NovelToon NovelToon
Overtime With My Enemy

Overtime With My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:436
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 : Rahasia di Balik Nama Wijaya

Malam terasa semakin dingin.

Suara kendaraan yang melintas sesekali terdengar di tengah gerimis yang belum sepenuhnya berhenti.

Nara berdiri canggung di samping Damar.

Sementara Bianca berdiri beberapa meter di depan mereka.

Tatapan wanita itu tajam.

Meski senyum masih menghiasi wajahnya.

Namun siapa pun bisa merasakan suasana yang tidak nyaman.

"Aku meneleponmu tadi."

ucap Bianca sambil menatap Damar.

Pria itu mengeluarkan ponselnya.

Ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab.

"Aku tidak melihatnya."

jawab Damar tenang.

Bianca mengangguk.

Lalu melirik ke arah Nara.

"Kalian baru selesai makan malam?"

"Membahas pekerjaan."

jawab Damar singkat.

Nara ingin tertawa.

Mereka memang sempat membahas pekerjaan.

Tapi itu hanya lima menit dari total waktu yang mereka habiskan.

"Begitu ya."

Bianca tersenyum.

Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.

---

Perjalanan pulang malam itu berlangsung lebih sunyi dari biasanya.

Nara duduk di kursi penumpang.

Sementara Damar fokus mengemudi.

Entah kenapa, pertemuan dengan Bianca tadi membuat suasana sedikit berubah.

"Kamu dan Bianca..."

Nara akhirnya membuka suara.

Damar meliriknya sekilas.

"Kenapa?"

"Kalian sebenarnya apa?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Dan beberapa detik setelahnya, Nara langsung menyesal.

Kenapa dia bertanya?

Itu bukan urusannya.

Sama sekali bukan.

Namun Damar justru menjawab.

"Kami teman sejak kecil."

"Hanya teman?"

"Hanya teman."

Nara mengangguk pelan.

Entah kenapa, jawaban itu membuat dadanya terasa lebih ringan.

Lalu ia langsung kesal pada dirinya sendiri.

Kenapa harus lega?

---

Keesokan paginya.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, suasana kantor terasa santai.

Proyek besar telah berhasil.

Setidaknya mereka bisa bernapas sejenak.

Siska bahkan datang sambil membawa sarapan.

"Saya merayakan kebebasan."

katanya dramatis.

"Kebebasan sementara."

jawab Nara.

"Jangan merusak kebahagiaan saya."

Raka yang baru datang ikut duduk di dekat mereka.

"Pagi, para pekerja keras."

"Pagi, tukang ganggu."

balas Siska.

"Kalau begitu saya pulang."

"Jangan."

Raka langsung tersenyum kemenangan.

Nara menggeleng.

Keduanya benar-benar seperti anak kecil.

---

Menjelang siang.

Damar dipanggil ke rapat direksi.

Hal yang sebenarnya tidak terlalu aneh.

Namun ada sesuatu yang menarik perhatian Nara.

Begitu Damar masuk ke ruang rapat utama...

Beberapa direktur yang jauh lebih tua terlihat menyambutnya dengan hormat.

Bukan hormat kepada manajer.

Melainkan hormat kepada seseorang yang memiliki posisi penting.

"Aneh."

gumam Nara.

"Apa?"

tanya Siska.

"Menurutmu Damar cuma manajer biasa?"

Siska mengangkat bahu.

"Entahlah."

"Kamu tidak penasaran?"

"Aku penasaran banyak hal."

jawab Siska.

"Tapi aku juga suka menerima gaji setiap bulan."

Nara tertawa.

Ada benarnya juga.

---

Sore hari.

Nara mendapat tugas mengantarkan beberapa dokumen ke lantai eksekutif.

Area yang jarang ia kunjungi.

Koridornya lebih tenang.

Lebih mewah.

Dan jauh lebih eksklusif dibanding lantai biasa.

Saat sedang mencari ruang administrasi, ia melewati sebuah ruangan besar.

Pintunya sedikit terbuka.

Dari dalam terdengar suara percakapan.

"Ayahmu pasti bangga."

kata seseorang.

Nara sebenarnya tidak berniat menguping.

Namun langkahnya terhenti ketika mendengar jawaban berikutnya.

"Saya hanya berusaha menjaga apa yang sudah beliau bangun."

Suara itu milik Damar.

Nara mengerutkan kening.

Lalu suara lain terdengar.

"Sebagai pewaris Grup Wijaya, tanggung jawabmu memang besar."

Tubuh Nara langsung membeku.

Pewaris?

Grup Wijaya?

Apa maksudnya?

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

Tanpa sadar ia sedikit mengintip melalui celah pintu.

Dan yang dilihatnya membuatnya terdiam.

Damar sedang duduk bersama para direktur.

Di ujung meja.

Di posisi yang biasanya ditempati orang paling penting.

---

Nara buru-buru pergi sebelum ketahuan.

Pikirannya kacau.

Sangat kacau.

Setelah kembali ke meja kerja, ia langsung membuka situs perusahaan.

