Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Tiga hari berlalu sejak peristiwa tragis di kamar mandi itu. Hari-hari yang dilalui keluarga Broto berubah menjadi kemelut yang semakin pekat. Selama tiga hari itu pula, Siska terpaksa menginap dan setia menemani ibunya yang terbaring lemah tak berdaya di ruang perawatan rumah sakit. Wanita tua yang dulunya begitu berkuasa di rumah dan bersuara melengking itu, kini hanya bisa menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, sementara separuh tubuhnya lumpuh total dan bibirnya membisu karena stroke yang menyerangnya.
Sementara Siska menjaga sang ibu di rumah sakit, di tempat lain Aris harus melangkah dengan tubuh layu menuju Pengadilan Agama. Hari ini adalah jadwal sidang perdana perceraian mereka—sebuah persidangan yang sangat dihindari Aris, namun kini tak lagi bisa ia elakkan.
Dengan kemeja lusuh yang tak tersetrika rapi dan mata sembap kurang tidur, Aris berjalan memasuki ruang sidang. Di sana, di atas kursi kayu sebelah kiri, Rena sudah duduk anggun berhadapan dengan Majelis Hakim. Rena tampil sangat rapi, mengenakan pakaian yang bersih, dengan wajah yang memancarkan ketenangan serta ketegasan. Di sampingnya, tidak ada lagi keraguan.
"Sidang perkara perceraian antara Renata dan Aris Wicaksono dibuka," ucap Hakim Ketua mengetuk palu sidang.
Sesuai prosedur, agenda pertama adalah upaya mediasi dari Majelis Hakim. Hakim Ketua menatap kedua belah pihak secara bergantian. "Saudara Aris, selaku tergugat, bagaimana tanggapan Anda atas gugatan perceraian yang diajukan oleh istri Anda?"
Aris langsung berdiri dari kursinya. Dengan wajah memelas dan suara yang hampir pecah oleh isak tangis, dia memandang ke arah Rena yang sama sekali tidak mau menatapnya.
"Yang Mulia Majelis Hakim... saya mohon, jangan kabulkan gugatan ini," ratap Aris dengan tangan menyatu di dada. "Saya mengaku salah, saya khilaf! Tapi saya sangat mencintai istri saya. Saya tidak mau bercerai dari Rena!"
Aris kemudian melangkah satu tindak mendekati arah kursi Rena, mencoba membujuknya secara langsung di depan hakim.
"Ren... tolonglah aku, Ren," bujuk Aris dengan suara bergetar, air matanya menetes di pipi. "Pulanglah ke rumah. Ibu... Ibu sekarang sedang dirawat di rumah sakit karena kena serangan stroke berat, Ren. Ibu lumpuh dan butuh bantuan. Aku mohon, lupakan masalah kita, kembalilah demi Ibu dan demi Dio. Kita mulai semuanya dari awal lagi, Tolong kasihanilah kami..."
Suasana ruang sidang mendadak hening sejenak. Aris mengira dengan membawa-bawa kondisi kemalangan ibunya, hati Rena yang selama ini dikenal lembut dan berbelas kasih akan luluh dan lumer.
Namun, Aris salah besar. Rena justru menegakkan punggungnya. Wajahnya tidak menunjukkan rasa iba sedikit pun, melainkan kekecewaan yang telah membeku menjadi kemarahan yang dingin. Dia berdiri, menatap Majelis Hakim dengan pandangan lurus tanpa keraguan.
