Xue Yao, murid pertama Sekte Yiyuan, kehilangan segalanya ketika Raja Iblis menghancurkan sektenya. Sebagai satu-satunya yang selamat, ia melarikan diri membawa pusaka sekte, Cincin Zhutian, demi membalas dendam.
Namun saat dikepung musuh, ia menghancurkan kultivasi dan memecah kesadarannya sendiri. Takdir justru membuat seluruh serpihan kesadarannya terserap ke dalam Cincin Zhutian dan tersebar ke berbagai dunia. Setelah hampir seratus tahun tertidur, Xue Yao terbangun dan mendapati setiap serpihan hidup dalam penderitaan akibat keterikatan batin yang dapat melahirkan iblis hati.
Kini, dengan kekuatan Cincin Zhutian, ia harus kembali ke setiap dunia untuk menyelamatkan, mengumpulkan, dan menyatukan kembali seluruh serpihan jiwanya. Namun, mampukah Xue Yao mengembalikan dirinya yang utuh... atau justru kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhu Ge Liang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir yang Tertukar⁹
Lin Ling tentu saja tahu bahwa hari ini ia sama sekali tidak pantas muncul ditempat ini.
Namun ia benar-benar tidak memiliki pilihan lain.
Beberapa waktu terakhir, seiring keluarga Xue gegap gempita mempersiapkan pesta ulang tahun Xue Yao, banyak orang perlahan menyadari satu hal bahwa anak angkat yang dibesarkan selama delapan belas tahun, pada akhirnya tetap tidak dapat menandingi anak kandung.
Selama ini, Lin Ling selalu bersikap angkuh dengan mengandalkan latar belakang keluarga Xue.
Ketika berada dipuncak kejayaannya, meskipun ada orang-orang yang tidak menyukainya, demi menghormati keluarga Xue, kebanyakan tetap menyanjung dan bersikap sopan kepadanya.
Namun kini, sikap keluarga Xue telah begitu jelas. Semua orang tentu senang melihat Lin Ling jatuh dari singgasananya, menikmati pemandangan keterpurukannya.
Setelah pindah dari keluarga Xue, dengan perlindungan Xue Mo kehidupan Lin Ling sebenarnya masih cukup layak.
Xue Mo hanya dipenuhi rasa iba terhadapnya. Dan dalam hal materi, berusaha semaksimal mungkin memenuhi kebutuhannya.
Namun bagaimanapun juga, kehidupannya sudah tidak mungkin dibandingkan dengan masa ketika ia masih menjadi nona keluarga Xue.
Pada suatu hari, ketika Xue Mo pergi keperusahaan untuk rapat. Lin Lin yang sendirian dan merasa bosan berjalan-jalan dipusat perbelanjaan yang tidak jauh dari gedung Grup Xue.
Dibutik mewah C yang paling ia sukai, Lin Ling tengah melihat-lihat koleksi busana terbaru musim ini dengan perasaan hambar.
Tiba-tiba terdengar tawa mengejek dari belakang.
"Wah, ini siapa ya? Bukankah ini Nona Besar Keluarga Xue? Ah, tidak. Lihat mulutku ini. Nona Xue yang asli sekarang tentu sedang duduk nyaman di Kediaman Shanse, menikmati layanan ekslusif dari berbagai merk besar yang datang kerumah. Mana mungkin perlu repot-repot datang sendiri ke toko?"
Lin Ling menoleh dan melihat wajah yang cantik mencolok.
Itu adalah Yu Yunqi.
Putri keluarga Yu dari Grup Perdagangan Internasional, sekaligus musuh bebuyutan Lin Ling.
Dahulu, Yu Yunqi pernah menyukai Xue Mo. Kedua keluarga memiliki latar belakang yang sepadan, bahkan sempat ada rencana perjodohan.
Namun Lin Ling tidak menyukai Yu Yunqi.
Ia tidak ingin perhatian Xue Mo direbut oleh perempuan lain, terlebih lagi oleh seseorang yang lebih cantik darinya. Apalagi sampai menjadi Nyonya keluarga Xue.
Karena itu, ia dengan sengaja mengatakan kepada Xue Mo bahwa Yu Yunqi tampaknya bersikap bermusuhan terhadap dirinya. Lalu, dibawah kamera pengawas, ia memprovokasi Yu Yunqi dengan kata-kata hingga perempuan itu dalam amarahnya, mendorongnya.
Rekaman tanpa suara itu sukses membuat Xue Mo membenci Yu Yunqi. Bahkan secara terbuka menentang perjodohan tersebut dengan kata-kata tajam.
