Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.
Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.
Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.
Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Badai yang Belum Usai
Malam telah larut ketika iring-iringan mobil mewah yang membawa keluarga baru Dirgantara akhirnya membelah gerbang besi tinggi kediaman utama mereka. Pesta pernikahan megah yang menguras seluruh tenaga dan emosi itu telah usai. Di kursi belakang sedan mewah, Kinanti menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada kaca jendela mobil. Mahkota melati yang tadi menghias sanggulnya kini sudah dilepas, meninggalkan rambut hitam gelombangnya yang agak berantakan, membingkai wajahnya yang tampak sangat kelelahan.
Di sampingnya, Baskara duduk dengan tenang, sesekali melirik ke arah istri kecilnya yang terus melempar pandang ke luar jendela, menatap deretan lampu jalanan yang bergerak cepat. Pria itu tahu, Kinanti sedang merasa asing. Mulai malam ini, gadis sembilan belas tahun itu tidak akan lagi pulang ke rumah kayu sederhana milik orang tuanya di ujung kampung. Hidupnya telah berpindah ke dalam sangkar emas yang sudah Baskara siapkan.
"Jika kau lelah, pejamkan matamu," ucap Baskara memecah kesunyian, suaranya terdengar berat dan dalam di keheningan malam.
Kinanti tidak menoleh. Dia hanya menghela napas panjang. "Bagaimana aku bisa tidur tenang kalau aku tahu aku sedang menuju ke tempat asing?" sahutnya dengan nada datar andalannya.
Rumah besar keluarga Dirgantara menyambut mereka dengan kemegahan yang dingin. Beberapa pelayan berseragam rapi sudah berdiri berbaris di dekat pintu masuk, membungkuk hormat saat Baskara dan Kinanti melangkah masuk. Di barisan paling belakang, Natasha tampak berdiri dengan wajah cemberut. Sisa-sisa ketakutan dari kejadian tertangkapnya sang mami di gedung pernikahan tadi siang masih jelas membekas di wajah remaja manja itu. Dia tidak berani menatap mata papanya, dan hanya bisa melemparkan tatapan benci yang tertahan ke arah Kinanti.
Baskara tidak memedulikan putrinya. Dia langsung membimbing Kinanti menaiki tangga marmer menuju lantai dua, tempat kamar utama berada. Begitu pintu kamar dibuka, Kinanti sempat tertegun di ambang pintu. Kamar tidur Baskara sangat luas, mungkin setara dengan luas seluruh rumah orang tuanya di kampung. Kamar itu didominasi warna abu-abu gelap dan putih, dengan dinding kaca besar di satu sisi yang langsung menampilkan pemandangan kerlip lampu. Sebuah tempat tidur berukuran king-size bertirai elegan berada di tengah ruangan.
"Mandilah dan ganti pakaianmu. Aku akan menggunakan kamar mandi luar untuk membersihkan diri," ucap Baskara mengerti akan kecanggungan yang melanda istrinya. Pria itu meletakkan jas hitamnya di sofa panjang, lalu melangkah keluar dari kamar, memberikan ruang bagi Kinanti untuk bernapas.
Begitu punggung tegap Baskara menghilang di balik pintu dan menyisakan kesunyian, Kinanti langsung melangkah cepat. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar akibat lelah dan sisa ketegangan hari ini, dia memutar tuas kunci. Bunyi klik yang keras menggema di dalam kamar yang sunyi itu.
Kinanti pun menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya yang letih pada daun pintu kayu yang kokoh. Rasanya seolah seluruh beban berat yang dia tahan sejak pagi baru saja diloloskan dari pundaknya. Gadis itu menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan tatapan kosong.
"Akan ada drama apalagi nanti?" ucap Kinanti lirih pada diri sendiri.
Kepalanya terasa pening jika harus mengingat kembali rentetan kejadian luar biasa di acara pernikahannya tadi siang. Bayangan wajah histeris Cynthia saat diseret pihak berwajib terus berputar di benaknya. Kinanti tersenyum sinis. Dia tahu betul tipikal orang-orang seperti Natasha dan mantan istri suaminya itu. Wanita-wanita gila hormat seperti mereka tidak mungkin berhenti sampai di sini saja untuk membuat masalah padanya. Pernikahan ini bukanlah akhir dari peperangan, melainkan awal dari babak baru yang jauh lebih melelahkan.
Namun, di sela kejengkelannya, secercah rasa hangat yang asing tiba-tiba menyusup di dada Kinanti ketika mengingat bagaimana tubuh tegap Baskara menghalanginya dari sorotan kamera tadi siang.
"Untung saja Om Baskara menolongku tadi," ucapnya kembali, suaranya melembut. Kinanti berjalan menuju cermin besar, menatap gaun pengantinnya yang mulai terasa sesak. "Setidaknya, walau pria itu dingin, kaku, dan luar biasa pemaksa... ada sedikit kebaikan yang bisa kulihat dari dirinya hari ini."
