Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 6 : Pertemuan Tak Terduga
Pagi itu matahari bersinar cerah, menyinari halaman luas rumah keluarga Mahendra. Udara terasa lebih segar setelah hujan semalam mengguyur kota. Di ruang makan, Nadira sudah bersiap sejak pukul enam pagi. Ia mengenakan blouse putih sederhana yang dipadukan dengan rok panjang berwarna cokelat muda. Rambutnya dikepang rapi seperti kebiasaannya ketika mengajar.
Wati yang sedang menyusun sarapan memandangnya sambil tersenyum.
"Nyonya terlihat berbeda pagi ini."
Nadira membalas senyum itu.
"Hari ini saya ingin kembali ke sekolah."
"Apakah Tuan Arka sudah mengetahui?"
Nadira mengangguk pelan.
"Semalam saya mengirim pesan melalui sekretarisnya. Beliau membalas bahwa saya bebas melanjutkan pekerjaan selama tidak bertabrakan dengan acara keluarga."
Wati menghela napas lega.
"Syukurlah."
Nadira memang tidak ingin meninggalkan pekerjaannya sebagai guru taman kanak-kanak. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi pendidik. Baginya, melihat anak-anak belajar, tertawa, dan tumbuh menjadi pribadi yang baik adalah kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan uang.
Beberapa menit kemudian mobil yang telah disiapkan mengantarnya menuju sekolah tempat ia mengajar.
Sepanjang perjalanan, Nadira merasa jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia akan kembali menjalani rutinitas yang benar-benar akrab baginya.
Mobil berhenti di depan sebuah taman kanak-kanak yang tidak terlalu besar, tetapi tampak bersih dan penuh warna. Dinding sekolah dipenuhi gambar-gambar hewan, huruf alfabet, dan lukisan hasil karya murid-murid.
Begitu Nadira turun dari mobil, beberapa guru langsung menghampirinya.
"Bu Nadira!"
"Alhamdulillah Ibu sudah kembali."
"Kami semua merindukan Ibu."
Nadira tersenyum hangat.
"Aku juga merindukan kalian."
Salah seorang guru muda memeluknya singkat.
"Kami sempat khawatir Ibu tidak akan mengajar lagi setelah menikah."
Nadira menggeleng pelan.
"Selama masih diizinkan, aku ingin tetap berada di sini."
Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi.
Anak-anak mulai berdatangan satu per satu bersama orang tua mereka.
Begitu melihat Nadira berdiri di depan kelas, beberapa anak langsung berlari kecil menghampirinya.
"Bu Guru!"
"Bu Nadira sudah datang!"
"Kami kangen!"
Seorang anak perempuan memeluk pinggang Nadira erat-erat.
Nadira membungkuk dan membalas pelukan itu dengan lembut.
"Ibu juga kangen kalian."
Anak-anak lain mulai mengerumuninya.
Ada yang menunjukkan gambar yang mereka buat selama Nadira tidak masuk. Ada yang bercerita tentang kucing peliharaannya. Ada pula yang mengeluh karena kehilangan pensil warna kesayangannya.
Nadira mendengarkan semuanya dengan sabar.
Tak satu pun cerita kecil itu dianggap sepele olehnya.
Baginya, dunia anak-anak memang sesederhana itu.
Mereka hanya ingin didengar.
Di ruang kelas, suasana segera berubah menjadi riuh penuh tawa.
"Hari ini kita belajar apa, Bu?" tanya seorang anak laki-laki.
Nadira tersenyum.
"Hari ini kita belajar tentang saling berbagi."
Ia mengambil beberapa balok warna-warni dan mulai mengajak anak-anak bermain sambil belajar berhitung.
"Kalau Ibu punya lima balok, lalu Ibu memberikan dua kepada Dimas, tinggal berapa?"
"Tiga!"
Jawaban serempak membuat seluruh kelas tertawa.
Nadira ikut tersenyum lebar.
Ia tidak hanya mengajar dengan kata-kata.
Ia bernyanyi bersama mereka.
Bermain permainan edukatif.
Membantu anak-anak yang kesulitan menggambar.
Mengusap kepala mereka ketika ada yang menangis.
Bahkan ketika seorang anak kecil terjatuh saat berlari di halaman sekolah, Nadira segera menghampiri.
