NovelToon NovelToon
BANGKITNYA KEKUATAN LEGENDA S2

BANGKITNYA KEKUATAN LEGENDA S2

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mochamad Fachri

Ini adalah buku lanjutan dari buku sebelumnya, mengisahkan perjalanan seorang Nova Arvena untuk menjadi seorang kultivator muda terkuat dan membawa kedamaian bagi seluruh mahluk hidup yang ada.

Bagaimana kisahnya, silahkan simak cerita lanjutan ini, semoga teman-teman suka!

kali ini season ke 2 akan menggunakan alur cepat, dan banyak harem.

JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA TEMAN-TEMAN😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Gerbang abadi

“Zira...?”

Nama itu keluar begitu saja dari mulut Nova ketika kedua matanya terbuka di tengah lautan jiwanya. Untuk beberapa saat ia hanya terbaring diam di atas hamparan cahaya putih yang terasa dingin, sementara pikirannya berusaha memahami suara yang baru saja didengarnya.

Tidak mungkin ia salah mengenali suara tersebut. Meskipun terdengar sangat lemah dan seperti berasal dari tempat yang teramat jauh, suara itu benar-benar milik Zira, wanita yang telah begitu lama menghilang dari kehidupannya sejak dirinya terlempar ke dunia yang sama sekali asing ini.

Nova segera bangkit, tetapi baru saja berdiri, rasa lemah yang aneh langsung menyelimuti seluruh tubuh jiwanya. Kedua kakinya terasa berat dan pandangannya sempat bergetar, membuat dirinya harus menahan tubuh dengan satu lutut menyentuh permukaan lautan jiwa.

Keadaan tersebut membuat Nova sedikit terkejut karena selama ini tubuh jiwanya hampir tidak pernah terpengaruh secara langsung oleh kondisi fisiknya di dunia luar, tetapi kali ini kelelahan akibat menggunakan Teknik Array Sembilan Langit dua kali dalam waktu berdekatan ternyata telah memengaruhi kesadarannya hingga ke bagian terdalam.

“Jangan terlalu memaksakan diri.”

Suara Tian Long terdengar dari belakang. Naga kuno itu berjalan perlahan dalam wujud manusia dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung, tetapi tidak ada lagi senyuman mengejek seperti beberapa saat sebelumnya. Tatapannya tertuju lurus ke arah gerbang raksasa yang berdiri jauh di kedalaman lautan jiwa Nova, tepat pada retakan tipis yang baru saja muncul di salah satu sisinya.

Nova mengikuti arah pandangan Tian Long. “Kau juga mendengarnya?”

“Tidak.”

Jawaban tersebut membuat Nova mengernyit.

Tian Long berhenti beberapa langkah di sampingnya. “Aku hanya merasakan getaran dari Gerbang Abadi, tetapi tidak mendengar suara siapa pun. Jika kau benar-benar mendengar suara wanita itu, berarti panggilan tersebut ditujukan langsung kepada jiwamu.”

Nova terdiam. Perlahan ia memaksakan dirinya berdiri kembali, lalu mulai berjalan menuju Gerbang Abadi. Setiap langkah terasa semakin berat, seolah ada tekanan tidak kasatmata yang mencoba menghentikannya. Namun semakin dekat dirinya dengan gerbang tersebut, semakin jelas pula perasaan yang muncul di dalam hatinya.

Rindu.

Khawatir.

Dan sebuah perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan.

“Zira...” Nova kembali memanggil.

Kraaaak...

Retakan pada Gerbang Abadi sedikit melebar. Cahaya putih kebiruan merembes keluar dari celah sempit tersebut, membuat seluruh lautan jiwa bergetar pelan. Pada saat yang sama, Tian Long langsung mengangkat kepala dan ekspresi wajahnya berubah serius.

“Berhenti!”

Nova menghentikan langkahnya.

“Kenapa?”

“Gerbang itu sedang merespons jiwamu.”

“Bukankah itu bagus?”

Tian Long menatap Nova seperti sedang melihat seorang anak kecil yang mencoba memasukkan tangannya ke dalam mulut binatang buas. “Bagus kepalamu! Kau bahkan hampir mengeringkan dantianmu beberapa saat lalu. Tubuh fisikmu saat ini tidak sadarkan diri dan lautan jiwamu berada dalam keadaan lemah, tetapi kau justru ingin membuka sesuatu yang bahkan aku tidak mampu melihat bagian dalamnya?”

Nova terdiam beberapa saat.

“Kakek tua.”

“Apa?”

“Kau takut?”

Tian Long membeku.

Nova menoleh kepadanya dan untuk pertama kalinya sejak berada di Planet Galastos, senyum mengejek muncul di wajahnya. “Ternyata Naga Suci Primordial juga bisa merasa takut.”

Wajah Tian Long langsung menggelap.

“BOCAH KURANG AJAR!”

