NovelToon NovelToon
Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:44.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."

Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.

Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.

Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Ketika Kenzie Sakit

"Sial! Dokternya tidak bisa dihubungi!" Arka mengumpat kasar, mondar-mandir di samping ranjang dengan raut wajah putus asa. "Kita bawa ke rumah sakit sekarang! Biar kupanggil sopir!"

"Jangan!" cegah Naya cepat. Ia sudah kembali dari dapur dengan membawa sebaskom air hangat dan waslap bersih.

"Di luar hujan badai. Membawa Kenzie menembus udara dingin dan angin kencang hanya akan memperburuk kondisinya. Kita redakan dulu panasnya malam ini. Jika besok pagi belum turun, baru kita bawa ke rumah sakit."

"Tapi dia panas sekali, Naya! Kalau terjadi apa-apa—"

"Tuan Arka, tolong tenangkan diri Anda!" Suara Naya sedikit meninggi, cukup tegas untuk memotong kepanikan Arka tanpa terdengar membentak. "Anak-anak bisa merasakan kepanikan orang tuanya. Duduklah di sebelah sini dan pegang tangannya. Biar saya yang urus kompresnya."

Ketegasan Naya yang tidak kenal kompromi itu anehnya membuat Arka terdiam. Pria yang terbiasa memberi perintah di gedung puluhan lantai itu, malam ini menurut tanpa syarat pada instruksi istrinya. Arka duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan kecil Kenzie dengan kedua tangannya yang besar.

Naya mulai bekerja dalam diam. Gerakannya sangat cekatan namun sangat lembut. Ia mencelupkan waslap ke air hangat, memerasnya, lalu mengusapkannya dengan hati-hati ke kening, leher, dada, hingga lipatan ketiak Kenzie untuk membuka pori-pori dan mengeluarkan panas.

"Mama ...." Kenzie kembali merintih pelan, tubuhnya sedikit gemetar karena efek demam.

"Iya, Sayang. Mama di sini. Kenzie anak kuat, sebentar lagi panasnya turun, ya," bisik Naya berulang kali seperti mantra penenang. Ia terus mengusap rambut Kenzie dengan sebelah tangannya, memberikan kenyamanan mutlak yang membuat igauan bocah itu perlahan mereda.

Arka tidak bisa melepaskan pandangannya dari Naya. Pria itu mengamati bagaimana wanita di depannya ini begitu tenang mengambil alih situasi krisis di dalam rumah. Naya tidak menangis heboh, tidak kebingungan, namun ketulusannya memancar dari setiap usapan tangannya di dahi Kenzie.

Waktu merangkak pelan. Jam dinding menunjukkan pukul empat pagi.

Naya masih duduk bersimpuh di lantai samping ranjang Kenzie. Ia terus mengganti air kompresan setiap beberapa menit. Wajahnya tampak pucat dan lelah, namun matanya sama sekali tidak terpejam.

Arka yang duduk di sisi ranjang merasakan debaran aneh di dadanya. Pria sedingin es itu merasa ada sesuatu yang meremas ulu hatinya melihat pemandangan di depannya. Bertahun-tahun ia membesarkan Kenzie, setiap kali anak itu sakit, para pelayan dan pengasuhlah yang panik mengurus semuanya sementara mantan istrinya dulu hanya sibuk mengeluh soal jadwal tidurnya yang terganggu.

Tapi Naya berbeda. Wanita ini bukan ibu kandung Kenzie, bahkan hanya terikat oleh selembar kertas yang kapan saja bisa dirobek. Namun, cara Naya memeluk, menenangkan, dan merawat Kenzie malam ini ... tidak ada kepalsuan di sana. Itu murni kasih sayang seorang ibu.

"Naya," panggil Arka lirih, suaranya parau.

Naya yang sedang memeras waslap menoleh pelan. "Ya?"

"Kamu bisa istirahat sebentar di sofa. Biar aku yang melanjutkan," tawar Arka, ada nada kelembutan yang janggal dalam suaranya yang biasa datar.

Naya tersenyum kecil, lalu menggeleng. "Tidak perlu. Kenzie lebih tenang kalau saya terus memeganginya seperti ini. Anda tidurlah, Mas Arka. Anda harus memimpin rapat jam sembilan nanti, bukan? Jangan sampai Anda sakit karena kurang tidur."

