NovelToon NovelToon
Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 10 : Kebaikan yang Tak Terliha

Aroma teh krisan yang menenangkan berbaur dengan wangi esensial minyak lavendur di dalam kamar luas di sayap kanan kediaman utama Mahendra. Kamar itu milik Opa Wijaya, kakek kandung Arka sekaligus pendiri fondasi awal Mahendra Group. Sejak satu minggu terakhir, kondisi kesehatan pria sepuh itu kembali menurun akibat komplikasi penyakit usia tua. Meskipun kamar tersebut dilengkapi dengan peralatan medis mutakhir dan dijaga oleh perawat privat, suasana di dalamnya terasa begitu sunyi dan hampa.

Sore itu, setelah menyelesaikan jadwal mengajarnya di taman kanak-kanak dan membeli beberapa perlengkapan menggambar untuk murid-muridnya, Nadira tidak langsung pulang ke rumahnya bersama Arka. Ia memilih untuk mampir ke kediaman utama demi menjenguk Opa Wijaya. Sejak awal pertemuan mereka di rumah sakit sebelum pernikahan kontrak itu disepakati, Opa Wijaya adalah satu-satunya anggota keluarga Mahendra yang menatap Nadira dengan pandangan penuh kasih sayang tanpa syarat, bukan dengan tatapan penuh selidik atau penilaian kasta sosial.

Nadira melangkah pelan memasuki kamar, tidak ingin mengejutkan sang kakek yang tampak sedang terpejam di atas ranjang khususnya. Di sudut ruangan, Suster siska, perawat privat yang bertugas, tampak kelelahan. Wajah perawat muda itu kuyu, mungkin karena harus berjaga ekstra menghadapi Opa Wijaya yang belakangan ini dikenal sangat keras kepala dan sering menolak makan atau minum obat dari orang asing.

"Selamat sore, Suster," sapa Nadira dengan suara yang menyerupai bisikan lembut.

Suster Siska menoleh dan langsung berdiri dengan hormat. "Eh, Nyonya Nadira. Selamat sore. Maaf, saya tidak mendengar langkah kaki Anda."

"Tidak apa-apa, Suster. Bagaimana kondisi Opa hari ini?" tanya Nadira sembari meletakkan tasnya di atas sofa panjang.

Suster Siska menghela napas panjang, gurat kecemasan terlihat jelas di wajahnya. "Secara fisik stabil, Nyonya. Tapi sejak siang tadi beliau sama sekali tidak mau menyentuh buburnya. Obat yang seharusnya diminum setelah makan siang pun terpaksa ditunda. Beliau juga menolak disuapi dan sempat marah-marah hingga tensinya agak naik. Saya bingung harus bagaimana lagi."

Nadira menatap wajah keriput Opa Wijaya yang tampak pucat dalam tidurnya. Hatinya merasa iba. Ia tahu betul bahwa di balik sifat keras kepala orang tua yang sedang sakit, biasanya tersembunyi rasa takut, jenuh, dan keinginan untuk didengar—persis seperti anak-anak kecil di kelasnya yang sedang merajuk.

"Suster Siska sudah makan sore?" tanya Nadira ramah.

"Belum, Nyonya. Saya agak takut meninggalkan ruangan ini."

Nadira tersenyum hangat, mengusap bahu Suster Siska dengan lembut. "Kalau begitu, Suster istirahatlah dulu di kantin belakang atau ruang istirahat. Biar sore ini saya yang menjaga dan merawat Opa. Saya akan coba membujuk beliau untuk makan."

Suster Siska membelalakkan mata, merasa sungkan sekaligus tidak enak hati. "Tapi, Nyonya... Anda baru saja pulang bekerja, pasti lelah. Ini sudah tugas saya—"

"Tidak apa-apa, saya sama sekali tidak lelah," potong Nadira halus, menenangkan keraguan sang perawat. "Opa adalah keluarga saya juga sekarang. Pergilah istirahat, segarkan diri Suster setidaknya selama satu atau dua jam ke depan."

Setelah diyakinkan beberapa kali, Suster Siska akhirnya membungkuk hormat dan berjalan keluar dengan perasaan lega yang luar biasa.

Setelah pintu tertutup, Nadira melangkah menuju kamar mandi di dalam ruangan tersebut. Ia menggulung lengan *blouse* putihnya hingga sebatas siku, mengambil sebuah baskom kecil, dan mengisinya dengan air hangat. Ia juga membawa selembar handuk kecil yang lembut.

Ketika Nadira kembali ke sisi ranjang, Opa Wijaya perlahan membuka matanya. Netra yang mulai kabur oleh usia itu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya terfokus pada sosok wanita muda yang sedang tersenyum di sampingnya.

"Nadira...?" suara Opa Wijaya terdengar serak dan lemah.

