NovelToon NovelToon
Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."

Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.

Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.

Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.

Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.

Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.

Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Menutupi Kegugupannya

Langkah kaki Savira bergema pelan di lorong marmer yang sunyi, jauh dari kebisingan aula pesta.

Cahaya lampu gantung kristal di sayap VIP hotel ini sengaja diredupkan hingga menyisakan pendaran kuning temaram. Udara terasa jauh lebih dingin, membawa sirkulasi pendingin ruangan yang menusuk langsung ke pori-pori lengan Savira yang terbuka.

Denting gelas sampanye dan tawa palsu para sosialita ibukota sudah lama tertinggal di lantai bawah. Savira menyusuri dinding berlapis beludru gelap itu dengan kewaspadaan penuh yang mengunci seluruh indranya.

Ia tahu betul lorong ini adalah zona steril. Jalur khusus yang hanya boleh diakses oleh dewan direksi dan keluarga inti Jayanegara.

Anehnya, tidak ada satu pun petugas keamanan berseragam yang berpatroli. Tidak ada pelayan hotel yang berlalu lalang membawa nampan minuman.

Keheningan yang terlalu sempurna ini justru memicu alarm di dalam kepala Savira. Ia adalah seorang jenius taktis yang sangat memahami anatomi sistem keamanan gedung berskala internasional.

Kekosongan penjagaan ini bukanlah sebuah kelalaian operasional. Ini adalah jebakan pasif yang sengaja dipasang untuk menangkap penyusup yang terlalu percaya diri.

Savira menyadari hal itu secara penuh, namun kakinya tetap melangkah maju tanpa keraguan. Ia harus memancing Aaron Jayanegara keluar dari sarang bayangannya malam ini.

Suara ketukan sol sepatu kulit yang berat mendadak memecah kesunyian dari arah persimpangan depan. Langkah itu pelan, teratur, dan sarat akan dominasi yang mengancam.

Savira menghentikan langkahnya seketika. Otot betis dan punggungnya menegang kaku di balik balutan gaun hitam sederhananya.

Sebuah siluet jangkung muncul dari balik pilar pualam besar. Postur pria itu menjulang tegap, memancarkan aura bahaya murni yang membuat pasokan oksigen di lorong tersebut terasa menipis secara drastis.

"Pesta utamanya ada di lantai bawah, Nona." Suara bariton yang sangat dalam itu mengalun tajam membelah kesunyian.

Aaron Jayanegara melangkah keluar dari kegelapan. Pria itu mengenakan setelan jas hitam pekat tanpa dasi, dengan kancing kemeja atas yang sengaja dibiarkan terbuka.

Sorot mata Aaron setajam elang pemangsa yang menemukan targetnya. Matanya mengunci tepat pada pupil Savira, menelanjangi setiap inci pertahanan gadis itu tanpa rasa sungkan.

Di kehidupan sebelumnya, Savira hanya pernah melihat sepasang mata ini dalam kondisi mati dan hancur lebur di depan nisan pemakaman.

Kini, mata hitam itu menyala terang dan sangat hidup. Sepasang manik kelam yang dipenuhi oleh insting predator, kecerdasan buas, dan rasa penasaran yang luar biasa pekat.

"Saya tidak terlalu menyukai keramaian, Tuan Jayanegara," jawab Savira datar.

Suaranya mengalun tenang tanpa getaran sedikit pun. Ia menahan keras gejolak jantungnya yang mulai memompa darah dua kali lipat lebih cepat.

Aaron memiringkan kepalanya perlahan. Ujung bibirnya tertarik membentuk senyum asimetris yang sama sekali tidak mencapai sorot matanya.

"Lalu kau memilih berjalan-jalan di zona terlarang yang dipenuhi oleh sensor gerak?" Aaron memajukan langkahnya pelan. "Itu adalah hobi yang sangat berisiko untuk seorang putri dari keluarga Dharma."

Jarak di antara mereka mulai terkikis sedikit demi sedikit. Aroma tajam dari seduhan kopi hitam dan pinus maskulin menyerbu indra penciuman Savira, menekan dominasi udara di ruang sempit tersebut.

Savira tidak memundurkan langkahnya seinci pun. Ia mengangkat dagunya secara elegan, membalas tatapan intimidasi Aaron dengan sorot mata yang sedingin lautan kutub.

"Undangan VIP yang Anda kirimkan tidak mencantumkan batasan area secara tertulis, Tuan." Savira menjawab dengan tajam. "Jika tempat ini benar-benar terlarang, seharusnya Anda menggembok pintunya."

