Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.
Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.
Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petuah Bapak
Langit di atas Hutan Kota Srengseng perlahan berubah dari ungu tua menjadi biru gelap yang dipenuhi bintang samar—pemandangan langka untuk ukuran Jakarta yang biasanya diselimuti polusi. Arya dan Tiara masih berdiri di tepi kolam, tangan mereka masih bertaut, meski keduanya sudah tidak lagi saling menatap dengan intensitas seperti beberapa menit lalu. Kunang-kunang yang tadi berkelap-kelip riang kini mulai menghilang satu per satu, seolah tugas mereka menyaksikan momen itu sudah selesai.
Tiara yang pertama kali memecah keheningan, menghela napas panjang sambil menyeka wajahnya dengan kedua telapak tangan—gestur yang biasa ia lakukan setelah menyelesaikan sesi latihan berat, seolah mencoba mereset dirinya sendiri kembali ke kenyataan.
"Arya," ujarnya pelan, suaranya sudah jauh lebih tenang dibanding tadi. "Makasih. Beneran. Gua nggak tau lagi harus ngomong apa selain itu."
"Nggak usah makasih-makasih, Tiara," jawab Arya sambil tersenyum tipis, meski di dalam hatinya sendiri masih ada gemuruh yang belum sepenuhnya reda. "Gua cuma kebetulan lewat. Yang penting sekarang, lu udah lebih baikan, kan?"
Tiara mengangguk, matanya menerawang ke arah lintasan setapak yang mulai gelap. "Lebih baikan. Tapi belum selesai." Nada suaranya berubah, dari kelembutan menjadi sesuatu yang lebih tegas, seperti seorang atlet yang baru saja menemukan kembali tekadnya setelah sekian lama terkubur oleh rasa putus asa. "Gua nggak akan diem aja, Arya. Pak Irwan itu udah ngerusak karir gua, dan mungkin karir atlet-atlet lain yang belum berani ngomong."
Arya menatap Tiara, terkejut namun juga lega mendengar perubahan nada itu. Baru saja beberapa menit lalu gadis ini hancur berkeping-keping di bangku taman, dan kini, di bawah cahaya lampu yang temaram, ia berdiri kembali dengan bahu yang tegap—bukan lagi bahu seorang korban, melainkan bahu seorang yang bersiap melawan.
God-Phone di saku Arya bergetar lembut, cahayanya kali ini kembali ke warna keemasan yang biasa, meski nadanya tetap terasa berbeda dari notifikasi misi kacau yang biasa ia terima.
TING-TONG!
[EVALUASI MISI: OPERASI PEMULIHAN HATI SELESAI DENGAN HASIL LUAR BIASA!]
[Ulasan Pelanggan: Bintang 5 Kelap-Kelip (Kategori: Penyembuhan Jiwa yang Terluka). Target Tiara Puspita berhasil melewati fase krisis emosional terberat dalam kariernya dengan bantuan kehadiran tulus Driver.]
[Reward Permanen: Skill Baru Terbuka — "Telinga Pendengar Sejati" (Kemampuan pasif permanen: siapa pun yang bicara jujur pada Driver akan merasakan penurunan tekanan psikologis secara alami, tanpa perlu kekuatan gaib apa pun).]
[Catatan Tambahan: Target kini memiliki dorongan kuat untuk mengungkap kebenaran tentang penyalahgunaan kekuasaan Pelatih Irwan Setiadi. Sistem mendeteksi potensi konflik besar di masa depan yang melibatkan institusi olahraga nasional. Sistem tidak akan ikut campur secara langsung—ini murni pertarungan manusia melawan manusia.]
Arya membaca notifikasi itu dengan alis terangkat. "Skill Telinga Pendengar Sejati? Ini beneran skill paling waras yang pernah gua dapet dari sistem gila ini. Nggak ada ancaman kutukan, nggak ada rok mini macan tutul. Cuma... kemampuan buat dengerin orang. Aneh, tapi entah kenapa ini yang paling berharga."
