"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Retaknya Dinding Kepercayaan
Bab 10: Retaknya Dinding Kepercayaan
Brak!
Pintu kamar utama digebrak dengan kasar hingga membentur dinding penahan di belakangnya. Adrian berdiri di ambang pintu dengan napas memburu. Setelan jas abu-abunya yang mahal kini tampak kontras dengan wajahnya yang merah padam menahan amarah yang meluap-luap.
"Hana! Apa-apaan kelakuanmu ini?!" bentak Adrian, suaranya menggelegar memenuhi kamar yang semula sunyi. Ia melangkah lebar mendekati ranjang, menatap Hana dengan pandangan menghakimi yang teramat pekat. "Kamu sudah keterlaluan! Apa belum cukup kamu membuat Ibu tertekan, sampai sekarang kamu berani berbuat kasar dan menyiram Santi dengan air panas?!"
Hana yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang tidak sedikit pun tersentak. Wajahnya tetap tenang, datar, dan sedingin es, seolah-olah pria yang sedang mengamuk di depannya ini hanyalah orang asing yang salah masuk ruangan.
"Mas, kalau kamu punya mata, silakan lihat nampan di atas nakas itu," ucap Hana dengan nada suara yang sangat teratur dan lambat, menunjuk ke arah mangkuk bubur yang sudah mendingin. "Air yang aku siramkan ke wajahnya adalah sisa air hangat untuk meminum obat, bukan air mendidih. Dan jika kamu punya otak untuk berpikir jernih, tanyakan pada gadismu itu, pakaian seperti apa yang dia gunakan saat masuk ke kamar suamimu?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Hana!" potong Adrian, mengabaikan argumen istrinya. "Pakaian Santi sama sekali tidak ada hubungannya dengan tindakan kasarmu! Dia hanya seorang anak kampung yang tidak punya apa-apa, berniat baik mengantarkan makanan untukmu karena kamu malas turun ke bawah! Tapi apa balasanmu? Kamu malah menindasnya karena cemburu buta!"
Adrian berkacak pinggang, napasnya naik-turun menahan dongkol. "Aku tahu kamu sedang hamil, tapi kehamilanmu ini bukan alasan untuk bertindak semena-mena seperti seorang psikopat di rumah ini! Aku lelah, Hana! Di restoran aku harus memikirkan grafik omzet yang mulai tidak stabil, dan begitu pulang ke rumah, aku harus menghadapi tingkah gila istriku sendiri!"
Hana menatap Adrian dengan saksama. Kata 'psikopat' dan 'tingkah gila' yang keluar dari mulut pria itu bagai paku-paku karat yang ditancapkan tepat di hatinya. Tidak ada lagi sisa cinta, tidak ada lagi rasa hormat. Semuanya telah terkikis habis, menyisakan sebuah tekad bulat yang mengkristal untuk melakukan pembalasan yang paling menyakitkan.
"Kalau begitu, silakan kunci aku di kamar ini, Mas. Jangan biarkan aku keluar, agar gadismu itu aman dari tindakanku," sahut Hana dengan senyuman tipis yang teramat misterius, membuat Adrian mendadak merinding untuk sesaat melihat ketenangan istrinya.
"Memang itu yang akan aku lakukan!" ketus Adrian, mencoba mengusir rasa aneh di hatinya. "Mulai hari ini, ponselmu resmi aku sita. Kamu tidak boleh berhubungan dengan siapa pun di luar rumah, terutama orang-orang restoran. Semua kebutuhan makananmu akan diantarkan oleh Ibu. Santi tidak akan aku biarkan mendekati kamar ini lagi agar kamu tidak menyakitinya!"
Adrian melangkah mendekati nakas, menyambar ponsel Hana dengan kasar, lalu berbalik pergi meninggalkan kamar tanpa menoleh sedikit pun.
Klek.
