Di siang hari, Rania adalah sekretaris magang yang paling menyedihkan. Berkacamata bulat, rambut di Cepol asal dan baju yang kedodoran selalu menjadi makanan empuk sang CEO perusahaan yang tampan namun berdarah dingin, perfeksionis dan tak memiliki belas kasihan.
Namun, demi melunasi hutang ibunya yang menumpuk, Rania dengan ikhlas menjalani hidupnya di bawah tekanan bahkan Rania rela melakukan pekerjaan lainnya yang cukup ekstrem di malam hari.
Dengan berubah menjadi sosok gadis bernama "milky" bermata abu-abu yang imut dan kostum gotik yang menggemaskan di sebuah Dark Moon Maid Cafe.
Petaka berawal ketika seorang pelanggan VVIP misterius bermasker hitam datang dan memesan tempat khusus bersamanya.
Begitu pria itu membuka suara, Rania nyaris terkena serangan jantung.
Pria yang meminta pelayanan imut bermantra 'Moe-moe Kyun' tidak lain adalah bosnya sendiri di kantor yang paling dia benci !
Untungnya, Arkan bosnya sama sekali tidak mengenalinya.
baca ceritanya untuk lanjut🫶🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Sifat Posesif yang Muncul
...Udara di dalam ruang VVIP nomor satu masih menyisakan sisa rasa tegang dari insiden di lantai bawah tadi....
...Arkananta, pria yang baru saja meruntuhkan mental seorang kontraktor kaya hanya dengan remasan jemarinya, kini duduk di sofa kulit hitam dengan postur yang tidak lagi tenang....
...Rona merah di telinganya memang telah memudar, namun kilat mata elangnya masih menyimpan bara api kemarahan yang belum tuntas....
...Milky berdiri di samping meja marmer, tangannya sibuk meracik teh kamomil dengan sangat terampil....
...Ia bisa merasakan setiap tatapan Arkan yang tertuju padanya....
...Tatapan itu tidak lagi sekadar tatapan "pelanggan yang penasaran"....
...Kali ini, tatapan itu terasa berat....
...Tatapan seorang pria yang baru saja menyadari bahwa ia tidak ingin mainan favoritnya disentuh oleh tangan orang lain....
..."T-tehnya sudah siap, Tuan Besar..." ucap Milky pelan, menyodorkan cangkir porselen hitam....
...Arkan tidak langsung menerima cangkir itu....
...Ia malah bangkit berdiri dengan gerakan yang lambat dan pasti....
...Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan VVIP, meninggalkan Milky yang mematung dengan cangkir teh masih melayang di udara....
...Milky meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja, lalu buru-buru mengikuti langkah Arkan keluar menuju area lantai satu....
...Pikirannya dipenuhi kekhawatiran....
...Apa yang akan dia lakukan? Apakah dia akan melampiaskan amarahnya pada Manajer Tedi? Apakah kafe ini akan ditutup karena keributan tadi?...
...Di dekat meja kasir, Manajer Tedi tampak pucat pasi saat melihat Arkananta Narendra mendekat dengan langkah yang penuh tekanan mencekam....
...Arkan tidak berhenti di depan meja resepsionis, ia langsung melangkah masuk ke ruang kantor Manajer Tedi tanpa mengetuk, lalu menutup pintu rapat-rapat....
...Milky berlari kecil ke arah pintu kantor Tedi, menempelkan telinganya pada kayu pintu yang tebal....
..."Saya tidak peduli berapa pun biayanya," suara Arkan terdengar meredam, namun nada baritonnya yang dingin sangat jelas menusuk pendengaran Milky....
..."Saya ingin booking jadwal Milky. Secara khusus."...
..."Khu-khusus, Tuan?" suara Tedi terdengar gemetar dan bingung....
..."Maksud Tuan, Tuan ingin menambah jam reservasi menjadi lebih lama?"...
..."Bukan. Saya ingin booking pelayan itu secara khusus dan pribadi untuk saya, selama sebulan ke depan," jawab Arkan dengan nada yang tak bisa di bantah....
..."Setiap kali dia berada di kafe ini, dia hanya boleh melayani saya. Tidak ada pelanggan lain yang boleh menyentuhnya, tidak ada pelanggan lain yang boleh memesan mantranya, dan tidak ada pelanggan lain yang boleh menatapnya dengan pandangan menjijikkan seperti yang terjadi malam ini."...
...Milky menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya yang berlensa abu-abu melotot lebar....
..."Apa?! Booking khusus? Dia pikir ini apa, toko kelontong yang bisa diborong semua isinya?!" Batin Rania Shock bukan main....
..."T-tapi Tuan," suara Tedi terdengar panik....
..."Milky adalah pelayan paling populer di sini. Jika dia tidak melayani pelanggan lain, pendapatan kafe akan turun drastis dan pelanggan setia kami akan protes!"...
..."Ini," Arkan meletakkan sesuatu di atas meja kayu Tedi, suara decit gesekan cek atau kartu premium terdengar jelas....
