Genre: Dark Romance / Reverse Harem / Thriller Psikologis.
Premis Utama: Althea, seorang gadis yatim piatu yang bekerja sebagai pengarsip dokumen kuno, terjebak di dalam "Septem Foundation"sebuah yayasan elit rahasia di bawah kendali tujuh pria berkuasa dan manipulatif yang terinspirasi dari pesona member BTS.
Kehadiran Althea di mansion tersebut ternyata bukan kebetulan, melainkan sebuah jaring laba-laba yang sudah disiapkan sejak lama. Ketujuh pria ini memiliki masa lalu kelam yang terikat dengan Althea, dan kini mereka bersaing secara dingin sekaligus obsesif untuk saling memperebutkan hak "memiliki" dirinya. Cinta mereka yang awalnya terasa seperti perlindungan mewah perlahan berubah menjadi sangkar emas yang posesif, berbahaya, dan mematikan.
Ketegangan psikologis saat Althea mencoba mengungkap misteri ingatan masa lalunya yang hilang, sembari bertahan hidup di antara dominasi, manipulasi, dan cinta gila dari tujuh pria
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaring Hoseok yang Menjerat Jimin (2)
Riak permusuhan antara Jin dan Suga pada hari Selasa telah menyisakan atmosfer abu-abu yang pekat di seluruh penjuru mansion Septem Foundation. Namun, bagi Althea, itu barulah permulaan dari simfoni kehancuran yang ia rancang sendiri.
Serigala-serigala itu terlalu kuat jika mereka berdiri bersama dalam satu kawanan; satu-satunya cara untuk menumbangkan mereka adalah dengan membuat mereka saling mengoyak leher satu sama lain.
Rabu pagi tiba dengan ketukan ritme yang berbeda. Hari ini adalah hari ketiga dalam siklus mingguan, hari di mana seluruh ruang gerak fisik dan visual Althea diserahkan sepenuhnya ke bawah kendali Jung J-Hope melalui gaun bersensor taktil yang mengerikan itu.
Sejak jam tujuh pagi, Althea sudah mengenakan gaun sutra tipis berwarna putih gading tersebut. Saat jemarinya meraba jahitan di bagian pinggang dan tengkuk, ia bisa merasakan suluran serat mikro yang elastis, siap mengirimkan stimulan kejut atau getaran sensoris yang terhubung langsung ke pusat data J-Hope.
Althea berdiri di depan cermin besar di paviliun kaca, menatap dirinya sendiri. Ia tahu bahwa di ruang kendali utama, J-Hope sedang memperhatikannya melalui puluhan layar monitor dengan secangkir kopi di tangannya.
"Selamat pagi, Althea-ku," suara renyah J-Hope bergema dari speaker kecil yang tertanam di kerah gaunnya. "Kau terlihat sangat siap hari ini.
Apakah kau ingin berjalan-jalan di taman mawar lagi? Atau kau ingin mengunjungi perpustakaan sayap barat?"
Althea mendekatkan jemarinya ke kerah gaun, berbicara langsung pada mikrofon tersembunyi di sana dengan nada suara yang sengaja dibuat terdengar ragu dan sedikit cemas.
"Tuan J-Hope... bolehkah aku meminta rute yang berbeda hari ini? Aku bosan dengan taman mawar. Aku ingin berjalan menyusuri selasar lantai dua, dekat ruang galeri kaca."
Di ruang kendali, gerakan tangan J-Hope yang hendak menyesap kopinya mendadak terhenti. Sepasang matanya yang tajam menyipit, menatap layar yang menampilkan koordinat denah mansion. Selasar lantai dua adalah area transisi, dan yang lebih penting, hari Kamis esok adalah area yang biasanya mulai disterilkan oleh Park Jimin untuk jadwal eksklusifnya.
"Selasar lantai dua?" J-Hope mengetuk-ngetuk jarinya di meja konsol.
"Area itu agak sepi hari ini, Althea. Kamera pengawas statis di sana sedang dalam pemeliharaan berkala oleh tim IT. Aku tidak bisa melihatmu secara visual dengan jernih, hanya bisa mengandalkan sensor taktil di gaunmu."
"Justru karena itu, Tuan J-Hope..." Althea berbisik, nadanya terdengar sangat intim dan penuh rahasia.
"Aku merasa tidak nyaman jika seluruh pelayan di taman terus menatapku. Di selasar lantai dua yang sepi, aku tahu hanya Kau yang bisa merasakan ku melalui gaun ini. Bukankah itu esensi dari hari Rabu kita?"
