Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desas-Desus dan Bunga Kertas di Saku Seragam
Senin pagi di SMA Wijaya selalu disambut dengan hiruk-pikuk khas awal pekan. Lapangan basket mulai dipenuhi anak-anak yang tergesa-gesa merapikan dasi dan topi untuk upacara, sementara koridor lantai dua di depan kelas Sepuluh-Tiga sudah riuh oleh gosip-gosip segar yang berhembus secepat angin pagi.
Callista melangkah menyusuri koridor sambil mengunyah roti cokelat. Di sampingnya, Sean berjalan santai dengan kedua tangan terbenam di saku celana abu-abunya.
"Cal, lo sadar gak sih dari tadi anak-anak cewek pada ngeliatin lo?" bisik Sean sambil melirik ke arah tiga siswi kelas sebelah yang berbisik-bisik di dekat mading.
Callista menghentikan kunyahannya, lalu ikut melirik ragu. "Masa sih? Perasaan seragam gue gak kebalik deh. Atau ada bekas cokelat di muka gue?"
"Bukan soal muka lo," kekeh Sean. "Sabtu sore kemarin kan ada anak kelas lain yang liat lo jalan bareng Kenzo di perpustakaan kota. Sekarang beritanya melenceng jauh. Katanya lo berdua udah jadian, terus lo manfaatin jabatan sekretaris buat mendekati anak pemilik yayasan."
"Hah?! Jadian sama si Kutub?!" Callista hampir saja tersedak roti cokelatnya. Wajahnya seketika memerah, antara kaget dan kesal setengah mati.
"Gila ya itu gosip! Kita kan cuma ngerjain tugas Biologi! Lagian di sana kan ada Rian juga, terus ada lo!"
"Rian kan pulang duluan, terus pas gue nyamperin lo, anak-anak cuma ngeliat lo berdua lagi ngobrol serius," terang Sean santai. Namun, jika diperhatikan lebih teliti, ada nada bicara yang sedikit tertahan di balik nada santai Sean pagi itu.
"Awas aja ya yang sebar gosip konyol gitu, gue sumpahin pensil pautannya patah terus!" gerutu Callista sambil melangkah masuk ke dalam kelas Sepuluh-Tiga.
Begitu melangkahkan kaki melewati pintu, tatapan Callista secara refleks tertuju ke barisan paling belakang dekat jendela. Tempat Kenzo biasanya duduk.
Cowok itu sudah ada di sana. Seragam putihnya tampak sangat bersih dan rapi, tanpa kerutan sedikit pun. Kenzo sedang membaca sebuah buku tebal bersampul hitam—sepertinya buku panduan organisasi—dengan headset putih terpasang di salah satu telinganya. Ia tampak terisolasi dari keriuhan kelas, seolah punya dunianya sendiri yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun.
Callista menghela napas, berjalan menuju mejanya dan melempar tas dengan agak kencang untuk menarik perhatian.
Kenzo melepas headset-nya, mendongak, lalu menatap Callista dengan pandangan datar seperti biasa. "Pagi, Sekretaris."
"Gak usah panggil gitu," ketus Callista sambil duduk di kursinya. "Gara-gara Sabtu kemarin, anak-anak sekolah pada bikin gosip aneh-aneh tahu gak!"
Kenzo menaikkan sebelah alisnya, tidak terlihat terkejut atau terusik sedikit pun. "Gosip soal apa? Soal kita yang ngerjain laporan? Biarin aja. Orang pintar fokus ke hasil kerjaan, bukan omongan kosong."
Callista mendengus. Jawaban sok bijak yang sangat khas Kenzo, batinnya dongkol. Tapi di sisi lain, ketenangan Kenzo itu secara ajaib membuat kekesalan Callista sedikit mereda.
"Nih," Kenzo mendadak menyodorkan sebuah pembatas buku dari balik buku tebalnya.
Callista membelalakkan mata. Pembatas buku kain merah bermotif Vihara miliknya yang sempat ia kira sudah tersimpan aman di dalam tas!
"Ketinggalan di meja perpustakaan kemarin pas lo buru-buru pulang sama Sean," kata Kenzo pelan. "Gue simpenin biar gak hilang."
Callista menerima pembatas buku itu dengan perasaan campur aduk. Ia menatap benda kecil itu, lalu menatap Kenzo yang kini sudah kembali memfokuskan pandangannya pada buku bacaannya.
"Makasih... Kenzo," bisik Callista tulus. Ada sedikit kehangatan yang merayap di dadanya. Ternyata di balik sifatnya yang kaku dan menyebalkan, Kenzo adalah sosok yang sangat teliti dan perhatian terhadap hal-hal kecil.
Sean yang memperhatikan interaksi singkat itu dari mejanya hanya bisa memandang dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke arah Callista.
