Pangeran Nicholas Veer Ralph, putra bungsu dari Raja Luther pemimpin Kerajaan Tharvis, terkenal sebagai seorang yang angkuh, pemarah, dan pemberontak. Bahkan reputasinya sebagai seorang pemain wanita telah tersebar luas di seluruh negeri. Sikapnya yang sangat berbeda dari kedua saudara kandungnya membuatnya menjadi sorotan. Demi mengubah perilakunya, Raja Luther berencana menjodohkannya dengan Putri Madeleine, dengan harapan bahwa pernikahan akan membawa perubahan. Namun, Nicholas menolak dengan keras dan malah mencari pasangan yang bisa dia kendalikan. Dalam pencariannya, Nicholas bertemu dengan Anastasia Rosalie, seorang perempuan baik hati dan lembut dari kalangan bawah. Dia menjebak Anastasia agar mau menikah dengannya untuk memenuhi ambisi pribadi, tanpa memikirkan konsekuensi yang mungkin akan terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon micemicu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bujuk Rayu
...⚜️⚜️⚜️...
Stephen dan Sir Gobin yang menyaksikan bagaimana Nicholas menarik Anastasia sedikit kasar hanya bisa diam terpaku, tidak memiliki hak atau kuasa untuk mencampuri urusan internal sang pangeran selain membungkuk hormat saat Nicholas membawa paksa Anastasia meninggalkan area istal.
"Nicholas, pelan-pelan.. Aku tidak bisa menyamai langkah kakimu jika secepat ini," keluh Anastasia kepayahan, mencoba mengimbangi langkah lebar suaminya sementara pergelangan tangannya mulai terasa sedikit berdenyut nyeri akibat cengkeraman Nicholas yang terlampau kuat.
Setelah tiba di sudut lorong paviliun sepi yang jauh dari jangkauan publik, Nicholas akhirnya melepaskan pegangannya dengan gusar. Wajah tampannya tampak memerah, menahan letupan emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.
"Jadi, begini caramu menyambut suamimu yang baru pulang dari perburuan panjang, hah?!" cecarnya ketus.
"Aku... aku sama sekali tidak tahu kalau kau akan kembali hari ini, Nicholas," jawab Anastasia membela diri, menatap suaminya dengan pandangan bingung.
"Jadi karena kau tidak tahu, kau merasa bebas untuk bersenang-senang dan mencari perhatian dari pria lain di istal itu?!"
Anastasia terkejut mendengar kalimat itu.
"Bukan begitu maksudku. Jangan salah paham, Nicholas. Aku ke sana murni hanya karena ingin belajar berkuda karena merasa bosan, dan lagipula aku tidak hanya berdua dengan Stephen. Ada Sir Gobin dan Kesatria Eilish juga di sana yang menemani," tutur Anastasia berusaha meredakan ketegangan.
"Kau sudah pintar membalas ucapanku sekarang, ya?" Nicholas mendengus sinis, memalingkan wajahnya sejenak demi mengatur napasnya yang memburu. Egonya sebagai seorang pria terluka melihat istrinya tampak begitu akrab dengan orang-orang dari kubu saingannya. Apalagi dengan pria.
"Aku tidak suka melihatmu berdekatan atau berbicara lagi dengan Stephen dan Eilish mulai hari ini. Paham?!" titih Nicholas dengan tegas, tak ingin dibantah.
"Tapi kenapa? Mereka bersikap sangat baik dan sopan kepadaku—"
"Aku bilang diam, Anastasia! Cukup turuti perintahku dan jangan membantah! Aku tidak suka istrinya suka memprotes suaminya," potong Nicholas dengan kerutan dalam di dahinya, suaranya naik satu oktav penuh penekanan.
Anastasia akhirnya memilih untuk bungkam, menyadari bahwa berdebat dengan Nicholas yang sedang diselimuti kabut amarah tidak akan membuahkan hasil apa pun. Ia tidak ingin memicu pertengkaran yang lebih besar, terlebih di hari pertama kepulangan suaminya. Mengalah dirasanya jauh lebih bijak daripada harus terjebak dalam perang dingin yang melelahkan.
"Kau paham atau tidak?" desak Nicholas lagi, menuntut jawaban.
"Iya, aku paham. Asalkan kau tidak membentakku lagi," sahut Anastasia dengan nada suara yang teramat lembut.
Ia melangkah maju satu tapak, dengan berani mengulurkan tangannya untuk menggandeng jemari kokoh Nicholas yang masih mengepal. Sentuhan hangat dan lembut dari jemari Anastasia seketika mengirimkan desiran asing yang aneh ke seluruh tubuh Nicholas.
Sialnya, kemarahan yang tadinya membakar rongga dada sang pangeran mendadak mengempis begitu saja akibat sentuhan kecil itu. Ada sisi di dalam diri Nicholas yang selalu mendambakan kelembutan wanita ini, meski egonya yang setinggi langit menolak keras untuk mengakuinya.
Nicholas mengembuskan napas panjang, sengaja memalingkan wajah dan melipat kedua tangannya di depan dada demi menyembunyikan rona tipis yang mendadak menyerang paras tampannya. Ia ingin tetap terlihat tegas dan berwibawa, enggan dicap terlalu mudah luluh.
