Rumah tangga Xena dan Reyhan terlihat sempurna, penuh cinta dan kesetiaan. Apalagi dari dulu hingga sekarang, Reyhan selalu memperlakukan Xena dengan baik. Malah cenderung meratukan istrinya tersebut.
Tapi semuanya hancur ketika terdengar kabar bahwa Reyhan diam-diam menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan karena Xena tak kunjung hamil. Lebih menyakitkan lagi, wanita itu adalah tetangga mereka sendiri yang selama ini terlihat baik di depan Xena.
Dikhianati setelah semua pengorbanannya, Xena memilih pergi. Tapi sebelum itu, ia membongkar identitas dan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari suaminya. Saat kebenaran terungkap, Reyhan baru sadar bahwa wanita yang ia sia-siakan ternyata bukan wanita biasa, dan penyesalannya datang ketika semuanya telah terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan Bersama
Menjelang pagi buta, Reyhan membuka matanya. Rasa kantuknya luruh seketika begitu ia menyadari posisinya saat ini. Kepala Reyhan tengah berbantalkan dada Nadine, merasakan sisa-sisa kehangatan dari pergulatan panas mereka beberapa jam yang lalu.
Reyhan menggeser posisinya sedikit, memandangi wajah Nadine yang masih terpejam. Pandangannya kemudian turun ke arah dada wanita itu. Ada sebuah ganjalan yang tiba-tiba melintas di benaknya, sebuah ingatan tentang status Nadine yang seharusnya merupakan seorang ibu baru yang baru saja melahirkan.
"Ndin..." panggil Reyhan lirih, suaranya parau khas orang baru bangun tidur. Ia menyentuh lembut bahu Nadine, membuat wanita itu melenguh kecil sebelum akhirnya membuka mata dengan senyum manja yang langsung terbit di bibirnya.
"Eh, Mas... Sudah bangun?" bisik Nadine seraya bergelayut manja.
Reyhan tidak langsung membalas kemanjaan itu. "Ndin, aku mau tanya sesuatu. Kamu sekarang sudah tidak mengeluarkan ASI?"
"Iya, Mas. Maaf ya, ASI-ku cuma keluar seminggu pertama saja kemarin. Habis itu benar-benar mampet dan gak keluar lagi sama sekali. Makanya sekarang bayinya terpaksa full sufor."
Reyhan mengangguk-angguk paham. Ia mengusap kepala Nadine dengan lembut. Sebagai pria, ia memang pernah mendengar kasus-kasus seperti ini. Jangankan berkurang, ada bahkan beberapa wanita yang sama sekali tidak keluar ASI setelah melahirkan karena faktor stres atau hormon. "Oh gitu. Mungkin saja karena Aksara nggak lagi meminumnya, jadi berhenti. Maaf ya Ndine sudah memisahkanmu dengannya."
"Iya, Mas gapapa kok. Ini semua demi kamu."
Reyhan tahu waktu mereka sangat terbatas. Ia melirik jam dinding yang bahkan belum menunjukkan waktu subuh. Fajar belum menyingsing, dan ini adalah waktu yang tepat untuk menghapus jejak. Reyhan segera bangkit dari ranjang memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Aku mandi duluan ya, Ndin. Mandinya di kamar ini saja biar cepat. Kamu mandinya nanti saja belakangan, pas aku sudah selesai dan kembali ke kamar utama."
Nadine merengut kecewa, namun ia tidak bisa membantah.
Sebelum benar-benar membuka pintu kamar tamu untuk mengendap-endap keluar, Reyhan berbalik dan memberikan pesan penting.
"Satu lagi, Ndin. Nanti kalau kamu keluar dari kamar setelah mandi, pastikan rambutmu sudah benar-benar kering, ya. Pakai hairdryer. Jangan sampai basah atau kelihatan lembap. Kita harus hati-hati, jangan sampai menimbulkan kecurigaan Xena kalau kita kedapatan sama-sama habis keramas di waktu yang bersamaan."
"Padahal, Mas, tadinya aku berniat bangun lebih awal pagi ini. Aku mau ke dapur, buatkan sarapan yang enak untuk kamu dan juga untuk Mbak Xena sebagai tanda terima kasihku karena sudah ditampung di sini."
