Karena terjebak utang keluarga yang menumpuk, Anya terpaksa menerima tawaran menjadi istri kontrak Arga, seorang pewaris perusahaan terkaya yang dikenal dingin dan tak pernah percaya pada cinta. Perjanjian mereka hanya berlaku satu tahun: tidak ada ikatan batin, tidak ada rasa sayang, dan akan berakhir begitu waktunya habis. Namun seiring berjalannya hari, kehadiran Anya perlahan mencairkan hati yang sudah lama membeku. Akankah hubungan yang diawali dengan perjanjian ini berakhir dengan perpisahan, atau justru tumbuh menjadi cinta yang tak terpisahkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Maysha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Ancaman dan Pilihan Sulit
Sore itu langit terlihat mendung, seolah hendak menurunkan hujan lebat. Suasana di dalam kafe yang dipilih Pak Baskara terasa sunyi dan dingin, meskipun ruangan itu dihias dengan perabotan mahal. Begitu Anya melangkah masuk dan duduk di hadapan pria paruh baya itu, ia langsung merasakan tekanan yang menyelimuti hatinya. Tatapan Pak Baskara terasa tajam dan penuh perhitungan, seolah sedang menilai kelemahan apa saja yang bisa ia gunakan untuk mengendalikan gadis itu.
“Terima kasih sudah bersedia datang, Nona Anya,” ucap Pak Baskara dengan nada yang terdengar sopan namun menyembunyikan niat jahat. “Saya tahu kamu pasti merasa tertekan menerima undangan ini, tapi saya punya tawaran yang mungkin akan mengubah hidupmu menjadi jauh lebih baik.”
Anya duduk dengan punggung tetap tegak, berusaha menampilkan ketenangan meskipun jantungnya berdegup kencang. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang yang ingin menjatuhkan keluarga yang kini ia cintai. “Saya tidak percaya ada tawaran yang tulus dari orang yang selama ini berusaha mencelakai keluarga Wijaya. Katakan saja apa yang sebenarnya Bapak inginkan, jangan bertele-tele.”
Pak Baskara tertawa kecil, tawanya terdengar dingin dan tidak menyenangkan. “Kamu memang gadis yang lurus dan tegas, saya akui itu. Tapi jangan lupa posisimu sekarang. Kamu hanyalah gadis biasa yang beruntung bisa masuk ke lingkungan keluarga terpandang. Kalau semua orang tahu kenyataan bahwa kamu dan ibumu dulu terjebak utang yang menumpuk, dan datang ke rumah Wijaya hanya karena membutuhkan bantuan, menurutmu apa yang akan mereka pikirkan? Apakah Arga dan orang tuanya masih akan mempercayaimu sepenuhnya?”
Mendengar perkataan itu, dada Anya terasa sesak. Ia tahu masa lalunya bukanlah hal yang memalukan, tapi ia juga sadar gosip yang dibumbui kebohongan bisa membuat kebenaran terlihat buruk di mata orang lain. Namun ia tidak mau mundur.
“Itu adalah perjalanan hidup saya, Pak,” jawab Anya dengan suara mantap. “Saya tidak malu dengan apa yang pernah saya alami. Keluarga Wijaya sudah mengetahui sebagian kebenaran dan mereka tetap menerima saya apa adanya. Kalau Bapak hanya ingin menyebarkan cerita yang sudah diketahui banyak orang, itu tidak akan memisahkan saya dari Arga.”
“Tidak sesederhana itu,” potong Pak Baskara dengan nada mengancam. “Saya bisa menyusun cerita sedemikian rupa sehingga seolah kamu datang hanya untuk memanfaatkan kekayaan mereka, bahkan merencanakan kejahatan sejak awal. Saya punya banyak koneksi, dan gosip yang disebarkan dengan cara yang tepat akan membuat keraguan tumbuh perlahan di hati siapa pun, termasuk Arga.”