Aaron berhenti melangkah tepat dua meter di hadapan Savira. Bayangan tubuh pria itu yang jauh lebih besar nyaris menelan siluet Savira sepenuhnya ke dalam kegelapan.

"Gadis yang berani meretas sistem keamananku pagi ini juga tidak akan peduli pada gembok digital bernilai triliunan rupiah."

Kalimat Aaron menggantung berat di udara, sarat akan subteks tajam yang mematikan.

Savira menelan ludahnya secara diam-diam. Tenggorokannya terasa kering, tapi wajahnya tetap terkunci menjadi topeng porselen yang tidak tertembus emosi.

"Saya rasa Anda terlalu banyak menonton film fiksi konspirasi," balas Savira dingin. "Saya hanya seorang putri keluarga Dharma yang kebetulan sedang mencari udara segar."

"Putri Dharma yang tidak pernah dianggap," ralat Aaron tanpa ampun. Suaranya merendah, menembus langsung ke pusat luka terdalam di dada Savira.

Tubuh Savira menegang kaku seketika. Ujung kuku jarinya menekan telapak tangannya sendiri kuat-kuat di balik lipatan gaunnya.

Aaron menatap intens pada kain gaun hitam murah yang membalut tubuh Savira. Tatapan pria itu lalu beralih merayapi wajah pucat Savira yang minim riasan, sebelum kembali mengunci kontak mata mereka.

"Wijaya Dharma sedang berada di lantai bawah, memamerkan putri kesayangannya di depan puluhan kamera wartawan." Aaron memajukan wajahnya beberapa sentimeter. "Sementara putri kandungnya dibiarkan datang sendirian, memakai gaun tanpa merk, dan bersembunyi di lorong gelap."

Savira menggigit bagian dalam pipinya hingga mengecap rasa besi berkarat. Ia sangat benci dihakimi, dan ia jauh lebih benci dikasihani. Kemarahannya mulai memercik liar di balik mata esnya.

"Urusan internal keluarga saya bukanlah konsumsi publik Anda, Aaron." Savira tanpa sadar memanggil nama pria itu secara langsung karena terpancing emosi.

Mata Aaron sedikit melebar mendengar namanya disebut tanpa gelar formal. Pria itu justru tampak semakin tertarik, seolah baru saja menemukan mainan yang sangat berbahaya.

"Tentu saja bukan," bisik Aaron pelan. "Tetapi urusan keselamatan nyawa kakak kandungku adalah urusan pribadiku."

Jantung Savira berdetak satu ketukan lebih cepat, menghantam dinding dadanya dengan keras. Ia menyadari bahwa ia telah berdiri terlalu dekat dengan api.

"Saya sungguh tidak tahu apa yang sedang Anda bicarakan," elak Savira. Ia memutar postur tubuhnya dengan gerakan kaku untuk pergi. "Permisi. Saya akan kembali ke aula utama sekarang."

Sebelum Savira bisa melangkah menjauh, Aaron bergerak kilat memotong jalurnya. Tubuh kekar pria itu menghalangi akses jalan keluar sepenuhnya seperti dinding baja yang tak tertembus.

Pergerakan tiba-tiba dan agresif itu menciptakan embusan angin kecil di lorong yang sempit. Udara dingin dari ventilasi di atas mereka mendorong sisa wangi tubuh Savira ke arah depan.

Aroma bunga melati yang sangat samar terlepas bebas ke udara. Wangi organik yang manis namun menenangkan, persis seperti aroma yang menempel kuat pada amplop cokelat di atas meja kerja Aaron pagi tadi.

Aaron mematung di tempatnya seketika. Otot rahangnya mengeras kaku hingga urat di lehernya menonjol. Pupil matanya membesar menelan cahaya temaram di lorong tersebut.

Insting predatornya yang sedari tadi meraba-raba dalam gelap kini menemukan kepastian absolutnya.

Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan secara impulsif. Ia memangkas sisa jarak di antara mereka hingga Savira bisa merasakan embusan napas Aaron di puncak kepalanya.

Savira tersentak kaget dan refleks melangkah mundur. Punggungnya membentur dinding marmer dingin di belakangnya dengan bunyi pelan yang tertahan.

Tidak ada lagi ruang untuk melarikan diri. Ia terpojok secara mutlak oleh pria yang sengaja ia selamatkan semalam.