Reyhan langsung menggeleng. "Tidak usah, Ndin. Jangan aneh-aneh. Nanti biar aku saja yang siapkan sarapan atau urus dapur."
"Ya sudah kalau begitu," jawab Nadine mengalah. "Tapi Mas kalau boleh request, aku sedang ingin sekali makan menu sarapan yang itu... tahu kan? Yang waktu itu pernah kamu ceritakan kalau resepnya punya Mbak Xena dan rasanya enak sekali. Aku mau sarapan itu, Mas."
Reyhan terdiam bentar. Pikirannya berputar memikirkan risiko dan kecurigaan yang mungkin timbul jika ia tiba-tiba meminta menu spesifik tersebut kepada istri pertamanya. Namun melihat tatapan memohon Nadine, Reyhan akhirnya menjawab pendek, "Ya sudah, lihat nanti saja."
Setelah membersihkan diri dengan kilat dan memastikan rambutnya kering sempurna, Reyhan melangkah dengan percaya diri menuju kamarnya. Ketika pintu dibuka, pemandangan di dalam kamar langsung menyambutnya. Rupanya Xena sudah terjaga. Wanita itu sedang duduk di tepi ranjang, dengan telaten mengurus Aksara yang menggeliat pelan.
Reyhan mendekat, membungkuk sedikit untuk mendaratkan ciuman lembut di pipi gembul Aksara. "Anak Papa sudah bangun ternyata."
Reyhan kemudian menatap Xena, "Sayang, biar aku saja yang mandikan Aksara pagi ini. Kamu jangan terlalu capek urus Aksara sendirian, ya. Kita bagi dua tugas ini mulai sekarang."
Mendengar kalimat manis itu keluar dari mulut suaminya, dalam hati, Xena mengulang kalimat itu dengan nada mengejek yang luar biasa sinis. Kiti bigi dii tigis ini...Cih, bajingan, batin Xena. Menjijikkan sekali berpura-pura menjadi suami siaga setelah semalam mengunci istrinya sendiri demi berkuda dengan wanita lain.
"Ya sudah kalau begitu, kamu yang mandikan Aksara. Aku mau ke dapur dulu, bikin sarapan." Kata Xena.
Mendengar kata sarapan, mata Reyhan langsung berbinar. Ini adalah kesempatan emas untuk memenuhi permintaan Nadine tanpa harus bersusah payah.
"Eh, Sayang. Kalau boleh, pagi ini aku ingin sekali makan menu yang itu... resep andalanmu." Reyhan menyebutkan menu spesifik yang diminta Nadine tadi.
Xena menoleh dengan sebelah alis terangkat. "Tumben? Bukannya kamu biasanya kurang suka dengan menu itu karena menurutmu terlalu repot memakannya?"
Reyhan tersenyum kikuk, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ah, masa sih? Gak tahu kenapa, pagi ini aku lagi kepengin sekali makan itu. Tiba-tiba ngidam rasanya."
"Ya sudah, aku buatkan."
Sebelum Xena benar-benar hilang di balik pintu, Reyhan menambahkan lagi alasan penguat agar permintaannya tidak terlihat mencurigakan. "Oh iya, sekalian buat porsi lebih ya, Sayang. Soalnya kemarin Mama sempat bilang kalau dia juga lagi kepengin menu itu. Nanti biar sekalian aku kirimkan atau bawakan untuk orang tuaku."
"Iya," jawab Xena singkat lalu melenggang pergi menuju dapur.
Begitu Xena tidak terlihat lagi, Reyhan langsung meraih ponselnya dengan cepat.
Reyhan: Ndin, Xena sedang memasak menu yang kamu minta tadi di dapur. Nanti kamu makan saja ya, sudah aku mintakan.
Tidak butuh waktu lama, sebuah balasan masuk.
Nadine: Wah, benarkah? Terima kasih banyak ya, Mas. Kamu memang suami terbaik. Gak sabar mau makan.
Aroma masakan menguar. Reyhan yang sudah rapi mengenakan pakaian kerja melangkah menuju meja makan bersama Nadine yang juga sudah keluar dari kamarnya, tentu saja dengan rambut yang sudah kering sempurna sesuai perintah.