"Lihat Ibu."
Anak itu menangis sambil menunjukkan lututnya yang sedikit lecet.
Nadira berjongkok.
"Tidak apa-apa. Anak pemberani pasti bisa bangun lagi."
Ia membersihkan luka kecil itu dengan hati-hati sebelum menempelkan plester bergambar kartun.
"Nah, sekarang sudah sembuh."
Anak itu langsung tersenyum.
"Terima kasih, Bu Guru."
Nadira mengusap rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Main lagi, ya. Tapi hati-hati."
Semua guru yang melihat hanya tersenyum.
Bagi mereka, Nadira memang selalu seperti itu.
Sabar.
Lembut.
Dan memperlakukan setiap murid seperti anaknya sendiri.
Sementara itu, di sisi lain kota, Arka baru saja menyelesaikan rapat dengan salah satu klien penting.
Mobilnya melaju menuju kantor ketika sekretarisnya mengingatkan sesuatu.
"Tuan."
"Ada apa?"
"Dokumen kerja sama dengan Yayasan Cendekia masih tertinggal."
Arka mengernyit.
"Di mana?"
"Menurut catatan, perwakilan yayasan sedang berada di TK Harapan Ceria. Mereka meminta tanda tangan langsung."
Arka melirik jam tangannya.
Masih ada waktu sebelum rapat berikutnya.
"Kita ke sana."
"Baik, Tuan."
Mobil segera berbelok menuju sekolah tersebut.
Sesampainya di sana, Arka sedikit terkejut melihat bangunan sederhana yang jauh berbeda dari tempat-tempat yang biasa ia kunjungi.
Ia turun dari mobil bersama sekretarisnya.
Beberapa guru menyambut mereka dengan sopan.
"Kami persilakan masuk, Pak."
Arka mengangguk.
Ketika sedang berjalan melewati koridor sekolah, tiba-tiba terdengar suara tawa anak-anak dari salah satu ruang kelas.
Suara itu begitu riang.
Begitu tulus.
Tanpa sadar langkah Arka melambat.
Pandangannya tertuju ke arah kelas yang pintunya terbuka.
Dan saat itulah ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya.
Nadira.
Wanita itu sedang duduk di lantai bersama belasan anak kecil.
Tidak ada gaun mahal.
Tidak ada perhiasan mewah.
Hanya pakaian sederhana dan senyum yang begitu hangat.
Nadira sedang membantu seorang anak menyusun balok warna.
"Ayo, kita coba lagi."
"Pelan-pelan."
"Kamu pasti bisa."
Suara lembut itu terdengar jelas hingga ke luar kelas.
Arka terdiam.
Ini pertama kalinya ia melihat Nadira berada di lingkungan yang benar-benar menjadi dunianya.
Tidak ada kepura-puraan.
Tidak ada formalitas.
Tidak ada peran sebagai istri kontrak.
Yang ada hanyalah seorang guru yang mengajar dengan sepenuh hati.
Beberapa anak tiba-tiba memeluk Nadira dari belakang.
"Ibu Guru cantik!"
"Kapan kita menggambar lagi?"
Nadira tertawa kecil.
"Nanti setelah istirahat."
"Tapi sekarang siapa yang mau menyanyi?"
"Saya!"
Semua anak mengangkat tangan.
Ruangan langsung dipenuhi suara-suara kecil yang antusias.
Nadira mulai menyanyikan lagu anak-anak dengan gerakan sederhana.
Tanpa malu.
Tanpa menjaga gengsi.
Ia ikut bertepuk tangan.
Melompat kecil bersama murid-muridnya.
Tawanya terdengar begitu lepas.
Arka memperhatikan semua itu tanpa berkedip.
Sekretarisnya ikut menoleh.
"Tuan?"
Arka tidak menjawab.
Entah mengapa ia sulit mengalihkan pandangan.
Selama ini yang ia kenal hanyalah Nadira yang pendiam, sopan, dan selalu menjaga jarak sesuai isi kontrak.
Namun wanita yang kini berada di hadapannya benar-benar berbeda.
Di tengah anak-anak, wajah Nadira tampak hidup.
Matanya berbinar.
