Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Lahirnya Regu Shugo Ryu
Malam telah sepenuhnya menyelimuti barak tentara bayaran yang berdiri di bawah bayang-bayang Benteng Vargan. Cahaya puluhan obor menerangi halaman utama, memantulkan sinarnya pada pagar kayu, gudang persediaan, kandang kuda, serta bangunan-bangunan sederhana yang selama bertahun-tahun menjadi tempat bernaung para tentara bayaran. Aroma daging rusa yang sedang dipanggang memenuhi udara malam setelah hasil buruan yang dibawa Ryosuke dan rombongannya selesai dipotong serta dibagikan ke dapur umum. Tawa kecil dan percakapan para anggota terdengar di berbagai sudut barak, menjadi suasana yang jarang mereka nikmati di tengah perang yang terus berlangsung di sepanjang perbatasan.
Di dekat perapian besar yang berada di tengah halaman, Ryosuke duduk bersama Hana, Hector, dan Melinda. Keempatnya baru saja menyelesaikan makan malam sederhana bersama anggota lain. Meskipun baru sehari berada di barak, Hector dan Melinda mulai merasakan kehangatan yang telah lama hilang sejak desa mereka dihancurkan. Tidak ada tatapan curiga maupun perlakuan yang membedakan mereka dari anggota lama. Semua orang menyambut mereka sebagaimana mereka menyambut siapa pun yang datang dengan niat hidup dan berjuang bersama.
"Aku hampir lupa bagaimana rasanya makan bersama banyak orang." ucap Melinda pelan sambil memandang api unggun yang menari di hadapannya.
Hector tersenyum kecil.
"Sudah lama sekali."
Ryosuke tidak ikut berbicara. Pandangannya sesekali mengarah kepada para anggota yang sedang bercengkerama di sekitar perapian. Ia mulai memahami alasan mengapa kelompok Alfaro mampu bertahan begitu lama. Mereka bukan hanya sekumpulan pendekar yang menerima bayaran untuk bertarung, melainkan orang-orang yang saling mempercayai dan menjaga satu sama lain.
Tidak lama kemudian, suara lonceng kecil terdengar dari arah bangunan utama.
Seketika percakapan yang memenuhi halaman mulai mereda.
Beberapa anggota yang sedang membersihkan perlengkapan menghentikan pekerjaannya, sementara yang lain berdiri dari tempat duduk mereka. Tidak ada seorang pun yang mempertanyakan alasan lonceng itu dibunyikan. Mereka mengetahui bahwa isyarat tersebut berarti pemimpin kelompok akan menyampaikan sesuatu kepada seluruh anggota.
Pintu bangunan utama terbuka.
Alfaro Perez melangkah keluar dengan tenang.
Ia berdiri di depan perapian sehingga seluruh anggota dapat melihatnya dengan jelas.
"Semuanya."
Suara Alfaro tidak keras, tetapi cukup untuk menjangkau seluruh halaman.
"Terima kasih atas kerja keras kalian hari ini."
Beberapa anggota menganggukkan kepala.
Alfaro melanjutkan.
"Hasil perburuan hari ini akan menjaga persediaan makanan kita untuk beberapa waktu ke depan."
"Selain itu..."
Ia berhenti sejenak sebelum pandangannya beralih kepada Ryosuke, Hector, Melinda, dan Hana.
"Hari ini kita juga menerima dua anggota baru."
Seluruh perhatian kini tertuju kepada Hector dan Melinda.
Alfaro mempersilakan keduanya maju beberapa langkah.
"Hector."
"Melinda."
"Keduanya kehilangan desa akibat perang dan hari ini berhasil diselamatkan ketika menjalankan misi bersama Ryosuke."
"Tidak lagi."
Alfaro menggeleng pelan.
"Mulai malam ini..."
"Mereka menjadi bagian dari kelompok kita."
Beberapa anggota langsung menyambut keputusan itu dengan tepukan tangan. Yang lain memberikan anggukan dan senyum kepada Hector serta Melinda sebagai tanda penerimaan. Sambutan itu membuat Melinda tampak sedikit terharu, sementara Hector membungkukkan badan dengan hormat.
"Kami akan berusaha sebaik mungkin." ucap Hector.
Alfaro menganggukkan kepala.
