NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Langitan

Pendekar Pedang Langitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Penyelamat
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Heryando Palar Vinkoert

Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.

Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.

Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Penyerangan 2

Bagian tubuh yang digaruk terasa semakin gatal. Dia mulai meringis dan menggaruk semakin kuat, semakin kuat dan semakin kuat.

Namun bukannya berkurang. Rasa gatal itu semakin menggila. Kulit pria itu mulai merah.

Suara ringisan berubah menjadi erangan. Rekannya melihat dengan mata terbelalak. Dia jatuh terduduk dengan muka memucat. Dia bisa melihat dengan jelas penderitaan yang dirasakan rekannya.

Pati Muda Rajung Malapir dan Ni Kirana mengamati dari balikan pohon. Kedua orang itu melihat dengan sangat jelas apa yang dilakukan oleh anggota Gerombolan Rawa Belong itu.

Kulit yang tadinya memerah kini mulai terluka. Darah mulai merembes, merebak. Pria anggota Gerombolan Rawa Belong itu berlutut sambil terus menggaruk.

Dia benar benar sudah tidak tahan lagi. Rasa gatal semakin menggila ketika darah keluar dari luka luka akibat digaruk.

"Ampun... Ampuni aku. Aku akan menjelaskan semua yang ingin tuan pendekar inginkan."

Bagaga Alam hanya membeku. Dia melihat pria itu dengan jijik. Wajahnya terlihat biasa saja. Tidak ada amarah ataupun kesel. Pati Muda Rajung Malapir dan Ni Kirana merinding melihat semua itu dari kejauhan. Ni Kirana tanpa sadar keluar dan berdiri di dekat Bagaga Alam.

"Kang mas....?" Bagaga Alam tersenyum melihat kepada Ni Kirana.

"Ada apa Kirana  ?"

"Kenapa dia tidak dibunuh saja Kang mas ?"

"Dia telah memilih cara mati yang sangat menyakitkan. Biarkan saja. Apa kamu pikir jika mereka berdua lolos semua akan baik-baik saja ?

Tidak, belasan... Tidak. Bahkan bisa jadi puluhan orang kita akan tewas sia-sia."

"Tuan pendekar, tuan pendekar. Tolong ampuni rekan ku. Aku akan menjelaskan semua yang ingin Anda ketahui."

Rekannya yang sudah sangat ketakutan memohonkan ampunan untuk rekannya yang sudah sangat menderita kepada Bagaga Alam. Bagaga Alam melihat pria itu dengan wajah datar. "Katakan semua kepada ku. Tidak usah pikirkan dia. Dia sudah memilih cara buruk untuk mati."

Suara datar, tanpa tekanan sedikit pun dari Bagaga, terdengar amat sangat dingin. Pria itu merasa jantungnya berdebar nyeri.

"Aku Boneng. Aku dan rekanku anggota pengintai di Gerombolan Rawa Belong.

Aku yakin tuan pendekar sudah tahu dimana markas kami, sehingga rombongan tuan pendekar ada disini sekarang. Tidak mudah menuju markas kami. Hanya dengan perahu kecil untuk bisa mencapai lokasi..."

Pria yang mengaku bernama Boneng itu menuturkan semua dengan jelas segala sesuatu tentang markas Gerombolan Rawa Belong. Termasuk tanda sebagai petunjuk agar tidak menemui jebakan lumpur hisap.

Pati Muda Rajung Malapir yang telah muncul dan ikut mendengar penjelasan dari Boneng.

"Jelaskan tentang kekuatan markas Gerombolan Rawa Belong."

Boneng melihat kepada Pati Muda Rajung Malapir adengan sorot mata sengit. Dia tidak menjawab pertanyaan Pati Muda Rajung Malapir.

"Jawab apa yang dia tanyakan." Suara datar Bagaga Alam kembali terdengar. Boneng melanjutkan penjelasan.

"Oooh jadi ada tiga orang tetua dan hanya dua orang yang kini berada di markas. Terus ada 300 orang anggota. 50 orang diantaranya adalah pendekar bumi awal sampai tengah ?"

"Bagaimana dengan tingkat kemampuan para tetua dan ketua Gerombolan Rawa Belong mu."

Mendengar pertanyaan Ni Kirana sekilas senyum kebanggaan melintas di wajah Boneng. Ni Kirana dan Pati Muda Rajung Malapir tidak melihat. Tapi semua tidak luput dari mata Bagaga Alam yang sangat tajam.

Boneng melirik sekilas kearah rekannya yang telah basah oleh darah. Dalam hatinya Boneng menyumpahi kematian yang s angat buruk untuk Bagaga Alam, Ni Kirana dan Pati Muda Rajung Malapir.

"Tetua 1 Linsang Api, seorang pendekar yang licin bagaikan linsang. Dia memiliki pukulan tapak api. Dia sudah berada ditingkat pendekar langit puncak.

Panatua 2 Nyi Belong Ranti meski berada ditingkat pendekar langit awal. Kemampuan tempur tetua 2 tidak berada dibawah tetua 1.

Tetua 3 tidak berada di markas."

Boneng berhenti sejenak. Dia lalu menghela nafas dalam. Kemudian dengan penuh rasa bangga, bahkan sedikit arogan dia berkata.