Yu Yunqi sendiri adalah permata yang dibesarkan dengan penuh kasih oleh keluarga Yu. Bagaimana mungkin ia sanggup menelan penghinaan semacam itu?
Perjodohan antara keluarga Yu dan keluarga Xue pun gagal, hubungan kedua keluarga merosot tajam. Yu Yunqi semakin membenci kakak beradik itu. Dan setiap kali ada kesempatan, ia pasti akan menginjak mereka tanpa ampun.
Hari ini, ia awalnya sedang makan direstoran sekitar pusat perbelanjaan. Begitu melihat foto Lin Lin di butik merk C yang dikirim oleh temannya, ia langsung meninggalkan makanannya dan bergegas datang.
Lin Ling tidak ingin berkonflik dengan Yu Yunqi. Ia tahu, kini dirinya sudah tidak lagi memiliki keluarga Xue sebagai sandaran.
Sayangnya, Yu Yunqi tidak berniat melepaskannya begitu saja.
"Burung phoenix tetaplah burung phoenix, sedangkan ayam hutan tetaplah ayam hutan. Ayam hutan yang tersesat kesarang phoenix, alih-alih belajar kemampuan sang phoenix untuk memperbaiki diri, malah sibuk memunguti bulu-bulu phoenix dan menempelkannya ketubuh sendiri, mengira dengan begitu ia sudah menjadi phoenix. Bukankah itu menggelikan?"
Yu Yunqi seolah sedang mengobrol santai dengan manajer butik merk C. Namun sindiran yang menyasar langsung itu membuat wajah Lin Ling memerah seketika.
Ia memang tidak menyukai belajar.
Sejak kecil, ayah dan ibu Xue pernah memanggil banyak guru privat untuknya. Namun ketika belajar piano, ia tidak sanggup menahan kesulitan dan mogok belajar hanya dalam beberapa hari. Saat belajar bahasa asing, ia mengeluh terlalu melelahkan dan tidak mau menghafal kosakata. Lalu merengek manja, berkata bahwa bukankah keluarga Xue mampu menyewa penerjemah? Dengan begitu, pelajaran pun terhenti begitu saja.
Hampir semua kursus yang ia ikuti sejak kecil berakhir setengah jalan. Akibatnya, Lin Ling mempelajari sedikit dari banyak hal, tetapi tidak ada satupun yang benar-benar ia kuasai.
Kemudian, dengan uang keluarga Xue, ia masuk kesebuah universitas yang lumayan.
Namun dibandingkan dengan para nona keluarga lain yang ada, yang belajar ke luar negeri. Ada pula yang aktif mengembangkan karier pribadi hingga meraih prestasi gemilang. Lin Ling memang tampak jauh lebih biasa.
Inilah alasan mengapa ia bersikeras bertahan pada keluarga Xue.
Tanpa keluarga Xue, ia hanyalah orang biasa, bahkan terlalu biasa.
Hari itu, Lin Ling dipermalukan habis-habisan oleh Yu Yunqi. Setelah itu, Yu Yunqi bahkan melambaikan tangan dengan angkuh dan langsung memborong isi toko, menyuruh staf mengusir 'orang-orang yang tidak berkepentingan'.
Jika ini terjadi dimasa lalu, manajer toko pasti tidak akan memperlakukannya seperti itu.
Namun kini, Lin Ling sadar betul bahwa zaman telah berubah.
Ia berdiri didepan pintu toko, merasa seolah-olah seluruh tubuhnya dilucuti, menanggung rasa malu yang menyengat.
Karena itulah, setelah Xue Mo kembali, ia langsung mengungkapkan pikirannya.
Ia ingin bertemu Su Chen.
"Kini kakek sepenuhnya berpihak pada Xue Yao, ayah dan ibu juga tidak berani melanggar kehendak kakek. Tetapi jika kakek menyadari wajah asli Xue Yao, bagaimana? Kakek sepanjang hidupnya berada diposisi tinggi dan paling membenci orang yang menipunya. Jika ia tahu bahwa Xue Yao telah memperdayanya, tentu ia tidak akan lagi memaafkannya."
Xue Mo pun segera memahami maksudnya.
"Kau ingin Su Chen bersaksi, membuktikan bahwa hari itu memang Xue Yao yang mendorongmu kedanau?"
Ia langsung menggeleng.
"Su Chen pasti tidak akan membantu."
Meskipun karena hubungan antar keluarga mereka tergolong kenalan, Xue Mo tahu betul bahwa Su Chen adalah tipe orang yang tidak suka masalah dan paling enggan berpihak. Ia pasti tidak akan mencampuri urusan keluarga Xue.