Aaron mengangkat tangan kanannya dengan gerakan perlahan. Pria itu menyandarkan telapak tangannya di dinding marmer, tepat di samping telinga Savira, mengurungnya dalam kurungan tak kasat mata.

Jarak wajah mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter. Mata hitam Aaron menatap Savira dengan intensitas mematikan yang nyaris membakar permukaan kulit gadis itu.

"Wangi melati," gumam Aaron dengan suara parau. Nadanya bergetar hebat oleh campuran rasa tidak percaya dan kepuasan yang sangat brutal.

Dada Savira naik turun dengan tempo yang sangat cepat. Kepanikan murni mulai meruntuhkan dinding es yang ia bangun susah payah sejak pagi.

Ia tahu pria ini menanam jebakan, tetapi ia tidak pernah menduga bahwa Aaron memiliki kepekaan sensorik sedetail ini. Aroma tubuhnya telah menjadi senjata yang berbalik menusuknya.

"Menyingkir dari hadapan saya," desis Savira tajam. Ia memaksa dirinya mendongak, mencoba menutupi kegugupannya dengan tatapan mengintimidasi.

Aaron tidak bergeming seinci pun dari posisinya. Pria itu justru menundukkan wajahnya lebih dekat, menghirup aroma melati di sekitar leher Savira dengan tarikan napas yang sengaja dipanjangkan.

"Gadis bertudung di jalan layang," bisik Aaron pelan. Pandangannya tidak pernah lepas dari bibir Savira yang mulai bergetar samar.

Keringat dingin mulai merembes membasahi pelipis Savira. Ia harus memutus konfrontasi jarak dekat ini sebelum Aaron berhasil membongkar seluruh rahasia di dalam kepalanya.

Savira mengangkat kedua tangannya secara defensif untuk mendorong dada bidang pria itu menjauh.

Namun, sebelum telapak tangannya sempat mendarat, Aaron bergerak jauh lebih cepat untuk menghentikannya.

Aaron mencengkeram pergelangan tangan Savira dengan kelembutan yang tegas, lalu berbisik, "Akhirnya aku menemukanmu."

1
DdCantik
ironis banget, baru bab1 padahal 👍
sukensri hardiati
itu kalau permen strawberry terus dikonsumsi....mk begitu wijaya tumbang...maka kamu juga bisa tumbang kena diabet
Sulati Cus
adu kekuatan sm bokap yg kental kelicikan ternyata g ada seujung kuku nya, terlalu dini pgn balas dendam mlh hancur sendiri
gina altira
makin rumit pertarungannya
tutiana
luar biasa
gina altira
Sosiopat itu sangat mengerikan
sukensri hardiati
hadeeeh savira....ganti permen straberimu dengan camilan sehat....otak geniusmu jadi lengket nanti...
gina altira
jgn" Savira yg akan jadi tumbal
gina altira
kuat Savira,, jgn menyerah
nur
ngeselin bpkmu vir
Pawon Ana
terus terang sampai sini perkembangan karakter Savira agak lambat, yng aku pahami Savira ini masih terbelenggu dengan trauma dimasa kehidupan sebelumnya, dia belum bisa benar2 lepas, egonya yang merasa mampu sendiri masih tinggi...🤦
Pawon Ana
ih itu otak Savira kok tidak ngebul ya....aktif terus tidak berhenti...🤦
Wega Luna
sebenarnya ceritanya bagus entah kenapa musuh lebih kuat dari para MC,panik panik panik sedang musuh hanya dengan diam tapi bisa melihat segala nya, ,dan sekarang Savira ditanya siapa pelakunya, Savira hanya menambah luka, jika tidak dicintai buat hatimu menjadi tembok besar, jangan sampai menambah luka, dengar berita ini langsung sakit hati,aku dulu juga gitu dengan orang tua ku,aku memilih cuek dan tidak memasukkan ke hati,, sampai bab ini aku belum bisa bangga dengan savira
Pawon Ana
berhadapan dengan sumber trauma terkadang memang menguras kewarasan mental 💪✌️
Cty Badria
ya hancurkan
Pawon Ana
ayo aku menunggu aksi duo genius selanjutnya 💪
kymlove...
mari🫡
watno antonio
lanjut thor
sukensri hardiati
tolong masukkan cerita ini ke perpus on going dong....biar gampang nyarinya ...
sukensri hardiati
aduuuhh...klo boleh menyayangkan awal yg tragis...bunuh diri...nggak cocok untuk gadis kuat yg merupakan tokoh utama cerita...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!