Di dunia luar, Yun Xi membawa Nova menjauh dari gerbang Kota Tujuh Bintang bersama Lin Xue dan Yan Mei. Mereka akhirnya menemukan sebuah pohon spiritual berukuran besar yang tumbuh tidak jauh dari tepi jalan utama, batangnya begitu lebar hingga membutuhkan setidaknya sepuluh orang dewasa untuk mengelilinginya, sementara dedaunannya yang berwarna hijau kebiruan membentuk kanopi luas yang mampu melindungi mereka dari cahaya matahari.

Yun Xi perlahan menurunkan tubuh Nova di bawah pohon tersebut. Ia melipat sebagian jubah luarnya dan meletakkannya di bawah kepala Nova sebagai alas, kemudian segera memeriksa denyut nadi pemuda itu dengan dua jari. Energi hijau zamrud mengalir sangat lembut dari ujung jarinya, memasuki meridian Nova dan bergerak menuju dantian.

Beberapa saat kemudian, alis Yun Xi mengerut.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Lin Xue.

“Tidak ada luka dalam.”

Yan Mei yang berdiri di samping mereka langsung menghela napas lega. “Syukurlah.”

“Tapi...”

Satu kata itu membuat Yan Mei kembali menoleh.

Yun Xi memusatkan energinya lebih dalam. Semakin lama ia memeriksa tubuh Nova, semakin aneh ekspresi yang muncul di wajahnya. Sebagai murid Sekte Bunga Akar Abadi, dirinya telah mempelajari berbagai jenis tubuh kultivator dan kondisi meridian sejak masih kecil, bahkan beberapa tetua sektenya pernah mengatakan bahwa kemampuan pemeriksaan energinya jauh melampaui murid lain seusianya.

Namun tubuh Nova benar-benar berbeda.

Energi spiritual di dalam dantiannya hampir kosong, tetapi di saat yang sama, terdapat sebuah kekuatan aneh yang terus menyerap energi langit dan bumi dari lingkungan. Kecepatannya tidak terlalu tinggi, tetapi proses tersebut berjalan tanpa henti bahkan ketika Nova tidak sadarkan diri.

Lebih aneh lagi, Yun Xi tidak mampu melihat pusat kekuatan tersebut.

Setiap kali kesadarannya mencoba mendekati dantian Nova lebih dalam, sebuah cahaya keemasan akan muncul dan dengan lembut mendorong energinya keluar.

“Tubuhnya menolak pemeriksaanku,” bisik Yun Xi.

Lin Xue mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

“Aku juga tidak tahu.”

Yun Xi menatap wajah Nova yang masih tidak sadarkan diri. “Seolah ada sesuatu di dalam tubuhnya yang tidak ingin aku melihat lebih jauh.”

Yan Mei perlahan menyeringai.

“Mungkin tubuhnya malu.”

Yun Xi menoleh datar. “Apa?”

Yan Mei mengangkat kedua bahunya. “Tidak ada.”

“Yan Mei.”

“Aku benar-benar tidak mengatakan apa-apa.”

Lin Xue menghela napas melihat keduanya, kemudian mengalihkan pandangan menuju Gu Shen dan Qin Yu yang berada beberapa puluh meter dari mereka. Kedua pria tersebut sedang bekerja bersama beberapa kultivator Kota Tujuh Bintang yang mulai sadar untuk memindahkan puluhan tubuh yang bergelimpangan di sekitar jalan.

Sebagian besar penduduk hanya kehilangan kesadaran akibat energi jiwa mereka yang terkuras terlalu banyak, tetapi beberapa orang mengalami luka cukup serius setelah dipaksa menggunakan kekuatan melampaui batas tubuh mereka. Gu Shen mengangkat dua orang sekaligus di kedua bahunya, sementara Qin Yu menggunakan energi angin dari kipas gioknya untuk mengangkat beberapa tubuh dan memindahkan mereka ke tempat yang lebih aman.

“Kenapa selalu aku yang mendapat pekerjaan berat?” keluh Gu Shen.

Qin Yu mengibaskan kipasnya dengan santai. “Karena kau memiliki tubuh paling besar.”

“Itu bukan alasan!”

“Menurutku itu alasan yang sangat masuk akal.”

Gu Shen memelototi Qin Yu. “Kau hanya berdiri sambil menggerakkan kipas!”

Qin Yu tersenyum tipis. “Gunakan otak, bukan hanya otot.”

“Dasar kau!”

Kipas Qin Yu berhenti bergerak.

Gu Shen membeku.

Beberapa detik kemudian, puluhan bilah angin muncul di sekitar Qin Yu.

“Ulangi perkataanmu.”

Gu Shen langsung mengangkat kedua tangan. “Saudaraku, sepertinya kau salah dengar.”

Yan Mei yang melihat kejadian tersebut tertawa keras, sementara Lin Xue hanya memijat pelipisnya. Untuk sesaat, ketegangan yang sejak tadi menyelimuti mereka sedikit menghilang, meskipun pemandangan puluhan ribu penduduk yang masih terbaring di seluruh Kota Tujuh Bintang tetap menjadi pengingat bahwa masalah mereka belum benar-benar selesai.

