Salsa sangat mencintai Arkan, tapi Arkan tidak sama sekali. Dia sudah punya kakasih sebelum menikahi Salsa karena perjodohan.
Ditambah, Salsa adalah wanita yang sombong, jahat, serakah, manja, namun cintanya sangat besar pada Arlan. Selama satu tahun pernikahan, Arlan tidak pernah menyentuh Salsa sama sekali, hingga Salsa menggunakan cara licik agar bisa tidur dengan Arkan.
Arkan semakin murka, dia semakin membenci Salsa karena menjebaknya dan membuat hubungannya dengan kekasihnya semakin berantakan. Hingga Arkan mengusir Salsa dari rumah.
Beberapa tahun berlalu, Arkan bertemu kembali dengan Salsa di jalanan dalam keadaan GILA, namum Salsa bersama dengan seorang gadis kecil yang begitu mirip dengannya.
Ternyata dulu saat dia mengusir Salsa, Salsa sedang hamil. Timbullah penyesalan yang tiada tara dari Arkan dan dalam keadaan gila, Salsa selalu mengatakan....
"Apa salahku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan Arkan
Arkan Ferdinan tidak pernah melangkah dengan keraguan jika menyangkut urusan pembalasan dendam. Pagi itu, rumah sakit jiwa swasta yang terletak di pinggiran kota yang sunyi seketika dicekam oleh atmosfer yang teramat berat.
Arkan tidak datang sendirian untuk mengetuk pintu gerbang tempat Salsa disekap selama enam bulan penuh siksaan. Ia datang membawa
seluruh bobot kekuasaan, pengaruh, dan tumpukan uangnya yang tak terbatas.
Tiga unit mobil SUV hitam mewah berhenti tepat di depan rumah sakit, menumpahkan belasan pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam yang langsung mengunci setiap titik keluar-masuk rumah sakit.
Arkan turun dari baris tengah, melangkah membelah lobi dengan rahang yang mengeras dan sorot mata dingin yang mematikan. Ia tidak akan membiarkan satu pun oknum keparat yang telah merusak saraf otak mantan istrinya demi seonggok uang haram dari Nabila, lolos dari cengkeramannya hari ini.
Tanpa melalui prosedur administrasi atau membuat janji temu, Arkan menendang terbuka pintu ruang kerja direktur rumah sakit tersebut.
Di bawah intimidasi puluhan pengawal yang mengepung ruangan, sang direktur yang memucat terpaksa menuruti perintah mutlak Arkan untuk mengumpulkan dua dokter spesialis kejiwaan beserta perawat senior yang tercatat menangani Salsa enam tahun lalu.
Di dalam ruang rapat internal yang kedap suara, atmosfer terasa begitu mencekam. Dua orang dokter paruh baya berpakaian jas putih khas medis duduk dengan tubuh gemetar di hadapan Arkan.
"Di mana Salsa?" Tanya Arkan membuka interogasi, suaranya sangat rendah namun bergaung menakutkan di dalam ruangan yang sunyi.
Kedua dokter itu saling berpandangan, keringat dingin mulai bercucuran di pelipis mereka.
"Maaf... Tuan Arkan, kami... kami tidak mengerti siapa yang Anda maksud. Data pasien bernama Salsa tidak ada dalam peladen aktif kami" Jawab salah satu dokter dengan bibir yang bergetar, mencoba berbohong demi menyelamatkan leher mereka.
Arkan tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya memberikan isyarat datar dengan ketukan jemarinya di atas meja. Gusti yang berdiri di sampingnya segera melemparkan sebuah map dokumen hitam ke tengah meja, bersamaan dengan sebuah gawai tablet yang menampilkan mutasi rekening siluman, rekaman di depan rumah, serta bukti aliran dana miliaran rupiah yang dikirim oleh Nabila ke rekening pribadi mereka masing-masing enam tahun lalu.
"Nabila" Desis Arkan, menyebut satu nama itu dengan nada yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
"Kalian pikir, aku datang ke tempat terkutuk ini tanpa persiapan? Jika dalam hitungan tiga kalian tidak membuka mulut dan mengakui kejahatan medis yang kalian lakukan pada Salsa, aku bersumpah demi nama besar Ferdinan, hari ini juga izin praktik kalian dicabut, seluruh aset keluarga kalian disita, dan kalian akan membusuk di sel penjara bawah tanah yang paling gelap"
Melihat tumpukan bukti otentik yang tidak bisa disangkal lagi, pertahanan mental kedua dokter dan perawat itu runtuh seketika. Sambil menangis ketakutan dan bersujud di atas lantai, mereka akhirnya mulai membuka mulut.
