Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memilih Percaya
Sore yang cerah di Wonosobo selalu memiliki cara sederhana untuk menenangkan hati. Langit biru yang perlahan berubah jingga, udara yang tetap sejuk meski matahari belum tenggelam, serta pemandangan pegunungan yang tak pernah kehilangan pesonanya—membuat siapa pun ingin meperlambat langkah, menikmati setiap detik yang berlalu seolah waktu memang sengaja berjalan lebih pelan di kota berhawa dingin ini.
Usai mematikan mesin mobil, Danendra tidak langsung turun. Padangannya tertuju pada jendela kamar yang terlihat dari halaman rumahnya, ia lalu teringat pada ucapan Rizky.
"Jangan sampai dia kehilangan kepercayaan kepada suaminya hanya karena kamu terlambat percaya."
Danendra menghembuskan napas panjang, di dalam hatinya memang ia percaya pada Niken, namun setiap kali teringat pada sikapnya sendiri selama dua hari terakhir, rasa gengsi jadi menghalangi niatnya untuk meminta maaf.
"Mas?" Suara Niken dari jendela mobil yang terbuka membuyarkan lamunan.
Perempuan itu baru saja tiba dengan ojek daring dari sekolah. Melihat mobil Danendra masih terparkir di halaman, ia menghampiri meski ragu.
"Mas belum masuk?"
Danendra menoleh, "aku baru sampai."
"Oh..." ucap Niken sambil tersenyum canggung. "Kalau begitu, ayo masuk."
Danendra hanya mengangguk pelan, lalu turun dari mobil. Kemudian mereka berjalan berdampingan menuju rumah, tanpa berbicara apa-apa.
Di ruang makan, Pradipta sudah menunggu bersama Ratih.
"Akhirnya lengkap juga," ucap Pradipta sambil tersenyum. "Ayo, sekalian makan."
Niken mengangguk pelan, ia lalu menyimpan tasnya. Kemudian membantu Bi Inah meletakkan lauk di atas meja. Ratih hanya memperhatikan gerak-geriknya tanpa berkedip.
Setelah semuanya duduk, suasana hanya dipenuhi oleh suara sendok yang beradu dengan piring. Kemudian Pradipta memecah keheningan.
"Bagaimana sekolahmu hari ini, Niken?"
Niken tersenyum tipis. "Alhamdulillah lancar, Yah. Anak-anak sedang latian pentas."
"Wah, pasti seru."
"Iya, Yah. Mereka semangat sekali."
Pradipta tersenyum sambil mengangguk puas. "Kalau jadi guru TK pasti butuh kesabaran extra."
"Saya masih terus belajar untuk itu, Yah."
Ratih yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. "Danen."
"Iya, Bu."
"Jadi kapan kalian ke dokter?"
Sendok di tangan Niken langsung berhenti. Danendra pun ikut terdiam.
Lalu Ratih kembali mengulang pertanyaan. "Ibu tanya, kapan kalian mau ke dokter?"
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban, pandangan Pradipta tertuju kepada Danendra.
"Ada apa memang?"
Ratih menjawab lebih dulu. "Ibu hanya ingin memastikan keadaan Niken."
Danendra menarik napas pelan. "Menurutku, itu tidak perlu," katanya yang membuat Ratih mengkerutkan keningnya.
"Maksudmu?"
"Tidak perlu memaksa Niken melakukan pemeriksaan." Jawabnya.
Ratih meletakan sendok. "Danen, bukankah kamu sendiri yang..."
"Aku berubah pikiran."
Jawaban itu membuat Ratih terdiam sesaat. Kemudian ia kembali melempar tanya. "Berubah pikiran karena apa?"
Danendra meneguk air putih sebelum menjawab. "Karena tidak semua hal harus dibuktikan dengan cara seperti itu."
Niken perlahan mengangkat wajah, lalu tatapannya tertuju pada suaminya. Ia merasa ini pertama kalinya Darendra berbicara seperti itu sejak malam pernikahan mereka.
Namun Ratih belum merasa puas. "Jadi kamu percaya begitu saja?"
Danendra tidak langsung menjawab, ia melirik Niken sekilas. Hingga dalam beberapa detik itu, tatapan mereka sempat bertemu. Bagi Niken, tatapan itu terasa berbeda dari dua malam terakhir.
"Aku..." Danendra berdehem pelan sebelum akhirnya menjawab. "Aku memilih mempercayai istriku."
Kalimat itu membuat ruang makan terasa sunyi. Jantung Niken berdegup begitu kencang, ia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Namun Ratih justru tampak kecewa. "Danen, jangan mengambil keputusan hanya karena perasaan."
"Aku sudah memikirkannya." Kata Danendra sambil menunduk.
"Tapi..."
Danendra kembali mengangkat wajahnya, lalu berkata dengan kebih tegas. "Bu, Niken istriku. Kalau aku terus membiarkan dia merasa seperti terdakwah di rumah ini, lalu apa bedanya aku dengan orang yang tidak menghargai pernikahannya sendiri?"
Kalimat itu akhirnya membuat Ratih terdiam.
Pradipta yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya tersenyum tipis. "Ayah setuju."
Ratih menoleh cepat, "Mas?"
Pradipta meletakan sendoknya. "Sejak awal Ayah tidak ingin urusan rumah tangga anak kita dipenuhi prasangka. Lagi pula, Ayah lihat Niken sudah menunjukan sikap yang baik sejak masuk ke rumah ini."
Pradipta lalu menatap menantunya dengan penuh kehangatan. "Niken."
"Iya, Yah."
"Kalau selama ini ada sikap kami yang membuatmu tidak nyaman, anggap saja rumah ini masih sama-sama belajar menjadi keluarga."
Matanya mulai berkaca-kaca. "Terima kasih, Yah."
