NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.

Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 20

Rujukan ke Rumah Sakit Kota

Keheningan koridor rumah sakit yang dipenuhi aroma antiseptik tiba-tiba pecah ketika pintu ruang tindakan terbuka. Seorang dokter melangkah keluar sambil melepaskan masker, raut wajahnya tampak lelah namun tetap tenang.

Semua orang yang sejak tadi menunggu langsung berdiri. Angela bahkan nyaris berlari menghampirinya.

"Dok... bagaimana keadaan ibu saya?"

Dokter mengembuskan napas pelan sebelum menjawab.

"Untuk sementara kondisi beliau sudah stabil." Angela memejamkan mata sesaat.

"Syukurlah, tapi_," ucapan dokter terjeda sejenak. Satu kata itu seketika menghapus kelegaan dari wajahnya. Dokter melanjutkan dengan nada hati-hati.

"Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya gangguan yang cukup serius pada jantung beliau. Kami sudah melakukan penanganan awal, tetapi fasilitas rumah sakit kabupaten ini sangat terbatas."

"Apa maksud Dokter?" Angela menelan ludah

"Kami menyarankan agar pasien segera dirujuk ke Rumah Sakit Kota. Di sana tersedia dokter spesialis jantung, ruang kateterisasi, serta peralatan medis yang jauh lebih lengkap."

Dunia Angela seperti berhenti berputar.

"Dirujuk..."

Kedua tangannya saling menggenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Apakah... kondisi Ibu benar-benar berbahaya?"

Dokter mengangguk pelan.

"Semakin cepat mendapatkan penanganan lanjutan, semakin besar peluang pemulihannya."

Angela menundukkan kepala.

Matanya mulai dipenuhi air mata.

"Apa... biaya ambulans dan perawatannya..."

Kalimat itu terputus.

Ia bahkan takut mendengar jawabannya.

Belum sempat dokter membuka suara, Raymond melangkah maju.

"Dok."

Nada suaranya tenang, tetapi mengandung wibawa yang membuat semua orang spontan menoleh.

"Saya yang akan mengurus semuanya." Angela menatapnya tak percaya.

"Ray..." panggil nya lirih, Raymond kembali menghadap dokter.

"Siapkan surat rujukan, gunakan ambulans terbaik, kalau perlu, hubungi rumah sakit tujuan sekarang juga. Saya ingin tim spesialis sudah siap sebelum pasien tiba." Dokter sempat terdiam beberapa detik. Cara bicara pemuda itu terdengar seperti seseorang yang terbiasa memberi perintah, bukan meminta bantuan.

"Baik, Pak. Kami akan segera menyiapkannya." Dokter pun berlalu dengan langkah cepat, koridor kembali dipenuhi keheningan.Angela masih berdiri mematung, tatapannya tak lepas dari Raymond.

"Ray..." panggilnya lirih. "Aku nggak mungkin sanggup membayar semua ini." Raymond menggeleng pelan.

"Kamu nggak perlu memikirkan uang." balasnya lembut.

"Tapi—" Raymond langsung memotong ucapan Angela.

"Angela." Nada suaranya lembut, tetapi tegas.

"Yang paling penting sekarang adalah keselamatan Tante."

"Bukan biaya." Air mata Angela akhirnya jatuh.

"Aku nggak enak sama kamu." Raymond mengangkat tangan, lalu mengusap perlahan air mata yang mengalir di pipi gadis itu dengan ibu jarinya.

"Jangan menangis, Aku nggak suka lihat kamu menangis." Raymond mengusap pipinya, mengusap air mata. Angela menggigit bibirnya.

"Aku selalu merepotkan kamu." Angela terisak pelan.

"Kamu salah." Raymond menggeleng.

"Menolong orang yang Aku sayangi bukanlah sebuah beban."

Deg.

Jantung Angela kembali berdetak tidak beraturan. Di sudut koridor, sang kakek hanya tersenyum kecil sambil menyandarkan tongkatnya.

"Dasar cucu keras kepala," gumamnya lirih.

"Kalau soal Angela, uang miliaran rupiah pun tidak akan pernah dia pikirkan." Tak lama kemudian, Surya datang tergesa-gesa membawa beberapa dokumen.

"Tuan Muda."

"Surat rujukan sudah selesai."

"Ambulans siap berangkat lima belas menit lagi." Raymond mengangguk.

"Rumah sakit tujuan?"

"Sudah saya hubungi."

"Ruang VIP, dokter spesialis, hingga tim kateterisasi sudah bersiaga." Angela membelalak.

"Cepat sekali." Surya hanya tersenyum sopan.

"Karena yang meminta adalah Tuan Raymond." Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun bagi Angela, semuanya terasa seperti dunia yang berbeda. Selama ini ia harus menghitung setiap lembar uang demi membeli obat ibunya. Sementara bagi Raymond, hanya dengan satu panggilan telepon, seluruh rumah sakit bergerak menyiapkan pelayanan terbaik.

Tak lama kemudian, dua perawat mendorong ranjang yang membawa Ibu Sinta keluar dari ruang perawatan. Wajah wanita itu masih pucat, tetapi napasnya sudah jauh lebih teratur.

"Ibu," ucapnya lirih. Angela segera menggenggam tangan ibunya. Wanita itu membuka mata perlahan.

"Angela." panggilnya pelan.

"Ibu... aku di sini." Wanita itu tersenyum tipis.

"Maaf... Ibu malah bikin kamu khawatir." Angela langsung menggeleng.

"Jangan bilang begitu."

"Ibu harus cepat sembuh." Tatapan Ibu Sinta kemudian beralih kepada Raymond.

"Ray... Terima kasih." Raymond sedikit menundukkan kepala.