Tangannya bergerak cepat.

Mencari informasi yang selama ini tidak pernah ia perhatikan.

Dan beberapa detik kemudian...

Ia menemukannya.

Foto besar terpampang di layar.

Pendiri Grup Wijaya.

Nama belakangnya sama.

Wajahnya juga mirip.

Sangat mirip.

Nara menelan ludah.

"Jangan bilang..."

Ia terus membaca.

Sampai akhirnya menemukan satu nama.

Damar Wijaya.

Putra tunggal pendiri perusahaan.

Calon penerus grup bisnis tersebut.

Nara membeku.

Selama ini...

Selama ini ia mengira Damar hanyalah seorang manajer yang terlalu perfeksionis.

Padahal kenyataannya...

Pria itu adalah pewaris perusahaan.

---

"Kenapa wajahmu seperti habis melihat hantu?"

Siska tiba-tiba muncul.

Nara langsung menutup layar laptop.

"Tidak apa-apa."

"Kamu bohong."

Siska langsung duduk.

"Ada apa?"

Nara ragu beberapa saat.

Lalu akhirnya berbisik.

"Siska."

"Hm?"

"Damar itu siapa sebenarnya?"

Pertanyaan itu membuat Siska terdiam.

Kemudian matanya membesar.

"Kamu baru tahu?"

"Baru tahu apa?"

Siska langsung memegang kepala.

"Astaga."

"Apa?"

"Nara..."

Siska menatapnya seperti seseorang yang baru menemukan spesies langka.

"Kamu benar-benar tidak tahu?"

"Tidak."

"Damar itu keluarga pemilik perusahaan."

Nara memejamkan mata.

Jadi benar.

Bukan salah dengar.

Bukan salah paham.

Semua itu nyata.

---

Sepanjang sore, Nara sulit fokus.

Informasi tersebut terus berputar di kepalanya.

Sekarang banyak hal mulai masuk akal.

Kenapa semua orang menghormati Damar.

Kenapa para direktur mendengarkan pendapatnya.

Kenapa Bianca begitu yakin mereka cocok.

Dan yang paling membuatnya kesal...

Kenapa Damar tidak pernah mengatakannya.

Meski mereka sering bekerja bersama.

Sering pulang bersama.

Pria itu tidak pernah membahasnya.

Sedikit pun.

---

Menjelang jam pulang.

Nara akhirnya memberanikan diri masuk ke ruang kerja Damar.

Pria itu sedang membaca laporan.

Seperti biasa.

"Kamu sibuk?"

tanya Nara.

Damar mengangkat kepala.

"Untukmu, tidak."

Jawaban itu seharusnya terdengar biasa.

Namun entah kenapa membuat jantung Nara sedikit berdebar.

Ia segera mengabaikannya.

"Aku mau bertanya sesuatu."

"Tanya saja."

Nara menarik napas.

Lalu menatap langsung ke mata pria itu.

"Kamu pewaris Grup Wijaya?"

Untuk pertama kalinya...

Ekspresi Damar berubah.

Tidak banyak.

Tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa pria itu terkejut.

Jadi benar.

Ia memang menyembunyikannya.

Beberapa detik berlalu.

Sampai akhirnya Damar menutup berkas di depannya.

"Siapa yang memberitahumu?"

"Aku tidak sengaja mendengarnya."

Keheningan memenuhi ruangan.

Lalu Damar menghela napas pelan.

"Ya."

Hanya satu kata.

Namun cukup untuk mengubah banyak hal.

Nara menatapnya.

Merasa seperti baru mengenal pria itu dari awal.

"Aku tidak pernah berbohong."

lanjut Damar.

"Tapi kamu juga tidak pernah bilang."

"Kamu tidak pernah bertanya."

Jawaban itu membuat Nara kehabisan kata-kata.

Karena... memang benar.

Ia tidak pernah bertanya.

---

Sore mulai berganti malam.

Matahari menghilang di balik gedung-gedung tinggi.

Sementara di dalam ruang kerja itu, suasana menjadi lebih tenang.

"Nara."

panggil Damar tiba-tiba.

"Hm?"

"Apa setelah tahu semuanya, cara pandangmu terhadapku berubah?"

Pertanyaan itu membuat Nara terdiam.

Ia tidak langsung menjawab.

Karena dirinya sendiri belum tahu jawabannya.

Yang jelas...

Kini ia menyadari bahwa jarak antara mereka jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.

Bukan hanya soal jabatan.

Tetapi juga dunia yang mereka tinggali.

Dan untuk pertama kalinya...

Nara mulai bertanya-tanya apakah kedekatan yang perlahan tumbuh di antara mereka benar-benar bisa berjalan semudah yang ia kira.

Bersambung...

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Satisuci Ituaku: mksih kk sudah mampir🙏🙏🙏
total 1 replies
Tys Azka
kok selalu hujan sih
Satisuci Ituaku: iy kak biar romantis ala2
mksih kk udh mampir 🙏🙏
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, Nara.. Damar.
Satisuci Ituaku: Terima kasih sudah mampir kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!