Kata-kata "hanya kau yang bisa merasakan ku" menghantam ego posesif J-Hope dengan telak. Senyuman cerah yang biasanya bertengger di wajah pria itu memudar, digantikan oleh kilatan obsesi yang gelap. Manipulasi Althea berhasil menyentuh rasa ingin memonopoli yang selama ini tertahan oleh aturan Protokol bersama.
"Baiklah," sahut J-Hope, suaranya memberat, kehilangan keceriaan palsunya.
"Buka pintunya. Melangkah lah ke selasar lantai dua. Aku akan menjagamu dari sini."
Althea melangkah keluar dari paviliun kaca dengan langkah kaki yang teratur. Sandal satinnya tidak mengeluarkan suara di atas karpet beludru tebal yang melapisi selasar lantai dua mansion.
Koridor panjang itu memang sepi, diselimuti oleh cahaya matahari pagi yang temaram yang menerobos masuk dari jendela-jendela busur bergaya gotik.
Saat ia berjalan, serat mikro di gaunnya mulai berdenyut halus, mengirimkan sensasi hangat di sepanjang tulang belakangnya. J-Hope sedang melacaknya, "menyentuhnya" secara digital dari ruang kendali jarak jauh.
Namun, Althea tidak berniat untuk sekadar berjalan-jalan. Ia tahu persis jadwal harian penghuni mansion'.
Jam sebelas siang seperti ini, Park Jimin biasanya akan melewati selasar ini setelah menyelesaikan rapat koordinasi dengan kepala pelayan di ruang sayap barat.
Tepat di kelokan koridor yang menghadap langsung ke taman dalam, siluet tegap Park Jimin muncul. Pria itu mengenakan kemeja sutra hitam dengan beberapa kancing atas yang terbuka, memamerkan kalung perak tipis yang berkilat.
Langkah kakinya yang anggun terhenti seketika begitu melihat sosok Althea berdiri di sana sendirian, tanpa pengawalan fisik Jungkook.
"Althea?" Jimin menaikkan sebelah alisnya. Sepasang mata bulan sabitnya berkilat terkejut, sekaligus dipenuhi oleh binar kesenangan yang tiba-tiba. Ia melirik jam tangan Rolex-nya. "Ini hari Rabu. Jadwal J-Hope-hyung. Kenapa kau berada di sini sendirian?"
Althea tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga ia bisa mencium aroma parfum maskulin Jimin yang manis namun mematikan.
Ia mendongak, menatap Jimin dengan tatapan mata yang penuh dengan kepasrahan yang dibuat-buat, namun sangat menggoda.
"Tuan Jimin..." Althea berbisik pelan. Ia tahu mikrofon di gaunnya menangkap suara ini, dan J-Hope di ruang kendali sedang mendengarkannya dengan napas tertahan.
Jimin, yang tidak tahu tentang percakapan rahasia Althea dan J-Hope sebelumnya, merasa bahwa Althea sedang sengaja mendekatinya di luar jadwal resmi. Ego kepemilikannya yang tinggi seketika tersulut.
Ia mengulurkan tangannya yang hangat, melingkari pinggang ramping Althea, dan menarik tubuh gadis itu hingga menempel pada dadanya.
"Kau sengaja mencari ku, hm?" Jimin berbisik rendah, suaranya serak dan penuh dengan kepuasan gila. Jemarinya mulai bergerak mengusap punggung Althea, tepat di atas jalur serat mikro gaun bersensor tersebut.
Seketika itu juga, di ruang kendali utama, alarm merah berkedip di layar monitor J-Hope. Sensor taktil di gaun Althea mendeteksi tekanan eksternal yang sangat spesifik sebuah sentuhan tangan manusia di area punggung dan pinggang. Melalui audio dua arah, J-Hope bisa mendengar suara napas Jimin yang dekat dengan Althea.
"Jimin! Lepaskan dia!" suara J-Hope mendadak menggelegar dari speaker kerah gaun Althea, memecah keheningan selasar dengan nada kemarahan yang luar biasa.
Suara itu begitu keras hingga membuat Jimin tersentak mundur satu langkah, namun tangannya masih mencengkeram lengan Althea.
Jimin menatap kerah baju Althea, lalu mendengus sinis. Ia tahu J-Hope sedang mengawasi dari balik layar komputer. bukannya takut, Jimin justru menarik Althea lebih dekat, menantang saudaranya melalui teknologi tersebut.
"J-Hope-hyung," sahut Jimin dengan nada meremehkan yang sangat kentara. "Kau mengawasinya seperti pengecut dari balik layar monitormu. Althea datang ke Selasar ku atas kemauannya sendiri. Dia tidak ingin dikendalikan seperti boneka mekanik oleh sensor Sialan mu ini."
