" Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku " ucap Arasya menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa restoran masih dengan stelan jas kerjanya .
......
Sean Brisbane menjadi terheran-heran memikirkan gadis yang sudah beberapa hari ini selalu mengejar nya bahkan berusaha mendekati nya tanpa ragu .
" Sangat centil " ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi .
" Kenapa? apa aku terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatapku memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstik nya yang di jatuhkan Sean .
" Cantik?" ulang Sean dengan tatapan geli nya pada gadis kepedean itu.
" Ayolah Kak jadi pacar Ara aja , Ara suka sama Kak Sean, ganteng !" gemas Ara dengan tampang cegil nya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.
next
yuk baca cerita Ara , sicegil Bang Sean
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Mencintai ugal-ugalan
"Wahhhhh, ternyata Ara yang pertama," kata Ara malah meronta-ronta kesenangan bukannya merasa bersalah.
"Hehhhh, dengar, Gadis, aku akan menuntutmu karena melakukan pelecehan padaku," ancam Sean memperlihatkan rekaman CCTV di mana Ara mengecup pipinya.
"Tuntutlah. Ara bakalan tanggungjawab dan menikahi Kak Sean. Awwww, kau milikku, ganteng," ucap Ara dengan begitu berani menyentuh dagu Sean untuk beberapa saat lalu berlari kesenangan meninggalkan Sean yang lagi dan lagi terdiam mematung.
"Dasar gadis gila," umpat Sean yang jadi terheran-heran melihat Ara yang tidak ada takutnya.
"Tuan, sebelumnya saya atas nama Nona Ara minta maaf jika dia mengganggu Tuan," ucap bodyguard itu sebelum pergi meminta maaf atas perlakuan majikannya yang memang kadang terlalu berlebihan.
"Apa dia memang senang menggoda orang lain?" pertanyaan Sean yang langsung diangguki bodyguard itu.
Sean menarik napas berat lalu berbicara pada bodyguard yang masih berdiri di belakangnya.
"Jelang Bimo pulang, aku ingin kalian memperketat pengawasan di sekitar aku. Jangan biarkan orang yang tidak terlalu penting mendekat. Kapan perlu, batasi interaksi," ucap Sean yang diangguki bodyguard-nya.
Seminggu kemudian.
Malam ini Sean menghadiri pesta ulang tahun salah satu kolega bisnisnya ditemani Bimo, sang asisten, dengan setelan jas senada.
"Tuan Muda, aku dengar-dengar seorang wanita mengganggumu akhir-akhir ini?" pertanyaan Bimo sambil terus berjalan memasuki ruangan pesta.
"Mmmmh, aku tidak tahu apa motifnya mendekatiku," ucap Sean masih dengan wajah cool-nya terus berjalan.
"Kenapa tidak disingkirkan saja?" tanya Bimo yang mendengar dari rekan yang lain kalau wanita itu sampai berani mengecup pipi Sean.
"Masalahnya, dia bukan wanita yang punya niat jahat atau terselubung, Bim, seperti yang sudah-sudah. Gadis itu sepertinya hanya terobsesi terhadapku," kesimpulan Sean setelah hampir 15 hari ini merasakan sikap berlebihan Ara.
"Gadis?" ulang Bimo langsung mengangkat sebelah alisnya.
"Umurnya 19 tahun," jawab Sean singkat.
"Aku pikir dia seumuran Tuan Muda," ucap Bimo dengan ekspresi terkejutnya.
"Tidak," jawab Sean singkat.
....
Setelah menghampiri kolega bisnisnya, Sean mengajak Bimo duduk di salah satu sofa yang disediakan pihak penyelenggara pesta di pojok ruangan.
"Kak Sean," sapa Ara dengan excited begitu melihat Sean langsung berlari menghampirinya.
"Ohhhh, Tuhan, si pengganggu itu datang lagi." Sean langsung memijit pelipisnya melihat Ara yang sudah berlari ke arahnya.
"Kalau jodoh emang nggak ke mana, Tuhan selalu mempertemukan kita," senang Ara duduk tepat di sebelah Sean.
"Hai, Nona," sapa Bimo tersenyum lebar menatap Ara yang sangat manis dan ceria.
"Hallo, ganteng," kata Ara melambaikan tangannya lengkap dengan kedipan mata centilnya.
"Kalian semua berdiri menjauh," perintah Sean pada bodyguard-nya sekaligus Bimo dengan nada tegas.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Sean dengan wajah dinginnya menatap Ara yang duduk membuka tas genggamnya.