"Kenapa, Arya?" tanya Tiara, melihat Arya yang tampak melamun menatap kosong ke udara.
"Nggak apa-apa," jawab Arya cepat, menggelengkan kepala. "Cuma mikir, gimana caranya bantu lu ngelawan pelatih bejat itu tanpa lu makin dirugikan."
Tiara menatap Arya lama, lalu tersenyum—senyum yang jauh berbeda dari senyum terpaksa yang selalu ia tunjukkan di depan kamera atau di depan rekan atlet lain. Senyum ini tulus, penuh rasa terima kasih yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata berlebihan.
"Gua punya rencana," ujar Tiara akhirnya, matanya berbinar dengan tekad baru. "Gua bakal ngumpulin bukti. Chat, rekaman, siapa aja atlet lain yang mungkin pernah dikasih tawaran serupa sama Pak Irwan. Kalau gua sendirian, mungkin suara gua bakal ditutupin. Tapi kalau ada lebih dari satu orang yang berani ngomong, mereka nggak bisa bungkam kita semua."
Arya mengangguk, kagum dengan keberanian yang baru saja tumbuh kembali di dalam diri Tiara. "Kalau lu butuh bantuan, kabarin gua aja. Gua emang cuma driver ojol, tapi gua punya beberapa kenalan yang... yah, lumayan berpengaruh, kalau lu butuh dukungan lebih besar."
Tiara tertawa kecil, menepuk lengan Arya dengan main-main. "Kenalan berpengaruh? Kamu ini sebenarnya siapa sih, Arya? Ojol biasa nggak mungkin punya kenalan berpengaruh."
"Kalau lu tau CEO Grand Indonesia sama pemilik galeri seni internasional lagi rebutan gua kayak barang lelang, mungkin lu bakal lebih kaget lagi," batin Arya sambil tersenyum kikuk, memilih untuk tidak menjelaskan lebih jauh. "Rahasia dagang, Nona Tiara. Yang penting, lu jangan sendirian ngadepin ini. Gua bakal bantu semampu gua."
Malam semakin larut, dan akhirnya keduanya sepakat untuk berpisah—Tiara memesan taksi online untuk kembali ke apartemen sementara yang ia sewa selama cuti dari asrama, sementara Arya kembali menaiki motor Supra Fit-nya untuk pulang ke Tambora.
Sebelum benar-benar berpisah, Tiara menghampiri Arya sekali lagi, berdiri di depan motor bebek tua itu dengan tatapan yang penuh kehangatan.
"Arya," ujarnya pelan. "Soal tadi... yang di tepi kolam. Gua nggak nyesel. Tapi gua juga tau, lu pasti punya banyak hal lain yang lagi lu hadepin. Gua nggak akan maksa lu buat mikirin gua doang."
Arya terdiam sejenak, mencari kata-kata yang tepat. "Tiara, gua juga nggak nyesel. Tapi lu bener, hidup gua emang lagi... rumit banget belakangan ini. Yang jelas, gua janji, gua bakal selalu ada kalau lu butuh."
Tiara mengangguk, tersenyum tipis, lalu melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam taksi online yang sudah menunggu. Arya berdiri sejenak menatap kepergian mobil itu, dadanya dipenuhi campuran perasaan yang begitu rumit—kelegaan, kebingungan, dan sedikit rasa bersalah yang tidak sepenuhnya bisa ia jelaskan.
Motor Supra Fit itu berhenti di depan rumah petak Tambora tepat pukul sepuluh malam, deru mesinnya yang halus memecah kesunyian gang yang sudah mulai sepi. Arya melepas helmnya perlahan, menghela napas panjang sebelum melangkah masuk.
"Arya pulang..," sapanya pelan sambil mendorong pintu tripleks yang catnya sudah mengelupas.
"Iya Le, anak ibu. akhirnya kamu pulang juga, ibu khawatir." sahut Bu Aminah dari dalam, suaranya masih terjaga meski jam sudah larut. Beliau sedang duduk di ruang tamu, menganyam sisa daun pisang untuk bungkusan nasi timbel esok pagi, matanya langsung terangkat menatap anaknya yang baru pulang. "Arya sudah makan bu." Ucap Arya sambil mencium tangan ibunya.
