NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.

Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?

Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Besar

"Jadi, tolong total kan semua kebutuhan pasien bernama Dirga Pramana Wicaksono Mbak."

Di depan kasir sebuah rumah sakit tempat Om Dirga dirawat, Arjuna dengan sigap mengurusi segala hal dan keperluan yang dibutuhkan. Termasuk membiayai fasilitas terbaik untuk Om Dirga.

Semenjak mendapati kabar dari rumah sakit, Arjuna belum sempat pulang ke rumahnya terlebih dahulu sejak dari Bali. Bahkan beberapa barangnya tertinggal di kamar penginapan. Kini tanggungjawabnya bertambah, mengurusi keperluan Om Dirga sekaligus mengawasi keadaan Laila dari jauh.

Untuk mengurus Laila, Arjuna memanfaatkan kedua sahabatnya untuk terus bergantian mengingatkan Laila perihal makan dan sebagainya. Karena saat ini keadaan Laila sangatlah rapuh, ia bisa saja tidak makan sama sekali dalam sehari jika tidak dipaksa oleh kedua sahabatnya itu.

Arjuna hanya bisa mengawasi gadis itu dari kejauhan saja, melihat kerapuhan begitu menggerogoti Laila saat ini, hatinya terasa sakit. Gadis jutek dan bermulut kasar kini tak berdaya. Namun, Arjuna merindukan Laila yang beberapa hari lalu ia temui, Laila yang ceria dan periang.

Kedatangan seseorang hari ini memecah lamunan Arjuna yang sedang memerhatikan Laila dari kejauhan. Devan, orang dengan niat kotor itu kembali menemui Laila. Hati Arjuna memanas, namun tak bisa melakukan apa-apa karena dengan hadirnya Devan bisa membuat hari-hari Laila kembali terasa hidup. Arjuna meninggalkan tempat persembunyiannya dan kembali mengurusi keperluan Om Dirga.

...****************...

Laila tertunduk lemas di kursi besi depan kamar Ayahnya, nafsu makannya hilang. Ia menangis terus hingga membuat tenaganya terkuras habis. kalau saja Keira dan Tasya tidak menemaninya, mungkin Laila pun akan ikut dirawat saat ini.

"La ayo dimakan dulu nasi uduknya," paksa Keira beberapa kali.

"Iya La ayo dimakan, kalo gini terus yang ada lo juga bakal dirawat entar," pukas Tasya.

Laila tak bergeming, tatapan matanya kosong.

"Sayang, aku suapin ya."

Suara dari sosok yang kenal memecah lamunan Laila, ia menoleh cepat pada empu pemilik suara.

"Devan." Laila berdiri dan memeluk Devan erat.

"Aku kira kamu gak bakalan mau lagi ketemu aku sayang." Tangis Laila pecah di pelukan Devan.

Devan mengelus pundak Laila pelan. "Gak mungkin aku gitu sayang, aku cuma shock aja kemarin lusa denger fakta itu tiba-tiba," jelas Devan.

"Tapi sekarang aku udah tau semuanya, Keira dan Tasya udah ceritain semua sama aku."

Laila melepas pelukannya pada Devan, ia menoleh singkat pada kedua sahabatnya. Ketika di tatap Laila, keduanya saling tunjuk satu sama lain seperti tidak mau dituduh menyebarkan cerita itu pada Devan.

"Gak papa sayang, berkat mereka akhirnya akun juga tau urgensi perjodohan itu buat kamu," sela Devan.

"Aku rencananya mau ceritain itu sendiri sama kamu, tapi aku keduluan ya," ucap Laila kembali tertunduk sedih.

Devan memegangi dagu Laila dan memposisikan wajah Laila kembali agar melihatnya. "Hei sayang, liat aku. Posisi kamu kemarin aku paham banget, kamu gak mau rusak momen bahagia kita di Bali kan, jadi wajar kalo kamu masih nunda buat jujur."

"Sekarang ayo kita duduk dulu, kamunya juga makan dulu biar ada tenaga buat ceritain versi kamu tentang masalah perjodohan itu," bujuk Devan. Ia menarik Laila untuk duduk dan perlahan menyuapinya.

Setelah Laila selesai makan, Devan memberanikan diri untuk menanyai keadaan Papi Laila. "Keadaan Papi kamu gimana sayang?" tanya Devan.

"Papi masih belum ada perubahan sudah tiga hari ini sayang, masih belum ada respon," jawab Laila.

"Dokter bilang apa tentang penyakit Papi kamu?"

"Penyakit jantung yang Papi derita beberapa tahun ke belakang mengalami peningkatan, itu yang jadi penyebab aliran oksigen ke otak Papi berkurang dan bikin Papi koma sementara waktu," jelas Laila.

"Terus penanganan apa yang ke depannya bakal dilakuin buat kesembuhan Papi kamu?"

"Untuk sementara waktu Papi akan terus bergantung sama alat bantu medis dan kalau udah sadar nanti harus terus minum obat dan kontrol."

"Mungkin Papi stres ngurusin aku yang selalu ngeyel ini sayang, makanya Papi jadi gini. Aku memang anak durhaka" Laila terus mengutuk diri atas apa yang terjadi dengan Papinya.

"Ga gitu sayang, ini semua udah takdir Tuhan, kamu jangan nyalahin diri kamu sendiri," ucap Devan, ia terus mencoba untuk menenangkan Laila dan isi pikirannya yang sedang kalut itu.

