Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : SAKSI-SAKSI YANG DIBELI HARGA
...BAB 14...
...SAKSI-SAKSI YANG DIBELI HARGA...
Tinggal lima hari lagi menuju hari akad. Langit sore itu berwarna kelabu pekat seolah menahan hujan yang belum mau turun, sama seperti ketegangan yang pelan‑pelan menumpuk makin tebal di udara. Di tempat‑tempat berbeda jauh dari keramaian, jauh dari pandangan siapa pun yang mengenal keluarga Bu Kirana, Arka bergerak sendirian langkah demi langkah. Semalam dia sudah menentukan titik lemah paling dalam dari diri Alina, agama yang dia pegang teguh dan kehormatan yang dia jaga mati‑matian, apalagi mengingat dia hanya anak tiri yang berjuang belasan tahun membuktikan kesetiaan hatinya. Malam ini dan sepanjang hari ini dia menyelesaikan pondasi paling penting agar serangan itu nanti benar‑benar mematikan dan sulit dibantah sedikit pun, menyiapkan saksi‑saksi bayangan, orang‑orang yang sama sekali tidak dikenal dekat sebelumnya, namun kini sudah diikat erat dengan satu hal paling mampu membungkam hati nurani manusia 'uang'.
Dia tidak pernah bertemu mereka sekaligus. Itu aturan pertama yang dipegang teguh. Tidak pernah lebih dari satu orang dalam satu pertemuan, tempat selalu berganti, sudut kota sepi, warung kecil pinggir jalan jarang dilalui orang, bangku taman di ujung nyaris tak terjamah pengunjung. Tidak pernah transaksi lewat rekening bank, tidak ada pesan tertulis jelas, tidak ada rekaman suara yang bisa dijadikan bukti. Semuanya dilakukan cara paling kuno sekaligus paling sulit dilacak. berhadapan muka, bicara pelan, uang diserahkan langsung tunai dilipat rapi di dalam amplop cokelat polos tanpa tulisan apa pun. Arka belajar sejak lama, jejak digital bisa dicari, bisa dipulihkan walau sudah dihapus seribu kali. Tapi kesepakatan dua orang di tengah kesunyian yang hanya diikat janji dan uang, hampir tidak pernah bisa dibuktikan keberadaannya.
Orang pertama ditemui adalah Suryo, laki‑laki paruh baya bertahun‑tahun jadi tukang parkir tidak resmi di kawasan perkantoran tempat Alina bekerja. Arka tahu lelaki itu terlilit utang besar biaya pengobatan anak bungsu sakit keras, setiap hari pulang dengan wajah cemas memikirkan dari mana lagi cari uang. Pertemuan berlangsung singkat di bawah pohon rindang nyaris tak ada orang lewat. Arka tidak berputar‑putar. Disodorkan amplop berisi separuh jumlah disepakati, lalu diceritakan apa yang harus diucapkan nanti, hampir setiap sore sering sampai larut, dia melihat Alina turun dari mobil mewah dikemudikan laki‑laki asing, berjalan berduaan terlalu akrab, kadang sampai berpelukan di tempat agak tertutup.
“Kamu cuma perlu bicara apa yang saya katakan ini dengan tenang, seolah benar‑benar melihat sendiri,” ucap Arka pelan tapi tegas, mata menatap tajam ke manik mata lelaki itu. “Nanti di hari sudah ditentukan, kamu dipanggil, ceritakan saja persis begitu. Tidak lebih tidak kurang. Setelah selesai separuh sisanya ada di tanganmu. Cukup lunasi seluruh utang dan biaya pengobatan anakmu sampai sembuh. Tapi ingat, kalau berubah cerita atau bocor ke siapa pun sebelum waktunya, uang ini kembali dua kali lipat, dan urusanmu dengan penagih utang itu — saya pastikan makin runyam.”
Suryo memegang amplop dengan tangan gemetar. Hati nurani berontak, dia tahu wanita itu selalu menyapanya dengan ramah, sering memberi uang lebih saat membayar parkir. Tapi bayangan wajah anak terbaring lemah di rumah sakit lebih kuat dari segalanya. Dia mengangguk pelan. Saksi pertama terkunci.
Orang kedua adalah Rina, mantan staf administrasi kantor yang sama diberhentikan setahun lalu karena kelalaian berat dan sejak itu sulit dapat pekerjaan layak. Ditemui di warung kopi kecil pinggir jalan raya sepi. Bagian Rina menguatkan dari sisi pekerjaan sekaligus akhlak, dia akan bersumpah seolah selama berdampingan dulu sering melihat Alina menyembunyikan data, memalsukan tanda tangan, dan yang paling menyakitkan — berpura‑pura saleh, selalu pakai pakaian tertutup rapat membawa Al‑Qur’an ke mana‑mana, padahal di balik itu bicara kasar, bergunjing, berani melanggar hal‑hal dilarang agama, dan kesemuanya itu dilakukan semata‑mata supaya terlihat pantas disayang Bu Kirana padahal dia cuma anak tiri. Uang diterimanya cukup buka usaha kecil sendiri, sesuatu yang diimpikan bertahun‑tahun tak pernah tercapai. Dendam lama pada kantor yang memecat membuatnya mudah melupakan rasa bersalah.
