NovelToon NovelToon
Pilihan Hati Anisa

Pilihan Hati Anisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Single Mom
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: pinkanmiliar

Kehamilan yang selama ini mati-matian disembunyikan Anisa akhirnya terbongkar. Ironisnya, orang pertama yang mengetahui rahasia itu justru Reinhart—dokter magang di kampus tempatnya menimba ilmu.

Sejak hari itu, hidup Anisa berubah. Semakin ia berusaha menghindar, semakin sering takdir mempertemukan mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu dari Reinhart perlahan berubah menjadi kepedulian yang sulit diabaikan.

----------------------------

"Siapa ayah dari bayimu?"

"Itu bukan urusan Dokter."

"Kalau begitu... izinkan saya menjadi ayah untuk bayi itu."

Anisa hanya tersenyum getir.

"Maaf. Saya menolaknya."

-----------------------

Namun, sampai kapan rahasia itu bisa disembunyikan? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah cinta Reinhart masih cukup kuat untuk menerima Anisa... beserta luka dan masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meet You Again

Debaran hati ini masih terasa kencang saat berjumpa lagi dengannya.

Mungkinkah aku masih memiliki rasa itu terhadapnya?

Ternyata tak semudah itu melupakan apa yang pernah mengisi hati...

...***...

Mobil yang ditumpangi Reinhart berhenti di depan sebuah rumah yang tampak asri. Sekeliling rumah itu berdiri kokoh beberapa pohon dan bunga-bunga berwarna-warni yang tampak indah dipandang mata.

"Nak Reinhart, sudah sampai, Nak." Pak Rizal menepuk bahu Reinhart pelan.

Reinhart mengerjapkan mata perlahan. Matanya menyipit menyesuaikan cahaya yang masuk.

"Hmm? Sudah sampai ya, Pak?" Reinhart menggeliatkan tubuhnya lalu keluar dari mobil mengikuti langkah Pak Rizal.

Mata Reinhart menatap rumah yang akan ditempatinya selama tinggal di Desa Selimut ini.

"Rumahnya bagus ya, Pak," puji Reinhart.

"Yah, ini dulu rumah yang di tempati Dokter Boy. Nanti ada Mang Rojak yang bantu-bantu buat bersihin rumah dan kebun."

Reinhart mengangguk paham.

"Barang-barangnya saya bantu bawa masuk ya, Dokter."

"Iya, Pak. Terima kasih banyak."

Rumah satu lantai ini tidak terlalu besar, cukup untuk Reinhart yang hanya tinggal sendiri. Ada dua kamar di rumah itu. Satu di dekat ruang tamu dan satunya lagi agak ke belakang dan dekat dengan dapur.

Reinhart memilih kamar yang ada di belakang. "Saya pilih kamar ini saja, Pak. Untuk kamar yang di depan bisa dijadikan tempat praktek jika ada warga yang berobat kemari."

"Wah, ide yang sangat bagus, Nak Dokter. Kalau begitu sebaiknya Nak Dokter istirahat dulu saja. Untuk peninjauan proyeknya, bisa dilakukan besok pagi. Nanti Bapak akan jemput kemari."

"Iya, Pak. Sekali lagi terima kasih. Oh ya, apa di dekat sini ada pasar atau pedagang bahan makanan. Kebetulan saya lebih suka memasak makanan sendiri."

Pak Rizal menjetikkan jari. "Kalau itu jangan khawatir, Nak. Nanti Bapak suruh anak Bapak si Rudi buat anter bahan makanan ke Nak Reinhart. Kebetulan dia itu budi daya sayur-sayuran organik."

"Alhamdulillah kalau gitu, Pak. Saya jadi enak nih." Reinhart menggaruk tengkuknya.

"Hahahaha, santai saja, Nak Dokter. Nak Reinhart kan tamu di desa ini. Jadi, sudah sepantasnya Bapak menyediakan semua kebutuhan Nak Reinhart."

Reinhart tersenyum lega. Ia pikir hidupnya akan susah karena tinggal di desa terpencil, tapi nyatanya ia malah hidup dengan nyaman di sini.

"Oya, Pak. Kalau untuk fasilitas kesehatan apa sama sekali belum ada di desa ini?"

"Umm, ada sih satu klinik kecil punya seorang bidan. Dia pindah ke desa ini sekitar dua tahun yang lalu."

Reinhart mengangguk paham. "Baiklah. Sekali lagi terima kasih ya, Pak. Bapak juga sebaiknya istirahat. Bapak pasti lelah bolak balik perjalanan jauh."

"Kalau begitu Bapak permisi dulu, Nak Reinhart."

Sepeninggal Pak Rizal, Reinhart mulai membereskan barang-barangnya. Tubuhnya tidak terlalu lelah karena tadi sudah tidur selama beberapa jam.

"Dari pada bengong, sebaiknya aku mulai mengatur dekorasi rumah ini." Reinhart membongkar barang-barangnya dan mulai menata kamar yang rencananya akan dijadikan tempat praktek.