Suara kunci pintu dari luar terdengar begitu nyaring. Hana terisolasi sepenuhnya di dalam kamarnya sendiri. Namun, alih-alih menangis atau berteriak histeris, Hana justru merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan perlahan. Ia mengelus perutnya yang terasa hangat.
"Kita akan bertahan di sini sebentar, Sayang," bisik Hana pada janinnya. "Biarkan ayahmu menikmati ilusi kekuasaannya sekarang. Saat pintu ini terbuka nanti, Ibu yang akan memastikan mereka semua yang merangkak memohon ampun."
Keesokan harinya, operasional di ketiga cabang Rumah Makan "Rasa Hana" resmi berjalan menggunakan buku resep tebal yang diserahkan oleh Hana. Di Cabang Satu, Pak Joko berdiri di depan kuali besar dengan wajah penuh keraguan. Ia memasukkan bumbu inti ayam bakar bumbu rujak sesuai dengan gramasi baru yang tertulis di buku panduan.
"Pak, ini takaran gula merah dan garamnya tidak kebanyakan?" tanya seorang asisten koki, melihat tumpukan bumbu yang siap diaduk.
Pak Joko menghela napas panjang, mengingat pesan rahasia dari Hana yang melarangnya mengubah satu gram pun. "Ikuti saja apa yang tertulis di buku itu. Ini perintah langsung dari Mas Adrian. Jangan ada yang berani meremajakan takarannya sendiri."
Satu jam kemudian, beberapa porsi ayam bakar bumbu rujak dengan formula baru mulai disajikan ke meja pelanggan. Secara visual, tampilannya luar biasa cantik. Warnanya merah merona berkat karamelisasi gula merah yang pas, tampak sangat menggugah selera saat difoto oleh beberapa pelanggan untuk diunggah ke media sosial.
Di ruang kerjanya, Adrian yang memantau lewat layar monitor tersenyum puas. Laporan dari kasir menunjukkan bahwa pada siang itu, pesanan menu ayam bakar meningkat karena tampilannya yang menarik.
"Lihat, Bu," ujar Adrian melalui sambungan telepon kepada Ibu Broto di rumah. "Hana saja yang selama ini terlalu pelit dengan bumbu. Pakai takaran baru ini, tampilannya jauh lebih menjual. Investor dari luar kota yang kemarin datang juga memuji warna masakannya sangat premium. Hana sudah tidak kita butuhkan lagi di sini."
Di seberang telepon, Ibu Broto terkekeh puas. "Tentu saja, Adrian! Makanya Ibu bilang, serahkan semuanya pada resep tertulis itu. Hana itu cuma mau terlihat penting saja selama ini. Sekarang, biarkan dia membusuk di kamarnya."
Namun, baik Adrian maupun Ibu Broto tidak memahami sains di balik kuliner. Mereka tidak tahu bahwa perpaduan karamelisasi gula yang berlebih dengan penyusutan asam jawa yang sengaja Hana rekayasa akan menghasilkan reaksi kimia pasca-masak. Rasa gurih dan manis di gigitan pertama itu hanyalah sebuah jebakan kelenjar ludah. Setelah suapan ketiga, rasa manis itu akan berubah menjadi rasa getir yang melekat erat di pangkal tenggorokan, memicu rasa haus yang berlebihan dan rasa enek yang mendalam bagi siapa pun yang memakannya sampai habis.
Satu minggu berlalu dengan cepat dalam keheningan yang menipu. Di rumah mewah, situasi lantai bawah semakin berani. Dengan terisolasinya Hana di lantai atas, Santi kini merasa telah menjadi nyonya rumah yang sesungguhnya. Ia tidak lagi sungkan untuk bermanja-manja pada Adrian di depan Ibu Broto saat malam hari.
Sore itu, sekitar pukul empat, Ibu Broto sedang pergi tidur siang di kamarnya. Adrian yang baru pulang dari memeriksa Cabang Dua duduk di sofa ruang tengah sembari memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Kepalanya pusing karena sejak dua hari terakhir, mulai muncul beberapa ulasan bintang satu di aplikasi ojek daring yang mengeluhkan rasa masakan di Cabang Dua yang terasa "aneh dan bikin serak".