Ratih akhirnya tidak berkata apa-apa lagi, meski wajahnya masih menyiratkan ketidak setujuan, ia memilih menghabiskan makan dalam diam.
* *
Malam itu, saat hendak naik ke kamar, Danendra berjalan lebih dulu, lalu Niken mengikutinya dari belakang. Kemudian sesampainya di depan pintu kamar, Danendra menghentikan langkah.
Tanpa menoleh, ia berkata pelan. "Terima kasih, karena kamu tetap menjaga sikap di depan Ayah dan Ibu."
Satu kalimat tanpa kata maaf, tanpa penjelasan, namun bagi Niken sudah cukup menjadi pertanda bahwa dinding yang memisahkan mereka perlahan mulai retak.
Ia mengulas senyum meski Danendra tidak melihatnya. "Terima lasih juga, Mas."
Danendra membuka pintu kamar, lalu keduanya masuk.
Beberapa saat kemudian...
Niken keluar dari kamar mandi setelah berganti pakaian tidur. Langkahnya terhenti ketika melihat Danendra masih duduk di tepi ranjang sambil membuka beberapa berkas pekerjaan dari Agrowisata Lereng Mahitala.
Meski masih menjaga jarak di sisi ranjang, setidaknya ia memilih tetap berada di kamar yang sama, dan bagi Niken itu adalah secercah harapan yang nyaris padam.
Niken berusaha mengabaikan debar di dadanya. "Mas masih kerja?" tanyanya.
Danendra hanya mengangguk sambil tersenyum sedikit.
"Jangan terlalu malam, nanti malah masuk angin."
Danendra menghentikan aktivitasnya sesaat. "Hari ini banyak yang harus diselesaikan."
Niken mengangguk kecil. Tanpa banyak bicara ia berjalan menuju meja kecil, lalu menuangkan segelas air hangat dan meletakannya di dekat Danendra.
"Minum dulu, Mas."
Danendra menatap gelas itu beberapa detik, "terima kasih." Ucapnya.
Niken mengulas senyum sambil mengangguk. Ia kemudian naik ke atas tempat tidur, menjaga jarak di sisi yang lain.
Tidak ingin membuat Danendra merasa tidak nyaman, ia mengambil sebuah novel dan mulai membacanya.
Suasana kamar terasa begitu hening, sesekali hanya terdengar suara lembaran kertas yang dibalik dan desir angin dari luar jendela.
Beberapa menit kemudian, rasa bersalah kembali menyelinap ketika Danendra diam-diam melirik ke arah istrinya. Niken tampak serius membaca, tetapi sesekali mengusap kedua matanya yang mulai lelah.
"Besok..." suara Danendra yang memecah keheningan membuat Niken menoleh cepat.
"Iya, Mas?"
"Besok kamu berangkat ke sekolah jam berapa?"
"Seperti biasa, jam setengah tujuh." Jawab Niken berusaha biasa saja.
Danendra mengangguk sambil tersenyum kecil.
Meski hanya itu saja, senyum Niken perlahan mengembang. Karena sejak malam pertama itu, Danendra hampir tidak pernah bertanya tentang kegiatannya.
Tidak lama kemudian, ponsel Danendra berdering, ia langsung melihat layar itu beberapa detik. Niken yang tak sengaja melihat nama Alana muncul di layar ponsel suaminya, kembali menunduk ke bukunya.
Niken tidak bertanya, juga tidak menunjukan rasa ingin tahu. Melihat sikap Niken seperti itu, Danendra justru merasa tidak enak sendiri. Ia pun menekan tombol untuk membisukan panggilan itu, lalu beberapa detik kemudian, pesan singkat masuk.
"Danen, maaf menganggu. Aku hanya ingin memastikan proposal kerja samanya sudah kamu baca."
Danen membalas singkat. "Besok dibahas di kantor."
Setelahnya, ponsel kembali ia letakan di nakas.
Niken masih diam, lalu Danendra bertanya.
"Kenapa tidak tanya?"
Niken menoleh santai. "Tanya apa, Mas?"
"Tentang yang telepon aku barusan."
Niken tersenyum. "Kalau itu urusan pekerjaan, aku tidak berhak ikut campur."
"Kalau ternyata bukan urusan pekerjaan?"
Niken terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata, "kalau Mas ingin bercerita, aku akan mendengarkan. Tapi, kalau Mas tidak ingin bercerita...." ia menutup bukunya perlahan lalu melanjutkan. "Aku juga tidak akan memaksa."
Jawaban Niken membuat Danendra kehilangan kata-kata. Ia hanya memandangi wajah Niken, lalu beberapa saat kemudian menghela napas pelan.
"Itu Alana."
Niken sedikit terkejut. "Apa itu mantan Mas?"
"Iya." Katanya, "dia menghubungiku karena urusan kerja sama."
Niken mengangguk. "Oh."
"Hanya itu saja."
"Baik, Mas."
Jawaban Niken yang begitu tenang membuat Danendra semakin merasa bersalah. Padahal sebenarnya ia justru berharap istrinya akan marah, atau setidaknya cemburu. Namun perempuan itu justru memilih percaya.
Malam pun semakin larut, Danendra menutup berkas pekerjaannya. Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang redup.
Sebelum memejamkan mata, ia berkata pelan tanpa menoleh. "Besok, aku antar kamu ke sekolah."
Niken membelalakan mata, "Mas—"
"Jangan menolak."
"Terima kasih," ucapnya Akhirnya.
Danendra memejamkan mata, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang hampir muncul. Sementara di sisinya, Niken menggenggam ujung selimut sambil menahan haru. Suaminya memang belum mampu mengucapkan kata maaf, namun ia mulai menunjukan penyesalannya melalui hal-hal kecil.
...****************...