Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Mentari pagi mulai menghangatkan halaman rumah. Alarm ponsel Aurel berbunyi tepat pukul lima. Ia membuka mata perlahan. Untuk sesaat, ia lupa apa yang telah terjadi beberapa hari terakhir. Namun ketika menoleh ke langit-langit kamar masa kecilnya, semuanya kembali teringat. Perselingkuhan. Perceraian. Mahesa. Kayla.
Aurel mengembuskan napas pelan. "Hidup harus tetap berjalan." Ia segera bangkit dari tempat tidur. Seperti biasanya, ia membantu ibunya menyiapkan sarapan sederhana.
Bedanya, pagi ini bukan lagi di rumahnya sendiri. Melainkan di rumah tempat ia dibesarkan.
Tak lama kemudian, suara langkah kecil terdengar dari arah kamar.
"Mama..." Raka mengucek kedua matanya yang masih mengantuk.
Aurel langsung tersenyum. "Selamat pagi, Jagoan."
Raka memeluk pinggang ibunya. "Mama nginep sini lagi?"
"Iya."
"Yeay..." Jawaban polos itu membuat Aurel sedikit lega.
Setidaknya, Raka masih menganggap semuanya sebagai momen menginap di rumah kakek dan neneknya.
Anak itu belum menyadari bahwa ada badai besar yang sedang menghantam keluarganya.
Setelah sarapan selesai, Aurel membantu Raka mengenakan seragam sekolah.
"Kancingnya sudah rapi?"
Raka menunduk melihat bajunya. "Sudah."
"Sepatunya?"
"Sudah."
Aurel kemudian berjongkok di depan putranya. Ia merapikan dasi kecil yang sedikit miring.
"Nanti belajar yang rajin ya."
"Iya, Ma."
"Jangan lupa makan bekalnya."
"Oke."
Raka tersenyum lebar. Senyum yang selalu berhasil membuat hati Aurel sedikit lebih tenang.
Beberapa menit kemudian, mobil Aurel berhenti di depan sekolah Raka. Seperti biasa, anak itu mencium tangan ibunya sebelum turun.
"Bye, Mama."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Aurel menunggu hingga Raka masuk ke dalam gerbang sekolah. Barulah ia kembali menjalankan mobilnya. Tatapannya lurus ke depan. Tujuan berikutnya. Kantor.
Hari ini, ia memutuskan untuk kembali bekerja. Bukan karena luka di hatinya telah sembuh. Melainkan karena Aurel sadar, hidup tidak akan berhenti hanya karena seseorang mengkhianatinya.
Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Masih ada tanggung jawab yang harus dipenuhi. Dan yang paling penting. Masih ada seorang anak yang bergantung padanya.
Sesampainya di kantor, beberapa rekan kerja menyapanya seperti biasa.
"Pagi, Mbak Aurel."
"Pagi."
"Sudah baikan? Kemarin izin katanya."
Aurel tersenyum tipis. "Iya, ada sedikit urusan keluarga."
Aurel tidak menjelaskan lebih jauh. Baginya, tidak semua luka harus diketahui banyak orang.
Aurel duduk di kursinya, menyalakan komputer, lalu mulai memeriksa tumpukan pekerjaan yang tertunda sejak kemarin.
Sesekali pikirannya melayang kepada Mahesa. Apakah laki-laki itu semalam tidur di rumah? Apakah ia sudah menemui orang tuanya?
Atau. Apakah ia justru sedang bersama Kayla?
Aurel segera menggeleng pelan. Ia memaksa dirinya kembali fokus ke layar komputer.
Mulai hari ini, ia harus belajar satu hal. Tidak lagi menjadikan Mahesa sebagai pusat dari hidupnya.
Karena kini, ada hal yang jauh lebih penting untuk ia perjuangkan. Dirinya sendiri. Dan masa depan Raka.