"Yang Mulia Majelis Hakim yang terhormat," ujar Rena, suaranya terdengar begitu lantang, tegas, dan menggema di setiap sudut ruangan sidang. "Saya menolak dengan sangat tegas permohonan damai dan ajakan kembali dari Saudara Aris! Saya mantap ingin bercerai dengan beliau. "
Aris terbelalak mendengar penolakan tanpa jeda itu. "Ren... tapi Ibu sedang sakit— dia butuh kamu–"
"Saya tahu persis apa alasan sebenarnya dia memohon saya kembali!" potong Rena dengan senyuman sinis yang menohok ulu hati Aris. "Bukan karena dia menyesal atau masih mencintai saya, Yang Mulia. Tapi karena jika saya kembali ke rumah itu sekarang, saya pasti hanya akan dijadikan pembantu gratisan lagi seperti sebelumnya, selama bertahun-tahun, selama saya menjadi istrinya! Saya akan diperas tenaganya untuk mengurus rumah yang kotor, memasak, dan sekarang harus merawat ibunya yang sedang lumpuh! sedangkan dulu saja, ibu mas Aris ini selalu menghina saya, mengatakan saya menantu tidak berguna,pemalas dan banyak lagi hinaan yang saya Terima. Haruskan saya kembali ke keluarga yang selalu meremehkan saya,sedangkan saya tidak pernah mendapatkan keuntungan sedikitpun dari mereka, Bahkan untuk membeli baju pun saya tidak sempat. Dan pengabaian mas Aris sendiri terhadap sikap mereka kepada saya dan Dio anak kami, tidak akan pernah saya lupakan. ."
Rena berbalik, menatap Aris dengan tatapan tajam seperti pedang. "Kenapa harus saya, Mas Aris? Bukankah di rumahmu sekarang sudah ada istri sirimu yang sangat kamu banggakan itu? Linda yang cantik, yang bersih, dan yang dua kali lipat kamu beri uang bulanan melebihi saya! Kenapa bukan dia saja yang kamu suruh merawat ibumu?! Kenapa baru mencari saya saat rumahmu tertimpa musibah dan membutuhkan tenaga pembantu gratisan ini?!"
Mendengar kalimat menohok dari Rena, wajah Aris seketika berubah dari memelas menjadi merah padam karena malu yang luar biasa. Para anggota Majelis Hakim saling berpandangan, menangkap kebenaran yang teramat gamblang dari nada suara Rena.
Tak berhenti sampai di sana, Rena kemudian merogoh tasnya dan menyerahkan sebuah map tebal berisi berkas-berkas bukti kepada Panitera untuk diserahkan ke meja Majelis Hakim.
"Yang Mulia, agar persidangan ini tidak membuang-buang waktu dengan kebohongan Saudara Aris, saya menyerahkan seluruh bukti otentik pengkhianatannya," tutur Rena tenang.
Di dalam sidang yang sakral itu, bukti demi bukti dibuka dan diputar. Majelis Hakim mendengarkan rekaman suara Bu Broto yang memuji perselingkuhan anaknya selama empat tahun terakhir, serta rekaman percakapan yang membongkar diskriminasi keuangan yang dialami Rena. Dan yang paling menentukan, Rena memperlihatkan bukti rekaman video penggerebekan saat Aris dan Linda melakukan tindakan asusila di ruang tamu rumah mereka.
Hakim Ketua dan Hakim Anggota meneliti bukti-bukti tersebut dengan raut wajah yang kian mengeras menatap pihak Aris. Bukti-bukti itu teramat sah, valid, dan sangat menyudutkan Aris hingga pria itu tidak memiliki celah sedikit pun untuk membantah atau mengelak lagi.
Rena menangkupkan kedua tangannya di dada, menatap Majelis Hakim dengan tatapan penuh permohonan yang mantap.
"Yang Mulia Majelis Hakim... semua bukti sudah sangat jelas bahwa pernikahan kami selama ini sudah sakit dan tidak dapat dipertahankan lagi akibat perselingkuhan, penelantaran, dan kekerasan psikis yang saya dan anak saya alami selama ini. Saya memohon kepada Majelis Hakim agar menjatuhkan keputusan cerai ini secepat-cepatnya. Saya tidak ingin ada mediasi, saya tidak ingin ada kata damai lagi dengan pria ini. Saya ingin memutus seluruh hubungan hukum dan memerdekakan hidup saya dari keluarga mereka. "
Kata-kata Rena yang meluncur mantap tanpa keraguan itu menutup ruang gerak Aris sepenuhnya. Di atas kursi tergugat, Aris hanya bisa tertunduk lesu dengan tubuh gemetar, menyadari bahwa pintu maaf dari Rena telah tertutup rapat untuk selamanya, dan keputusan hukum kini berada di ujung palu hakim yang siap menghantam sisa kesombongannya.
aku pikir sampai Rena menikah lagi