"Aku bilang lepaskan tanganmu dari asetku, Park Jimin!" teriak J-Hope lagi, kali ini sistem gaun Althea bergetar hebat. Serat mikro di bagian lengan Althea mengencang, mencoba memaksa tubuh Althea untuk bergerak menjauh dari Jimin.
Rasa sakit yang cukup tajam mulai menjalar di pergelangan tangan Althea akibat remasan kain yang dikendalikan J-Hope dari jauh.
"Ah..." Althea merintih pelan, sengaja melebih-lebihkan rasa sakitnya agar Jimin mendengar.
"Tuan Jimin, sakit... Tuan J-Hope menarik ku terlalu keras melalui baju ini..."
Mendengar rintihan Althea, kemarahan Jimin langsung membubung ke ubun-ubun. Bagi Jimin, menyakiti fisik Althea bahkan jika itu dilakukan oleh member lain melalui alat pengawas adalah pelanggaran berat terhadap rasa memiliki yang ia miliki.
"Kau menyakitinya, Hyung!" bentak Jimin. Dengan satu sentakan tangan yang kuat dan kasar, Jimin mencengkeram bagian depan gaun Althea di dekat kerah, lalu merobek kain sutra tipis itu hingga terputus. KREK.
Kabel-kabel serat mikro yang sangat tipis di dalam jahitan gaun itu putus berantakan, memutuskan sambungan data dan aliran listrik statis secara paksa.
Suara J-Hope di speaker seketika mati, digantikan oleh bunyi dengung statis yang panjang sebelum akhirnya senyap total.
Di ruang kendali, layar monitor J-Hope yang menampilkan data biologis Althea mendadak berubah menjadi abu-abu dengan tulisan *CONNECTION LOST*. J-Hope berdiri dari kursi kerjanya dengan sentakan kasar hingga kursinya terguling ke belakang. Wajahnya memerah padam karena amarah yang tak terbendung. Jimin baru saja menghancurkan sistemnya, menghancurkan hak kepemilikannya di hari Rabu.
Di selasar lantai dua, Althea berdiri dengan gaun bagian atas yang robek, memperlihatkan bahunya yang putih mulus dan menyisakan beberapa helai benang serat mikro yang tergantung rusak.
Ia berpura-pura gemetar ketakutan, menutupi dadanya dengan kedua tangan, sementara matanya menatap Jimin dengan pandangan yang rapuh.
"T-Tuan Jimin... apa yang telah kau lakukan? Tuan J-Hope akan sangat marah..." cicit Althea.
Jimin tidak memedulikan gaun yang rusak itu. Ia melepaskan kemeja sutra hitam luarnya, menyisakan kaus dalam putihnya, lalu menyampirkan kemeja hangatnya yang beraroma pekat ke atas bahu Althea yang telanjang.
Ia memeluk Althea dengan sangat erat, menenggelamkan wajah gadis itu di dadanya.
"Jangan takut, Sayang. Aku di sini. Tidak akan ada yang bisa menyakitimu dengan alat-alat gila itu lagi," bisik Jimin, suaranya bergetar karena campuran antara amarah pada J-Hope dan rasa posesif yang meluap-luap pada Althea.
"J-Hope tidak berhak memperlakukanmu seperti robot. Hari ini... kau milikku. Persetan dengan Protokol hari Rabu."
Jimin kemudian mengangkat tubuh Althea ke dalam gendongannya, melangkah dengan terburu-buru menuju kamar pribadinya di sayap barat, mengabaikan seluruh aturan jadwal yang telah mereka sepakati bersama setahun lalu.
Dari balik pundak Jimin, Althea menyandarkan kepalanya dengan patuh. Namun, sepasang matanya yang terbuka tidak lagi memancarkan ketakutan. Ada kilatan kepuasan yang sangat dingin dan tajam di sana.
Jaring-jaring pengawas J-Hope telah putus, dan filter posesif Jimin telah terpicu hingga ke titik kegilaan. Dua penguasa Septem Foundation kembali terlibat dalam perang terbuka karena dirinya. Althea tahu, ketika J-Hope melangkah keluar dari ruang kendalinya dengan amarah yang membakar, dan ketika Jin serta Rm mengetahui bahwa Protokol bersama mereka telah dilanggar secara sepihak oleh Jimin, kedamaian palsu di mansion ini akan runtuh sepenuhnya.
Retakan itu kini telah melebar menjadi jurang kehancuran, dan Althea siap mendorong mereka semua ke dalamnya.
Bersambung~