NovelToon NovelToon
Rumah Jiwa Yang Lelah

Rumah Jiwa Yang Lelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: meiithandi

Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.

setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu dengan ibunya Kenzo

Seminggu telah berlalu sejak pertemuan Davina dengan Rania di cafe itu. Davina berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia bangun pagi, menyiapkan sarapan untuk Zahra, mengantar putri kecilnya ke sekolah, lalu bekerja sebagai freenlance di bagian design.

Setiap pagi, rutinitas itu berulang. Davina akan mengantar Zahra ke PAUD Al-Ghajali, mencium kening putri kecilnya, dan berpesan agar Zahra bermain yang baik dengan teman-temannya.

"Zahra, jangan lupa makan siang ya, Sayang," ucap Davina sambil merapikan kerah seragam Zahra di depan gerbang sekolah.

"Iya, Mah!" Zahra tersenyum lebar,

"Zahra mau main sama Kenzo!"

Davina tersenyum tipis. "Iya, main yang baik-baik ya. Nanti Mamah jemput setelah Zhuhur."

"Iya, Mah! Dah, Mah!" Zahra berlari kecil masuk ke area sekolah, melambaikan tangannya dari kejauhan.

Davina menatap punggung kecil putrinya hingga menghilang di balik pintu kelas. Hatinya terasa hangat, namun juga ada bayangan gelap yang masih menghantuinya sejak seminggu lalu.

Adit ada di Kota C.

Kata-kata Rania itu terus berputar di kepalanya seperti lagu yang tidak bisa ia hentikan. Rania bilang Adit jadi pengusaha sukses, tapi tidak tahu detailnya. Davina hanya tahu mantan pacarnya itu kembali ke kota ini, tapi ia tidak tahu di mana Adit sekarang, apa yang ia lakukan, atau apakah ia masih bersama mantan pacarnya yang dulu. Apakah adit sudah menikah dengan mantan kekasihnya yang dulu.Davina mencoba merilekskan lagi kepalanya, dan memgatakan dalam hati " tidak penting " ucap davina dalam hati.

Dan yang paling penting, Davina tidak tahu bahwa Adit adalah pemilik sekolah yang setiap hari ia antar Zahra. Baginya, PAUD Al-Ghajali hanyalah sekolah bagus yang ia pilih untuk Zahra setelah mereka kembali ke Kota C. Ia tidak pernah bertanya siapa pemilik sekolah ini, dan sekolah pun tidak pernah mempublikasikan nama pemiliknya secara mencolok.

Mungkin suatu hari nanti akan ada pengumuman atau pertemuan, tapi untuk sekarang, Davina tidak tahu. Ia hanya fokus pada rutinitasnya: bekerja, mengurus Zahra, dan berusaha melupakan masa lalu yang kelam.

Di Sekolah, Pagi itu...

Di area taman bermain, Zahra dan Kenzo sedang asyik membangun istana pasir di kotak pasir besar.

"Kenzo, ini istananya!" seru Zahra sambil menumpuk pasir dengan kedua tangannya. "Kita tinggal di sini ya, kayak putri dan pangeran!"

Kenzo tertawa, rambut keritingnya bergoyang-goyang. "Aku nggak mau jadi pangeran, Zahra. Aku mau jadi superhero!"

"Ya udah, kamu jadi superhero yang tinggal di istana aku aja," Zahra tertawa ceria.

Dua anak kecil itu tertawa lepas, tidak peduli dengan dunia di sekitar mereka. Persahabatan mereka semakin erat setiap hari. Zahra yang ceria dan Kenzo yang agak pemalu saling melengkapi.

Bu Sari, salah satu guru, mengawasi mereka dari kejauhan dengan senyum hangat. "Mereka berdua memang cocok ya, Bu Rina," ucapnya pada rekan kerjanya.

"Iya, Bu Sari. Zahra anak yang pintar dan penyayang. Kenzo juga baik. Mereka seperti kakak-adik," jawab Bu Rina.

Hari sudah menunjukkan siang ,itu tandanya zahra bentar lagi pulang sekolah.