Arka tertegun. Naya masih memikirkan jadwal pekerjaannya di saat wanita itu sendiri pasti sangat kelelahan. Rasa bersalah seketika menampar Arka. Ia teringat kembali semua aturan kaku dan ancaman yang ia berikan pada Naya di malam pertama mereka.

"Aku ... aku tidak akan ke kantor jika anakku belum sembuh," jawab Arka, menundukkan kepalanya. Tangannya berpindah, perlahan ikut mengusap dahi Kenzie yang sudah mulai berkeringat—tanda bahwa demamnya perlahan turun.

Naya mengecek suhu Kenzie kembali. Angka di termometer menunjukkan 37,8 derajat. Naya mengembuskan napas panjang dengan rasa lega yang membuncah.

"Suhunya sudah turun, Mas. Paling lambat pagi ini sudah kembali normal," lapor Naya, bahunya yang tegang akhirnya sedikit merosot.

"Terima kasih, Naya," ucap Arka sungguh-sungguh. Matanya menatap lurus ke arah Naya. "Terima kasih sudah ... hadir di malam ini. Kalau kamu tidak ada, aku tidak tahu harus berbuat apa."

Naya balas menatap mata Arka. Untuk pertama kalinya, Naya tidak menemukan tatapan curiga atau meremehkan dari pria itu. Yang ada hanyalah sorot mata yang hangat dan jujur dari seorang ayah yang baru saja merasa aman.

Tembok es tebal yang dibangun Arka sejak hari pertama, malam ini mulai menunjukkan retakan nyata. Naya menyadari hal itu. Dan jauh di dalam hatinya, pertahanannya sendiri mulai sedikit goyah mendapati kelembutan pria kaku di hadapannya.

"Ini sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai ibu dari anak ini," jawab Naya tenang, mencoba mempertahankan kewarasannya agar tidak melewati batas profesionalisme yang mengikat mereka, walau hatinya kini berdenyut oleh perasaan yang sulit dijelaskan.

Bersambung...

1
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sugiharti Rusli
sekarang tinggal nanti Arka saja sih yang buat keputusan besar tentang hubungan dirinya dan Naya, apa akan seperti tertera dalam kontrak yang seperti mereka sepakati dulu,,,
Laila Umroh
baru ngerti kalau kaka author punya karya baru...
Sugiharti Rusli
dan bagaimana Naya mendidik dan merawat Kenzie dengan pemahaman" baru tentang hidup dan Kenzie bahagia kala bersama Naya,,,
Sugiharti Rusli
dan Kenzie begitu cepat hatinya terpaut pada Naya tanpa pdkt sebelumnya kan,,,
Sugiharti Rusli
apalagi bisa terlihat dengan kasat mata bagaimana Naya memperlakukan Kenzie selayaknya ibu teehadap anaknya,,,
Sugiharti Rusli
pada waktunya kertas kontrak itu akan kalah oleh tatapan polos Kenzie sih yah,,,
Sugiharti Rusli
entah kalo suatu saat Kenzie tahu kalo sanga mama ga akan bersama mereka lagi karena sebuah kesepakatan yah, kasihan sih dengan mentalnya nanti,,,
Sugiharti Rusli
tapi beriring berjalannya waktu, malah Kenzie mendapat nilai baru dan juga sangat mencintai dan menerima Naya sebagai ibunya,,,
Sugiharti Rusli
kalo yang jadi istri Arka bukanlah seorang Nayara, mungkin kedok pernikahan kontrak mereka sudah terbongkar sejak awal yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi si Clarissa memiliki dugaan kalo Arka menikahi Naya bukan karena cinta, dan itu betul sih tujuan utamanya hak asuh putranya,,,
Sugiharti Rusli
meski dia memang melakukan pernikahan kontrak dengan Naya demi hak asuh Kenzie, tapi di perjalanan malah banyak hal tak terduga,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya di sini si Arka yang sangat diuntungkan dengan memperistri Naya yah
dyah EkaPratiwi
Naya 😍
NAYLA DWI
ok
Nandi Ni
dibalik kesulitan terbentang kemudahan,semoga ketulusan hatinya mampu menghantarkan pada kebahagiaan.
Nandi Ni
emang diluar nurul pemikiran Naya ini
Herman Lim
ga sabar lihat kehancuran mereka
Naufal Affiq
buat clarisa gak bisa ngomong lagi ya mommy,buat mereka kalah dalm persidangan,dan naya penenangnya
Mamah Nisa
di depan kenzie kok manggilnya tuan arka....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!