"Aku percaya itu."
Setelah suasana kembali tenang, Alfaro kembali berbicara.
"Ada satu pengumuman lagi."
Nada suaranya berubah sedikit lebih serius.
"Selama ini jumlah anggota kelompok kita terus bertambah."
"Penugasan juga semakin banyak."
"Karena itu, mulai malam ini, kelompok kita tidak lagi bergerak sebagai satu kesatuan dalam setiap misi."
Beberapa anggota saling berpandangan.
Mereka seolah telah menduga pembicaraan itu akan muncul cepat atau lambat.
"Aku memutuskan membentuk sebuah regu baru."
Tatapan seluruh anggota kini beralih kepada Ryosuke.
Pemuda itu berdiri perlahan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Alfaro melangkah mendekatinya.
"Pemimpin regu itu adalah Ryosuke Tagawa."
Keputusan tersebut disambut tepukan tangan yang lebih meriah daripada sebelumnya. Tidak terdengar satu pun suara keberatan. Sejak Ryosuke bergabung, seluruh anggota telah menyaksikan sendiri kemampuan bertarung, ketenangan dalam mengambil keputusan, serta kesediaannya mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan orang lain. Tidak sedikit yang menganggap keputusan Alfaro memang sudah sewajarnya diambil.
Alfaro mengangkat tangan meminta semua kembali tenang.
"Regu ini beranggotakan empat orang."
"Ryosuke."
"Hana."
"Hector."
"Dan Melinda."
Keempat nama itu bergema di halaman barak.
Hana memandang kakaknya dengan mata yang sedikit membesar. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi bagian dari sebuah regu yang dipimpin langsung oleh Ryosuke. Di sisi lain, Hector dan Melinda saling berpandangan sejenak. Mereka bahkan belum genap sehari berada di tempat itu, tetapi kini telah diberi kepercayaan untuk menjadi bagian dari sebuah regu tetap.
Alfaro tersenyum tipis sebelum mengucapkan kalimat berikutnya.
"Setiap regu memiliki nama."
"Dan nama regu ini telah dipilih oleh pemimpinnya."
Seluruh halaman kembali hening.
Semua orang menunggu nama yang akan diumumkan.
Suasana di halaman barak berubah hening. Cahaya obor yang bergoyang tertiup angin malam memantulkan bayangan panjang para tentara bayaran yang berdiri mengelilingi perapian. Tidak ada seorang pun yang berbicara. Seluruh perhatian tertuju kepada Alfaro Perez yang masih berdiri di depan Ryosuke.
Alfaro memandang sekeliling lebih dahulu, memastikan seluruh anggota kelompok telah berkumpul.
Kemudian ia berkata dengan suara mantap,
"Mulai malam ini..."
"Regu yang dipimpin Ryosuke Tagawa akan dikenal dengan nama..."
Ia berhenti sesaat.
"...Shugo Ryu."
Nama itu bergema di tengah halaman.
Beberapa anggota mengulanginya pelan, seolah sedang membiasakan diri mendengar nama yang baru pertama kali mereka dengar.
"Shugo Ryu..."
"Nama yang bagus."
"Pendek dan mudah diingat."
Bisik-bisik kecil mulai terdengar dari berbagai arah, tetapi tidak berlangsung lama.
Alfaro kembali mengangkat tangannya.
"Nama bukan sekadar sebutan."
"Nama adalah tanggung jawab."
Tatapannya beralih kepada Ryosuke.
"Mulai hari ini, setiap tindakan yang dilakukan regumu akan membawa nama Shugo Ryu."
"Keberhasilan kalian akan membuat nama itu dihormati."
"Kesalahan kalian juga akan melekat pada nama itu."
Ryosuke menatap lurus ke arah Alfaro.
Ia memahami sepenuhnya makna perkataan tersebut.
Selama hidup sebagai ronin, ia hanya memikul tanggung jawab atas dirinya sendiri. Kini keadaannya telah berubah. Ada tiga orang lain yang keselamatannya akan bergantung pada keputusan yang diambilnya setiap kali menjalankan misi.
"Aku mengerti." jawab Ryosuke tenang.
"Aku akan menjaga nama itu."
Alfaro menganggukkan kepala dengan puas.