"Menghadiri pesta kolega bisnis Daddy," jawab Ara sambil menambah lipstik di bibirnya.
"Bersama Daddymu?" pertanyaan Sean menatap ke sekitar karena Ara hanya sendirian.
"Daddy sedang di luar kota jadi, meminta Ara untuk menggantikannya menghadiri pesta ini," jawab Ara menambah lagi lipstik di bibirnya.
"Sangat centil," ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi.
"Kenapa? Apa Ara terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatap ketika memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstiknya yang dijatuhkan Sean.
"Cantik?" ulang Sean dengan tatapan gelinya pada gadis kepedean itu.
"Ayolah, Kak, jadi pacar Ara aja. Ara suka sama Kak Sean, ganteng!" gemas Ara dengan tampang cegilnya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.
"Hehhhh, gadis, jaga sikap kamu," ucap Sean melepaskan pelukan Ara di lengannya dan duduk sedikit menjauh.
"Mmmmh, Ara suka Kak Sean, ayolah jadi pacar Ara," kata Ara menatap Sean dengan tatapan klepek-klepeknya.
"Kamu sadar dengan apa yang barusan kamu ucapkan? Tidak malu?" pertanyaan beruntun Sean mengingatkan kodrat wanita yang tidak seharusnya menyatakan perasaan lebih dulu.
"Kenapa harus malu? Ara kan cuma bilang apa yang ada di hati Ara," ucap Ara dengan polos.
"Sejak kapan kamu menyukaiku?" pertanyaan Sean yang selama ini merasa tidak pernah bertemu dengan Ara, baru-baru ini dia melihat Ara.
"Sejak pandang pertama. Kak Sean tampan sekali, Ara suka. Ayolah, Kak, jadi pacar Ara," kata Ara to the point sampai Sean terperanjat mendengarnya.
"Ara, apa yang kamu lakukan?" tiba-tiba teman Ara menariknya sampai berdiri.
"Mell, tu,"
"Pulang," kata Melly langsung menarik tangan Ara agar segera pergi dari sana secepatnya.
"Tapi, Mell,"
"Jalan sendiri atau aku seret," pilihan Melly dengan wajah galaknya yang membuat Ara takut juga.
"Daaa, Kak Sean, Ara pulang dulu, nanti," bahkan belum sempat Ara menyelesaikan ucapannya, Melly sudah menariknya agar segera pergi.
"Tuan Muda, gadis itu sangat nekat dan bar-bar," tawa Bimo duduk dekat Sean sambil menutup mulutnya.
Bisa-bisanya dia langsung menembak Sean secara to the point.
"Tapi dia sangat manis dan tulus. Sepertinya dia memang murni suka pada Tuan Muda," komentar Bimo yang langsung berubah pandangan setelah bertemu dengan Ara.
"Terimalah, Tuan Muda, punya pacar kecil sepertinya akan membuat hari-hari lebih berwarna," goda Bimo membayangkan Sean punya pacar kecil yang sangat cerewet sementara Sean sendiri suka ketenangan.
"Diam kamu, Bim."
.....
"Melly, lepasin," rengek Ara yang terus berjalan mengikuti Melly yang menyeret tangannya.
"Ara, dengar ya, harga diri itu letaknya jauh di atas cinta. Jangan sampai rasa suka kamu itu membuat kamu dipandang rendah, apalagi murahan," nasihat Melly pada Ara sebagai sahabatnya.
Mereka memang hampir seumuran, namun untuk tingkat kedewasaan Melly jauh di atas Ara yang masih sangat labil dan selalu menuruti nalurinya.
"Ara suka Kak Sean," kata Ara yang entah kenapa tidak bisa menahan perasaannya yang begitu menggebu-gebu setiap kali bertemu Sean.
"Iya, kamu suka dia, tapi bukan berarti kamu harus mendekati dia sampai lupa harga diri dengan menyatakan perasaan langsung," ucap Melly mencubit paha Ara saking geramnya.
"Haaaa, terus Ara harus gimana, Mell?" rengek Ara mengelus-elus pahanya yang dicubit Melly.
"Dapatkan dengan elegan," ucap Melly merujuk pada cara berkelas seorang wanita yang menarik pria dengan pesonanya.
"Tidak, aku akan mencintai Kak Sean secara ugal-ugalan," pernyataan Ara sampai Melly menjitak kepalanya.
"Pokoknya dia harus jadi pacar Ara," ucap Ara yang kalau sudah suka bakalan ngotot sampai hilang akal sehat.