Dunia yang tidak hanya dihuni oleh manusia, kini juga terdapat "Astra" yang dapat membantu setiap orang mencapai kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERCABANGAN DI BALIK PESTA
Matahari pagi Hari ke-8 bersinar cerah di atas Grand Ballroom Markas Besar Akademi Astra Nusantara. Riuh rendah tepuk tangan bergemu membahana saat upacara formal penyerahan hadiah turnamen resmi dilangsungkan. Di atas panggung utama yang megah, layar holografis raksasa menampilkan rincian hadiah mutlak yang diperoleh oleh para pemenang puncak yang telah berhasil meruntuhkan dominasi faksi-faksi elit kaku.
Untuk Kategori Tim 2vs2, Arkan dan Sky melangkah maju menerima trofi emas murni beserta kristal energi tingkat tinggi sebanyak 50 unit dan tambahan 10.000 poin kontribusi militer yang langsung ditransfer ke dalam kartu identitas taktis mereka. Sementara untuk Kategori Solo 1vs1, penegasan hadiah diberikan secara terpisah untuk Juara 1 dan Juara 2. Sebagai Juara 1 Solo, Arkan mendapatkan 1 keping lencana akses eksklusif Sektor Liar Utara, kristal esensi petir murni sebanyak 20 unit, dan dana tunai beasiswa militer pusat sebesar 500.000.000 rupiah. Sky yang menduduki posisi Juara 2 Solo tidak pulang dengan tangan kosong; dia berhak menerima 1 keping lencana akses Sektor Liar Utara yang sama, 10 unit kristal esensi angin, serta dana pemulihan saku jiwa sebesar 250.000.000 rupiah.
"Gunakan hadiah ini dengan bijak, anak muda. Sektor Liar Utara bukan tempat untuk bermain-main," Marsekal Wirya berbisik tegas saat menjabat tangan Arkan dan Sky bergantian di atas panggung, menutup upacara formal pagi hari itu dengan penghormatan militer yang khidmat.
Waktu berputar cepat menuju malam hari. Tensi militer yang kaku di pagi hari mendadak berubah menjadi atmosfer kemewahan yang teramat elegan saat matahari tenggelam sepenuhnya.
Pesta perayaan kemenangan berskala besar diadakan langsung oleh Grandmaster Sora Skyborn. Bukan di kompleks akademi, melainkan di dalam Gedung Skyborn Pavilion—sebuah vila pencakar langit mewah berlantai 80 di pusat kota yang seluruh areanya telah disewa secara privat oleh Keluarga Utama Skyborn. Ribuan lampu kristal gantung memancarkan cahaya keperakan yang anggun, melintasi jajaran makanan mewah kelas dunia dan ratusan tamu undangan penting. Mulai dari para petinggi militer, perwakilan klan-klan internasional, hingga para Kontraktor legendaris ikut hadir.
Bahkan, sosok Grandmaster Joshua—sang Kontraktor Nirwana yang terkenal sangat tertutup dan benci acara formal—terlihat berdiri di sudut ruangan dekat balkon lantai 80, mengenakan kemeja batik hitam kasual sambil memegang segelas jus jeruk dengan santai.
Arkan berjalan melintasi aula pesta dengan seragam formal hitam tanpa lencana keluarga. Di sampingnya, Sky tampil memukau mengenakan gaun malam berwarna putih salju yang senada dengan warna jubah kakeknya. Bahu kanannya sudah pulih 100% sempurna berkat sisa khasiat ramuan Yggdrasil. Volt dan Zephyr sengaja diistirahatkan di dalam saku jiwa mereka masing-masing agar tidak memicu fluktuasi energi di tengah kerumunan orang penting.