Pukul setengah dua siang, Davina sudah berdiri di depan gerbang sekolah, menunggu Zahra keluar. Ia membawa bekal kecil, sebuah kotak berisi potongan buah dan biskuit kesukaan Zahra.

"Mah!" seru Zahra, berlari menghampiri Davina dengan pipi merona karena bermain seharian.

"Halo, Sayang. Gimana sekolahnya hari ini?" Davina berjongkok, menyeka keringat di dahi Zahra dengan tisu.

"Seru, Mah! Zahra sama Kenzo bikin istana pasir! Besok Zahra mau bikin lagi!"

Davina tersenyum. "Wah, hebat. Nanti kalau weekend, kita ke pantai ya? Biar Zahra bisa bikin istana pasir yang beneran."

"Yay! Makasih, Mah!" Zahra memeluk Davina erat.

Di saat yang sama, seorang wanita cantik berusia sekitar 26-30 tahun berjalan menghampiri area jemput. Wanita itu mengenakan dress kasual yang elegan, rambutnya diikat rapi, dan wajahnya ramah.

"Mamah!" seru Kenzo, berlari menghampiri wanita itu.

"Kenzo, Sayang!" wanita itu berjongkok, memeluk putranya. "Maaf ya, Mamah telat sedikit. Ada meeting di kantor."

Wanita itu adalah Alya, ibu dari Kenzo. Ia adalah seorang profesional yang bekerja di bidang pemasaran, dan suaminya adalah seorang dokter yang sering bertugas di luar kota.

Alya menoleh ke arah Davina yang masih berjongkok di samping Zahra. Mata mereka bertemu.

"Oh, halo!" Alya tersenyum ramah, berjalan mendekati Davina. "Anda pasti mamanya Zahra, ya? Kenzo sering cerita tentang Zahra di rumah."

Davina berdiri, tersenyum balik. "Iya, saya Davina. Dan Anda pasti mamanya Kenzo, ya? Zahra juga sering cerita tentang Kenzo."

"Saya Alya," wanita itu mengulurkan tangan. "Senang akhirnya bisa ketemu langsung. Kenzo kayaknya senang banget punya teman seperti Zahra."

"Sama, saya juga senang," Davina menjabat tangan Alya. "Zahra jadi lebih ceria sejak punya teman baik di sini."

Alya tersenyum hangat. Ada sesuatu yang membuat Davina merasa nyaman dengan wanita ini. Senyumnya tulus, matanya hangat, dan ada aura keibuan yang kuat.

"Kalau begitu, gimana kalau kita ngobrol-ngobrol sambil nunggu anak-anak selesai bersih-bersih? Ada cafe kecil di depan sekolah," ajak Alya.

"Oh, boleh," Davina mengangguk.

Mereka berjalan beriringan menuju cafe kecil di seberang sekolah, sementara Zahra dan Kenzo masih di dalam kelas, membereskan barang-barang mereka dengan bantuan Bu Sari.

Di Cafe Kecil

Mereka duduk di sudut cafe yang nyaman, memesan minuman hangat. Davina memesan matcha latte. sementara Alya memesan green tea latte.

"Jadi, Dav... kamu tinggal di daerah mana?" tanya Alya ramah.

"Aku tinggal di rumah orang tua di daerah Selatan Kota C," jawab Davina. "Lumayan strategis, dekat dengan sekolah dan tempat kerja."

"Kerja di mana, kalau boleh tahu?"

"Aku freelance designer. Jadi bisa kerja dari rumah, lebih fleksibel buat jagain Zahra."

Alya mengangguk kagum. "Wah, keren banget. Aku juga dulu kerja di bidang marketing, tapi sekarang lebih banyak di rumah karena Kenzo. Suamiku dokter, jadi sering tugas di luar kota."

"Oh, begitu. Pasti nggak mudah ya ngurus Kenzo sendirian kalau suami lagi tugas?"

Alya tertawa kecil. "Iya, kadang susah juga. Tapi aku punya bantuan dari asisten rumah tangga, dan... ya, keluarga besar juga sering bantu."

"Keluarga besar?" Davina mengangkat alis.

"Iya, mertuaku baik banget. Dan kami juga dekat sama keluarga besar suami. Jadi kalau aku butuh bantuan, mereka selalu ada," Alya tersenyum.