"Arya, dari mana aja, Le? Kok pulangnya larut banget? Ibu udah mau nyusul ke pangkalan tadi, untung Bang Jay bilang kamu lagi ada urusan."
Arya duduk di kursi kayu di seberang ibunya, mencoba tersenyum senormal mungkin meski hatinya masih berkecamuk. "Ada urusan sebentar, Bu. Nolongin orang yang lagi butuh."
Bu Aminah menatap wajah anaknya lama, mata tuanya yang teduh menyipit penuh selidik—naluri keibuan yang sudah terlatih membaca setiap perubahan sekecil apa pun pada raut wajah Arya. "Kamu ini... matanya kok kayak abis nangis, terus abis itu kayak abis... hmm, apa ya. Pokoknya ada sesuatu yang beda dari biasanya."
Arya tersentak kecil, buru-buru mengalihkan pandangan. "Nggak ada apa-apa, Bu. Cuma capek aja."
Ibu Aminah menghela napas panjang, tidak memaksa lebih jauh meski jelas beliau menangkap sesuatu yang disembunyikan anaknya. Sebagai seorang ibu yang sudah membesarkan Arya sendirian bersama Pak Surya, beliau tahu persis kapan harus mendesak dan kapan harus membiarkan anaknya menyimpan rahasia untuk sementara waktu.
"Ya sudah," ujar Bu Aminah lembut. "Yang penting kamu pulang selamat. Makan dulu, Ibu masih nyimpen nasi timbel sisa dagangan tadi. Ada ayam goreng lengkuas kesukaanmu."
Arya tersenyum tulus mendengar itu, rasa lelah dan gejolak batin yang sejak tadi menggantung di dadanya perlahan mencair oleh kehangatan sederhana rumahnya sendiri. "Makasih, Bu."
Saat Arya sedang menyantap nasi timbelnya di meja kecil dapur, Pak Surya keluar dari kamarnya dengan sarung kotak-kotak melingkar di pinggang, menghampiri anaknya dengan langkah pelan.
"Le," panggil Pak Surya, duduk di kursi seberang Arya. "Bapak denger dari Bang Jay, katanya belakangan ini banyak banget urusan yang bikin kamu pusing. Ada CEO lah, ada model lah, ada mahasiswi kedokteran lah. Sekarang kayaknya ada lagi yang baru."
Arya nyaris tersedak nasi timbelnya sendiri. "B-Bapak juga tau?!"
Pak Surya tertawa pelan, suaranya berat dan serak khas orang tua yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan. "Tambora ini kampung kecil, Le. Nggak ada yang bisa disembunyikan lama-lama di sini. Tapi Bapak nggak mau ikut campur soal urusan hati kamu. Bapak cuma mau nanya satu hal."
"Apa, Pak?" tanya Arya, menaruh sendoknya, menatap ayahnya dengan serius.
"Dari semua yang deket sama kamu sekarang," ujar Pak Surya pelan, matanya yang mulai rabun menatap lurus ke arah anaknya, "ada nggak yang bikin kamu ngerasa jadi diri sendiri? Bukan yang bikin kamu ngerasa harus jadi sempurna, atau harus jadi pahlawan. Tapi yang bikin kamu ngerasa cukup jadi Arya aja, anak ojol dari Tambora."
Pertanyaan itu menghantam Arya lebih dalam daripada yang ia duga. Ia terdiam lama, memikirkan wajah-wajah yang belakangan ini mengelilingi hidupnya—Alya yang penuh kehangatan namun juga penuh keteguhan restu keluarganya, Citra yang tegas namun rapuh, Nadia yang glamor namun kesepian, dan kini Tiara yang baru saja berbagi luka yang begitu jujur dengannya.
"Saya belum tau, Pak," jawab Arya jujur, suaranya pelan. "Semuanya... punya cara masing-masing buat bikin saya ngerasa berharga. Tapi saya juga takut, kalau saya salah milih, saya malah nyakitin semuanya."