"Tante tidak perlu berterima kasih. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya." Wanita itu tersenyum hangat.

"Dari dulu... Ibu selalu berdoa agar Angela dipertemukan dengan orang baik. Dan sekarang..." Tatapannya berpindah kepada putrinya. "Ibu merasa Tuhan sudah mengabulkan doa itu." Angela langsung memalingkan wajah, pipinya memerah.

"Ibu...Jangan ngomong macam-macam."

Di sisi lain koridor, sang kakek memanggil Surya.

"Pastikan rumah sakit kota memberikan pelayanan terbaik. Jangan sampai keluarga Angela mengetahui campur tangan keluarga kita." Surya mengangguk hormat.

"Baik, Tuan Besar, semuanya akan terlihat seperti prosedur biasa." Sang kakek tersenyum puas.

"Bagus."

"Aku ingin melihat apakah gadis itu mencintai Raymond karena dirinya, bukan karena nama besar keluarga Wijaya."

 

Sirene ambulans meraung nyaring, membelah jalanan malam yang basah oleh sisa hujan.

Kilatan lampu merah dan biru memantul di kaca-kaca gedung kota, menciptakan bayangan yang terus menari di dalam ambulans.

Angela tak pernah melepaskan genggaman tangan ibunya.

Sesekali ia mengusap punggung tangan wanita yang telah membesarkannya seorang diri.

"Bu..."

"Ibu harus kuat."

"Aku masih ingin melihat Ibu sehat lagi."

"Ibu akan berusaha..."

jawab wanita itu lirih.

Raymond yang duduk di seberang hanya memperhatikan dalam diam.

Tatapannya beberapa kali beralih ke monitor detak jantung yang terus berbunyi stabil.

Tak lama kemudian ponselnya bergetar.

Ayah.

Raymond mengangkat panggilan itu dengan suara pelan.

"Ayah."

"Bagaimana kondisi ibu Angela?"

"Sedang dirujuk ke rumah sakit kota."

"Ayah sudah menerima laporan dari Surya."

Raymond melirik Angela yang masih menggenggam tangan ibunya.

"Aku akan tetap menemani mereka."

"Tentu."

"Tidak ada yang melarangmu."

Suara ayahnya terdengar lebih hangat dari biasanya.

"Justru Ayah bangga."

Raymond terdiam.

"Bangga?"

"Dulu Ayah selalu khawatir."

"Kamu terlalu dingin."

"Tapi sekarang..."

"...Ayah melihat akhirnya ada seseorang yang benar-benar ingin kamu lindungi."

Raymond memandang Angela.

Sorot matanya melembut.

"Iya."

"Aku memang ingin melindunginya."

"Kalau begitu..."

"Lindungi dia sampai akhir."

"Paham."

Telepon pun berakhir.

Tak lama kemudian ambulans memasuki pelataran Rumah Sakit Kota.

Begitu pintunya terbuka, belasan tenaga medis lengkap dengan brankar sudah menunggu.

"Pasien rujukan datang!"

"Cepat! Bawa ke ruang kateterisasi!"

Semua bergerak begitu teratur.

Kecepatan penanganan itu membuat Angela kembali menyadari betapa besar pengaruh keluarga Raymond.

Ia hanya bisa mengikuti brankar sambil berlari.

Namun tepat sebelum memasuki lift khusus, seorang perawat menahan langkahnya.

"Maaf, Mbak."

"Untuk sementara hanya tenaga medis yang boleh masuk."

Pintu lift perlahan menutup. Angela hanya mampu menatap pintu logam itu sampai benar-benar tertutup. Seluruh tenaga di tubuhnya seakan ikut menghilang.

Raymond datang menghampirinya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia membuka kedua lengannya.

Pertahanan Angela akhirnya runtuh.

Ia langsung memeluk Raymond dan menyandarkan wajahnya di dada pemuda itu, tangis Angela pun pecah.

"Aku takut, Ray... Aku takut kehilangan Ibu."

Raymond memeluknya semakin erat.

"Nggak akan, Kita akan berjuang bersama, Aku janji."

Untuk pertama kalinya sejak semua musibah itu terjadi, Angela membiarkan dirinya percaya bahwa ia tidak lagi sendirian.

1
Lyvia
suwun thor crazy upnya
Rizky Mutha: sama-sama kak
total 1 replies
Miasell Tea
bagus banget menghibur para pem baca,,,
kalau bisa up nya di tambahin
Miasell Tea
lah kapan nikah nya thor,,,harus ada penjelasan nya ini mah, makin penasaran aj,, 💪💪💪
Rizky Mutha: aduh.. typo
total 1 replies
Lenny Utami
so sweet banget..
Lenny Utami
ihhh bisa ae ahh
Lenny Utami
ahhh masaa...
Lenny Utami
lucu bangett
Lyvia
thor km bikinQ senyum2 sendiri, jadi ingat masa2 sekolah dulu, suwun thor upnya, ttp semangat 💪💪💪😄
yaya
lucuu ih...😍
Lenny Utami
kode sekeras itu masa enggak ngeh sih Anggela
Lenny Utami
gemes🤭
Lenny Utami
Reymond kyk piyik ngintilin Angela Mulu...😌
Lenny Utami
kalo aku kabur. GK pede di liatin GT...😭
Lenny Utami
so sweettt nya.... bikin aku senyum² sendiri
Miasell Tea
di tunggu lanjutan nya
awal yang seru😍
Miasell Tea
manis banget,,,,,
padahal seru kenapa sepi komen nan y
Miasell Tea: oh pantesan,,, sama2 ka jangan lama2 y up ny penasaran di tunggu lanjutan ny
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!