Yun Xi tidak ikut tertawa.

Tatapannya tetap tertuju kepada Nova.

Ia mengambil sebuah botol giok kecil dari cincin penyimpanannya, menuangkan satu pil berwarna putih kehijauan, kemudian dengan hati-hati membuka mulut Nova dan memasukkan pil tersebut.

“Pil Pemulih Jiwa?” Lin Xue sedikit terkejut.

Yun Xi mengangguk.

“Itu pil tingkat tinggi,” lanjut Lin Xue. “Bahkan murid inti Sekte Bunga Akar Abadi tidak mungkin membawa banyak pil seperti itu.”

Gerakan Yun Xi berhenti sesaat.

Namun ia segera menyimpan kembali botol giok tersebut.

“Dia telah menyelamatkan kita dua kali.”

Jawabannya terdengar sederhana, tetapi Lin Xue menatap Yun Xi cukup lama sebelum akhirnya memilih tidak bertanya lebih jauh.

Di dalam lautan jiwa, Nova masih berdiri menghadap Tian Long yang wajahnya telah berubah merah karena marah.

“Aku bukan takut!”

“Baiklah.”

“Aku hanya berhati-hati!”

Nova mengangguk. “Aku mengerti.”

“Tatapanmu tidak mengatakan kau mengerti!”

Nova hampir tertawa, tetapi sebelum sempat menjawab, suara itu kembali terdengar.

“Nova...”

Kali ini jauh lebih jelas.

Senyuman di wajah Nova langsung menghilang.

Ia menoleh cepat menuju Gerbang Abadi.

“Zira!”

KRAAAAK!

Retakan pada gerbang melebar.

Cahaya putih kebiruan langsung meledak dari celah tersebut dan menyapu seluruh lautan jiwa. Nova mengangkat tangannya untuk melindungi kedua mata, sementara Tian Long segera membentuk lapisan energi emas di sekitar tubuhnya.

Di tengah cahaya tersebut, sebuah bayangan muncul.

Sangat samar.

Namun Nova langsung mengenalinya.

Rambut panjang.

Tubuh ramping.

Dan sepasang mata yang selama ini tidak pernah benar-benar mampu ia lupakan.

“Zira...”

Bayangan wanita itu berdiri di balik Gerbang Abadi. Bibirnya bergerak perlahan, tetapi sebagian besar suara terhalang oleh lapisan energi aneh yang memisahkan mereka.

Nova maju satu langkah.

“Zira!”

Wanita itu mengangkat tangannya dan menempelkan telapak tangannya pada celah gerbang.

Nova tanpa sadar melakukan hal yang sama.

Ketika telapak tangan mereka hampir bersentuhan meskipun terpisah oleh gerbang, satu kalimat akhirnya terdengar jelas.

“Jangan... buka Gerbang Abadi.”

Nova membeku.

“Apa?”

Ekspresi Zira berubah panik.

“Nova... dengarkan aku...”

Cahaya di sekitar tubuhnya mulai bergetar.

“Mereka sudah mengetahui keberadaanmu.”

“Siapa?”

Nova menekan telapak tangannya semakin kuat pada gerbang.

“Zira! Siapa yang kau maksud?!”

Bayangan Zira mulai memudar.

“Mereka...”

Suara tersebut terputus-putus.

“...sedang mencarimu.”

KRAAAAK!

Retakan Gerbang Abadi tiba-tiba menutup dengan sendirinya.

“ZIRA!”

Nova menghantam permukaan gerbang dengan kedua tangannya, tetapi tidak ada lagi jawaban. Cahaya putih kebiruan menghilang dan lautan jiwa kembali sunyi.

Nova berdiri membeku.

Tian Long perlahan berjalan mendekat.

Untuk pertama kalinya, naga kuno itu tidak mengejek atau menertawakannya.

“Anak muda.”

Nova tidak menjawab.

Tatapannya tetap tertuju kepada Gerbang Abadi.

“Mereka sudah mengetahui keberadaanmu.”

Nova mengulang kalimat Zira dengan suara rendah.

Tian Long menyipitkan mata, Nova perlahan mengepalkan tangannya.

Pertama, Lembah Iblis Hitam, kemudian makhluk Era Kekacauan Kuno. Sekarang seseorang yang bahkan membuat Zira memperingatkannya agar tidak membuka Gerbang Abadi.

Semua kejadian tersebut terasa seperti potongan-potongan teka-teki yang belum mampu ia susun.

Namun satu hal mulai Nova sadari. Kedatangannya ke Planet Galastos mungkin bukan sebuah kebetulan.

Dan sejak dirinya menginjakkan kaki di dunia ini... seseorang telah mengetahui keberadaannya.

1
Raden Mamad
yg suka fantasi pria ini ada novel bagus di jamin pokoknya judul JALAN MENUJU KEILAHIAN'
Muhammad Irdham
mantap thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!