Ketiga, keempat sampai kelima. Ada penjual jajanan pasar setiap hari lewat depan rumah Bu Kirana, akan bersaksi sering melihat Alina menerima tamu laki‑laki sendirian di rumah saat ibunya pergi. Ada pemuda pengantar barang bercerita soal pesanan aneh dan panggilan telepon terdengar tidak pantas. Ada mantan teman satu sekolah sudah lama tidak berhubungan, disewa hanya mengatakan sejak muda Alina dikenal suka berpura‑pura baik padahal hatinya lain. Masing‑masing punya masalah sendiri, masing‑masing punya harga pas di kantong Arka, semuanya sudah diberi naskah pendek dihafal luar kepala, kalimat tidak terlalu sempurna, ada bagian dibuat agak samar, justru agar terdengar lebih nyata, lebih meyakinkan, seolah benar‑benar keluar ingatan orang biasa, bukan dibacakan tulisan.
Arka mengatur semuanya sampai detail terkecil. Diajari kapan berhenti bicara, kapan terlihat ragu‑ragu, kapan menunduk seolah berat sekali mengucapkannya, bahkan nada suara yang harus dipakai. Satu hal yang selalu ditekankan berulang kali 'Jangan pernah menyebut namaku'. Bagi dunia luar mereka semua orang biasa yang kebetulan melihat, kebetulan tahu, akhirnya memberanikan diri bicara karena tidak tega melihat nama baik orang tertutupi kebohongan. Tidak ada yang tahu disewa. Tidak ada yang tahu ada otak di balik semua itu. Bagi mata awam kesaksian mereka bertemu di satu titik sama, saling menguatkan satu sama lain hingga membentuk gambaran utuh seolah mustahil dibantah. Alina bukan wanita saleh menjaga diri seperti diketahui semua orang selama ini. Itu semua hanyalah topeng sangat rapi yang dipakai bertahun‑tahun demi diterima sepenuhnya di keluarganya.
Siang itu di sela‑sela kegiatannya membantu Bu Kirana melipat kain‑kain hantaran, Arka sempat mendengar lewat telepon Farhan kembali bicara nada lelah pada seseorang, bilang jejak yang dicari kembali lenyap begitu saja, kembali buntu total di tengah jalan. Arka hanya tersenyum tipis sambil menunduk merapikan sulaman bunga. Dia tahu persis kenapa Farhan tidak pernah menemukan apa‑apa. Karena yang dicari Farhan hanya berkas dan data. Padahal senjata sesungguhnya yang disiapkan Arka bukan ada di dalam sistem komputer atau lemari arsip, melainkan ada di mulut‑mulut orang yang sudah dibeli kesetiaannya dengan uang tunai. Sesuatu sama sekali tidak terduga siapa pun.
Hanya satu hal kecil sempat lewat di benaknya sebentar, kabar Dimas, adik tiri Alina dan anak kandung satu‑satunya Bu Kirana, akan mendarat besok pagi dari Madinah. Tapi Arka hanya menggeleng pelan dalam hati. Bagaimanapun juga gunanya seseorang datang dari seberang lautan, kalau lima orang saksi berbeda latar belakang sudah berdiri tegak dengan cerita saling mengisi menguatkan? Apalagi dia sudah menanam benih sangat dalam di hati Bu Kirana, bahwa segala kejanggalan itu muncul karena Alina selama ini memendam perasaan dan tekanan batin akibat posisinya mungkin hanya anak tiri Bu Kirana. Uang sudah berpindah tangan. Janji sudah diikat. Saksi‑saksi bayangan itu sudah siap muncul kapan saja dia beri isyarat. Rencananya kini sempurna sembilan puluh sembilan persen.
Malam harinya saat kembali ke kamarnya dan mengunci pintu rapat‑rapat, Arka menghitung kembali daftar nama di secarik kertas kecil, lalu membakarnya sampai habis jadi abu dibuang ke saluran air. Tidak ada lagi bukti tertulis. Semuanya tersimpan hanya di ingatan.
Di kamarnya Alina terbangun mendadak dari tidur dengan jantung berdebar hebat, keringat dingin membasahi punggung. Dia tidak tahu mengapa. Sama sekali tidak menyadari bahwa di luar sana jaring‑jaring yang akan menjerat nama baik, iman, dan kehormatannya — satu‑satunya modal berharga yang dia bawa selama belasan tahun menjadi bagian dari keluarga ini — baru saja dirajut sampai ke simpul terakhirnya, oleh tangan orang yang setiap hari disambut ibunya dengan senyum hangat dipanggil anak sendiri.
Bersambung....
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