*

*

*

Keesokan paginya, Reinhart merasakan hawa dingin menusuk hingga ke tulang.

"Brrr, dingin banget disini. Pantas aja Pak Rizal bilang aku harus bawa baju hangat." Reinhart memakai jaket tebal dan juga syal di lehernya. Tak lupa sepasang sepatu boot juga menambah kesan tampan penampilannya.

"Assalamu'alaikum, Nak Reinhart."

"Wa'alaikumsalam, Pak."

"Wah, Nak Reinhart ternyata sudah menunggu ya. Mari, Nak!" Pak Rizal membuka pintu mobil dan mempersilakan Reinhart masuk.

Jalanan desa untungnya sudah diaspal dan tidak banyak yang berlubang. Reinhart menatap ke luar jendela dan melihat betapa desa ini masih begitu asri dengan udara yang sejuk.

"Saya gak nyangka kalau ternyata di sini beneran dingin banget, Pak." Reinhart menggosok kedua tangannya.

Pak Rizal malah tertawa. "Apa yang Bapak bilang gak salah kan? Pergi ke sini sama saja seperti ke luar negeri pas musim dingin. Hanya saja disini gak ada saljunya."

Gelak tawa terdengar di mobil pick-up yang ditumpangi Reinhart dan Pak Rizal.

"Omong-omong, saya mau ngucapin terima kasih sama Bapak dan anak Bapak yang kemarin sudah kirim bahan makanan untuk saya."

"Justru kami yang harusnya berterimakasih sama Nak Reinhart. Berkat Nak Reinhart, klinik yang sudah lama terbengkalai bisa direnovasi dan digunakan untuk berobat jika ada warga yang sakit."

"Bapak bisa saja. Itu terlalu berlebihan. Saya memang sangat suka bepergian untuk kepentingan sosial. Jadi, ini seperti sudah tugas wajib saya sebagai seorang dokter."

"Masya Allah, Nak Reinhart sungguh punya hati yang mulia. Semoga segala urusan Nak Reinhart di permudah ya."

"Aamiin..." Reinhart menjawab cukup lantang.

Tiba di lokasi proyek renovasi klinik, Reinhart melihat jika pembangunan hampir sepenuhnya selesai. Bangunan yang dulu usang sudah berganti bangunan baru dengan pondasi yang lebih kuat dan tahan lama.

"Alhamdulillah udah hampir selesai ya, Pak?"

"Iya, Nak. Tinggal finishing saja."

"Saya boleh berjalan-jalan keliling tempat ini?" tanya Reinhart.

"Silakan, Nak Dokter. Biar Nak Dokter hapal jalanan desa ini."

Reinhart menganggukkan kepala. Kakinya mulai melangkah menapaki jalan setapak desa. Kedua tangannya memeluk tubuh. Hari masih pagi jadi kabut masih cukup tebal.

"Mungkin sebentar lagi akan hangat karena matahari mulai meninggi." Reinhart menatap langit biru yang begitu indah.

"Di alam semesta yang luas ini, mungkinkah aku bisa menemukanmu, Anisa?"

BRUGH!

Tiba-tiba saja Reinhart mendengar suara orang terjatuh.

"Aduuuhh, sakit."

Reinhart melihat seorang anak perempuan terjatuh di jalanan bebatuan. Ia segera mendekat.

"Kamu gak apa-apa?" tanya Reinhart sambil memeriksa apakah gadis kecil itu terluka atau tidak.

"Sakit, Om. Hiks hiks hiks."

Reinhart celingukan ke kanan dan kiri. Tidak ada orang lain di sana.

"Kamu mau ikut, Om? Om ini seorang dokter. Om akan obati luka kamu," ajak Reinhart.

Gadis kecil bermata bening itu menatap Reinhart seksama.

"Om bukan orang jahat kan?"

Reinhart tergelak kecil. "Tentu saja bukan. Kita ke klinik yang ada di sana. Om bawa perlengkapan dan obat-obatan di tas. Ayo sini Om gendong." Reinhart berjongkok dan menyodorkan punggungnya untuk dinaiki si gadis kecil.

Meski tampak ragu, tapi akhirnya gadis kecil itu naik ke punggung Reinhart.

"Rumah kamu dimana? Kok bisa sampai sini? Kamu main sendirian?"

"Kalau nanya satu satu dong, Om. Rere kan bingung jawabnya."

"Ooh, jadi nama kamu Rere ya? Nama yang bagus."

Reinhart tiba di depan klinik dan mengambil kotak peralatan miliknya. Dia membersihkan luka Rere terlebih dulu sebelum mengoles obat. Gadis kecil itu meringis merasakan perih di kedua lututnya.

"Perih sedikit, tapi nanti lama-lama gak sakit lagi."

Rere meringis menunjukkan deretan giginya.

DEG! Jantung Reinhart berdetak kencang saat melihat senyum manis Rere. Senyum yang mirip dengan seseorang yang dikenalnya.