Ia bersandar di kursinya, menatap Anya dengan pandangan penuh kemenangan. “Tapi saya bisa menahan semuanya, asalkan kamu mau melakukan satu hal saja. Tinggalkan Arga, tinggalkan rumah Wijaya, dan jangan pernah menampakkan diri lagi di hadapan mereka. Sebagai gantinya, saya akan melunasi semua sisa utang keluargamu, dan memberikan uang yang cukup untuk kamu dan ibumu hidup tenang dan berkecukupan sampai tua.”
Tawaran itu terasa menggoda secara materi, tapi bagi Anya itu adalah hal yang paling menyakitkan. Ia diminta memilih antara kebahagiaan yang baru ia temukan, atau keamanan yang didapat dengan cara mengkhianati hati sendiri.
“Saya menolak tawaran itu,” jawab Anya tegas tanpa ragu sedikit pun. “Uang bisa dicari dengan kerja keras, keamanan bisa diperjuangkan dengan kesabaran. Tapi kepercayaan dan cinta yang tulus tidak bisa dibeli dengan apa pun. Saya tidak akan meninggalkan Arga hanya karena ancaman atau bujukan materi. Lakukan apa saja yang Bapak mau, saya tidak akan mundur selangkah pun.”
Wajah Pak Baskara seketika berubah menjadi merah padam menahan amarah. Ia tidak menyangka gadis sederhana ini memiliki keteguhan hati yang sekuat itu. “Baiklah, kalau begitu jangan salahkan saya nanti! Mulai hari ini, saya akan pastikan hidupmu tidak lagi tenang, dan Arga akan melihat sisi buruk yang selama ini kamu sembunyikan!”
Pertemuan itu berakhir dengan suasana yang sangat tegang. Anya berjalan keluar dari kafe dengan langkah tergesa-gesa, hatinya terasa berat namun tetap teguh. Ia tahu ancaman itu bukan sekadar omongan kosong, dan badai baru akan segera menghampiri.
Sesampainya di rumah, Anya berusaha menyembunyikan kegelisahannya agar tidak membuat Arga khawatir. Namun Arga yang sudah mengenalnya dengan baik segera menyadari ada yang berbeda. Ia melihat wajah Anya terlihat pucat dan matanya terlihat lelah.
“Kamu kenapa? Ada hal yang mengganggu pikiranmu?” tanya Arga sambil memegang bahu Anya dengan lembut.
Anya terdiam sejenak, tergoda untuk menceritakan semuanya, tapi ia takut Arga akan bertindak gegabah dan justru memperburuk keadaan. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa menghadapi masalah ini dengan kepala dingin, bukan hanya selalu dilindungi. “Tidak ada apa-apa, Arga. Mungkin hanya sedikit lelah saja.”
Arga menatap matanya lekat-lekat, merasa ada yang disembunyikan, tapi ia tidak ingin memaksanya. “Ingat, apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama. Jangan memikul beban sendirian, ya?”
Malam itu suasana terasa tenang, tapi ketenangan itu hanya sementara. Keesokan harinya, gosip mulai menyebar luas di lingkungan kalangan atas. Berita-berita negatif tentang Anya bermunculan, mengatakan bahwa ia adalah wanita pandai berpura-pura, datang hanya untuk mengambil kekayaan keluarga Wijaya, dan memiliki latar belakang yang penuh masalah.
Berita itu sampai juga ke telinga Tuan dan Nyonya Wijaya. Meskipun mereka sudah melihat kebaikan Anya secara langsung, namun mendengar hal yang sama berulang kali membuat keraguan perlahan tumbuh kembali di hati mereka.
“Arga, apakah benar apa yang dikatakan orang-orang itu?” tanya Tuan Wijaya dengan nada ragu. “Mereka menyebutkan secara rinci soal utang keluarga Anya, dan mengatakan pernikahan ini hanyalah jalan pintas untuk melunasi semuanya.”
Arga merasa tertekan, tapi ia tetap percaya pada hati nuraninya. “Saya tahu semuanya, Ayah. Ia memang pernah mengalami kesulitan, tapi ia tidak pernah menyembunyikannya. Ia datang ke sini dengan kesepakatan yang jelas, dan selama ini ia tidak pernah meminta harta atau keuntungan apa pun. Semua gosip ini pasti disebarkan oleh pihak yang ingin menjatuhkan kita.”