Enggan berlarut-larut dalam lamunan tentang suaminya, Kinanti pun melangkah pergi ke kamar mandi yang mewah di sudut ruangan. Dia menyalakan pancuran air hangat, membiarkan bulir-bulir air membilas seluruh penat, keringat, dan rasa cemas yang menempel di tubuhnya sejak pagi.
Sementara itu, di sudut lain kota Jakarta yang riuh, atmosfer di dalam kantor polisi terasa begitu kontras. Di dalam ruang tunggu pemeriksaan yang dingin dan berbau antiseptik, Cynthia duduk dengan napas yang memburu tak teratur. Gaun malam hitamnya yang glamor kini tampak kusut mengerikan, dan riasan wajahnya yang mahal sudah berantakan akibat air mata kemarahan.
Setelah melempar amukan dan ancaman yang sama sekali tidak digubris oleh para petugas, Cynthia akhirnya diizinkan menggunakan telepon kantor untuk melakukan satu panggilan. Dengan jari-jari yang bergetar hebat akibat luapan emosi yang tertahan di dada, Cynthia langsung menghubungi ayahnya—pria tua berkuasa yang merupakan kakek dari Natasha.
Begitu panggilan tersambung dan suara berat penuh wibawa sang ayah terdengar di seberang sana, Cynthia tidak bisa lagi menahan histerianya.
"Papi! Papi harus tolong Cynthia sekarang juga! Urus orang-orang di kantor polisi ini, Pi! Chynthia dipermalukan! Baskara... bajingan itu tega menjebakku di depan semua kolega bisnisnya hanya demi membela jalang kecil itu!" jerit Cynthia, memekik tanpa memedulikan tatapan tajam dari polisi yang berjaga di sekitarnya. Di telepon, sang ayah meredam amarahnya dan berjanji akan mengerahkan tim pengacara terbaik malam ini juga untuk mengeluarkan putri kesayangannya.
Setelah memutus sambungan telepon dengan kasar, Cynthia mencengkeram pembatas meja hingga kuku-kukunya memutih. Matanya melotot lurus ke depan, memancarkan urat-urat merah yang mengerikan akibat dendam yang menyala-nyala.
"Awas kau, gadis kampung! Aku tidak akan pernah tinggal diam setelah kau membuatku menanggung malu seperti ini! Aku bersumpah akan menendangmu keluar dari keluarga Dirgantara dan merebut kembali semua yang seharusnya milikku!" desis Cynthia penuh racun.
Di kediaman utama Dirgantara, malam itu Natasha juga tidak kalah syoknya. Remaja manja itu mengurung diri di dalam kamarnya yang luas, duduk bersila di atas ranjang dengan tatapan kosong. Seluruh tubuhnya sesekali bergetar kecil jika mengingat runtuhnya rencana besar yang disusun maminya tadi siang. Apa yang direncanakan maminya sama sekali tidak berjalan lancar, dan justru berakhir menjadi bumerang yang menghancurkan reputasi mereka sendiri.
Kini, ada sedikit rasa takut yang teramat sangat yang merayap di dalam dada Natasha terhadap papinya. Selama ini, Baskara memang sosok yang dingin dan tegas, namun Natasha tidak pernah menyangka bahwa papinya bisa bertindak sekejam dan sedingin itu terhadap maminya sendiri demi membela Kinanti. Rasa aman yang selama ini dia miliki sebagai anak tunggal yang dimanja seketika goyah. Natasha menyadari, posisi dirinya di depan Baskara kini berada di titik paling rendah.
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menembus dinding kaca kamar utama. Kinanti terbangun dengan tubuh yang jauh lebih ringan setelah beristirahat cukup. Dia mengenakan pakaian rumahannya yang kasual namun tetap rapi—sebuah setelan tunik berwarna pastel—lalu melangkah turun menuju ruang makan di lantai bawah untuk mengisi perutnya yang kosong.
Di meja makan marmer yang panjang, Natasha sudah duduk di sana. Wajah remaja itu tampak sangat masam dengan kantung mata yang menghitam akibat kurang tidur. Begitu melihat Kinanti melangkah mendekat dengan langkah anggun, emosi Natasha yang terpendam sejak semalam kembali tersulut. Dia sengaja meletakkan gelas susunya dengan hentakan keras ke atas meja.
"Bi, ambilkan jus jerukku dan bawa ke kamar saja! Selera makanku mendadak hilang total kalau harus melihat muka pembawa sial di meja ini sepagi ini!" sindir Natasha dengan suara sengaja dikeraskan, matanya melotot tajam menatap Kinanti yang baru saja tiba.
Bi Asih, pelayan senior di sana, tampak serba salah dan melirik takut-takut ke arah Kinanti. Namun, Kinanti tetap berwajah datar. Dengan ketenangan yang luar biasa, Kinanti justru berjalan menuju ujung kursi utama meja makan kursi yang melambangkan kekuasaan penuh seorang nyonya rumah. Dia menarik kursi itu dan duduk di sana dengan posisi tegak dan berwibawa.