Davina mengangguk, merasa senang mendengar itu. "Wah, bersyukur banget ya punya keluarga yang suportif."

"Iya, aku bersyukur banget," Alya mengangguk. "Kamu sendiri, Dav? Zahra cuma punya kamu?"

Davina terdiam sejenak. Pertanyaan itu menyentuh luka lamanya. "Iya... Zahra cuma punya aku. Ayahnya... nggak terlalu terlibat dalam hidup kami."

Alya menatap Davina dengan simpati. "Maaf, aku nggak bermaksud bikin kamu sedih. Aku cuma penasaran."

"Nggak apa-apa, Alya. Aku sudah biasa," Davina tersenyum tipis. "Yang penting Zahra bahagia dan sehat."

Mereka mengobrol lebih lanjut tentang parenting, tentang tantangan menjadi ibu bekerja, tentang hal-hal ringan yang membuat mereka merasa terhubung. Davina merasa nyaman dengan Alya. Wanita itu tulus, tidak menghakimi, dan mudah diajak mengobrol.

" Eh kayaknya waktunya anak - anak pada pulang " Ucap Alya.

" ya kamu bener, lebih baik sekarang kita kembali ke sekolah " ucap Davina.

Alya dan davina bergegas keluar meninggalkan cafe kecil itu.Alya sudah membayar pesanan mereka, Tapi davina sedikit tidak enak hati.Karena baru pertama kenal sudah mengajak minum di cafe bahkan sudah di traktir.

" mamah " ucap zahra menghampiri Davina.Begitu juga dengan kenzo menghampiri alya.Alya melirik zahra betapa cantiknya anak kecil itu, mirip sekali dengan davina.

" kalian sangat mirip " ucap Alya dengan jujur

" ah.. ya banyak sekali yang bilang aku dan zahra mirip " Ucap Davina

" baiklah , kapan - kapan kalo ada waktu kita minum di cafe lagi ya " Ucap Alya.

" baik, tapi kalo ada waktu kosong ,biar aku saja yang traktir " ucap Davina

" baiklah " Ucap Alya.

Sebuah mobil alphard berjalan menuju kearah Alya dan Davina.

" Dav kita pamit duluan ya" Ucap Alya

" Ya , hati - hati ya ". Ucap Davina

Alya dan kenzo masuk kedalam mobil , tiba - tiba kaca mobil terbuka.

" ayok sayang , ucapkan salam perpisahan dengan temanmu " Ucap Alya.

"Zahra sampai jumpa besok ,, dadaaa " ucap kenzo melambaikan tangan dan tersenyum lebar.Zahra yang melihat kenzo melambaikan tangan.Zahra melakukan hal yang sama dan tersenyum hangat.

" ayok sayang " Ucap Davina

Davina membuka pintu mobil, agar zahra masuk duduk di kursi depan.Setelah itu Davina masuk ke dalam mobil , menyalakan mesin mobil mereka meninggalkan sekolah Al ghajali.

Sementara Adit sedang, melihat ponselnya.Entah apa yang menarik disana sehingga ia fokus melihat ponsel miliknya.

Adit sedang melihat seorang perempuan cantik ,berambut panjang hitam legam , tidak lupa sambil tersenyum manis di dalam Foto itu.

Adit merasa sedikit bisa membantu mengobati rasa rindunya terhadap perempuan di gambar itu.Perempuan yang selalu ia cintai sampai sekarang.Sampai Ia selalu menolak di jodohkan oleh keluarganya.

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr, penasaran nih alasan Davina minta cerai apa cuma gara-gara udah ga cocok atau ada hal lain?😌😳
Dian Meilani: jangan lupa pantengin ya, ku up ko okee
total 1 replies
ica
seru banget ceritanya👍
IRINA SHINING STAR
saya mampir kak, semangat ya kakk. 😆
Dian Meilani: makasih kk 🙏
total 1 replies
Kausafiksi.id
lanjut thor
Dian Meilani: makasih atas dukungannya
total 1 replies
Cilia
Baca ceritamu bikin ikut ngerasain kehangatan keluarga thorr, lanjutin terus ya! Semangat!
Dian Meilani: makasih kak atas dukungannya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!