"Kau benar-benar menyebalkan, Anastasia," gerutu Nicholas, meskipun kini nada suaranya sudah kembali normal walau wajahnya masih ditekuk masam.
"Maafkan aku, Nicholas," ucap Anastasia lembut sembari mengusap perlahan lengan suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Harusnya... saat aku pulang berburu, kau sudah bersiap menyambutku di paviliun dengan menyediakan tiga butir telur rebus setengah matang," gumam Nicholas dengan bibir yang sedikit dimajukan, terdengar merajuk.
Anastasia tertegun sejenak mendengarnya. Ia sungguh tidak tahu-menahu mengenai kebiasaan khusus Nicholas yang selalu menyantap menu tersebut setiap kali pulang dari Hutan Barat. Namun, melihat perubahan drastis suaminya yang tadinya menggelegar kini justru berubah menyerupai anak kecil yang sedang ngambek karena kekurangan perhatian, Anastasia harus sekuat tenaga menahan senyum gelinya.
"Baiklah, aku berjanji akan menyediakannya untukmu lain kali. Bagaimana kalau sekarang aku yang menemanimu ke dapur untuk membuatnya? Ayo," ajak Anastasia manis, mencoba menarik jemari Nicholas kembali.
"Tidak mau. Aku sudah kehilangan selera," tolak Nicholas ketus, sengaja menjual mahal dan membuang muka, benar-benar bertingkah kekanakan demi memancing perhatian lebih dari sang istri.
Melihat tingkah laku suaminya yang menggemaskan di balik topeng angkuhnya, Anastasia memberanikan diri untuk melangkah maju dan melingkarkan kedua lengannya di sekeliling pinggang tegap Nicholas, memeluk pria itu dengan hangat.
Nicholas seketika mematung di tempatnya. Jantung di balik rongga dadanya mendadak berdegup dengan tempo yang teramat tidak beraturan, berdentum keras hingga ia takut Anastasia bisa mendengarnya.
Sial, ada apa dengan tubuhku ini? rutuk Nicholas panik dalam hati, berusaha sekuat tenaga mempertahankan ekspresi wajahnya agar tetap datar dan dingin di bawah rengkuhan hangat sang istri.
"Maafkan aku, ya?" bisik Anastasia lembut tepat di depan dadanya.
Nicholas bergeming, menggelengkan kepalanya perlahan demi menjaga harga dirinya yang tersisa. "Aku masih kesal padamu. Jangan berpikir kau bisa lolos begitu saja hanya dengan pelukan seperti ini, Stasia."
Anastasia perlahan mengurai pelukannya, menatap wajah Nicholas dengan binar jenaka yang tertahan. "Lalu, hukuman apa yang harus kulakukan agar suamiku yang tampan ini mau memberikan maafnya, hm?" godanya kecil.
Nicholas menatap lurus ke dalam manik mata Anastasia. Sial, istrinya ini rupanya sudah mulai berani menggodanya secara terang-terangan.
“Kau harus menciumku di sini... yang lama, sampai aku merasa puas," sahut Nicholas seraya mengetuk pelan permukaan bibirnya sendiri dengan ekspresi menuntut yang dibuat-buat, yakin bahwa Anastasia yang pemalu akan menolak idenya.
Cup.
Di luar dugaan Nicholas, Anastasia justru maju selangkah tanpa keraguan, menempelkan belahan bibirnya di atas bibir Nicholas, memberikan sebuah kecupan manis yang hangat dalam durasi yang cukup lama.
Detik itu juga, giliran Nicholas yang dibuat terpaku dan kehilangan kata-kata dengan wajah yang mendadak memanas sempurna. Mengapa skenarionya mendadak berbalik seperti ini? Seharusnya ia yang memegang kendali sebagai pihak yang ingin dirayu, namun pesona alami Anastasia seolah memporak-perandakan seluruh pertahanan logikanya dengan begitu mudah.
Wanita ini benar-benar menyimpan daya pikat yang berbahaya bagi kewarasannya. Namun, Nicholas harus mengakui, ia selalu menyukai tantangan yang berbahaya.
Nicholas berdeham pelan untuk menutupi kegugupannya yang memuncak. "Ehem... baiklah, untuk kali ini saja aku memaafkan kesalahanmu," ujarnya berusaha terdengar berwibawa kembali. "Namun ingat, jika di kemudian hari kau mengulangi kesalahan yang sama atau berani mengabaikan perintahku lagi, hukumannya akan berlipat ganda. Kau harus menciumku sebanyak tujuh kali tepat di hadapan banyak orang. Mengerti?"
"Iya, Pangeranku yang cerewet. Aku mengerti," sahut Anastasia pasrah seraya tersenyum manis, memilih untuk mengalah daripada harus memicu rentetan omelan manja Nicholas yang tidak kunjung usai.
Rasa lega yang teramat besar seketika membuncah di dalam dada Nicholas. Dengan gerakan natural, ia segera meraih pergelangan tangan Anastasia, menautkan jemari mereka dengan erat, lalu menuntun sang istri berjalan beriringan masuk kembali menuju area dalam istana.
Sungguh sebuah keajaiban, hanya dalam hitungan menit, kabut gelap di hatinya sirna tak berbekas, digantikan oleh kehangatan yang memenuhi seluruh relung sukmanya.