NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10. Janji dalam Dosa

Suasana di meja makan malam itu terasa begitu megah namun mencekik bagi Valerian. Lampu gantung kristal di atas meja makan memancarkan cahaya temaram yang mewah, menyinari berbagai hidangan khas barat yang disiapkan oleh pelayan rumah. Tuan Bagian Wardhana memimpin di ujung meja, sementara Nyonya Zen duduk di sisi lain, mengapit Clarissa yang sengaja ditempatkan di sebelah Aksa.

Di hadapan mereka, Valerian duduk berdampingan dengan Damian. Sejak makan malam dimulai, Damian tidak lagi menunjukkan sikap kasarnya yang merendahkan seperti saat mereka berada di dalam kamar utama. Di depan Tuan Wardhana dan Nyonya Zen, Damian kembali mengenakan topeng sebagai suami yang sempurna. Ia memotongkan daging steik di piring Valerian, lalu menggesernya kembali dengan gerakan yang teramat lembut.

Makanlah yang banyak, Valerian. Kau tampak sangat pucat belakangan ini," ucap Damian dengan suara bariton yang terdengar begitu penuh perhatian di telinga orang lain, namun terasa seperti racun yang dingin bagi pendengaran Valerian.

"Terima kasih, Damian," bisik Valerian lirih, memaksakan sebuah senyuman palsu di bibirnya. Ia tahu ini semua hanyalah bagian dari sandiwara Damian untuk menjaga reputasi pernikahan bisnis mereka di depan calon menantu baru keluarga Wardhana. Begitu makan malam ini selesai dan pintu kamar mereka terkunci, Damian pasti akan kembali melontarkan kalimat-kalimat yang menginjak-injak harga dirinya.

Di seberang meja, Aksa memperhatikan interaksi palsu itu dengan tatapan mata yang kian menggelap. Sisi posesifnya bergejolak hebat melihat tangan Damian yang sesekali mengusap punggung Valerian dengan santai. Aksa benci melihat wanita yang dicintainya disentuh oleh pria lain, meskipun pria itu adalah kakaknya sendiri yang secara hukum memiliki hak atas tubuh Valerian.

"Aksa, cobalah salad ini. Ini resep khusus yang kupelajari saat di London," ucap Clarissa manis, meletakkan selembar daun selada dan tomat ceri ke atas piring Aksa dengan gerakan yang sangat perhatian.

Aksa langsung mengalihkan pandangannya dari Valerian, kembali memasang senyuman humorisnya yang menawan ke arah Clarissa. "Wah, terima kasih, Clarissa. Kau benar-benar tahu bagaimana cara memanjakan lidah seorang pria," seloroh Aksa, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Valerian.

Mendengar ucapan Aksa, dada Valerian terasa seperti dihantam batu besar. Rasa cemburu yang membakar hatinya kian tak tertahankan. Valerian bingung dengan apa yang ia rasakan; logikanya tahu bahwa Aksa sengaja melakukan itu untuk memancing reaksinya, namun melihat kedekatan fisik yang kian intens antara Aksa dan Clarissa membuat ketakutan terbesar dalam dirinya bangkit kembali. Ia takut kehilangan satu-satunya pria yang selama ini membuatnya merasa hidup dan dihargai di rumah yang terasa seperti penjara ini.

"Oh ya, Aksa, Clarissa... Ayah dan Tuan Narendra sudah membicarakan tentang tanggal pertunangan kalian," suara berat Tuan Bagian Wardhana tiba-tiba memecah obrolan ringan di meja makan, membuat atmosfer seketika berubah menjadi sangat formal. "Kurasa bulan depan adalah waktu yang tepat setelah proyek sub-holding kita diresmikan."

Klong!

Garpu di tangan Valerian tidak sengaja terlepas dari jemarinya, membentur pinggiran piring porselen dan menimbulkan suara denting yang cukup nyaring di keheningan ruang makan. Semua mata di meja makan seketika tertuju ke arah Valerian.

"Valerian? Kau tidak apa-apa? Kenapa tanganmu gemetar begitu?" tanya Nyonya Zen dengan kening berkerut, menatap menantunya dengan pandangan menyelidik yang tidak suka karena menganggap Valerian telah merusak kesopanan di meja makan.

Valerian memucat, seluruh darah di tubuhnya seolah tersedot habis. "A-aku... maaf, Ibu. Aku hanya sedikit pusing," dusta Valerian dengan suara yang bergetar hebat.

Damian langsung meraih tangan Valerian yang berada di atas meja, mencengkeramnya dengan cukup kuat hingga membuat Valerian sedikit meringis kesakitan. "Jika kau merasa sangat sakit, sebaiknya kau kembali ke kamar sekarang, Valerian. Jangan membuat para tamu merasa tidak nyaman dengan kondisimu," ucap Damian dengan nada suara yang terdengar seperti perhatian, namun tersirat perintah mutlak yang merendahkan posisi Valerian sebagai nyonya rumah.

Aksa yang melihat cengkeraman tangan Damian di jemari Valerian langsung menghentikan senyumannya. Rahangnya mengeras rapat, dan sepasang matanya menyala oleh amarah yang pekat. Sisi protektifnya bangkit, ia hampir saja berdiri dari kursinya untuk mengintervensi jika saja tatapan memohon dari Valerian tidak menghentikan langkah nekatnya.