"Iya, Opa. Ini Nadira," jawab Nadira lembut. Ia duduk di kursi kecil di sebelah ranjang, lalu dengan hati-hati memeras handuk hangat yang sudah dibasahi. "Opa merasa gerah? Biar Nadira bersihkan wajah dan tangannya, ya, supaya badannya terasa lebih segar."

Tanpa menunggu jawaban yang biasanya berupa penolakan, Nadira mulai mengusap kening, pipi, hingga leher Opa Wijaya dengan gerakan yang sangat telaten dan penuh perasaan. Sentuhan handuk hangat itu terasa begitu nyaman, membuat ketegangan di wajah sang kakek perlahan-lahan mengendur. Tidak ada kecanggungan dalam gerakan Nadira; ia merawat Opa Wijaya dengan ketulusan yang sama seperti saat ia merawat mendiang ayahnya dahulu ketika sedang sakit.

"Anak-anak nakal di kantormu... apa mereka merepotkanmu?" tanya Opa Wijaya tiba-tiba, merujuk pada berita-berita miring yang sempat berembus, meskipun ia tidak tahu detail mengenai konflik internal perusahaan.

Nadira tertawa kecil, suara tawa yang selalu berhasil membawa kedamaian. "Opa, saya ini guru taman kanak-kanak, bukan pegawai kantor. Anak-anak di sekolah sangat lucu dan baik. Mereka mengirimkan salam untuk Opa dan mendoakan agar Opa cepat sembuh."

Mendengar cerita sederhana itu, sudut bibir Opa Wijaya sedikit terangkat. "Arka... apa anak bodoh itu memperlakukanmu dengan baik?"

Nadira sempat tertegun sejenak. Bayangan pembelaan Arka di meja makan malam lalu dan sikap dingin pria itu yang mengabaikan tangisannya tengah malam tadi mendadak berkejaran di benaknya. Namun, di depan sang kakek, Nadira hanya menampilkan senyum terbaiknya.

"Pak Arka sangat baik, Opa. Beliau sangat memperhatikan saya," bohong Nadira demi menjaga kedamaian hati pria sepuh itu.

Setelah selesai menyeka tubuh sang kakek, Nadira berjalan ke arah meja saji di mana mangkuk bubur ayam yang sudah mendingin berada. Ia memanggil salah seorang pelayan paruh baya bernama Mbok Nah yang kebetulan sedang lewat di depan kamar melalui interkom.

"Mbok Nah, bisa tolong hangatkan bubur ini kembali? Atau jika boleh, saya minta izin untuk membuatkan kaldu sup ayam hangat yang baru di dapur bawah," pinta Nadira saat Mbok Nah masuk ke dalam kamar.

Mbok Nah, yang sudah bekerja puluhan tahun di kediaman Mahendra, menatap Nadira dengan pandangan kagum. Selama ini, menantu-menantu di keluarga kaya ini—termasuk Ibu Sarah—jarang sekali ada yang mau menginjakkan kaki di dapur untuk memasak bagi orang sakit, apalagi merawat orang tua secara langsung dengan tangan mereka sendiri. Mereka biasanya menyerahkan segalanya pada pelayan atau perawat sewaan.

"Tentu saja bisa, Nyonya Muda. Biar Mbok temani ke dapur," ucap Mbok Nah dengan nada suara yang penuh rasa hormat yang mendalam.

Di dapur, Nadira bergerak dengan cekatan. Ia tidak canggung memotong sayuran, merebus ayam, dan meracik bumbu sup kaldu yang aromanya sangat menggugah selera. Beberapa pelayan lain yang sedang berada di dapur hanya bisa berdiri terpaku, menyaksikan bagaimana seorang "Nyonya Muda" di rumah ini tidak segan-segan mengaduk masakan sendiri di depan kompor yang panas. Kelembutan dan kesederhanaan Nadira memancarkan aura yang sangat berbeda dari ketegangan yang biasanya menyelimuti rumah besar itu.

Tiga puluh menit kemudian, Nadira kembali ke kamar Opa Wijaya dengan membawa nampan berisi semangkuk sup kaldu hangat yang harum dan segelas air putih.

"Opa, supnya sudah siap. Baunya sangat enak, buatan Nadira sendiri. Opa coba sedikit, ya?" bujuk Nadira dengan suara membujuk yang biasa ia gunakan untuk anak-anak didiknya.

Opa Wijaya memandang mangkuk itu, lalu memandang wajah Nadira yang tampak tulus tanpa ada kepura-puraan. Perlahan, kekerasan hati sang penasihat bisnis ulung itu runtuh. "Hanya beberapa suap saja..."

"Tentu, Opa. Berapa suap pun tidak apa-apa, yang penting ada makanan yang masuk agar obatnya bisa bekerja," jawab Nadira riang.

