Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Jomblo yang Mengamuk
Mobil hitam yang dikendarai Teddy, tepat berhenti di depan sebuah rumah minimalis bertingkat dua.
"Jadi, kamu tinggal di sana dengan orang tuamu? Apa perlu aku antar langsung ke depan pintu?" tawar Teddy tanpa beban.
Namun, berbeda dengan Aira. Ia menggelengkan kepala dengan cepat. "Itu bukan rumah orang tuaku. Bapak dan Ibukku tinggal di kampung, menjaga kebun kami. Aku di sini tinggal di rumah Om aku."
Aira mengintip mencoba menerawangi rumah itu. Namun, dengan jelas ia menangkap, ada pergerakan di tirai rumah yang membuatnya merasa yakin, Tante Nani (istri Om Jovan) dan Reta, sepupunya sedang mengintip mereka.
"Aku bisa digorok Tante jahat itu kalau Om nganter sampai ke dalam," bisiknya.
"Jadi, seperti rencana kita, nanti kamu akan saya bimbing kayak tadi hingga tiga hari ke depan. Jadi, biar dia tau siapa orang hebat yang sudah menemanimu memperbaiki laporan praktik lapanganmu."
"Baik, Om." Dengan cepat, Aira menarik sabuk tanpa melepasnya dari kuncian pengaman.
Menyadari itu, Teddy mengernyitkan keningnya kembali. Aira telah lepas dari sabuk pengamannya, meski sabut itu masih melekat pada kuncinya.
"Eh, kamu kayak gak pernah naik mobil aja? Masa, sabuknya gak dilepas?" Teddy menekan tombol merah dan, sabuk itu bergerak dengan cepat untuk kembali ke posisinya, tetapi mengenai kepala Aira.
Duk
"Aaaauuuww! Sakit!" ringis gadis itu mengusap kepalanya. "Ati-ati, napa? Ih, orang nggak pake perasaan gini, pasti jomblo seumur hidup," cecarnya memasang wajah cemberut.
Mendengar ucapan Aira, sontak Teddy jadi geram. Teddy mencengkeram setir mobilnya lebih erat. Rahangnya mengeras, menatap Aira dengan pandangan yang siap menelan gadis itu hidup-hidup.
Kata "jomblo seumur hidup" itu menghantam tepat di luka lamanya yang paling sensitif. Dua tahun dia hidup dalam penolakan, menutup hati karena bayang-bayang Lova yang terus memenuhi hatinya semenjak masa sekolah. Dan sekarang, seorang anak kecil yang baru diselamatkannya dari dermaga dengan entengnya mengatai dirinya jomblo?
"Turun," desis Teddy, suaranya mendadak turun beberapa oktav menjadi sangat dingin dan menusuk.
Aira yang masih sibuk mengusap kepalanya langsung menoleh, tertegun melihat perubahan drastis pada wajah Teddy yang kini tampak mengerikan seperti malaikat maut.
"Eh?"
"Saya bilang turun, Anak Kecil," ulang Teddy tanpa menoleh sedikit pun ke arah Aira. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah pagar besi rumah Om Jovan.
"Sebelum saya berubah pikiran dan melempar kamu kembali ke dermaga tempat sampah tadi."
Aira menelan ludah. Nyalinya yang tadi sempat melambung tinggi mendadak menciut melihat aura intimidasi pria tua di sampingnya ini. Dia tahu dia sudah salah bicara.
"I-iya, ini juga mau turun. Galak banget sih ... Mas Om," cicit Aira pelan, sengaja mengecilkan suaranya di dua kata terakhir.
Dengan gerakan cepat namun hati-hati, Aira membuka pintu sedan mewah itu. Dia melangkah keluar, menapakkan kakinya di atas aspal jalan depan rumah Om Jovan. Namun, sebelum benar-benar menutup pintu mobil, Aira sempat membungkuk sedikit, mengintip ke dalam kabin lewat pintu yang terbuka.
"Om Teddy," panggil Aira, kali ini suaranya terdengar lebih tulus, tanpa nada mengejek seperti tadi.
"Makasih ya buat yang tadi di dermaga. Dan ... makasih juga bantu memperbaiki laporannya."
