Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANTARA CINTA DAN KEWAJIBAN
Keesokan harinya.
Di lantai tertinggi gedung pusat Forger Group, sebuah ruangan pribadi CEO yang biasanya dipenuhi suasana serius tentang bisnis kini justru menjadi tempat percakapan yang jauh lebih personal.
Di balik dinding kaca besar yang memperlihatkan panorama Kota Brussels, dua pria tampan tengah berdiri dalam keheningan.
Namun kali ini...
Mereka tidak sedang membahas laporan perusahaan, investasi, atau strategi bisnis.
Melainkan sebuah masalah yang jauh lebih rumit.
Masalah hati.
Eros Forger duduk di kursi kebesarannya dengan ekspresi penuh tekanan. Wajah tampannya yang biasanya selalu terlihat tenang kini menyimpan kegelisahan yang sulit disembunyikan.
Di hadapannya berdiri Desmon, sekretaris sekaligus asisten pribadi yang telah menemaninya selama bertahun-tahun.
Bagi orang lain, Desmon hanyalah seorang sekretaris.
Namun bagi Eros, pria itu lebih dari sekadar bawahan.
Desmon adalah sahabat, orang kepercayaan, sekaligus salah satu orang yang paling memahami dirinya.
Sejak tadi, Eros mencurahkan segala kegelisahan yang memenuhi pikirannya.
Tentang perjodohan.
Tentang Zenaya.
Dan terutama...
Tentang Lura.
"Menurutku, Tuan harus mengatakan semuanya kepada Nona Lura."
Suara Desmon terdengar tenang, namun tegas.
Eros langsung menatapnya.
"Tapi aku tidak ingin membuat Lura terluka."
Rahangnya mengeras.
"Aku juga tidak ingin kehilangan dia."
Desmon menghela napas panjang.
"Tuan..."
"Mau bagaimana lagi? Terkadang kita harus memilih satu hal untuk mempertahankan hal lainnya."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Lebih baik kehilangan satu wanita daripada kehilangan semuanya."
Namun kalimat berikutnya membuat ekspresi Eros berubah.
"Lagipula, Nona Zenaya adalah wanita yang luar biasa. Dia cantik, terkenal, dan berasal dari keluarga terpandang. Bahkan jika dibandingkan dengan Nona Lura..."
Desmon belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
Brak!
Suara keras mengguncang ruangan.
Eros menendang meja kecil di depannya hingga bergeser dengan kasar.
Dalam sekejap, aura dingin yang selama ini ia sembunyikan berubah menjadi kemarahan yang mengerikan.
Ia berjalan mendekati Desmon dan mencengkeram kerah kemejanya dengan kuat.
"Apa maksudmu?"
Suara Eros terdengar rendah, namun penuh tekanan.
"Kau menghina Lura?"
Tatapan tajamnya membuat Desmon terdiam.
"Kau tahu apa tentang Lura?"
Eros semakin mengeratkan genggamannya.
"Meskipun Lura bukan berasal dari keluarga terpandang, meskipun dia tidak memiliki nama besar seperti keluarga Forger atau Harper..."
"Aku tetap mencintainya."
Rahang Eros menegang.
"Jangan pernah membandingkannya dengan wanita itu."
"Jangan pernah merendahkan Lura hanya karena statusnya."
Tatapannya semakin dingin.
"Bagiku, Lura jauh lebih berharga daripada siapa pun."
Desmon yang melihat kemarahan Eros segera tersadar bahwa ia telah menyentuh batas yang tidak seharusnya ia lewati.
"M-maafkan aku, Tuan."
Suaranya sedikit bergetar.
"Aku tidak bermaksud seperti itu."
Ia menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Bukankah sejak tadi Tuan memintaku memberikan saran? Aku hanya mengatakan apa yang menurutku bisa menjadi jalan keluar."
"Maaf jika saranku salah."
Mendengar itu, Eros akhirnya melepaskan cengkeramannya.
Desmon menarik napas lega.
Sejak tadi, dadanya terasa sesak akibat tekanan tangan Eros.
Tanpa berkata apa pun lagi, Eros berjalan menuju jendela besar yang menghadap seluruh Kota Brussels.
Gedung-gedung tinggi terlihat kecil dari tempatnya berdiri.
Kota yang selama ini berada di bawah kendalinya.
Namun hari ini...
Ia justru merasa tidak mampu mengendalikan hidupnya sendiri.
"Aku tidak bisa meninggalkan Lura..."
Suara lirihnya terdengar.
Desmon menatap punggung pria itu.
Untuk pertama kalinya, ia melihat seorang Eros Forger yang bukan seorang CEO.
Bukan pewaris keluarga besar.
Melainkan hanya seorang pria yang takut kehilangan wanita yang dicintainya.
"Kalau begitu..."
Desmon akhirnya bertanya.
"Kenapa Tuan tidak menolak perjodohan ini?"
"Kenapa Tuan tidak mengatakan kepada keluarga Forger bahwa Tuan sudah memiliki kekasih?"
Pertanyaan itu membuat Eros terdiam.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menjawab.
"Aku tidak bisa."
Suaranya terdengar berat.
"Mereka sudah merawatku sejak kecil."
"Mendidikku."
"Memberikanku rumah ketika aku kehilangan segalanya."
Eros menundukkan kepala.
"Mereka memberikan kasih sayang yang bahkan tidak pernah bisa kubalas."
Tatapannya kembali menatap langit di luar jendela.
"Menerima perjodohan ini mungkin adalah satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk membalas semua kebaikan mereka."
"Aku tidak ingin membuat mereka kecewa."
"Aku tidak ingin mempermalukan keluarga Forger."
Ia menghela napas panjang.
"Apalagi malam itu..."
"Mereka terlihat sangat bahagia ketika aku mengatakan aku setuju."
Desmon terdiam.
Kini ia benar-benar memahami posisi Eros.
Pria itu terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.
Mempertahankan wanita yang dicintainya...
Atau menjaga hati keluarga yang telah membesarkannya.
Tidak ada pilihan yang mudah.
Dan tidak ada keputusan yang tidak akan menyakiti seseorang.
Bahkan Desmon, yang biasanya selalu memiliki solusi untuk setiap masalah bisnis, tidak tahu harus memberikan saran apa kali ini.
Ia lebih memilih menerima tumpukan dokumen perusahaan daripada harus berhadapan dengan masalah hati tuannya.
"Apa yang harus kulakukan, Desmon?"
Suara Eros terdengar penuh frustrasi.
Desmon menatapnya dengan serius.
"Kembali pada keputusan awal, Tuan."
"Katakan semuanya kepada Nona Lura."
"Jujurlah padanya."
Ia berhenti sejenak.
"Setelah itu, Tuan pasti akan menemukan jawabannya."
Eros perlahan menoleh.
Tatapan keduanya bertemu.
Untuk beberapa saat, Eros hanya diam.
Namun jauh di dalam hatinya...
Ia tahu Desmon benar.
Bagaimanapun juga, Lura berhak mengetahui semuanya.
Tentang perjodohan itu.
Tentang keputusan yang telah ia ambil.
Dan tentang perasaan yang selama ini ia sembunyikan.
Mungkin...
Sudah waktunya ia berhenti melarikan diri.
Sudah waktunya ia berbicara dengan Lura.