"Itulah jawaban yang ingin kudengar."
Kemudian ia memanggil Hana, Hector, dan Melinda untuk berdiri di samping Ryosuke.
Keempat orang itu kini berdiri sejajar di depan seluruh anggota barak.
Alfaro memandang mereka satu per satu.
"Hana."
"Selama berada di sini kau telah membantu dapur, ruang perawatan, dan berbagai pekerjaan di barak tanpa pernah mengeluh."
Hana sedikit menundukkan kepala.
"Terima kasih."
Alfaro lalu menoleh kepada Melinda.
"Kemampuanmu membaca jejak dan mengenal hutan akan sangat membantu setiap penugasan."
Melinda mengangguk mantap.
"Aku akan menggunakan kemampuanku sebaik mungkin."
Pandangan Alfaro berpindah kepada Hector.
"Dan kau."
"Tenagamu besar."
"Tetapi jangan hanya mengandalkan kekuatan."
"Belajarlah bertarung sebagai bagian dari sebuah regu."
Hector tersenyum lebar.
"Itu juga yang ingin ku pelajari."
Mendengar jawaban tersebut, beberapa tentara bayaran yang mengenalnya hari itu tertawa kecil.
Suasana yang sempat khidmat kembali terasa hangat.
Alfaro kemudian melangkah mundur satu langkah.
"Mulai besok..."
"Shugo Ryu akan menerima penugasan sebagai satu regu."
"Tugas-tugas yang sebelumnya dikerjakan oleh anggota secara terpisah kini akan menjadi tanggung jawab bersama."
"Tidak ada kemenangan yang diraih sendirian."
"Tidak ada pula kegagalan yang hanya ditanggung satu orang."
"Selama kalian berada dalam satu regu, kalian hidup dan kembali bersama."
Empat anggota Shugo Ryu menganggukkan kepala hampir bersamaan.
Mereka memahami bahwa kalimat itu bukan sekadar aturan kelompok, melainkan prinsip yang selama ini membuat pasukan tentara bayaran Alfaro tetap bertahan di tengah peperangan.
Setelah pengumuman selesai, para anggota barak memberikan tepuk tangan sebagai tanda penghormatan kepada regu baru tersebut.
Beberapa orang segera menghampiri Ryosuke.
"Selamat."
"Kami menunggu kerja sama dengan regumu."
"Jangan membuat Kapten menyesal memilihmu."
Ucapan-ucapan itu disampaikan dengan senyum dan tawa ringan yang membuat suasana semakin akrab.
Ryosuke membalas setiap ucapan dengan anggukan hormat.
Ia bukan orang yang pandai berbicara panjang, tetapi sikap tenangnya sudah cukup menunjukkan rasa hormat kepada rekan-rekan barunya.
Tidak jauh dari sana, Hana memandang papan nama sederhana yang tergantung di depan bangunan utama.
Malam itu tidak ada tulisan baru yang dipasang.
Namun di dalam hati mereka masing-masing, sebuah nama telah mulai hidup.
Shugo Ryu.
Nama yang beberapa saat lalu hanya berupa dua kata, kini menjadi identitas yang akan mereka bawa dalam setiap langkah.
Ketika para anggota mulai kembali ke pekerjaan masing-masing, Alfaro berdiri sendirian memandang langit malam. Di balik ketenangannya, ia melihat sesuatu pada Ryosuke yang jarang dimiliki seorang pendekar muda—bukan hanya kemampuan menghunus pedang, melainkan kesediaan memikul beban orang lain tanpa mengharapkan balasan.
Ia tahu jalan yang akan dilalui regu baru itu tidak akan mudah.
Perang dengan Empire Krusador belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Semakin banyak desa yang menjadi korban, semakin banyak pula orang yang kehilangan tempat untuk pulang. Cepat atau lambat, Shugo Ryu akan menghadapi tugas yang jauh lebih berat daripada berburu atau menyelamatkan pengembara di tengah hutan.
Namun setiap perjalanan besar selalu dimulai dengan satu langkah kecil.
Dan malam itu, di bawah cahaya obor barak yang berdiri di kaki Benteng Vargan, langkah pertama Regu Shugo Ryu akhirnya dimulai.
..._BERSAMBUNG _...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