Di bawah langit Las Angeles, Scarlett Langford bertarung melawan kemiskinan dengan kecerdasan dan percaya diri.
Demi mempertahankan harga dirinya di High School, gadis yatim ini nekat menciptakan sebuah kebohongan besar sebagai kekasih rahasia Millian Vale-Knight—Pria yang tak pernah ia temui.
Namun, takdir gemar bercanda.
Saat bekerja paruh waktu sebagai pelayan pesta borjuis, Scarlett terlibat bentrokan sengit dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan bermata heterochromia.
Tanpa rasa takut, Scarlett memaki pria tersebut seraya berteriak bahwa ia hanya takut jika pria itu adalah Millian Vale-Knight .
Scarlett tidak pernah tahu bahwa pria 'brengsek' yang baru saja ia maki di depan mukanya justru adalah Millian yang sesungguhnya.
Ketika tameng kebohongan menabrak realitas, akankah kepalsuan ini berubah menjadi jerat cinta, atau justru menjadi awal dari kehancuran Scarlett?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Fajar baru saja menyingsing di atas cakrawala perkemahan Los angeles.
Semburat cahaya biru keabu-abuan berpadu dengan kabut tipis yang menyelimuti area perbukitan.
Jam digital baru menunjukkan pukul lima pagi, namun suasana di sekitar area sanitasi darurat sudah dipadati oleh antrean panjang mahasiswa baru.
Sebagian dari mereka menguap lebar dengan handuk kecil tersampir di bahu sembari mengantre untuk sekadar cuci muka, sementara sebagian mahasiswi lainnya sudah sibuk memegang cermin kecil, memoles make-up tipis demi menjaga penampilan sebelum menaiki bus kepulangan.
Namun, pemandangan yang sama sekali berbeda terlihat di ujung barisan wastafel portabel tempat Scarlett Langford berada.
Sesuai dengan sumpah serapah yang ia gaungkan di dalam tenda semalam, Scarlett benar-benar sedang melancarkan aksi balas dendam medis pada wajahnya sendiri.
Di bawah tatapan heran dari beberapa mahasiswa yang melintas, Scarlett dengan brutal menggosok seluruh area bibirnya menggunakan sabun antiseptik cair berbusa tebal yang sengaja ia bawa dari rumah.
Ia membilasnya dengan air gunung yang sedingin es, lalu kembali menuangkan sabun dan menggosoknya lagi seakan-akan ada koloni kuman paling mematikan di dunia yang sedang menempel di sana.
"Bibir kadal gurun itu... pasti sudah terbiasa mencium lusinan wanita borjuis di luar sana yang memujanya setiap hari," gumam Scarlett penuh dendam di sela-sela aktivitas membilas mulutnya.
Napasnya memburu kram karena dinginnya air. "Aku tidak akan sudi membiarkan sisa aura dari bibir wanita lain tertinggal di atas permukaan bibirku. Ini sterilisasi wajib!"
Delaney yang berdiri di sampingnya sembari memegang botol air minum hanya bisa meledak dalam tawa renyah menyaksikan tingkat higienitas ekstrem sang sahabat.
"Scarlett, hentikan. Kau bisa membuat kulit bibirmu terkelupas kalau terus digosok seperti itu," ujar Delaney di sela kekehannya. "Lagipula... untuk ukuran mahasiswa baru, bibirmu itu sebenarnya terhitung cukup beruntung bisa mencicipi ciuman seorang Millian Vale-Knight, tahu!"
"Gila kau, Delaney! Kau sudah sepenuhnya gila!" semprot Scarlett, buru-buru mengeringkan bibirnya menggunakan tisu kering dengan kasar.
Scarlett kemudian menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan cermin saku milik Delaney.
Sepanjang malam tadi, ia benar-benar tidak bisa memejamkan mata dengan nyenyak.
Setiap kali ia mencoba tidur, memori tentang bagaimana belahan bibir tegap Millian melumat miliknya dengan begitu intens dan panas seolah kembali berbekas dan berdenyut di sana, meninggalkan sensasi magis yang menolak untuk pergi.
Dan fakta itu sukses membuat ego Scarlett terluka parah.
Sementara itu, kontras dengan energi Scarlett yang meledak-ledak karena amarah, kondisi di dalam tenda utama para mentor pria justru dilingkupi oleh atmosfer bencana.