Namun gosip itu terus berulang dan semakin meyakinkan banyak orang. Bahkan mulai beredar dokumen palsu yang disusun sedemikian rupa, seolah-olah membuktikan bahwa Anya memiliki rencana jahat sejak awal bertemu Arga. Situasi semakin memburuk ketika beberapa mitra bisnis mulai bertanya-tanya, membuat nama perusahaan Wijaya kembali tertekan.
Anya menyadari bahwa ia tidak bisa terus diam saja. Ia harus menghadapi kenyataan ini dan membuktikan kebenaran, meskipun itu berarti membuka seluruh masa lalunya secara terbuka.
Suatu sore, saat seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tamu, Anya berdiri di hadapan mereka dengan kepala terangkat tinggi. Wajahnya terlihat tenang namun tegas.
“Saya tahu banyak hal buruk yang beredar tentang saya akhir-akhir ini,” ucap Anya memulai pembicaraan dengan suara yang jelas dan mantap. “Saya tidak akan menyangkal bahwa saya dan ibu saya pernah hidup dalam kesulitan, dan pernah terjebak utang karena biaya pengobatan ibu. Tapi saya tegaskan di sini: saya tidak pernah datang ke rumah ini dengan niat buruk, tidak pernah berniat memanfaatkan kekayaan, dan tidak pernah menyembunyikan apa pun yang penting.”
Ia melanjutkan dengan jujur, “Saya menerima perjanjian pernikahan itu karena saya butuh bantuan untuk menyelamatkan ibu saya, dan Arga butuh seseorang untuk mendampinginya dalam urusan sosial. Seiring berjalannya waktu, perasaan itu berubah menjadi cinta yang tulus. Kalau kalian masih meragukan saya, saya siap menunjukkan semua bukti asli, surat keterangan, dan keterangan dari orang-orang yang mengenal saya sejak kecil. Tapi saya harap kalian menilai saya dari sikap dan perbuatan saya selama ini, bukan dari gosip yang dibumbui kebohongan.”
Setelah mendengar penjelasan yang jujur dan terbuka itu, hati Tuan Wijaya perlahan mulai luluh. Ia melihat ketulusan di mata Anya, sesuatu yang tidak bisa dipalsukan. “Kami mendengarkanmu, Anya. Kami akan memeriksa semuanya dengan teliti, tidak hanya mendengar omongan orang.”
Namun tantangan belum berakhir. Malam itu, Arga menerima kabar bahwa dokumen palsu itu sudah dikirim ke beberapa media berita kecil, dan siap disebarkan ke khalayak luas keesokan harinya. Jika hal itu terjadi, nama baik Anya dan keluarga Wijaya akan tercoreng lebih parah lagi.
Anya berdiri di samping Arga, memegang tangannya dengan erat. “Kita tidak boleh panik. Kita punya kebenaran di pihak kita. Kalau mereka menyebarkan kebohongan, kita juga harus membuktikan kebenaran dengan cara yang sama.”
Arga menatapnya dengan rasa kagum dan bangga. Di tengah tekanan yang berat, Anya tetap tenang dan tidak menyerah. “Terima kasih, Anya. Kamu membuat saya semakin yakin bahwa memilihmu adalah keputusan yang paling tepat. Kita akan hadapi ini bersama, sampai gosip itu lenyap dan kebenaran terungkap.”
Malam itu, mereka duduk bersama menyusun rencana. Mereka tahu perjuangan ini tidak akan mudah, tapi selama mereka saling percaya dan berdiri berdampingan, tidak ada rintangan yang tidak bisa dilewati. Sementara itu, di tempat lain, Rina dan Pak Baskara tersenyum puas, mengira rencana mereka sudah berhasil menanamkan keraguan di hati keluarga Wijaya, tanpa menyadari bahwa justru ujian ini akan semakin menguatkan ikatan cinta dan kepercayaan antara Anya dan Arga.
Bersambung...