Mereka mengaku dengan jujur bagaimana dulu Nabila membayar mereka untuk mengurung Salsa di sel isolasi terdalam, memaksa menyuntikkan obat-obatan psikotropika penenang dosis tinggi setiap pagi dan malam secara brutal untuk menghancurkan memori dan merusak kewarasannya secara perlahan.
"Tapi demi Tuhan, Tuan Arkan! Kami hanya menahan Nyonya Salsa di sini selama enam bulan saja!" Ratap dokter pertama dengan kedua tangan yang menyatu di depan dada, memohon ampun.
"Kami tidak tahu-menahu lagi setelah itu!"
"Kenapa hanya enam bulan?! Di mana kalian menyembunyikannya setelah itu?!" Bentak Arkan, memajukan tubuhnya dengan amarah yang kian memuncak.
"Nyonya Salsa melarikan diri, Tuan!" Aku sang perawat dengan histeris.
"Enam tahun lalu, terjadi sebuah insiden kebakaran di blok gudang belakang rumah sakit. Kebakaran itu memicu kepanikan massal dan kerusakan sistem kelistrikan, membuat pintu-pintu sel otomatis terbuka. Sebagian besar pasien gangguan jiwa di blok isolasi melarikan diri ke hutan dan jalan raya di luar, termasuk Nyonya Salsa. Kami bersumpah, sampai detik ini, pihak rumah sakit tidak pernah berhasil menemukan keberadaan Nyonya Salsa sama sekali! Kami menganggapnya hilang!"
Deg...
Arkan tertegun di tempatnya, kilatan keterkejutan melintas di matanya yang merah. Jadi, Salsa tidak dikeluarkan karena belas kasihan, melainkan berhasil meloloskan diri di tengah kobaran api dan kepanikan, berlari membawa janin Ayu di dalam rahimnya, menuju kejamnya jalanan ibu kota.
"Kami mengira, kami mengira dengan kondisi mentalnya yang sudah rusak parah dan linglung akibat pengaruh obat dosis tinggi saat itu, ditambah dia harus bertahan hidup sendirian di luar..."
Dokter kedua menyela dengan suara gemetar, mencoba membela diri.
"Melihat keadaannya yang sudah seperti itu, kami berpikir, mungkin Nyonya Salsa sudah lama meninggal dunia di jalanan karena kecelakaan atau kelaparan..."
"BAJINGAN!!!"
Kalimat spekulasi yang keluar dari mulut dokter itu seketika memicu ledakan bom amarah yang paling mengerikan di dalam dada Arkan. Kemarahannya memuncak hingga ke ubun-ubun. Kalimat meninggal dunia yang disampaikan dokter itu dengan begitu enteng dirasa sebagai penghinaan tertinggi, sementara kenyataannya Salsa saat ini berada di dalam dekapannya, hidup namun dalam kondisi yang teramat hancur.
BUKK!!!
Tanpa bisa dikendalikan lagi oleh akal sehat, Arkan melesat maju. Kepalan tangan kanannya yang kekar menghantam keras rahang dokter di hadapannya.
Bunyi berderak dari tulang yang bergeser terdengar menyakitkan saat tubuh dokter itu terpental jatuh dari kursi, menghantam lantai dengan darah yang langsung menyembur dari mulutnya.
"Dia hidup!!! Salsa masih hidup, keparat!!!" Raung Arkan bagai singa yang terluka.
Pria itu merangsek maju, menarik kerah baju jas putih dokter kedua, lalu menghujamkan pukulan demi pukulan mentah ke wajah dan perut pria paruh baya itu tanpa ampun.
Arkan benar-benar murka, dia membabi buta melampiaskan seluruh rasa bersalah, frustrasi, dan penderitaan batin yang ia tanggung selama enam tahun ini ke atas tubuh orang-orang yang telah merusak hidup keluarganya.
"Aaaakh! Ampun, Tuan Arkan! Ampun!" Jerit kesakitan dan tangis minta ampun menggema di dalam ruang rapat yang tertutup tersebut.
Dua orang dokter yang dulunya merasa paling berkuasa di atas penderitaan pasiennya, kini tak lebih dari tumpukan daging yang tak berdaya di bawah amukan seorang Arkan Ferdinan.