"Maafkan aku... permisi, aku harus ke kamar mandi sebentar," bisik Valerian, menarik tangannya dari cengkeraman Damian dengan kasar, lalu berdiri terburu-buru dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi.

Valerian berlari kecil menyusuri koridor lantai satu yang sepi, menuju kamar mandi tamu yang terletak di dekat ruang keluarga belakang. Begitu pintu kamar mandi terkunci dari dalam, ia bersandar pada daun pintu dan membiarkan tangisnya pecah dalam senyap.

Setelah beberapa menit mencoba menenangkan diri dan membasuh wajahnya dengan air dingin untuk menghapus jejak tangis, Valerian membuka pintu kamar mandi, berniat kembali ke ruang makan dengan sisa-sisa kekuatannya.

Namun, begitu ia melangkah keluar ke lorong remang-remang di dekat ruang keluarga belakang, sebuah tangan kekar dengan cekatan menarik tubuhnya masuk ke dalam kegelapan di bawah sekat tangga lantai satu.

Sret.

Sebelum Valerian sempat berteriak, sebuah telapak tangan yang besar dan hangat langsung membekap bibirnya dengan lembut. Aroma parfum cedarwood dan kayu manis yang sangat familier langsung menyergap indra penciumannya, seketika meredakan kepanikan yang sempat melanda jiwanya.

Itu Aksa.

Aksa mengurung tubuh ramping Valerian di antara kedua lengan kokohnya yang bertumpu pada dinding kayu di bawah tangga. Di dalam kegelapan yang pekat, sepasang netra gelap Aksa menyala oleh obsesi dan gairah posesif yang teramat pekat. Pria itu melepaskan bekapan tangannya pada bibir Valerian, lalu menatap wajah wanita itu dengan napas yang memburu tajam.

"Kau menangis karena mendengar rencana pertunangan itu, kan? Jawab aku, Valerian!" bisik Aksa dengan suara parau yang menuntut kepasrahan seutuhnya.

Valerian mencoba memalingkan wajahnya, air matanya kembali menetes menembus kegelapan. "Lepaskan aku, Aksa! Kau sudah mendengar sendiri apa kata Ayahmu tadi. Bulan depan kau akan bertunangan dengan Clarissa! Dia sempurna, dia setara denganmu, tidak seperti aku yang hanya wanita pajangan yang selalu direndahkan oleh kakakmu!"

Mendengar kalimat penuh keputusasaan itu, sisi posesif Aksa semakin meledak. Ia mencengkeram pinggang kecil Valerian dengan kedua tangannya, merapatkan tubuh mereka tanpa celah hingga Valerian bisa merasakan detak jantung Aksa yang menggila di balik dada bidangnya.

"Sudah kubilang malam itu, Valerian... aku tidak peduli dengan Clarissa, aku tidak peduli dengan pertunangan sialan itu!" bisik Aksa parau tepat di depan bibir Valerian yang bergetar. "Aku sengaja membiarkan mereka bicara hanya untuk melihat seberapa besar rasa cemburumu padaku. Dan sekarang aku tahu, kau tidak bisa hidup tanpaku, sama seperti aku yang hampir gila setiap malam karena menginginkanmu di bawah atap yang sama dengan suamimu!"

Aksa menundukkan kepalanya secara paksa, membungkam bibir Valerian dengan kecupan yang teramat dalam, liar, dan penuh dengan tuntutan kepemilikan yang agresif. Valerian terengah di dalam pagutan terlarang itu, seluruh dinding pertahanan logikanya kembali runtuh berkeping-keping. Sentuhan Aksa di bawah tangga rumah suaminya sendiri terasa begitu menegangkan namun memberikan kehangatan intens yang melenyapkan semua rasa sakit hatinya akibat perlakuan Damian. Valerian membalas ciuman itu dengan pasrah, membiarkan dirinya tenggelam dalam dosa manis bersama sang adik ipar.

"Ingat janjiku, Valerian," bisik Aksa parau di sela-sela pagutan mereka, jemarinya mengusap tengkuk Valerian dengan penuh pemujaan. "Aku tidak akan pernah menikah dengan siapa pun kecuali dirimu. Aku akan menunggu sampai kau terlepas dari Damian, dan sampai saat itu tiba, tubuh dan jiwamu adalah milikku seutuhnya."

Di tengah momen intim yang sarat akan adrenalin tinggi itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang berat berjalan mendekat dari arah ruang makan menuju lorong belakang. Langkah kaki dengan ketukan marmer yang teramat familiar.

Langkah kaki Damian.

"Valerian? Kau di mana? Kenapa lama sekali di kamar mandi?" Suara bariton Damian menggema di sepanjang koridor remang-remang, terdengar kian mendekat ke arah sekat bawah tangga tempat Valerian dan Aksa sedang berpelukan erat.

Valerian membelalakkan matanya dalam kegelapan, jantungnya seolah melompat keluar dari rongga dadanya. Damian sedang berjalan mencarinya, dan posisi mereka saat ini hanya berjarak beberapa langkah dari sudut pandang lorong utama!

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!