Dengan sabar, Nadira meniup setiap sendok sup kaldu sebelum menyuapkannya ke mulut Opa Wijaya. Ia menyuapinya dengan ritme yang lambat, sesekali menyeka sisa kuah di sudut bibir sang kakek dengan tisu secara lembut. Di sela-sela suapan, Nadira menceritakan kisah-kisah lucu dan polos dari murid-murid TK-nya—tentang anak yang kehilangan pensil warna, tentang lukisan matahari yang berwarna ungu, dan tentang permainan balok kayu.

Cerita-cerita sederhana yang jauh dari hiruk-pikuk dunia bisnis itu ternyata menjadi obat penawar yang luar biasa bagi Opa Wijaya. Tanpa sadar, mangkuk yang tadinya penuh kini sudah kosong lebih dari setengahnya. Sesuatu yang bahkan tidak bisa dicapai oleh perawat profesional terbaik sekalipun selama beberapa hari terakhir.

Di balik celah pintu kamar yang sedikit terbuka, Mbok Nah dan dua orang pelayan lainnya berdiri diam menyaksikan pemandangan tersebut. Air mata tampak menggenang di sudut mata Mbok Nah. Selama bertahun-tahun bekerja di rumah ini, ia baru pertama kali melihat kamar Opa Wijaya dipenuhi dengan suasana yang begitu hangat, manusiawi, dan tulus.

"Nyonya Nadira benar-benar malaikat," bisik salah seorang pelayan muda di sebelah Mbok Nah dengan suara bergetar terharu. "Dia begitu tulus merawat Opa, padahal dia sendiri pasti lelah setelah pulang mengajar."

"Iya," sahut Mbok Nah sambil menyeka air matanya dengan ujung celemek. "Keluarga ini sangat beruntung memiliki Nyonya Muda seperti dia. Semoga Tuan Arka bisa melihat kebaikan yang tersembunyi di dalam diri istrinya."

Setelah memastikan Opa Wijaya meminum obatnya dan kembali tertidur dengan nyenyak—kali ini dengan wajah yang tampak jauh lebih tenang dan rileks—Nadira merapikan kembali peralatan makan dan meletakkannya di atas nampan. Ia membenarkan selimut sang kakek hingga sebatas dada, lalu mengecup kening pria sepuh itu dengan penuh rasa hormat seorang cucu.

Saat Nadira melangkah keluar dari kamar sambil membawa nampan, ia dikejutkan oleh kehadiran Suster Siska yang sudah kembali bersama Mbok Nah dan beberapa pelayan lainnya di koridor. Mereka semua menatap Nadira dengan pandangan yang dipenuhi rasa takzim dan keharuan yang mendalam.

"Terima kasih banyak, Nyonya Nadira," ucap Suster Siska dengan tulus, matanya sedikit berkaca-kaca. "Opa sudah mau makan banyak dan minum obatnya. Anda benar-benar luar biasa."

Nadira tersenyum hangat, menggelengkan kepalanya pelan. "Ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai bagian dari keluarga, Suster. Tolong jaga Opa baik-baik malam ini, ya. Jika terjadi sesuatu atau jika Opa merajuk lagi, Suster bisa langsung menghubungi saya."

"Baik, Nyonya. Pasti," jawab Suster Siska tegas.

Nadira menyerahkan nampan kepada salah seorang pelayan, lalu berjalan menuju lobi depan untuk bersiap pulang ke rumahnya. Sepanjang koridor, para pelayan yang berpapasan dengannya membungkuk jauh lebih dalam daripada biasanya. Hormat yang mereka berikan kali ini bukan lagi sekadar formalitas karena status Nadira sebagai istri kontrak Arka Mahendra, melainkan sebuah penghormatan yang lahir dari dasar hati mereka yang paling dalam atas ketulusan dan kebaikan jiwa yang baru saja mereka saksikan.

---

Sementara itu, di lantai bawah, sebuah mobil sedan mewah hitam baru saja berhenti di depan teras utama. Arka Mahendra turun dari mobil dengan langkah kaki yang tampak lelah setelah seharian penuh menghadapi rapat koordinasi pasca-mutasi Selena dan pengawasan ketat terhadap rumor kantor.

Saat melangkah masuk ke dalam lobi rumah utama, Arka berniat untuk langsung menuju ke kamar kakeknya untuk memeriksa kondisi sang tetua. Namun, langkah kakinya terhenti ketika ia melihat Mbok Nah sedang berjalan di koridor tengah sambil membawa nampan kosong dari arah dapur.

"Mbok Nah," panggil Arka datar.

Mbok Nah menoleh dan langsung menghampiri majikannya. "Eh, Tuan Arka. Selamat sore, Tuan."

"Bagaimana kondisi Opa sore ini? Apa beliau masih menolak makan?" tanya Arka, guratan kecemasan tipis muncul di antara kedua alisnya.

