman terbesar bagi masa depan pria itu sendiri.
Di atas lantai yang dingin itu, Nabila menangis meratapi takdirnya yang begitu malang, menyadari bahwa ia mungkin memang harus melepaskan genggaman tangannya demi keselamatan pria yang teramat sangat dicintainya.
Arkan tambah menyesal dan merasa bersalah, semua penderitaan salsa arkan penyebabnya...akhirnya kebenarannya terungkap semua...
arkan dulu gak mau mendengarkan ayahnya mau menjelaskan kebenarannya, hidupmu penuh penyesalan dan merasa bersalah sama salsa dan ayu, wajar salsa dan ayu membencimu arkan...
ayu menatap arkan penuh kebencian dan selalu waspada, itu resiko yg harus kamu terima arkan....
kedua orgtuamu aja sangat marah dan kecewa, arkan jadi penyebab salsa gangguan mental...
sebaiknya jangan saling menyalahkan semua sudah terjadi sudah takdir, cari solusi dan jalan keluarnya carikan dokter terbaik, agar salsa biar sembuh dan pulih lagi...
pasti masih ada harapan salsa sembuh, salsa dan ayu tinggal aja sama orgtuanya arkan...
salsa dan ayu tinggal sama arkan kurang nyaman dan salsa selalu ketakutan sama arkan....
mampus kau arkan...rasain kan, ngaku pintar tapi oooooonnnnnnnnnnn, setelah tau rahasia sebenarnya makin dalamlah itu penyesalanmu, makanya jangan jadi orang bucin....bucin sich boleh tapi jangan 100 % ma manusia. rasain lah kau arkan....
pusing pusinglah kau sendiri bagaimana cara mencari cara menyembuhkan salsa...sekarang tugasmu lagi itu. mbake update lagi dong 🤣🤣
apakah aku aja, atau kalian juga gak? kalo udah suka sama suatu cerita aku pasti terus penasaran sampe kepikiran pengen terus lanjut sampai endnya
wajar ayu sangat membencimu arkan, karena kamu penyebab ibunya sangat menderita sampai gangguan jiwa dan depresi, salsa dan ayu sangat menderita hidupnya...
Arkan sabar meluluhkan hatinya ayu, gercap arkan cari dokter yg terbaik menyembuhkan salsa, dan dibantu suster weni merawat dan menjaga salsa...
Kamu jangan samapai kelihatan lemah arkan didepan salsa dan ayu berusaha kuat, tunjukan ketulusanmu dan niat baik pasti salsa dan ayu akan luluh hatinya dan menerimamu kembali....
semua butuh proses arkan pelan-pelan dekat salsa dan ayu, ditolak terus
jangan sampai menyerah pasti salsa dan ayu memaafkanmu lama-lama arkan....
salsa sangat tulus mencintaimu arkan, mungkin caranya salah ingin memilikimu sampai menjebakmu pake obat perangsang sampai tidur bareng...
kamu sangat kasar tega sekali mengusir salsa, semua penderitaan salsa dimulai...
kamu lebih percaya wanita rubah itu arkan, penuh tipu daya nabila sok polos dan lugu....