Namun ketika keduanya tiba di meja makan, dahi mereka seketika mengernyit. Di atas meja hanya terhidang air putih, piring kosong, dan beberapa potong roti tawar. Menu spesifik yang dijanjikan sama sekali tidak tampak di sana.
Reyhan celingukan menatap Xena yang baru saja meletakkan teko air. "Lho, Sayang, menu request-an aku mana? Kok tidak ada di meja?" tanya Reyhan kebingungan. Nadine di sampingnya juga memandang Xena.
Xena menepuk dahinya, "Oh! Ya ampun, aku kira menu itu mau kamu buat bekal makan siang di kantor sekalian buat dibawa ke rumah Mamamu. Makanya tadi langsung aku packing rapi di dalam box makanan dan aku masukkan ke dalam tas bekalmu."
Xena bergerak hendak mengambil tas kerja Reyhan. "Aduh, maaf ya. Ya sudah, biar aku bongkar dulu box-nya sekarang ya, biar bisa dimakan di meja sini."
"Eh! Jangan! Jangan dibongkar!" potong Reyhan dengan cepat.
Dalam hatinya, Reyhan langsung berpikir cepat. Kalau menu itu dibongkar di meja makan ini, posisinya akan sangat canggung untuk membaginya kepada Nadine secara terang-terangan di depan Xena. Akan jauh lebih mudah dan aman jika makanan itu tetap berada di dalam box bekal miliknya. Nanti ia tinggal memberikan box itu secara diam-diam kepada Nadine di luar rumah tanpa sepengetahuan Xena.
"Gak usah dibongkar, Sayang. Repot lagi nanti. Ya sudah, tidak apa-apa kalau sudah di-box. Biar aku bawa ke kantor saja untuk makan siang."
Xena hanya mengangguk patuh, "Ya sudah kalau begitu."
Di bawah meja, tangan Reyhan kembali bergerak cepat di atas layar ponselnya, mengirim pesan rahasia kepada Nadine yang duduk tak jauh darinya.
Reyhan: Ndin, nanti kita ketemuan di area belakang luar pagar setelah aku pamit kerja. Aku tunggu di dalam mobil yang agak jauh dari gerbang. Kamu ambil box makanannya di sana, ya.
Nadine membalas,
Nadine: Siap, Mas.
Setelah selesai menghabiskan sisa sarapan seadanya, Reyhan segera berpamitan. "Sayang, aku berangkat kerja dulu ya," pamit Reyhan pada Xena, lalu mencium kening istrinya seperti biasa.
Tak lama setelah mobil Reyhan keluar dari pagar rumah, Nadine juga segera bersuara. Ia terkesan buru-buru. "Mbak Xena, aku pamit ke warung depan sebentar ya. Mau beli keperluan yang mendesak."
"Iya, silakan."
Nadine berjalan dengan langkah cepat dan riang menuju area sepi yang agak jauh dari rumah, tempat mobil Reyhan terparkir di bawah pohon rindang. Adrenalinnya terpacu, merasa sangat puas karena berhasil mengelabui istri pertama lagi.
Sampai di sana, Nadine langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Reyhan sudah menunggu di sana dengan sebuah box makanan berukuran cukup besar di tangannya.
"Ini, Ndin. Cepat ambil," kata Reyhan sambil menyerahkan box itu.
Nadine menerima box tersebut dengan senyum lebar. Sebelum keluar dari mobil, ia sengaja meraih tangan Reyhan, mencium punggung tangan suaminya itu lalu memberikan kecupan manja di pipi Reyhan. "Makasih ya, Mas."
"Ingat ya, Ndin. Makannya jangan sampai kelihatan Xena kalau kamu sudah kembali ke rumah nanti. Sembunyikan dengan baik."
"Iya, Mas. Tenang saja, aku tahu apa yang harus aku lakukan."
Namun di dalam hati Nadine, ia justru merencanakan hal yang sebaliknya. Malah sengaja mau makan di ruang tengah, biar Xena lihat.
Nadine kembali ke rumah Reyhan. Disana ia cepat membuka box makanan tersebut, dan menikmatinya dengan santai.
Ceklek!
Tutup box makanan itu terbuka lebar.
Senyum penuh kemenangan di wajah Nadine seketika lenyap. Matanya melotot menatap isi di dalam box tersebut.
Bersambung.