Wajah Mbok Nah seketika berubah cerah, sebuah senyuman penuh keharuan terukir di bibirnya yang mulai keriput. "Alhamdulillah, Tuan! Sore ini Opa sudah mau makan banyak, sup kaldu hangatnya habis lebih dari setengah mangkuk, dan obatnya juga sudah diminum dengan lancar. Sekarang Opa sedang tidur dengan sangat nyenyak."

Arka menaikkan sebelah alisnya, merasa sedikit terkejut. "Suster Siska berhasil membujuknya? Biasanya Opa sangat sulit jika sedang kambuh keras kepalanya."

"Bukan Suster Siska, Tuan," jawab Mbok Nah dengan nada suara yang bergetar penuh kekaguman. "Nyonya Nadira yang melakukannya. Nyonya Muda datang sejak sore tadi, menyeka tubuh Opa dengan air hangat, lalu turun sendiri ke dapur untuk memasak sup kaldu ayam yang segar. Nyonya menyuapi Opa sambil bercerita tentang anak-anak di sekolahnya. Seluruh pelayan di dapur dan perawat sampai terharu melihatnya, Tuan. Nyonya Nadira begitu lembut dan tulus merawat Opa, persis seperti merawat orang tua kandungnya sendiri."

Mendengar penuturan Mbok Nah, Arka terpaku di tempatnya berdiri. Lidahnya mendadak kelu, dan sebuah hantaman tak kasat mata terasa memukul dadanya.

Arka memalingkan wajahnya ke arah tangga besar yang menuju ke lantai atas, tepat di saat sosok Nadira baru saja turun dengan tas kerja sederhana di bahunya. Wanita itu sedang membenarkan letak lengan bajunya yang masih sedikit tergulung sisa dari kegiatannya di dapur tadi. Wajah Nadira tampak sedikit lelah, namun sepasang matanya tetap memancarkan kejernihan yang sama.

Mata mereka bertemu di tengah keheningan lobi. Nadira yang melihat kehadiran Arka langsung menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir, lalu memberikan senyuman ramah formal yang biasa ia pasang.

"Pak Arka," sapa Nadira lembut. "Anda baru pulang dari kantor?"

Arka tidak langsung menjawab. Ia menatap wanita di hadapannya dengan pandangan yang sepenuhnya berbeda dari sebelum-sebelumnya. Kata-kata Mbok Nah masih terngiang-ngiang di telinganya, berpadu dengan ingatan tentang air mata tengah malam yang disembunyikan Nadira dengan begitu rapat di atas sofa kamar mereka.

Di dalam dunia Arka yang penuh dengan transaksi, kontrak, dan pamrih terselubung, kehadiran Nadira yang melakukan kebaikan-kebaikan besar secara diam-diam tanpa menuntut pengakuan atau imbalan apa pun terasa seperti sebuah anomali yang sangat kuat. Wanita ini tidak mencari validasi dari ibunya, tidak mengeluh atas ketidakpedulian dirinya, dan tetap memberikan kasih sayang yang tulus kepada kakeknya di tengah kerapuhan hatinya sendiri.

"Ya," jawab Arka akhirnya, suaranya terdengar sedikit lebih berat dan kurang tegas dari biasanya. "Kamu... mau pulang sekarang?"

Nadira mengangguk pelan, senyumnya tidak memudar. "Iya, Pak. Tugas saya merawat Opa sore ini sudah selesai. Opa sudah tidur nyenyak. Saya pikir lebih baik saya pulang sekarang agar tidak kemalaman."

Arka terdiam sejenak, mengepalkan jemarinya di dalam saku celana untuk mengendalikan debaran aneh yang kembali menyerang dadanya. Benteng logika dingin yang selama ini ia agungkan rasanya makin hari makin retak dan tidak berdaya menghadapi ketulusan yang dipancarkan oleh wanita bersahaja ini.

"Kita pulang bersama," ucap Arka tiba-tiba, sebuah kalimat yang keluar begitu saja mengabaikan protokol jarak yang biasa ia tetapkan. "Mobil saya sudah siap di depan."

Nadira sedikit terkejut, namun ia segera mengangguk patuh. "Baik, Pak. Terima kasih."

Saat mereka berjalan beriringan keluar menuju mobil di bawah tatapan mata para pelayan yang dipenuhi rasa haru dan doa kebaikan, Arka menyadari satu hal dengan sangat pasti: Nadira bukan sekadar bagian dari sebuah kontrak kerja sama. Wanita ini memiliki keindahan jiwa yang tak terlihat oleh mata dunia yang silau akan harta, namun keindahan itulah yang kini, secara perlahan dan tanpa bisa ia cegah, mulai merayap masuk dan mengubah seluruh dunianya yang dingin menjadi jauh lebih hangat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!