Sedangkan di rumah yang kini terasa lengang, Mahesa duduk seorang diri di ruang tamu. Semalaman ia hampir tidak memejamkan mata. Pikirannya terus dipenuhi wajah Aurel. Tatapan dingin perempuan itu. Tangis yang berusaha disembunyikannya. Dan kalimat yang terus terngiang di telinganya. "Mulai hari ini... urus kebutuhanmu sendiri."
Mahesa mengusap wajahnya yang tampak lelah. Di atas meja, secangkir kopi yang ia buat sendiri masih utuh. Rasanya pahit. Entah karena kopinya memang terlalu pekat atau karena pikirannya sedang kacau.
Mahesa mengambil ponselnya Nama Aurel ❤️ masih tersimpan seperti dulu.
Jarinya bergetar saat menekan tombol panggil. Satu detik. Dua detik. Namun panggilan itu tidak pernah tersambung. Di layar hanya muncul satu pemberitahuan. Panggilan tidak dapat dilakukan.
Mahesa mengernyit. Ia mencoba sekali lagi. Hasilnya sama. Lalu ia membuka aplikasi pesan.
"Rel, kita perlu bicara. Tolong jangan seperti ini." Pesan itu gagal terkirim.
Mahesa terdiam. Dadanya kembali terasa sesak. Perlahan ia menyadari satu kenyataan. Aurel telah memblokir semua aksesnya. Nomor telepon. Pesan. Bahkan akun media sosial yang biasa mereka gunakan untuk saling mengirim kabar. Semua telah tertutup.
Mahesa menyandarkan tubuhnya ke sofa. Ia tidak marah. Tidak juga merasa diperlakukan tidak adil. Karena jauh di lubuk hatinya, ia tahu Aurel bukan sedang bersikap kekanak-kanakan.
Perempuan itu hanya sedang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Setelah dikhianati selama bertahun-tahun, tentu tidak mudah bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Mungkin, jika mereka tetap saling terhubung sekarang, setiap pesan dari Mahesa hanya akan membuka luka yang belum sempat mengering.
Di sisi lain, di ruang kerjanya, ponsel Aurel bergetar pelan. Layar menampilkan notifikasi bahwa seseorang mencoba menghubunginya. Namun karena nomor Mahesa telah diblokir, panggilan itu tidak pernah masuk. Aurel menatap layar beberapa saat. Ia tahu Mahesa pasti akan berusaha mencarinya. Ia mengenal suaminya terlalu baik. Perlahan, Aurel membuka daftar kontak yang telah diblokir.
Nama Mahesa berada di urutan paling atas. Jarinya sempat berhenti di tombol Buka Blokir. Hanya beberapa sentuhan lagi. Mereka bisa kembali saling menghubungi. Namun Aurel menghela napas pelan, lalu mengunci kembali layar ponselnya.
"Bukan sekarang..." Bisiknya lirih.
Ia tidak membenci Mahesa. Bahkan di tengah luka yang begitu dalam, masih ada bagian dari hatinya yang sulit melupakan laki-laki yang pernah menjadi teman hidupnya selama bertahun-tahun.
Tetapi...Memaafkan bukan berarti harus langsung membuka kembali semua pintu. Aurel membutuhkan ruang. Membutuhkan waktu. Bukan untuk menghukum Mahesa. Melainkan untuk menenangkan dirinya sendiri.
Karena Aurel sadar, jika berbicara sekarang, yang keluar mungkin hanya amarah dan tangis.
Sedangkan yang Aurel inginkan adalah ketenangan, agar setiap keputusan yang diambil nanti benar-benar lahir dari pikiran yang jernih, bukan dari emosi yang sesaat.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya terbongkar, Aurel memilih diam. Bukan karena tidak memiliki jawaban. Melainkan karena keheningan adalah satu-satunya cara yang mampu menjaga sisa-sisa kekuatan hatinya.
Berbeda dengan Aurel yang mulai menata hidupnya. Dan Mahesa yang tenggelam dalam penyesalan. Kayla justru dipenuhi rasa kesal.