Millian Vale-Knight terbangun dengan kondisi tubuh yang luar biasa mengenaskan.
Seluruh persendiannya terasa kaku dan linu, sementara hawa demam ringan mulai menyerang kepalanya.
James yang tidur di matras sebelahnya bahkan terpaksa ikut terjaga sepanjang malam karena tidak bisa tidur nyenyak akibat mendengar erangan frustrasi sang sahabat.
Pagi-pagi buta itu, dengan langkah gontai dan jaket yang belum dikancingkan sempurna, James berjalan cepat membelah kabut menuju ke arah kompleks tenda putri.
Begitu mendapati sosok Scarlett yang baru saja selesai melakukan ritual sterilisasi bibir di dekat wastafel, James langsung mempercepat langkahnya.
"Scarlett!" panggil James dengan wajah panik yang tidak dibuat-buat. "Kekasihmu... maksudku Millian... dia sakit parah di tenda. Aku disuruh kemari untuk menjemputmu. Dia terus-menerus memanggil namamu sejak subuh tadi."
Scarlett yang sedang merapikan botol sabunnya seketika mendengus pekat, menaikkan sebelah alisnya dengan gaya skeptis yang kental.
"Wah, gila! Si berandal itu sakit? Lalu apa kaitannya dengan diriku, James? Aku ini mahasiswa sastra, bukan dokter spesialis penyakit dalam!"
James mengusap wajahnya yang kelelahan, lalu menghela napas panjang. "Ini serius, Scarlett. Badannya berubah menjadi merah-merah, bengkak, dan dia mengeluh super gatal di seluruh tubuhnya. Sepertinya itu akibat aksi nekat kalian yang tidur telentang di atas rerumputan liar semalam. Kulitnya tidak sekebal kulit orang biasa, dia mengalami reaksi alergi ekstrem dan tidak bisa tidur sepanjang malam."
Deg.
Kata-kata James seketika membuat gerakan tangan Scarlett terkunci di udara.
Rasa kemanusiaan dan kepedulian sosial yang tertanam di dalam dirinya mendadak mencuat ke permukaan, mengalahkan sisa rasa jengkel akibat insiden ciuman semalam.
"Apa itu benar? Kau tidak sedang mencoba mengerjaiku bersama Arthur, kan? Serius dia sakit karena rumput?" tanya Scarlett, memastikan dengan binar mata yang mendadak berubah khawatir.
James mengangguk mantap dengan raut wajah frustrasi. "Arthur bahkan belum kembali dari posko medis darurat di depan untuk mencari salep atau obat alergi di ruang persediaan. Kamarnya terkunci dan petugas medisnya belum bangun. Cepat ikut aku, Scarlett. Hanya kau yang bisa menenangkannya sekarang."
Scarlett mengembuskan napas panjang, menatap Delaney sejenak sebelum akhirnya mengangguk pasrah. "Baiklah, aku ikut."
Mereka berdua berjalan cepat menembus barisan tenda yang mulai riuh oleh aktivitas pagi.
Namun, begitu langkah kaki mereka sampai di depan pintu masuk tenda utama milik Millian, Scarlett dikejutkan oleh keberadaan sosok Anna yang sudah berdiri tegap di sana.
Gadis elite Bel Air itu tampak mengenakan mantel wol mahal dengan riasan wajah yang sudah sempurna sejak subuh.
Namun, ekspresi wajahnya terlihat sangat masam dan dipenuhi kemarahan terpendam. Rupanya, sejak lima belas menit yang lalu, Anna sudah mencoba masuk untuk membawakan teh hangat, namun keberadaannya sama sekali tidak diizinkan melintasi batas kain tenda oleh sang pemilik.
Melihat kedatangan James yang membawa serta Scarlett di belakangnya, sudut mata Anna tampak berkedut tajam.
James segera mengambil posisi di depan pintu tenda, lalu menatap Anna dengan tatapan tegas namun sopan khas seorang mentor.
"Anna... sudah kukatakan padamu sejak tadi, bukan? Millian sedang dalam kondisi tidak mau diganggu oleh siapapun. Dia... saat ini hanya butuh kehadiran Scarlett, kekasihnya, untuk membantunya."
Mendengar penegasan status yang diluncurkan James dengan begitu gamblang, Anna tidak bergeming dari posisinya berdiri.