"Kakekku benar-benar mengundang semua orang, Arkan," Sky berbisik pelan di samping Arkan, sesekali membalas sapaan anggun dari para tetua klan lain yang kini menatap mereka dengan pandangan penuh rasa hormat, jauh berbeda dari tatapan meremehkan di Hari 1 turnamen. "Bahkan para tetua Flamewing yang kemarin mengamuk pun terpaksa datang dengan wajah tersenyum malam ini."
"Politik klan selalu berubah mengikuti siapa yang memegang trofi tertinggi, Sky," Arkan menjawab dengan nada santai. Tatapannya mendadak terkunci pada sosok Grandmaster Joshua yang berada di dekat pintu balkon kaca besar.
Secara tidak terduga, Grandmaster Joshua menoleh ke arah Arkan, lalu memberikan isyarat kepala kecil yang menunjuk ke arah luar balkon seolah mengajak pemuda itu untuk memisahkan diri sejenak dari bisingnya musik pesta.
Arkan melirik Sky. "Aku keluar sebentar."
"Ouhh, oke. Jangan lama-lama, Arkan. Kakekku bilang dia ingin mengajakmu bersulang sebentar lagi," Sky mengangguk paham, membiarkan Arkan melangkah membelah kerumunan tamu undangan menuju ke arah balkon luar.
Begitu Arkan melangkah keluar melewati pintu kaca tebal, suara denting gelas dan musik klasik dari dalam ballroom mendadak senyap secara magis, diredam oleh dinding pelindung tak terlihat. Angin malam di lantai 80 berembus sangat kencang dan dingin, membawa pemandangan gemerlap lampu kota yang membentang luas seperti hamparan bintang di bawah kaki mereka.
Grandmaster Joshua berdiri bersandar pada pagar pembatas balkon, membiarkan rambut acak-acakannya ditiup angin malam. Pria yang memegang gelar salah satu manusia terkuat di benua ini menatap Arkan yang berjalan mendekat dengan tatapan mata yang penuh akan ketertarikan mendalam.
"70% resonansi petir murni tanpa merusak satu pun jaringan saraf di lengan kirimu saat melawan Ignis kemarin, Arkan," Grandmaster Joshua membuka obrolan tanpa basa-basi, suara santainya terdengar sangat berbobot di tengah deru angin malam. "Aku sudah memeriksa data medis rahasiamu dari tim militer sore tadi. Struktur saku jiwamu memiliki anomali adaptasi yang belum pernah kulihat selama 40 tahun aku hidup di dunia Astra ini."
Arkan menghentikan langkah manusianya tepat 2 meter di samping Grandmaster Joshua. "Saya hanya memanfaatkan saran aura statis yang Anda berikan di rumah sakit malam itu, Grandmaster."
"Saran yang kuberikan hanya teori dasar pelepasan katup tekanan, tapi kamu mengembangkannya menjadi sistem sensor frekuensi tinggi yang mampu meremukkan cangkang kuarsa Tora di semifinal Solo," Joshua tertawa kecil, meminum jus jeruknya hingga tandas. Pria tua itu kemudian membalikkan tubuh manusianya menghadap Arkan sepenuhnya. "Dengar, Arkan. Aku tidak peduli dari mana asal usulmu atau rahasia apa yang kamu sembunyikan di dalam saku jiwamu. Yang kutahu pasti, elemen petir murni di dalam tubuhmu adalah wadah mentah paling sempurna yang pernah kutemui."
Joshua menarik napas pendek, sepasang matanya mendadak memancarkan kilatan listrik putih yang murni dan sangat pekat dari dalam kornea matanya. "Berhubung salah satu dari 3 Astra milikku adalah Garuda Kilat Emas Level 85 yang berelemen petir murni, aku tidak ingin bakat anomalimu ini disia-siakan oleh kurikulum akademi yang lambat. Arkan... aku ingin menjadikanmu murid pribadiku secara langsung di luar jam sekolah."