"Rumah kamu dimana? Om antar ya?"

Rere mengangguk. "Iya, Om. Lagian aku gak bisa jalan nih, hehehe."

Reinhart mengacak pelan rambut Rere. "Ya udah Om ambil kunci mobil dulu ya." Reinhart menemui Pak Rizal dan meminjam kunci mobil.

"Ayo, sini Om gendong lagi."

Dengan gembira Rere kembali naik ke punggung Reinhart. Gadis kecil itu terus bersenandung selama perjalanan menuju rumahnya.

"Itu rumah Rere, Om." Rere menunjuk satu rumah yang hampir mirip dengan rumah yang ditempati Reinhart. Sepertinya rumah-rumah disini sangat asri dengan memiliki banyak tanaman hijau.

Reinhart kembali menggendong Rere. Belum tiba di depan rumah, seorang wanita paruh baya menghampiri Rere dan Reinhart.

"Rere, kamu kemana aja? Emak sampai khawatir." Wanita paruh baya itu mengusap dadanya.

"Maaf, Mak. Rere tadi jalan-jalan sebentar mau tangkap kupu-kupu, tapi Rere jatuh. Untung ada Om Tampan ini yang nolongin Rere."

Reinhart membungkuk hormat di depan wanita tua itu.

"Terima kasih ya. Maaf kalau Rere merepotkan."

"Tidak apa, Bu. Namanya juga anak kecil."

Rere dan wanita tua itu berjalan masuk ke dalam rumah, sementara Reinhart kembali menyetir mobil menuju ke klinik.

*

*

*

"Duh, gawat nih, Bu. Klinik yang dulu terbengkalai di sana itu, sekarang udah hampir selesai pembangunannya. Kabarnya dokter yang dari kota besar itu juga udah datang trus lagi ninjau pembangunan kliniknya." Resti, perawat berusia 22 tahun itu bercerita dengan berapi-api di depan wanita yang berusia tiga tahun diatasnya.

Wanita berhijab yang mendengarkan cerita Resti hanya diam dan mencoba mencerna semuanya.

"Kalau klinik itu selesai dibangun, pasti warga desa gak ada yang berobat kemari lagi, Bu. Trus gimana nasib klinik Ibu ini?" Resti menunjukkan wajah cemasnya.

"Gak bisa dibiarkan! Kenapa orang-orang kota itu berbuat seenaknya disini?" Wanita berhijab itu melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. Ia kesal pada kepala desa yang memutuskan secara sepihak tentang pembangunan klinik terbengkalai itu.

"Bu Bidan! Mau kemana?" teriak Resti.

"Mau menemui orang-orang dari kota! Mau demo!"

Resti melongo tak percaya. "Ya ampun, aku gak nyangka kalau semangat Bu Bidan berapi-api kalau lagi mode begini."

Langkah kaki wanita berhijab itu memelan ketika mulai terlihat bangunan klinik yang hampir berdiri sempurna itu.

"Gak mungkin! Kenapa mereka ingin mengambil mata pencaharianku selama ini?" Matanya berkilat marah. Langkah kakinya kembali cepat agar bisa bertemu dengan orang yang bertanggung jawab pada proyek renovasi klinik ini.

"Itu disana! Pria yang berdiri di sana itu dokter yang kemarin datang dari kota." Seorang pekerja bangunan memberitahu wanita berhijab itu.

Debaran jantungnya tak bisa terelakkan lagi saat melihat siapa sosok yang berdiri tiga meter di depannya.

Deg

Deg

Deg

Deg

Deg

Deg

"Do-dokter Reinhart?" lirihnya.

Seolah ada yang memanggil namanya, Reinhart menoleh dan menatap sosok yang juga sedang menatapnya.

"Anisa...?" Reinhart sungguh tak percaya jika sosok yang ada di seberang sana adalah seseorang yang selama ini dicari olehnya.

Wanita berhijab yang adalah Anisa itu menggeleng pelan lalu mulai melangkah mundur.

"Gak mungkin..." Bibirnya terus berucap jika apa yang dilihatnya tidak mungkin orang yang dikenalnya di masa lalu. "Gak mungkin..."

Anisa berbalik badan dan berlari sekencang yang ia bisa untuk menghindari Reinhart. Semua terasa sia-sia saja saat hal tentang Reinhart kembali hadir di hidupnya. Sudah pergi sejauh ini, ternyata takdir malah mempertemukan mereka kembali.

1
falea sezi
oalah bodoh bgt anisa😒
Emak Femes: makasih udh mampir Kak 🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
Sunarti Narti
itu namanya jodoh
Dian
suka
Emak Femes: Makasih sudah mampir, Kak 😍
total 1 replies
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Baru episode satu kamu udah bikin hidup orang rumit, Mak🤣

daebaklah! karya baru terus pkoknya!🤸
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: ❤️❤️❤️
semangART, Emak!
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!