Ia melipat kedua tangannya di depan dada, melempar pandangan mata yang teramat tajam, dingin, dan sarat akan ancaman tak kasatmata langsung ke arah manik mata Scarlett.
Jika tatapan mata bisa membunuh, Scarlett pasti sudah hancur lebur di bawah kaki bot Anna saat itu juga.
Namun, bukan Scarlett Langford namanya jika ia harus gemetar hanya karena intimidasi visual dari seorang gadis borjuis yang sedang cemburu buta.
Dengan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa tinggi dan binar mata yang seolah mengabaikan eksistensi Anna di dunia, Scarlett melangkah maju dengan santai.
Ia menyibak kain penutup tenda dengan gerakan tegas, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan tanpa memedulikan tatapan penuh dendam yang mengiringi punggungnya dari luar.
Di dalam tenda, atmosfer terasa agak remang-remang.
Scarlett mendapati sosok tinggi besar Millian sedang meringkuk di atas matras tidurnya dengan posisi memunggungi pintu, terbungkus sebagian oleh selimut tebal.
Scarlett mendekat, lalu berlutut di samping matras dengan raut wajah penuh khawatir yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
"Ada apa denganmu, Tuan Berandal? James bilang kau berubah menjadi monster gatal pagi ini?"
Mendengar suara ketus yang sangat familier itu, Millian perlahan membalikkan tubuh tegapnya. Wajah tampannya yang biasa angkuh kini tampak sedikit pucat, dengan beberapa rona merah akibat iritasi kulit yang menjalar di sekitar leher dan rahangnya.
"Dingin banget, Langford..." gumam Millian dengan suara baritonnya yang terdengar serak, parau, dan sedikit manja—sebuah nada suara yang belum pernah Scarlett dengar sebelumnya.
"Trus... seluruh badanku gatal semua. Gara-gara rumput gila semalam. Aku bahkan... tidak memakai baju saat ini karena kain kaos membuat kulitku semakin perih."
Scarlett melirik ke bawah selimut dan mendapati bahwa pundak kokoh serta dada bidang Millian memang terekspos tanpa sehelai benang pun.
Alih-alih merasa canggung seperti gadis normal pada umumnya, naluri pragmatis Scarlett justru mengambil alih.
"Iya... tidak apa-apa, senyaman mu saja," kata Scarlett lembut, meletakkan punggung tangannya di atas dahi Millian untuk memeriksa suhu tubuh pria itu.
"Suhu tubuhmu sedikit hangat. Kulitmu ternyata sangat sensitif untuk ukuran pria yang hobi balapan di sirkuit."
Millian menghembuskan napas panjang, menatap Scarlett dari balik bulu matanya yang lebat sembari menarik selimutnya sedikit lebih turun, memamerkan otot perutnya yang kokoh.
"Bukan cuma kaos... dalaman juga tidak kupakai sekarang karena karetnya membuat pinggangku terbakar."
Deg.
Gerakan tangan Scarlett di dahi Millian langsung berhenti seketika.
Sepasang mata indahnya melebar sempurna menatap wajah Millian yang kini justru mulai mengulas seulas senyuman tipis yang sarat akan provokasi di sela sakitnya.
"Kau gila?!" pekik Scarlett dengan volume suara yang tertahan, wajahnya kembali menghangat. "Aku ini masih gadis polos dan—"
"Aku tidak sedang mengajakmu untuk bercinta di dalam tenda pagi-pagi buta seperti ini, Baby," potong Millian dengan kekeh rendah yang serak, sengaja memotong kalimat panik Scarlett.
"Aku hanya sedang jujur mengatakan kondisi fisikku padamu. Kenapa otak cerdasmu itu malah mendadak berpikiran mesum dan melompat sejauh itu, hm?"
"Sialan kau, Vale-Knight!" Scarlett menarik kembali tangannya dengan kesal, menepuk bahu pria itu pelan yang langsung dihadiahi ringisan gatal dari sang empu.
"Lalu sekarang aku harus melakukan apa di sini kalau kau telanjang bulat di bawah selimut?!"
Millian mengubah posisinya menjadi setengah bersandar pada tas logistiknya, lalu menunjuk ke arah tumpukan barang-barangnya yang masih berantakan di pojok tenda menggunakan dagunya.
"Bantu aku berkemas," perintah Millian dengan nada yang kembali diatur seolah ia adalah bos besar.