"Mungkin dulu tidak, tetapi sekarang? Apakah ia tidak menyadari bahwa dirinya telah dimanfaatkan oleh Xue Yao? Kak Su Chen itu orang yang sangat tinggi harga dirinya. Bagaimana mungkin ia bisa menelan penghinaan semacam itu?"
Pemikiran ini sebenarnya berasal dari analisis Xue Mo sendiri. Namun justru dari sanalah Lin Ling melihat peluang.
Xue Mo masih ragu-ragu, tetapi dibawah bujukan manja kekasihnya, ia akhirnya menyetujui rencana itu dan berjanji akan mencoba mengubungi Su Chen.
Namun, Su Chen ternyata jauh lebih sulit dihubungi dari dugaan.
Pada akhirnya, ia bahkan langsung menolak panggilan Xue Mo.
Xue Mo pun mengerti, ini berarti Su Chen tidak ingin terlibat dalam urusan keluarga mereka.
Akhirnya, Lin Ling mengusulkan agar mereka berbicara langsung pada hari pesta ulang tahun.
"Karena kakek Su diundang, kak Su Chen pasti juga akan datang. Itu kesempatan terbaik."
Xue Mo ragu cukup lama. Tetapi akhirnya mengangguk setuju, sambil berulang kali menegaskan bahwa Lin Ling tidak boleh muncul dihadapan orang banyak. Agar tidak memancing amarah sang kakek.
Lin Ling menahan rasa tidak nyaman dihatinya dan menyetujui syarat itu.
Selama ia bisa sepenuhnya membongkar wajah asli Xue Yao, Xue Mo pasti punya cara untuk membawa dirinya kembali.
Adapun ayah dan ibu Xue, mereka tetap memiliki perasaan terhadapnya. Asalkan ada alasan yang layak, mereka tentu akan membuka jalan baginya untuk pulang.
Sementara itu, di aula utama Kediaman Shanse. Xue Yao sedang mengikuti Xue Ba dan istrinya, diperkenalkan kepada para tamu yang hadir hari itu.
Gaun yang dikenakan Xue Yao hari itu adalah gaun adibusana berwarna fuguang. Perpaduan antara kelembutan mengalir dan kerumitan detail, menenun kemewahan yang anggun sekaligus murni.
Ia berdiri disana, menjadi pusat perhatian seluruh pesta.
Banyak orang yang setelah berbincang dengannya, mendapati kesan awal mereka runtuh.
Nona keluarga Xue yang baru ditemukan kembali ini, meskipun tidak dibesarkan langsung oleh keluarga Xue, justru memiliki sikap dan pembawaan yang luar biasa menonjol.
Tidak mengherankan jika keluarga Xue kini begitu memprioritaskan.
Beberapa orang saling bertukar pandang secara tersirat, lalu dengan sikap yang semakin ramah melangkah maju untuk menyapa Xue Yao.
Hingga akhirnya, Zhang Xu mendekati Xue Yao.
"Nona Xue Yao, Tuan Tua menyampaikan bahwa tamu kehormatan dari keluarga Su telah tiba. Beliau meminta anda untuk menyambutnya."
Dalam kalimat itu, hanya nama Xue Yao yang disebut. Seolah-olah dengan sengaja mengesampingkan Xue Ba dan istrinya.
Para tamu dihadapan mereka melirik sekilas keluarga itu, dan didalam hati mulai memahami bahwa nona Xue Yao ini tampaknya benar-benar sangat dihargai oleh sang kakek.
Meskipun secara tebuka pewaris keluarga Xue telah ditetapkan, sebelum segalanya benar-benar berakhir, siapa yang bisa memastikan hasil akhirnya?
Terlebih lagi, meskipun mereka adalah kakak beradik kandung, melihat Xue Mo yang hingga kini belum muncul dipesta, hubungan saudara itu tampaknya tidaklah sedekat yang dibayangkan.
Masing-masing tamu pun menyimpan perhitungan sendiri.
Xue Ba dan istrinya tersenyum canggung, lalu segera berkata kepada Xue Yao, "Cepatlah pergi."
Xue Yao mengangguk, lalu mengikuti Zhang Xu menuju sebuah ruang tamu kecil disisi aula perjamuan.
Zhang Xu dengan hormat membukakan pintu untuknya.
Setelah mengucapkan terima kasih dengan sopan kepada Zhang Xu, Xue Yao melangkah masuk kedalam ruangan tersebut.