Santi melihat kesempatan masemas itu. Ia keluar dari kamarnya dengan mengenakan sebuah daster brokat berwarna merah muda yang sangat tipis, memperlihatkan pakaian dalamnya yang samar-samar di balik helai kain. Langkah kakinya sengaja dibuat tanpa suara saat mendekati sofa tempat Adrian bersandar.
"Mas Adrian... kepalanya pusing ya?" bisik Santi lembut, suaranya terdengar begitu intim di kesunyian ruang tengah.
Tanpa menunggu jawaban, Santi langsung memosisikan tubuhnya di belakang sofa. Jemari mungilnya yang halus dengan berani menyentuh pelipis Adrian, mulai memberikan pijatan-pijatan lembut yang teratur. Aroma parfum buah murahan miliknya langsung menusuk indra penciuman Adrian, membius sisa-sisa kewarasan pria itu.
Adrian sempat menegang, namun sentuhan nyaman di kepalanya membuat tubuhnya perlahan rileks. "Santi... kamu sedang apa? Nanti kalau Ibu atau... Hana lihat bagaimana?" tanya Adrian dengan suara yang parau, namun tidak ada sedikit pun niat untuk menepis tangan gadis itu.
Santi terkekeh manja, tubuhnya sengaja dicondongkan ke depan hingga dadanya yang kenyal bersandar pas di pundak tegap Adrian. "Ibu sedang tidur nyenyak, Mas... dan Mbak Hana kan dikunci di atas, tidak akan bisa turun. Mas Adrian tidak usah tegang begitu... Santi cuma mau membuat Mas Adrian merasa nyaman dan hilang pusingnya."
Jemari Santi merayap turun dari pelipis, melewati pipi Adrian, hingga berhenti di kerah kemeja teratas pria itu yang terbuka. "Mas Adrian itu hebat... bekerja keras sendirian untuk restoran. Santi sedih melihat Mas Adrian selalu dituduh yang tidak-tidak oleh Mbak Hana..." cicit Santi dengan nada merayu yang sangat dalam.
Kabut gairah kini sepenuhnya menguasai pikiran Adrian. Di bawah penindasan stres kerjaan dan godaan sensual dari gadis muda di depannya, pertahanan moral Adrian runtuh total. Ia memutar tubuhnya, mencengkeram pinggang ramping Santi dengan tangan kokohnya, lalu menarik tubuh gadis itu hingga jatuh ke dalam pangkuannya di atas sofa.
Santi tersentak manja, mengalungkan kedua lengannya di leher Adrian dengan senyuman kemenangan yang tertahan. "Mas Adrian..." desis Santi tepat di depan bibir Adrian.
Tanpa membuang waktu lagi, Adrian menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman panas yang sarat akan nafsu liar yang terpendam selama berminggu-minggu—sebuah pengkhianatan fisik pertama yang resmi dilakukan di atas sofa ruang tengah rumah tangganya sendiri.
Di atas sana, di balik pintu kamar yang terkunci rapat, Hana berdiri di dekat jendela yang menghadap ke halaman samping. Meskipun ia tidak melihat adegan di sofa secara langsung, firasat seorang istri dan bau aroma pengkhianatan yang semakin pekat di rumah ini menegaskan satu hal: duri itu kini telah sepenuhnya menusuk ke dalam jantung rumah tangganya.
Hana meraba perutnya, menatap langit sore yang mulai menggelap dengan pandangan mata yang sedingin kematian. Teruslah menari di atas penderitaanku, Adrian... Santi... bisik Hana dalam hati dengan seringai tipis yang mengerikan. Sebab saat bom waktu di restoran itu meledak, aku yang akan memastikan kalian tidak akan punya tempat lagi untuk berlindung di dunia ini.