"Kau... semalam setuju untuk menjadi adik perempuanku, bukan? Jadi, laksanakan tugasmu dengan baik, Adik Kecil. Masukkan semua pakaian, peralatan mandi, dan perlengkapanku ke dalam tas ransel besar itu di sana."
"Wah, benar-benar sialan kau—"
"Nanti setelah kita sampai di Los Angeles, aku akan mentransfer sejumlah uang kompensasi yang sangat besar ke rekeningmu," potong Millian dengan seringai tenangnya yang menyebalkan namun penuh daya pikat.
"Anggap saja itu uang saku tambahan dari kakak laki-lakimu yang kebetulan memiliki cukup banyak uang untuk menghidupimu selama satu semester ke depan!"
Mendengar kata "transfer" dan "banyak uang" yang meluncur lancar sebagai bentuk transaksi kompensasi, taring pragmatis klan Langford di dalam diri Scarlett seketika bergetar senang.
Senyuman manis, penuh kemenangan, dan sarat akan kalkulasi keuntungan langsung terukir sempurna di bibir mungilnya.
Rasa kesal semalam mendadak menguap, digantikan oleh gairah kerja yang tinggi.
"Baiklah, Tuan Kakak Angkat yang Kaya Raya," sahut Scarlett dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis madu.
"Mari kita berkemas dengan sangat rapi sesuai dengan nilai nominal transaksi kita pagi ini."
Selama lima belas menit berikutnya, Scarlett dengan sangat cekatan melipat dan memasukkan seluruh barang mewah milik Millian ke dalam tas ransel militer besar.
Namun, masalah baru muncul ketika seluruh barang sudah rapi dikemas dan peluit keberangkatan bus mulai berbunyi dari arah lapangan utama.
Millian masih terduduk di atas matrasnya, menatap sebuah kemeja flanel tebal bersih yang diletakkan Scarlett di sampingnya dengan pandangan malas.
"Ada apa lagi?" tanya Scarlett, berkacak pinggang di depan pria itu.
"Tangan dan punggungku masih sangat kaku jika digerakkan terlalu tinggi," keluh Millian dengan wajah tanpa dosa, mengulurkan kemeja tersebut ke arah Scarlett.
"Bisa tolong... pakaikan baju ini ke tubuhku? Kancingkan juga dengan rapi."
Scarlett memutar bola matanya pasrah, namun demi profesionalisme kontrak kerja darurat mereka, ia melangkah mendekat.
Dengan jarak yang sangat intim, Scarlett perlahan menuntun lengan kekar Millian masuk ke dalam lubang lengan kemeja, lalu dengan jemari lentiknya yang telaten, ia mulai memasangkan kancing kemeja pria itu satu per satu dari bawah hingga ke kerah atas.
Millian hanya terdiam, menatap lekat bagaimana fokusnya wajah Scarlett dari jarak sedekat itu dengan binar mata yang sulit diartikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩ...
Hingga tiba saatnya seluruh mahasiswa menaiki bus kepulangan, kondisi alergi Millian belum sepenuhnya mereda.
Dan sang pangeran Bel Air tampaknya menolak untuk melepaskan jaminan kenyamanannya.
Sepanjang perjalanan dari area perkemahan menuju ke dalam bus nomor 01, Millian terus menempel ketat di sisi Scarlett.
Bahkan saat memasuki koridor bus yang sempit, Millian dengan sengaja mengambil posisi duduk di kursi paling belakang, tepat di samping Scarlett, mengabaikan James dan Arthur yang melambaikan tangan dari kursi barisan depan.
Dengan posisi duduk yang berdampingan di kursi kulit bus, Millian tanpa rasa malu sedikit pun langsung menyandarkan kepala beratnya yang masih agak pusing di atas permukaan bahu sempit milik Scarlett.
Pria itu memejamkan matanya, menikmati kehangatan dan aroma sabun antiseptik yang menguar dari tubuh gadis di sampingnya sepanjang perjalanan pulang menuju Los Angeles, mengunci babak akhir dari petualangan perkemahan mereka dengan sebuah kedekatan baru yang kian mengaburkan batas antara sandiwara dan kenyataan.
apa bisa up yg banyak biar aku semakin mager
pleaseeee
tinggal ketahap talking stage 🤣🤣🤣