Teddy tidak menyahut, dia bahkan tidak menoleh. Tangan kekarnya memindahkan gigi mobil dengan sentakan tegas.
Brakk.
Aira menutup pintu mobil dengan rapat. Begitu pintu tertutup, sedan hitam legam itu langsung melesat pergi membelah malam dengan kecepatan tinggi, meninggalkan deru mesin yang halus namun bertenaga, serta menyisakan kepulan asap tipis di depan gerbang.
Aira mengembuskan napas panjang, menatap kepergian mobil Teddy sampai lampunya menghilang di belokan jalan.
"Dasar triplek. Untung aja banyak duitnya," gumamnya pelan.
Gadis itu kemudian membalikkan badannya, menghadap ke arah rumah minimalis berlantai dua milik pamannya. Senyum manisnya langsung pudar, digantikan oleh ekspresi datar dan mata bulat yang kini menatap tajam ke arah jendela lantai dua, di mana tirai pembatasnya baru saja bergerak menutup dengan terburu-buru.
Aira seakan tau apa yang akan terjadi ke depannya. Dengan kepala yang masih sedikit pening, sebuah ponsel retak di saku jas praktiknya, dan skenario aliansi enam bulan yang sudah matang di otaknya, Aira melangkah mantap membuka gerbang besi rumah itu.
Ia berusaha berjalan secepat mungkin. Kalau bisa, sebelum orang-orang yang tadi mengintipnya membuka pintu, ia telah berhasil masuk lewat pintu jendela kamar yang ada di pojok belakang, biasanya sengaja tidak ia kunci.
Aira memanjangkan lehernya, memastikan kedua manusia yang paling dihindari itu, belum sempat membuka pintu.
"Yes!"
Dengan cepat dia mengendap menuju ke arah belakang mencoba mencongkel jendela kamarnya. Ternyata pintu itu tak mau dibuka.
"Loh? Kok bisa? Perasaan tadi sebelum ke RSJ, udah aku buka kuncinya, deh?" Aira terus berusaha mencongkel.
Namun, di saat usahanya tak membuahkan hasil, tiba-tiba terdengar teriakan dari arah pintu masuk.
"TOLONG ... TOLOONG ... ADA MALING!" teriak Nani sembari tersenyum licik di hadapan Reta.
"TOLOOONG ... ADA MALING MASUK RUMAH KAMI!" sambut Reta dengan wajah terkikik.
Dari arah luar pagar, terdengar suara warga yang mulai ribut mempertanyakan teriakan dua tuan rumah itu.
Dengan cepat, ia masuk lewat pagar dan menghampiri dua orang berteriak tadi di teras rumah dengan langkah lebar. Aira tidak bisa membiarkan kekonyolan ini berlanjut sampai mengundang massa satu kampung.
Brakk!
Aira menghentikan langkahnya tepat di depan Tante Nani dan Reta yang masih sibuk berteriak histeris dengan wajah penuh kepuasan yang dipaksakan. Begitu melihat Aira berdiri tegak di bawah lampu teras, teriakan kedua wanita itu mendadak terhenti, menyisakan tawa sinis yang tertahan di bibir mereka.
Beberapa warga kampung yang terlanjur berlari membawa senter dan ronda malam mulai menumpuk di depan pagar besi yang masih terkunci.
"Mana malingnya, Bu Nani?! Di sebelah mana?!" tanya Pak RT yang datang paling depan dengan napas terengah-engah.
sepadan lah juragan dan boss besar besanan,,si Jovan dan keluarga nya bakalan kebakaran jenggot
kerjain sekalian si bujang lapuk,,biar kamu puasss🤭🤭🤭
jiaaah ada yg pengen jadi mokondo ternyata,,wes mending sama om2 bujang lapuk Aya Ra
pasti nanti kamu di ratukan sama bujang lapuk dan orang tuanya
bikin ted2 merana dulu 😁
calon mertua langsung gercep ga tuh
inikah novel tentang dia. biar Aira makin klepek2 dan nahan Teddy dekat dia. jadi sama-sama move on😍😍
Yakin kamu bisa ngalahin Arnold si dokter gemulai, jadi deg"an aku 🤣🤣🤣 memangnya kamu ngerti di bidang kejiwaan 🥺 awas entar salah revisi habislah Aira di marahi lagi 🤣🤣