Sudah dua hari berlalu sejak ia datang ke rumah Aurel membawa pengakuan yang mengubah segalanya.
Menurut bayangan Kayla, setelah semua rahasia terbongkar, Mahesa akan datang kepadanya. Memilihnya. Mengatakan bahwa semua telah selesai.
Lalu mereka akan memulai hidup baru bersama. Namun kenyataannya. Semua justru berjalan di luar dugaannya. Mahesa memang datang malam itu. Mereka sempat bertengkar hebat. Tetapi setelah itu, Mahesa pergi begitu saja.
Sejak saat itu, laki-laki itu hampir tidak menghubunginya lagi.
Kayla melempar ponselnya ke atas sofa. "Kenapa jadi begini sih..." Kayla menggigit bibir bawahnya.
Perasaannya mulai dipenuhi kegelisahan. Ia mengambil ponselnya kembali, lalu membuka ruang obrolan dengan Mahesa.
Puluhan pesan lama memenuhi layar. Pesan-pesan penuh perhatian. Ucapan rindu. Janji-janji tentang masa depan. Namun dua hari terakhir. Hanya ada balasan singkat dari Mahesa.
"Aku lagi banyak pikiran."
"Nanti kita bicara."
"Aku lagi nggak bisa."
Tidak lebih.
Kayla mengembuskan napas kesal.
"Katanya cinta sama aku."
"Katanya cuma tinggal nunggu waktu."
"Katanya bakal bertanggung jawab."
"Tapi sekarang?"
"Kenapa malah diam?"
Semakin dipikirkan, semakin besar rasa kecewanya. Kayla merasa telah mempertaruhkan segalanya. Hubungannya dengan Ardi kini berada di ujung tanduk. Keluarganya mulai mempertanyakan sikapnya yang terus menunda pernikahan.
Nama baiknya juga terancam jika hubungan itu sampai terbongkar. Namun Mahesa. Justru sibuk mengejar Aurel.
Kayla bangkit dari sofa, lalu berdiri di depan jendela apartemennya. Tatapannya kosong menembus keramaian kota.
Dalam benak Aurel. ia mulai mengingat kembali malam ketika Mahesa datang. Laki-laki itu tidak memeluknya. Tidak menenangkan dirinya. Yang dipikirkan Mahesa hanya satu.
"Aku mau tahu apa yang Aurel bilang ke orang tuaku."
Saat itu juga, hati Kayla mulai dipenuhi rasa tidak nyaman.
"Jadi..." Bisiknya pelan.
"Yang paling kamu takutkan ternyata bukan kehilangan aku."
"Tapi kehilangan Aurel."
Air mata perlahan jatuh di pipi Aurel. Selama tujuh tahun, ia selalu percaya bahwa dirinya adalah perempuan yang akan dipilih Mahesa pada akhirnya.
Namun kini. Keyakinan itu mulai runtuh. Bisa jadi, selama ini Mahesa memang mencintainya. Tetapi bukan berarti Mahesa siap kehilangan kehidupan yang telah ia bangun bersama Aurel.
Kayla tertawa kecil. Tawa yang terdengar pahit.
"Aku pikir aku menang."
"Ternyata..."
"...aku cuma berhasil menghancurkan semuanya."
Kayla menatap layar ponselnya sekali lagi. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan. Tidak ada kabar dari Mahesa. Untuk pertama kalinya sejak ia memutuskan membuka rahasia itu. Kayla merasakan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia memang berhasil membuat Aurel mengetahui perselingkuhan mereka. Namun ia tidak mendapatkan hadiah yang selama ini diimpikannya.
Yang ia dapatkan justru seorang Mahesa yang dipenuhi penyesalan. Dan laki-laki yang menyesal bukanlah laki-laki yang benar-benar hadir untuk perempuan lain.
Malam itu, Kayla akhirnya menyadari satu hal. Mengambil seseorang dari kehidupan orang lain tidak berarti orang itu akan menjadi miliknya sepenuhnya.