"Ketua Besar Ranggau Manusuk adalah seorang pendekar tingkat suci tinggi. Tidak ada satu pendekar tataran Sunda yang mempu menghadapi Ketua Besar.

Aku sarankan kalian sebaiknya membatalkan niat kalian. Hentikan siksaan atas rekan ku, dan lepaskan aku.

Dengan begitu, aku akan melupakan apa yang sudah terjadi."

Bagaga Alam tersenyum ringan. Dia menunjuk rekan Boneng.

Crooooott...

Tiba-tiba dada pria yang merintih rintih karena rasa gatal dan luka luka di sekujur tubuhnya bolong. Tembus sampai ke punggung, seolah ada tombak baja yang menembus dadanya.

Pria itu langsung terkulai dan mati. Boneng terbelalak melihat semua kejadian itu. Dia bahkan tidak pernah melihat Ketua Besar Ranggau Manusuk melakukan serangan luar biasa seperti itu.

"Seperti pinta mu. Aku sudah menghentikan siksaan atas rekan mu.

Nasibmu kini tergantung pada tuan Pati Muda Rajung Malapir." Ucap Bagaga Alam dengan tenang. Lalu lanjut berkata kepada Pati , Muda Rajung Malapir.

"Pati Rajung Malapir, ku serahkan dia pada Anda. Jalur energi mendalam nya telah aku kunci. Dia tidak akan bisa menggunakan energi mendalam nya, sampai aku buka kuncinya."

"Baik Pahlawan Besar. Mohon tunggu sebentar."

Pati Muda Rajung Malapir segera mengikat Boneng kesebuah pohon dan menyumpal mulut Boneng.

"Pahlawan Besar, apakah mayat  itu akan kita kubur dulu ?"

Bagaga Alam tidak menjawab. Dia hanya mengulurkan tangannya kearah mayat anggota Gerombolan Rawa Belong. Hawa panas mengiang dan muncul nyala api biru putih membakar mayat itu.

Sesaat kemudian mayat anggota Gerombolan Rawa Belong berubah menjadi abu. Boneng melihat semua itu dengan tidak percaya. Bola matanya hampir saja lepas meloncat dari tempatnya.

"Mari kita lanjutkan."

Bagaga Alam segera berkelebat menuju kearah rawa payau. Ni Kirana segera mengejar. Pati Muda Rajung Malapir menyusul setelah memperhatikan Boneng sekali lagi.

Sekitar sepuluh tarikan nafas berlalu sejak Pati Muda Rajung Malapir menyusul Bagaga Alam.

Seorang pria mengenakan pakaian khas Gerombolan Rawa Belonga  muncul. Dia segera membebaskan Boneng.

Boneng menggosok dan mengurut tangannya setelah dibebaskan. Dia kemudian menjelaskan situasi nya kepada pria yang membebaskan dirinya. "Segera lapor ke markas. Aku akan berjalan ke kota Jayagiri. Saat ini aku tidak bisa menggunakan energi mendalam ku. Orang yang dipanggil Pahlawan Besar itu telah mengunci saluran energi mendalam ku.

Mereka kemudian berpisah. Pria itu segera menghilang. Sedangkan Boneng melangkah tertatih menuju kota Jayagiri.

Bagaga Alam terus melesat menuju rawa payau. Ni Kirana segera menjejeri disebelah nya. Pati Muda Rajung Malapir mengikuti dengan jarak yang terjaga.

Tidak lama kemudian Bagaga Alam berhenti di pinggir sebuah rawa payau yang sangat luas. Jauh yaa sangat jauuuuh diujung sana terlihat batas cakrawala. Angin sarat dengan aroma laut.

Ni Kirana berdiri disebelah kiri Bagaga Alam. Sesaat kemudian Pati Muda Rajung Malapir juga tiba dan berdiri sebelah Ni Kirana. Mereka bertiga menatap kegundukan kawasan bakau yang membentuk pulau di tengah hamparan rawa payau yang luas.

"Lihat... Itu ada orang melintas di tengah rawa." Ni Kirana menunjuk kearah tenggara.

Terlihat satu bayangan berlari dengan sangat cepat diatas permukaan rawa.  Bagaga Alam mengangguk, dia berucap.

"Kalian berdua tunggu disini."

Pati Muda Rajung Malapir dan Ni Kirana melihat Bagaga Alam dengan sorot mata bertanya.

Palimo Alam tiba-tiba melesat tinggi ke udara. Lalu melangkah diudara. Satu ayunan langkah dia telah berada diatas pria yang tengah berlari dipermukaan rawa.

Bagaga Alam kemudian turun dan sejengkal di atas permukaan rawa. Dia berdiri sepuluh tombak didepan pria itu.

Byuuuuuurrr....!!

Pria yang tengah berlari itu adalah orang yang telah membebaskan Boneng. Dia kaget melihat orang tidak dikenal mengambang satu jengkal diatas permukaan rawa.

Pria itu langsung jatuh kedalam rawa payau. Air memuncrat ke mana mana.

"Si siapa kau ?"

\=\=\=\=\=***\=©

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!