Arkan sedikit tertegun mendengarkan tawaran tersebut. Menjadi murid pribadi seorang Kontraktor Nirwana setingkat Joshua adalah impian mutlak bagi seluruh petarung di dunia, sebuah hak istimewa yang bahkan tidak bisa dibeli dengan miliaran rupiah oleh klan besar sekalipun.
"Sebuah kehormatan besar, Grandmaster. Tapi, apa yang akan Anda ajarkan kepada saya yang tidak ada di dalam buku panduan akademi?" Arkan bertanya dengan nada tenang, mencoba menguji batasan pengetahuan pria di depannya.
Joshua tersenyum lebar, menyukai kelancangan taktis Arkan yang tidak langsung menerima tawarannya dengan mata buta. Pria tua itu melangkah mendekat, lalu meletakkan tangan kanannya di atas pundak Arkan. Seketika itu juga, seberkas pengetahuan spiritual dialirkan secara halus ke dalam saku jiwa Arkan, memicu bayangan visual kuno yang membuat Arkan terkesiap.
"Buku panduan akademi hanya mengajarkan cara menaikkan level Astra secara linear dari Level 1 hingga Level 100 seperti robot," Joshua berbisik dengan nada suara yang sarat akan rahasia tingkat tinggi. "Mereka tidak pernah memberi tahu para murid kelas bawah tentang apa yang terjadi ketika seekor Astra berada pada ambang batas Level 50."
Joshua menjeda kalimatnya sejenak, memberikan waktu bagi Arkan untuk mencerna aliran energinya. "Dengar baik-baik, Arkan. Begitu Astra milikmu menyentuh angka Level 50, struktur inti spiritual mereka akan mengalami mutasi evolusi besar. Di titik kritis itulah, kamu sebagai Kontraktor akan dihadapkan pada 2 Opsi Aliran Percabangan Elemen yang akan menentukan nasib tempur mereka selamanya."
Arkan mengerutkan alisnya. "Percabangan elemen?"
"Benar," Joshua mengangguk tegas. "7 elemen dasar yang ada saat ini hanyalah bentuk mentah. Di Level 50, elemen tersebut bisa dialihkan ke bentuk manifestasi sekunder yang jauh lebih spesifik dan mematikan. Sebagai contoh, pengguna Elemen Air murni di Level 50 memiliki 2 opsi: beralih ke aliran Es Mutlak yang memiliki atribut pembekuan partikel fisik, atau aliran Salju Jiwa yang berfokus pada ilusi dan pelemahan mental jarak luas."
Joshua menggerakkan jari telunjuknya, memercikkan setitik api kecil di udara. "Pengguna Elemen Api di Level 50 bisa memilih opsi aliran Magma Cair yang mengutamakan berat bobot pertahanan dan korosi tanah, atau opsi aliran Api Biru Plasma yang memiliki tingkat panas ekstrem menembus armor energi spiritual. Begitu pula dengan elemen Tanah yang bisa bercabang ke arah Logam atau Permata, dan elemen Angin milik Sky yang nantinya bisa memilih antara Angin Vakum Penghancur atau Angin Badai Atmosfer."
Arkan menelan ludah secara naluriah. "Lalu... bagaimana dengan elemen petir milik Volt?"
Mendengar pertanyaan itu, binar mata Joshua semakin menyala bersemangat. "Itulah alasan utama mengapa aku menginginkanmu menjadi muridku, Arkan. Elemen petir memiliki percabangan yang paling ekstrem dan berbahaya di antara 7 elemen lainnya di Level 50. Opsi pertama adalah beralih ke aliran Petir Penghancur Hitam—sebuah aliran yang membuang seluruh kecepatan fisik demi mendapatkan daya ledak destruktif murni yang mampu meratakan satu kota dalam sekali sambaran."
