Up setiap hari
Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.
Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.
Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.
Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.
Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22: Teritori Sang Predator 2
System Glicth
Hawa tubuh Neo yang panas terasa menembus bahan mantel Stella.
"Sangat mengesankan," bisik Neo pelan.
Ia menunduk, meletakkan satu tangannya di meja tepat di sebelah lengan Stella, membaca ulang deretan angka di map tersebut.
Posisi ini membuat Neo nyaris mengurung tubuh Stella.
Wangi White Tea & Peony menguar dari leher Stella, menyerbu indra penciuman Neo.
Pria itu menarik napas pelan tanpa sadar, membiarkan aroma itu menetralisir rasa lelah di kepalanya akibat bekerja sejak subuh.
"Tapi ada satu hal yang terlewat dalam draf ini," Neo melanjutkan, suaranya kini lebih rendah, bergetar di dekat telinga Stella.
Stella berusaha keras menjaga detak jantungnya agar tidak melonjak. Ia menoleh sedikit, dan seketika menyadari betapa dekatnya wajah pria itu dengan wajahnya.
Garis rahang Neo yang tegas nyaris bersentuhan dengan ujung rambutnya.
"Apa yang terlewat?" tanya Stella, suaranya sedingin mungkin meski ia harus menahan napas.
"Posisimu," jawab Neo. Mata gelap pria itu turun, menatap lurus ke dalam mata Stella.
"Arthur dulunya memegang kendali penuh atas tim kreatif. Kalau kau memecatnya, siapa yang akan memimpin tim kreatif dari pihak Rosewood? Jangan bilang kau akan meletakkan adik tirimu yang suka menangis itu di posisi tersebut."
Mendengar nama Chloe disebut, Stella tersenyum sinis. "Chloe tidak akan menyentuh satu lembar pun dokumen proyek ini selama aku bernapas. Aku yang akan memimpin tim kreatif secara langsung."
"Kau?" Neo memiringkan kepalanya sedikit.
Jarak yang sudah dekat itu entah bagaimana terasa semakin intim.
"Menjadi Direktur Utama sekaligus Ketua Tim Kreatif? Kau akan bekerja dua puluh jam sehari, Rosewood. Kau bisa mati sebelum proyek ini tayang perdana."
"Apa kau mengkhawatirkan kesehatanku, Tuan Blake?" Stella membalas tatapan itu, tak mau kalah, memamerkan senyum tengilnya.
Neo tidak tersenyum, tapi sorot matanya berubah sangat pekat.
Ia mengangkat tangannya yang bebas, dan selama sedetik yang terasa seperti selamanya, jari telunjuk Neo yang panjang dan kapalan menyentuh pelan ujung dokumen yang tepat berada di bawah tangan Stella.
Gesekan udara dari gerakan itu membuat bulu kuduk Stella meremang.
"Aku sama sekali tidak peduli pada kesehatanmu," bisik Neo dengan jujur yang brutal, namun matanya mengatakan hal yang sebaliknya.
"Tapi aku benci jika investasiku hancur karena rekan bisnisku pingsan karena kebodohannya sendiri."
Neo melangkah mundur, kembali ke postur tegapnya, membawa serta hawa panas dan tekanan auranya menjauh dari Stella.
Wanita itu diam-diam menghembuskan napas lega yang tertahan.
"Besok lusa, kau dan timmu akan pindah sementara ke gedung ini," putus Neo mutlak, kembali ke mejanya.
"Kita akan melakukan brainstorming di lantai bawah. Aku ingin melihat apakah kau benar-benar bisa bekerja, atau hanya pandai merangkai kata di atas kertas."
Stella berdiri, mengambil map birunya. Misi malam ini selesai. Ia berhasil membuktikan nilainya.
"Tentu saja, Tuan Blake. Bersiaplah untuk terkesan," balas Stella percaya diri.
Ia membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu.
Namun sebelum tangannya menyentuh kenop pintu, sebuah pertanyaan menghentikan langkahnya.
"Cincin ibumu."
Suara Neo terdengar sangat pelan, nyaris seperti embusan angin.
Stella membeku. Ia menoleh perlahan ke arah pria itu.
"Apa... katamu?"
Neo duduk kembali di kursinya, wajahnya kembali tertutup topeng es yang tidak bisa dibaca.
Mata obsidiannya menatap Stella dari seberang ruangan.
"Hanya sebuah pemikiran acak,"
Neo menyandarkan punggungnya, mengetukkan jemarinya di atas laci mejanya yang terkunci.
"Kudengar dari orang-orang pamanmu bahwa kau selalu memakai cincin berlian peninggalan ibumu. Kau tidak memakainya hari ini, Nona Rosewood."
Darah Stella berdesir dingin. Pria arogan ini... apakah dia tahu sesuatu tentang toko gadai itu?
To be Continued