..."Angka itu tiga kali lipat dari rata-rata pendapatan bersih kafe ini dalam sebulan. Itu kompensasi kerugian yang akan Anda dapatkan karena kehilangan pelanggan lain. Sisanya, adalah biaya sewa khusus untuk pelayan Milky."...
...Keheningan melanda ruang kantor sejenak....
...Milky bisa mendengar napasnya sendiri yang memburu....
...Arkananta, Bos kantornya yang siang tadi memaki-makinya karena terlambat sepuluh menit, kini sedang menggunakan uangnya untuk membeli "kebebasan" Milky dari dunia luar....
..."Satu hal lagi," tambah Arkan, suaranya kini terdengar jauh lebih rendah dan berbahaya....
..."Jika saya mendengar ada satu pelanggan pria lagi yang berani menyentuh atau menawarkan hal-hal kotor padanya, saya tidak hanya akan menutup kafe ini, saya akan memastikan Anda tidak akan bisa membuka bisnis apa pun di kota ini seumur hidup. Paham?"...
..."P-paham, Tuan Besar! Tentu saja, Tuan!" suara Tedi terdengar mencicit ketakutan....
...Milky buru-buru menjauh dari pintu kantor saat mendengar bunyi kursi digeser....
...Ia kembali ke area bar dan berpura-pura sedang menata botol-botol sirup dengan tangan yang gemetar hebat....
...Pintu kantor terbuka....
...Arkan melangkah keluar dengan raut wajah yang kembali datar dan angkuh....
...Ia tidak memedulikan tatapan heran dari staf kafe lainnya....
...Pria itu berjalan langsung menghampiri Milky di bar....
...Di mata Arkan, kini ada rasa lega yang aneh, sebuah kepuasan yang muncul karena ia merasa telah berhasil "mengamankan" sesuatu yang paling menarik perhatiannya di tengah dunianya yang sunyi....
...Arkan berhenti tepat di depan Milky....
...Ia menatap pelayan itu sejenak dengan tatapan yang membuat Rania harus berusaha keras mempertahankan senyum "Milky"-nya....
..."Mulai besok," ucap Arkan pelan, namun suaranya penuh akan perintah yang tidak bisa diganggu gugat....
..."Kamu tidak perlu melayani orang lain lagi di kafe ini. Kamu hanya milik saya saat berada di bawah atap ini."...
...Setelah mengucapkan kalimat posesif yang terdengar sangat tidak masuk akal itu, Arkan membalikkan tubuh dan berjalan keluar dari pintu kafe, meninggalkan Milky yang masih terpaku di belakang bar....
...Manajer Tedi keluar dari kantor dengan wajah yang terlihat antara syok, takut, dan kegirangan melihat nominal yang baru saja ia terima....
..."Milky... apa yang baru saja terjadi?"...
...Milky tidak menjawab....
...Ia menatap pintu kafe yang telah tertutup rapat, merasakan dadanya sesak oleh campuran emosi yang luar biasa aneh....
...Arkananta Narendra, bos kejam yang siang tadi menghina selera "KW"-nya di kantor, malam ini telah mengeluarkan uang dalam jumlah yang fantastis hanya agar dirinya tidak disentuh pria lain....
...Sifat posesif itu......
...bukan hanya sekadar amarah karena kejadian Tuan Danu tadi....
...Itu adalah sesuatu yang lebih dalam dan lebih berbahaya....
...Arkan mulai terobsesi pada "Milky"....
...Dia ingin mengurung objek obsesinya di dalam ruang VVIP, menjauhkannya dari dunia luar, dan memilikinya sepenuhnya sebagai properti khusus....
...Rania merasa seolah-olah sebuah jerat sutra yang indah namun mematikan kini mulai melilit lehernya....
...Ia berhasil mengumpulkan uang untuk ibunya melalui penyamaran ini, ya....
...Ia berhasil menaklukkan hati sang monster, ya. Namun, seiring dengan munculnya sifat posesif Arkan yang kian menjadi-jadi, risiko penyamarannya kini menjadi berlipat ganda....
..."Apa yang telah aku lakukan..." bisik Milky lirih di tengah keramaian kafe yang kembali normal....
...Ia meraba jepit rambut kupu-kupu kristal di rambutnya....
...Benda itu kini terasa seperti sebuah penanda kepemilikan....
...Dia telah berhasil memenangkan "permainan" ini, namun dia baru saja menyadari bahwa lawan mainnya bukanlah orang biasa....
...Dia baru saja memenangkan hati seorang pria yang terbiasa memiliki apa pun yang diinginkannya, dan pria itu tidak akan pernah membiarkan apa yang sudah menjadi "miliknya" pergi begitu saja....
...Rania memejamkan mata, membiarkan kebisingan malam minggu menghanyutkan pikirannya....
...Besok pagi, pria itu akan kembali menjadi bos kejam yang dingin dan kejam di kantor, sementara malam harinya, dia akan menjadi pria posesif yang memuja-muja pelayan palsu di hadapannya....