Pak Surya mengangguk pelan, menepuk pundak anaknya dengan tangan kasarnya yang penuh kehangatan. "Nggak usah buru-buru, Le. Hati itu bukan motor yang bisa distarter kapan aja kamu mau. Biarin aja mengalir dulu. Yang penting, jangan sampai kamu lupa sama akar kamu—sama Ibu, sama Bapak, sama Tambora ini. Selama kamu inget dari mana kamu berasal, Bapak yakin kamu bakal bisa milih jalan yang bener."
Kata-kata sederhana itu, yang keluar dari mulut seorang bapak tua yang selama ini hanya bisa memberikan nasihat lewat kesederhanaan hidup, terasa jauh lebih menyembuhkan daripada seribu skill absurd yang pernah diberikan sistem gaib di sakunya.
"Makasih, Pak," bisik Arya, matanya sedikit berkaca-kaca.
Malam itu, setelah Arya membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai tipisnya, God-Phone di sampingnya berkedip pelan sekali lagi—bukan notifikasi misi, melainkan sebuah rangkuman status yang jarang muncul.
[RANGKUMAN STATUS SISTEM GODJEK — MALAM INI]
[Status Hubungan Terbuka: Alya Nindita (Restu Matriarkal Tingkat 1 Aktif), Citra Kirana (Kepercayaan Keluarga Meningkat), Nadia Anastasia (Obsesi Tingkat Tinggi), Tiara Puspita (Ikatan Emosional Baru Terbentuk).]
[Peringatan Sistem: Empat poros takdir kini bergerak secara paralel menuju satu titik pusat. Sistem mendeteksi kemungkinan pertemuan tak terhindarkan di masa depan dekat. Driver disarankan untuk mulai mempertimbangkan kejujuran sebagai strategi bertahan hidup jangka panjang.]
[Catatan Tambahan: Ancaman baru mulai terbentuk di luar radar sistem—seorang pelatih nasional bernama Irwan Setiadi kini menyadari bahwa mantan atletnya, Tiara Puspita, mulai mengumpulkan bukti pelanggarannya. Sistem mendeteksi kemungkinan tindakan balasan yang licik dalam waktu dekat.]
Arya menatap layar itu lama, menghela napas panjang sambil memejamkan matanya. "Empat orang. Dan sekarang ada ancaman baru lagi yang muncul gara-gara gua nolongin Tiara," batinnya lelah, namun anehnya, di tengah semua kerumitan itu, ia tidak lagi merasakan kepanikan seperti biasanya. Ada semacam ketenangan baru yang tumbuh di dadanya—mungkin efek dari nasihat sederhana Pak Surya, atau mungkin efek dari skill baru "Telinga Pendengar Sejati" yang entah bagaimana membuatnya lebih mampu mencerna beban emosional tanpa merasa remuk.
"Apapun yang terjadi besok," pikirnya sambil menutup mata, membiarkan kelelahan hari yang panjang perlahan menariknya ke dalam tidur, "gua bakal hadapin satu-satu. Nayla udah jadi masa lalu yang gua ikhlasin. Sekarang saatnya gua fokus sama orang-orang yang beneran ada di sekitar gua sekarang."
Di luar jendela kamarnya yang kecil, bulan menggantung terang di atas gang sempit Tambora, seolah menjadi saksi bisu dari sebuah babak baru yang akan segera dimulai—babak di mana empat hati yang berbeda akan segera bertabrakan, dan di mana seorang pelatih licik bernama Irwan Setiadi baru saja menjadi ancaman berikutnya yang harus dihadapi bukan dengan kekuatan sistem, melainkan dengan keberanian manusia biasa yang saling mendukung satu sama lain.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak sistem Godjek merasuki hidupnya, Arya tertidur dengan hati yang lebih tenang—bukan karena semua masalahnya selesai, melainkan karena ia mulai memahami bahwa tidak semua beban harus ia pikul sendirian, dan tidak semua luka harus ia sembuhkan dalam semalam.