Arkan memaki, menyumpahi, dan menendang tubuh mereka yang sudah terkulai lemas di atas lantai marmer yang kini ternoda oleh bercak darah.
"Kalian tidak akan pernah lolos dari hukuman! Aku sendiri yang akan memastikan kalian mendapatkan siksaan yang seribu kali lebih kejam dari apa yang telah kalian suntikkan ke tubuh Salsa!"
Setelah puas melampiaskan sebagian kecil dari kemarahan iblisnya hingga buku-buku jarinya sendiri terluka dan berdarah, Arkan mundur selangkah.
Ia mengatur napasnya yang memburu cepat, merapikan kembali kerah jas hitamnya yang sedikit berantakan dengan raut wajah dingin yang kembali terpasang sempurna.
"Gusti... kita pergi dari tempat menjijikkan ini!" perintah Arkan dengan suara datar namun sarat akan ancaman mematikan.
"Baik Tuan" Sahut Gusti dengan anggukan patuh.
Arkan berbalik arah, melangkah lebar menuju pintu keluar.
"Tinggalkan satu tim pengawal di sini. Jaga tempat ini, pastikan kedua bajingan ini tidak mati sebelum polisi datang membawa surat penangkapan resmi, dan berikan mereka pelajaran tambahan setiap satu jam sekali agar mereka tahu bagaimana rasanya hidup di dalam neraka" Tambahnya kejam sebelum benar-benar melangkahkan kaki keluar dari ruangan.
"Dimengerti, Tuan Arkan!"
Arkan berjalan menyusuri lorong putih rumah sakit jiwa yang panjang dan sepi, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih bergemuruh hebat karena amarah.
Bayangan wajah Salsa yang meringkuk ketakutan di pojok kamar tidur dan wajah polos Ayu yang mengambil roti dari tempat sampah kembali berputar, memicu rasa perih yang teramat dalam di dadanya.
Namun, baru saja langkah kaki Arkan mencapai pintu kaca besar di lobi utama yang mengarah ke area parkir luar, pergerakannya mendadak terhenti secara paksa.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian seragam perawat yang tampak agak usang dan raut wajah yang dipenuhi kecemasan luar biasa, tiba-tiba keluar dari balik pilar beton.
Wanita itu berdiri tepat di tengah jalur jalan Arkan, menghadang langkah sang pengusaha dengan tubuh yang sedikit bergetar, namun sepasang matanya memancarkan tekad yang kuat.
Beberapa pengawal Arkan dengan sigap langsung merangsek maju hendak menyingkirkan wanita itu, namun Arkan mengangkat satu tangannya ke udara, menahan pergerakan anak buahnya.
Perawat paruh baya itu menatap lurus ke arah sepasang mata merah milik Arkan, lalu bertanya dengan suara yang bergetar lirih namun terdengar sangat jelas di telinga Arkan.
"Anda tahu tentang Salsa, Tuan? Dia benar-benar masih hidup?" Tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
wajar ayu sangat membencimu arkan, karena kamu penyebab ibunya sangat menderita sampai gangguan jiwa dan depresi, salsa dan ayu sangat menderita hidupnya...
Arkan sabar meluluhkan hatinya ayu, gercap arkan cari dokter yg terbaik menyembuhkan salsa, dan dibantu suster weni merawat dan menjaga salsa...
Kamu jangan samapai kelihatan lemah arkan didepan salsa dan ayu berusaha kuat, tunjukan ketulusanmu dan niat baik pasti salsa dan ayu akan luluh hatinya dan menerimamu kembali....
semua butuh proses arkan pelan-pelan dekat salsa dan ayu, ditolak terus
jangan sampai menyerah pasti salsa dan ayu memaafkanmu lama-lama arkan....
salsa sangat tulus mencintaimu arkan, mungkin caranya salah ingin memilikimu sampai menjebakmu pake obat perangsang sampai tidur bareng...
kamu sangat kasar tega sekali mengusir salsa, semua penderitaan salsa dimulai...
kamu lebih percaya wanita rubah itu arkan, penuh tipu daya nabila sok polos dan lugu....
yg jelas setiap part bikikn aq trenyuh dan mewek...
harus kuat...
sudah jadi resiko..
Semoga Arkan menjadi Gila
dan semua harta nya buat Ayu
itu rasa nya baru setimpal 🔥😡
anak usia 5 thn sekritis iniiiii
Dunia memaksa tumbuh dewasa sebelum waktunya