NovelToon NovelToon
Antagonis Yang Menghindari Alur

Antagonis Yang Menghindari Alur

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: okolele

Apakah tidak ada pilihan lain?
kenapa sakalinya bertransmigrasi malah ke tubuh Antagonis,lucu sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon okolele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa dia?

Malika baru saja menyendok suapan pertamanya ketika Ruka menyipitkan mata.

"Ada yang aneh."

Malika menghentikan gerakan tangannya.

"Apa?"

"Lo."

"Gue?."Tunjuk Malika pada dirinya sendiri.

" Iya. "

"Kenapa?. "

"Biasanya lo itu palis males kalo sama cowo lain, Jangankan nyamperin noleh aja lo kaga karena dunia lo berpusat sama Soren aja. Lah barusan malah inisiatif ngobrol."

Malika nyaris tersedak.

"Apaan, sih."

"Gue serius."

Aira mengangguk kecil, meski ekspresinya tak seheboh Ruka.

"Gue juga baru sadar,lo berubah Mal."

Malika menghela napas panjang.

"Apasih orang cuman balikin utang, sama basa-basi doang."

"Sesimpel itu?"

"Iya."

Ruka masih tampak belum percaya. Ia hendak kembali menggoda Malika seketika ia urungkan ketika suara bel masuk menggema nyaring ke seluruh penjuru sekolah.

"Yah... batal deh interogasinya."

"Syukur."

Malika buru-buru menghabiskan makanannya.

_________

Koridor sekolah kembali dipenuhi langkah kaki para siswa yang bergegas menuju kelas masing-masing.

Malika berjalan di antara Aira dan Ruka.

Mengapit kedua lenganya pada lengan Aira dan Ruka, mengandeng mereka dengan dia yang di tengah-tengah.

Namun entah mengapa...

Sejak keluar dari kantin, perasaannya mendadak tidak tenang.

Bukan karena pembicaraan tadi.

Melainkan...

Seolah ada seseorang yang terus memperhatikannya.

Ia melirik ke belakang.

Hanya siswa-siswi yang lewat berlalu-lalang.

Tidak ada yang terlihat mencurigakan di sana.

"Kenapa?" tanya Aira.

"Gak ada."

Malika kembali melangkah.

Mungkin hanya perasaannya saja.

Sampai...

Saat melewati tangga menuju Kelasnya, pandangannya tanpa sengaja bertemu dengan sepasang mata tajam bernetra biru dari ujung lorong.

Seorang laki-laki berdiri sendirian.

Seragamnya sama,tapi Malika belum pernah melihat pria itu sebelumnya.

Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.

Tatapannya tenang, mencerminkan sikap acuh tah acuh.

Tapi tidak pula ramah.

Hanya... memperhatikan.

Begitu mata mereka bertemu, laki-laki itu berbalik dan berjalan pergi tanpa sedikit pun menoleh lagi.

Malika mengernyit.

"Siapa dia...?"

"Siapa?" Ruka ikut menoleh ke arah yang sama.

Lorong itu sudah kosong, pria itu telah pergi.

"Gak ada siapa-siapa."

Malika terdiam.

Apa ia salah lihat?

Atau memang ada seseorang yang sengaja mengamatinya?

Tanpa sadar jemarinya mengepal pelan.

Ingatannya kembali pada isi novel yang pernah ia baca.

Tokoh itu...

Tidak pernah muncul di bagian ini.

Sedikit pun tidak.

Jika benar seseorang baru saja mengawasinya...

Berarti jalan cerita mulai bergeser lebih cepat daripada yang ia bayangkan.

Dan entah mengapa...

Perasaan Malika mengatakan, perubahan itu bukanlah pertanda baik.

Malika menggeleng pelan, berusaha mengusir berbagai praduga yang mulai memenuhi kepalanya.

"Mungkin cuma salah lihat," gumamnya lirih.

"Ngomong apa?" tanya Ruka.

"Gak ada."

Bel masuk kedua kembali berbunyi.

Ketiganya mempercepat langkah menuju kelas masing-masing. Koridor yang semula ramai perlahan lengang, menyisakan gema langkah kaki yang saling bersahutan.

Begitu memasuki kelas, "Selamat Siang ibu. " Guru telah berdiri di depan papan tulis.

"Silakan duduk."

Suasana yang semula riuh seketika berubah tenang. Bunyi kapur yang bergesekan dengan papan tulis memenuhi ruangan, diselingi suara guru yang mulai menjelaskan materi.

Malika membuka bukunya.

Namun, pikirannya sama sekali tidak berada di dalam kelas.

Bayangan laki-laki di ujung lorong itu terus berputar di kepalanya.

Siapa dia?

Mengapa menatapnya seperti mengenali dirinya?

Padahal Malika yakin, wajah itu tidak pernah muncul dalam novel yang pernah ia baca, atau ia melupakan sesuatu? .

Kalau memang bukan tokoh di dalam cerita...

Lalu, siapa?

"Malika."

Suara guru mendadak memecah lamunannya.

Ia sontak berdiri.

"Iya, Bu."

"Tolong lanjutkan jawaban nomor tiga."

Malika terdiam beberapa detik.

Ruangan mendadak sunyi.

Beberapa siswa mulai menoleh ke arahnya.

Beruntung, Aira yang duduk di belakangnya berdeham pelan sambil menunjuk bagian bawah buku.

Malika segera menangkap maksud itu.

Ia membaca jawabannya dengan tenang hingga selesai.

"Baik. Duduk."

"Napas lo tadi kayak mau putus," bisik Aira pelan saat guru kembali membelakangi kelas.

Malika hanya mendengus pelan.

Jam pelajaran berakhir menjelang sore.

Sebagian besar siswa bergegas membereskan buku mereka, dan bersiap untuk pulang.

Malika memasukkan buku terakhir ke dalam tas sebelum berdiri.

Saat hendak keluar kelas, sesuatu terjatuh dari sela mejanya.

Tok.

Sebuah lipatan kertas putih.

Malika mengernyit.

Perlahan ia mengambilnya.

Kertas itu tampak bersih tanpa nama pengirim, polos.

Ia membukanya.

Hanya ada satu kalimat yang ditulis dengan tinta hitam.

^^^"Aku merindukanmu, selalu."^^^

^^^_U last love^^^

Napas Malika seketika tertahan.

Ia membalik kertas itu.

Kosong.

Tidak ada petunjuk siapa pengirimnya.

"Malika?"

Suara Aira membuatnya tersentak.

"Cepat, nanti keburu sepi."

Dengan gerakan cepat, Malika melipat kembali kertas itu lalu memasukkannya ke dalam saku rok.

"Iya... ayo."

Ia melangkah keluar kelas bersama kedua sahabatnya.

Namun, jauh di ujung koridor...

Seseorang berdiri dengan bersandar pada dinding, tangannya ia masukan ke dalam saku celanya sembari mengamati punggung Malika yang semakin menjauh.

Cukup lama Ia mengamati gadis itu sampai Sesaat kemudian, sosok itu berbalik dan pergi.

________

For u🌺.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!