Joshua menepuk pundak Arkan sekali lagi dengan cukup keras. "Dan opsi kedua adalah aliran Petir Putih Ilahi—aliran yang memfokuskan seluruh energinya pada stimulasi saraf mutlak, kecepatan gerak yang menembus batas suara, dan regenerasi bio-elektrik sel tubuh manusia secara instan. Melihat gaya bertarung aura statismu saat ini, Volt milikmu ditakdirkan untuk mengambil jalur Petir Putih Ilahi. Dan di dunia ini, hanya aku satu-satunya orang yang memegang gulungan teknik kuno untuk menjinakkan aliran tersebut."
Penjelasan komprehensif dari Grandmaster Joshua membuka cakrawala baru yang sangat luas di dalam benak Arkan. Kubus logam hitam di dalam saku jiwanya mendadak bergetar halus, mengeluarkan resonansi hangat seolah menyetujui bahwa jalur Petir Putih Ilahi adalah kunci utama untuk membuka kunci rahasia masa lalunya yang terkunci.
Arkan menarik napas panjang, memantapkan hatinya. Dia mundur selangkah, lalu membungkuk hormat sedalam 45 derajat dengan penuh rasa takzim yang murni kepada pria tua di hadapannya.
"Saya, Arkan, bersedia menjadi murid pribadi Anda, Guru Joshua," ucap Arkan dengan nada suara yang sangat mantap dan sarat akan komitmen tinggi.
"Hahaha! Bagus! Sangat bagus!" Joshua tertawa puas, menepuk-nepuk punggung Arkan dengan sangat gembira hingga getaran listrik kecil sempat memercik di sekitar mereka. "Mulai besok malam, datanglah ke pondok latihan pribadiku di bukit belakang akademi setelah jam sekolah usai. Kita akan mempersiapkan Volt milikmu agar siap melakukan mutasi besar saat kalian berdua menjelajahi Sektor Liar Utara nanti."
Sebelum Arkan sempat menjawab, pintu kaca balkon kembali bergeser terbuka dari dalam. Sosok Grandmaster Sora Skyborn melangkah keluar bersama Sky yang membawa dua gelas minuman baru di tangannya.
"Joshua, kamu selalu saja mencuri aset muda klan lain di tengah pesta perayaan orang," Grandmaster Sora mendengus pelan namun dengan senyuman hangat yang terukir di bibir tuanya.
"Aku tidak mencurinya, Sora. Anak ini sendiri yang memilih untuk berjalan di bawah bimbinganku," Joshua menjulurkan lidahnya jenaka, mengabaikan status kebesaran Kepala Keluarga Skyborn dengan gaya santainya yang khas.
Sky berjalan mendekati Arkan, menyerahkan salah satu gelas jus buah ke tangan Arkan sambil meliriknya dengan binar mata abu-abu yang penuh rasa ingin tahu. "Kalian berdua membicarakan apa saja sejak tadi? Serius sekali tampaknya."
Arkan menerima gelas tersebut, meminumnya sedikit sebelum menatap Sky dengan seulas senyuman dingin namun penuh arti yang sangat puas. "Hanya pembicaraan kecil tentang apa yang menanti kita di atas Level 50 nanti, Sky. Bersiaplah, karena perjalanan kita ke Sektor Liar Utara setelah ini tidak akan menjadi petualangan yang biasa saja."
Sky tersenyum manis, mengangkat gelasnya tinggi-tinggi di bawah siraman cahaya lampu kristal malam itu. "Aku selalu siap untuk badai apa pun bersamamu, Arkan."
Di bawah langit malam lantai 80 yang megah dan gemerlap, keempat orang penting tersebut saling berdentingkan gelas, merayakan tidak hanya kemenangan turnamen yang telah usai dengan kejayaan ganda, melainkan juga merayakan lahirnya ikatan guru dan murid baru yang akan menjadi awal dari evolusi terbesar yang siap mengguncang dan meruntuhkan seluruh tatanan dunia Astra lama di masa depan yang baru.
pukul 12.00 Wib dan 15.00 Wib. Saran dan dukunganmu sangat membantu karya ini menjadi lebih baik!