Senyumnya tulus.
Tidak ada kesedihan yang biasanya ia lihat setiap kali mereka berada di rumah.
Salah seorang anak kecil tiba-tiba berlari menghampiri pintu kelas.
Ketika melihat Arka berdiri di luar, anak itu bertanya polos.
"Om cari siapa?"
Arka sedikit tersadar.
"Saya..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Nadira menoleh.
Mata mereka bertemu.
Ekspresi Nadira langsung berubah menjadi terkejut.
"Pak Arka?"
Ia segera berdiri dan menghampiri pintu.
"Kenapa Anda ada di sini?"
"Ada urusan pekerjaan."
Jawaban Arka tetap singkat.
Nadira mengangguk.
"Saya kira..."
Ia tidak melanjutkan ucapannya.
Arka melirik ke arah anak-anak yang masih bermain.
"Mereka muridmu?"
"Iya."
Nada suara Nadira berubah jauh lebih lembut dibanding biasanya.
"Mereka anak-anak di kelas B."
Seorang anak perempuan kecil tiba-tiba menarik tangan Nadira.
"Bu Guru."
"Iya, Sayang?"
"Itu siapa?"
Nadira tersenyum.
"Beliau teman Ibu."
Arka sempat melirik Nadira.
Wanita itu sengaja tidak menjelaskan bahwa dirinya adalah suaminya.
Mungkin karena tidak ingin membingungkan anak-anak.
Anak kecil itu kembali bertanya dengan polos.
"Om mau ikut nyanyi?"
Nadira langsung tersenyum canggung.
Sementara Arka tampak sedikit bingung.
Belum pernah ada yang mengajaknya bernyanyi, apalagi seorang anak kecil.
Beberapa guru yang melihat hanya menahan tawa.
Nadira segera berkata pelan.
"Om sedang bekerja."
"Oh..."
Anak itu mengangguk lalu berlari kembali ke dalam kelas.
Suasana kembali riuh.
Sebelum pergi menuju ruang kepala sekolah, Arka kembali menoleh.
Nadira sudah kembali duduk bersama anak-anak.
Ia sedang membantu seorang murid menggambar matahari.
Sesekali ia tertawa ketika gambar yang dibuat anak-anak terlihat lucu.
Arka mengamati semuanya dalam diam.
Ada sesuatu yang berbeda di dalam hatinya.
Bukan rasa kagum yang berlebihan.
Bukan pula perasaan yang bisa ia jelaskan.
Melainkan sebuah kesadaran.
Selama ini ia hanya mengenal Nadira sebagai wanita yang terikat kontrak dengannya.
Namun hari ini ia melihat sosok Nadira yang sesungguhnya.
Seorang perempuan yang tidak mencari perhatian.
Tidak mengejar kemewahan.
Tidak berpura-pura menjadi orang lain.
Ia menemukan kebahagiaan dari hal-hal sederhana.
Dari tawa anak-anak.
Dari pelukan kecil yang tulus.
Dari senyum polos yang tidak mengenal status ataupun kekayaan.
Dalam perjalanan kembali ke mobil setelah urusan pekerjaannya selesai, bayangan Nadira yang sedang tersenyum bersama murid-muridnya terus memenuhi pikirannya.
Tanpa disadari, sudut bibir Arka sedikit terangkat.
Sangat tipis.
Hampir tak terlihat.
Sekretarisnya yang berjalan di samping sempat memperhatikan perubahan kecil itu, tetapi memilih tetap diam.
Sementara di ruang kelas, Nadira sama sekali tidak mengetahui bahwa pertemuan singkat hari itu telah meninggalkan kesan yang tidak pernah diduga.
Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka dimulai, Arka Mahendra melihat sisi lain dari wanita yang menjadi istrinya.
Bukan sebagai bagian dari kontrak.
Bukan sebagai pasangan yang harus tampil di depan publik.
Melainkan sebagai seorang guru yang mencurahkan kasih sayang dengan tulus kepada setiap anak yang berada di hadapannya.
Dan tanpa ia sadari, pemandangan sederhana itu mulai menggoyahkan keyakinannya bahwa hubungan mereka akan tetap berjalan sesuai isi kontrak, tanpa melibatkan perasaan sedikit pun.