"Cal, nanti selesai upacara, ikut gue ke kantin ya. Gue mau beli minum," ujar Sean, memotong momen hening di antara Callista dan Kenzo.
"Oke, Sean! Gue juga mau beli teh kotak," jawab Callista cepat, kembali memalingkan tubuhnya menghadap Sean.
Upacara bendera berjalan khidmat selama empat puluh lima menit di bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat. Sebagai ketua kelas, Kenzo berdiri di paling depan barisan kelas Sepuluh-Tiga, memimpin dengan sikap sempurna tanpa goyah sedikit pun.
Namun di barisan tengah, Callista mulai merasa tidak nyaman. Kakinya pegal dan kepalanya agak pusing karena belum sempat sarapan berat. Wajahnya yang memucat tidak luput dari perhatian Sean yang berdiri tepat di barisan cowok di sebelah kanannya.
"Cal, lo kuat gak? Muka lo pucat banget," bisik Sean cemas, matanya terus mengawasi gerak-gerik sahabatnya.
"Kuat kok... tinggal sebentar lagi, kan?" sahut Callista pelan sambil memegangi perutnya.
Tepat saat pembina upacara menyelesaikan amanatnya, tubuh Callista mendadak limbung. Penglihatannya mengabur dan berkunang-kunang.
"Eh—Cal!"
Sebelum tubuh Callista menyentuh tanah, dua tangan dengan cepat menahan bahu dan punggungnya. Bukan Sean yang berada di sampingnya, melainkan Kenzo—yang entah sejak kapan sudah bergerak cepat dari barisan depan begitu menyadari ada yang tidak beres dengan sekretarisnya.
"Callista! Lo kenapa?" suara Kenzo terdengar panik, merobohkan benteng pertahanan wajah datarnya dalam sekejap.
Sean langsung menyeruak maju, namun Kenzo sudah lebih dulu membopong tubuh Callista yang lemas ke arah ruang PMR di dekat lapangan. Anak-anak barisan Sepuluh-Tiga langsung heboh, sementara Sean menyusul langkah cepat Kenzo dengan perasaan campur aduk yang bergemuruh di dadanya.
Di dalam ruang PMR yang tenang dan beraroma minyak kayu putih, Kenzo membaringkan Callista di atas ranjang periksa. Petugas PMR segera memberikan pertolongan pertama, menyodorkan minyak angin dan menyiapkan teh hangat.
Beberapa menit kemudian, Callista perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit ruang PMR yang putih, disusul wajah Kenzo dan Sean yang berdiri di samping ranjangnya dengan raut khawatir yang sama besarnya.
"Gue... di mana?" gumam Callista lemah.
"Di PMR. Lo pingsan pas upacara tadi," jawab Sean cepat, menyodorkan segelas teh hangat ke bibir Callista. "Nih, minum dulu pelan-pelan."
Callista meminum teh hangat itu dibantu oleh Sean. Setelah rasa pusingnya agak berkurang, matanya beralih menatap Kenzo yang berdiri agak menyandarkan tubuh di dinding ruang PMR dengan napas yang masih sedikit memburu. Seragam Kenzo tampak agak kusut di bagian lengan—bekas membopong Callista tadi.
"Kenzo... lo yang bawa gue ke sini?" tanya Callista pelan.
Kenzo merapikan kerah seragamnya, berusaha mengembalikan raut wajah dinginnya yang sempat runtuh.
"Iya. Lain kali kalau tahu gak kuat berdiri lama, ngomong. Jangan bikin repot satu barisan."
Meskipun kata-katanya terdengar judes, Callista melihat ada selembar kain sapu tangan bersih yang disiapkan Kenzo di atas meja sebelah ranjangnya, lengkap dengan sebotol air mineral baru.
"Makasih ya... Kenzo," tutur Callista lembut.
Kenzo hanya mengangguk pelan, lalu melirik ke arah Sean. "Gue balik ke kelas dulu. Ada materi matematika. Sean, lo bisa jagain dia kan di sini?"
"Gue pasti jagain Callista. Lo gak perlu khawatir," balas Sean dengan intonasi yang tegas dan penuh penekanan pada kata 'pasti'.
Mata kedua cowok itu beradu di udara selama dua detik penuh—sebuah tatapan tak terucap yang sarat akan makna tersirat.
Kenzo kemudian berbalik dan melangkah keluar dari ruang PMR, meninggalkan Callista dan Sean dalam keheningan yang perlahan memadat.
Callista menyandarkan kepalanya di bantal, menatap pintu ruang PMR yang tertutup. Di dalam hatinya, benih-benih perasaan aneh terhadap Kenzo mulai menunjukkan wujudnya, tanpa ia sadari bahwa di sampingnya, Sean sedang memegang erat gelas teh hangat dengan perasaan yang mulai terluka.