Laila menangis di pelukan Devan, ia menahan suara tangis itu agar tidak terdengar orang sekitaran, karena beberapa orang yang lewat melihat ke arah mereka.

"Sayang, mau ke taman belakang rumah sakit gak. Matahari pagi bagus buat kamu yang udah beberapa hari gak liat matahari," ajak Devan. Karena ia merasa tidak enak menjadi pusat perhatian beberapa orang yang lewat dan yang terpenting itu adalah rumah sakit, perlu untuk semua yang ada di sana saling menghormati yang lain agar tidak terganggu.

"Kalo gitu kita pamit pulang dulu ya La," ucap Keira.

"Iya nih, ntar malem kita ke sini lagi," sambung Tasya.

"Iya, hati-hati ya kalian berdua," ucap Laila.

...****************...

Suasana di taman ini adalah perpaduan antara keheningan yang menenangkan dan denyut kehidupan yang perlahan mulai berputar.

Di sudut taman, seorang pria paruh baya dengan pakaian kasual tampak berjalan pelan, menuntun tiang infus istrinya yang menggunakan kursi roda. Sang istri, dengan syal rajut melingkar di lehernya, memejamkan mata sejenak, membiarkan kehangatan matahari pagi menyentuh wajahnya yang pucat. Tidak ada obrolan berat di antara mereka, hanya genggaman tangan yang erat, sebuah bahasa tubuh yang menyiratkan kekuatan dan harapan yang sedang dirajut kembali.

Tak jauh dari sana, beberapa perawat yang baru saja menyelesaikan sif malam duduk di bangku taman, menikmati udara segar sambil menggenggam cangkir kopi hangat. Lelah di wajah mereka perlahan mencair oleh hembusan angin pagi. Di jalur setapak yang melingkari kolam ikan hias, seorang dokter senior dengan jas putihnya berjalan santai, menyapa beberapa pasien rawat jalan yang sedang melakukan peregangan ringan.

Bunyi gemercik air kolam dan kecipak pelan ikan-ikan koi yang berenang menjadi latar suara yang meneduhkan, menyamarkan bunyi sirine ambulans yang sesekali terdengar samar dari kejauhan. Di taman ini, waktu seolah berjalan lebih lambat, memberi ruang bagi para pasien dan keluarga yang sedang berjuang untuk bernapas lega, mencari ketenangan, dan mengumpulkan harapan baru di awal hari.

Laila dan Devan bergandengan berjalan perlahan menuju sebuah kursi panjang yang ada di sudut taman. Dari sana semua pemandangan taman terlihat dan tak ada penghalang matahari pagi untuk menyentuh kulit secara langsung.

Laila memejamkan mata sejenak untuk merasakan hangatnya sinar matahari pagi menyentuh kulit. Sinar yang beberapa hari ini tidak ia lihat dan rasakan, karena sedang kalut dengan keadaan Ayahnya.

"Sayang, apa aku turutin aja kemauan Papi soal perjodohan itu," ucap Laila tiba-tiba.

Devan yang duduk di sampingnya menoleh dengan cepat. "Kamu yakin sayang sama ucapan kamu?" tanya Devan.

Laila mengangguk yakin.

"Terus, aku gimana?" Suara Devan memelan, terlihat semburat kecewa di wajahnya.

"Sayang kamu dengerin dulu rencana aku." Laila memegang kedua tangan Devan, kini mereka mengubah posisi saling berhadapan.

Devan mengernyit isyarat ia tak mengerti yang dimaksud Laila.

"Dengerin baik-baik ya, setelah liat keadaan Papiku dan demi memenuhi keinginan terakhir Mami aku jadi kepikiran satu jalan keluar."

"Setelah Papi sadar nanti, aku berencana buat nerima perjodohan sama Arjuna itu. Tapi, aku gak akan bener-bener selamanya ada di pernikahan itu. Satu tahun, aku ngerencanain buat ada di pernikahan itu selama satu tahun aja dan selama satu tahun itu aku bakal mikirin segala cara buat bisa lepas dari pernikahan itu. Seolah-olah memang pernikahan itu gak layak buat dilanjutin."

"Kenapa harus dua tahun?" tanya Devan.

"Kalau hanya beberapa bulan aja, itu bakal bikin Papi curiga sayang. Aku gak mau penyakit Papi kambuh lagi, doker kemarin bilang kalau Papi nggak boleh stres dan terlalu mikirin suatu hal."

"Tapi yang namanya pernikahan sama aja sayang, pasti akan ada terjadi suatu hal nanti yang bikin kamu malah terikat dan gak bisa lepas dari Arjuna," ucap Devan khawatir.

"Sayangggg aku itu nikah sama Arjuna aja kepaksa, gak mungkinlah aku bisa ngejalanin pernikahan itu selayaknya pasangan suami istri yang normal, ogah banget iyuhh."

"Kamu berani jamin sayang?" tanya Devan ragu.

Laila mengangkat telapak tangan kanan dan berkata, "Sayang, aku berani jamin."

"Sekarang tinggal kamunya, masih mau gak ngejalanin ini dan nemenin aku sampai bisa lepas dari jeratan pernikahan ini?" tanya Laila dengan penuh harapan.

Devan mengangguk. "Aku mau sayang, aku akan selalu ada di samping kamu."

Keduanya saling berpelukan erat di bawah hangatnya sinar matahari pagi.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!