"Bi Asih, tetap taruh jus itu di atas meja. Mulai hari ini, tidak ada aturan yang mengizinkan siapa pun membawa makanan ke dalam kamar di rumah ini," ucap Kinanti. Suaranya tidak tinggi, namun intonasi datarnya mengandung ketegasan yang mutlak.
Bi Asih tertegun sejenak melihat keberanian dan aura tegas dari Nyonya Muda barunya, sebelum akhirnya menunduk patuh. "Baik jawab pelayan itu cepat.
Natasha yang merasa posisinya diabaikan langsung naik pitam. Dia menggebrak meja makan dengan kedua tangannya dan berdiri dari kursi. "Heh, Gadis Kampung Berani sekali kamu mengatur-atur pelayan di rumahku,Kamu itu cuma orang asing yang memelas minta dinikahi papaku karena keluargamu miskin dan terlilit utang,Jangan pernah berlagak menjadi nyonya besar di sini!" bentak Natasha dengan wajah memerah padam.
Kinanti dengan santai merapikan serbet makan di atas pangkuannya, lalu mendongak menatap lurus ke dalam manik mata Natasha tanpa kedipan sedikit pun.
"Natasha," panggil Kinanti, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin hingga membuat suasana di ruang makan terasa membeku. "Siapa yang kau sebut gadis kampung dan orang asing? Aku adalah istri sah dari papamu. Berdasarkan hukum negara dan agama, statusku di rumah ini adalah ibumu, dan aku adalah nyonya rumah yang sah di kediaman Dirgantara ini."
Kinanti memajukan tubuhnya sedikit, menumpukan kedua tangannya di atas meja dengan tatapan yang mengintimidasi. "Jika kau masih ingin menikmati kemewahan rumah ini, fasilitas mobil, dan uang jajan melimpah dari papamu... kurasa kau harus mulai belajar bagaimana cara menjaga sopan santunmu di depan ibumu. Karena atas izin suamiku, aku tidak akan segan-segan memotong semua fasilitas kemanjaanmu itu jika kau kembali bertingkah tidak tahu aturan.
"Kamu.. Kurang ajar,Natasha berteriak frustrasi, tangannya bergerak hendak meraih gelas untuk dilemparkan.
"Ada apa ribut-ribut sepagi ini?"
Sebuah suara berat, dalam, dan sarat akan wibawa memotong pertengkaran itu seketika. Baskara melangkah masuk ke ruang makan. Pria itu tampak segar mengenakan kaos polo hitam santai yang mencetak jelas tubuh tegapnya.
Natasha yang melihat kedatangan penolongnya langsung memasang wajah menangis, berniat mengadu agar Kinanti diusir. "Papa Lihat gadis kampung ini,Baru satu hari menumpang di sini dia sudah berani mengancam akan memotong uang jajanku dan mengatur-atur aku, Papa harus beri dia pelajaran dan usir dia.seru Natasha dengan air mata yang dipaksakan keluar.
Namun, Baskara sama sekali tidak melirik ke arah putrinya. Pandangan mata elangnya terkunci lurus pada Kinanti yang duduk di kepala meja. Langkah kakinya yang lebar membawanya langsung berhenti tepat di samping kursi Kinanti. Di hadapan mata Natasha yang melotot syok, Baskara membungkukkan tubuhnya sedikit, lalu mendaratkan kecupan yang lembut namun tegas di kening Kinanti selama beberapa detik.
Cup.
Sentuhan bibir hangat Baskara sukses membuat topeng datar Kinanti runtuh. Wajah gadis itu seketika memerah merona luar biasa layaknya buah tomat matang akibat rasa malu yang menyerangnya mendadak. Jantungnya berdegup kencang berantakan.
Baskara kembali menegakkan tubuhnya, lalu menatap Natasha dengan pandangan mata yang berubah sedingin es kutub.
"Dengar baik-baik, Natasha," ucap Baskara dengan nada suara yang rendah namun sarat akan titah mutlak. "Mulai hari ini dan seterusnya, apa yang dikatakan oleh Kinanti di rumah ini adalah hukum. Jika dia mengatakan uang jajanmu dipotong karena kelakuan burukmu, maka aku sendiri yang akan memastikan tidak ada satu sen pun uang yang masuk ke rekeningmu. Hormati ibumu, atau kau bisa angkat kaki dari rumah ini dan menyusul mamimu di sel tahanan."
Kata-kata Baskara laksana petir di siang bolong yang menghantam seluruh pertahanan Natasha. Remaja manja itu lemas seketika, tubuhnya ambruk kembali ke atas kursi dengan wajah pucat pasi tanpa darah. Dia menyadari satu kenyataan pahit, kekuasaannya telah tumbang total. Kini, istana megah Dirgantara telah resmi memiliki penguasa baru yang dilindungi penuh oleh sang Tuan Pemaksa.