NovelToon NovelToon
Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Neng tiya

Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.

Aku nggak sengaja di sini.

Klik.

"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"

Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.

Jantungku berhenti.

Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.

Kraaak.

"Menangkap."

Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sisi lain sang naga

Sinar matahari pagi berikutnya terasa lebih menyengat, perlahan mengusir kabut tebal yang semalam mengepung mansion. Namun, kehangatan itu tidak mampu menembus kamarku. Aku terbangun dengan posisi masih meringkuk di sudut dekat jendela. Seluruh tubuhku terasa kaku dan pegal, terutama tangan kananku yang kini tampak memerah dan sedikit bengkak di bagian buku jari.

Aku melirik jam di ponsel pemberian Axel.

Pukul 06.30 dengan sisa tenaga yang ada, aku memaksakan diri untuk bersiap. Aku tidak ingin mengulang kesalahan kemarin. Keterlambatan berarti hukuman, dan tubuhku tidak akan kuat menerima siksaan air es atau bentuk intimidasi lainnya lagi. Hari ini aku memilih kemeja satin lengan panjang berwarna biru pucat untuk menutupi memar di tanganku, dipadukan dengan rok hitam formal yang longgar.

Pukul 06.55, aku sudah melangkah menuruni tangga melingkar. Aula utama masih sepi, namun saat aku melangkah menuju ruang makan, langkahku mendadak terhenti di ambang pintu lorong belakang.

Suara deburan napas yang berat dan hantaman keras terdengar bergaung dari arah ruang olahraga terbuka yang bersebelahan dengan taman samping. Rasa penasaran mengalahkan rasa takutku. Aku berjalan perlahan, mengintip dari balik pilar marmer besar.

Di sana, di bawah sorot cahaya pagi yang membias di lantai ubin, Axel sedang berlatih tanding sparring dengan salah satu pengawal bertubuh raksasa.

Pria itu hanya mengenakan celana pendek hitam, bertelanjang dada, memperlihatkan bentuk tubuh atletisnya yang dipenuhi otot-otot kering yang kokoh. Namun, yang membuat napasku tercekat bukan hanya bentuk fisiknya, melainkan seluruh tubuh bagian belakangnya. Punggung lebar Axel dipenuhi oleh bekas luka sayatan panjang yang sudah mengering, bekas peluru yang menghitam, dan tato ular di lehernya ternyata menjalar turun, melilit sepanjang tulang belakangnya hingga hilang di batas celananya.

Brak!

Dengan satu gerakan memutar yang sangat cepat dan presisi, Axel berhasil menjatuhkan pengawal raksasa itu ke lantai hingga mengerang kesakitan. Peluh membanjiri tubuhnya, berkilau diterpa sinar matahari pagi. Dia mengambil handuk putih yang tergantung di tiang, mengusap wajah dan lehernya tanpa ekspresi, lalu meneguk sebotol air mineral hingga jakunnya naik turun.

Dia terlihat seperti mesin pembunuh yang sempurna. Namun, melihat deretan bekas luka di punggungnya, aku tersadar akan satu hal pria sekejam Axel Reynard tidak lahir begitu saja. Dia dibentuk oleh dunia yang penuh darah dan rasa sakit yang mungkin jauh lebih mengerikan dari apa yang kuhadapi sekarang.

"Berhentilah mengintip. Kau membuang waktu sarapanmu," suara berat Axel memecah lamunanku tanpa dia perlu menoleh ke arah pilarku.

Jantungku melompat, Aku segera memundurkan langkah, memosisikan diri di koridor dengan gugup. Axel berjalan keluar dari ruang olahraga, menyampirkan handuk di bahunya. Saat melewati tempatku berdiri, aroma keringat, sabun maskulin, dan hawa panas dari tubuhnya yang habis berolahraga menguar kuat.

Mata hitamnya melirik sekilas ke arah tangan kananku yang sengaja kusembunyikan di balik lipatan kemeja biru pucat. Dia tidak mengatakan apa-apa, langsung melangkah menuju kamarnya di lantai satu untuk membersihkan diri.

Sepuluh menit kemudian, kami sudah duduk berhadapan di meja makan panjang seperti biasa. Menu pagi ini adalah bubur ayam oriental dan teh hangat aku makan dalam keheningan, sebisa mungkin memegang sendok dengan tangan kiri agar tidak memperlihatkan tanganku yang bengkak.

Axel yang kini sudah rapi dengan kemeja flanel gelap yang lengannya digulung setengah, meletakkan koran bisnisnya dia menatapku lurus.

"Hari ini kau tidak ada jadwal kuliah sampai siang, kan?" tanyanya datar.

"I_iya, Tuan Axel. Kelas ku baru mulai jam satu siang nanti," jawabku lirih.

"Bagus. Bereskan makanmu Ikut aku ke ruang kerja setelah ini, Ada dokumen yang harus kau tanda tangani," perintahnya.

Aku mengangguk patuh, segera menghabiskan sisa buburku meski rasanya hambar di lidah. Begitu selesai, aku mengekor di belakang Axel menuju ruang kerjanya yang terletak di sayap timur lantai satu ruangan yang sama tempat dia membakar dokumen identitas semalam.

Ruangan itu dipenuhi oleh aroma buku tua, kayu jati, dan wiski. Axel duduk di balik meja kerja marmernya yang besar, sementara aku berdiri kaku di depannya seperti seorang pesakitan.

Dia mendorong sebuah map hitam ke hadapanku, bersama sebuah pulpen logam mewah.

"Buka dan tanda tangani di lembar terakhir," ucapnya.

Aku membuka map itu dengan tangan kiri, mencoba membaca baris demi baris tulisan di dalamnya. Itu adalah dokumen perjanjian resmi mengenai kontrak kerja sama selama enam bulan. Isinya menyatakan bahwa aku bersedia menjadi asisten pribadi dan perwakilan visual dari Yayasan Reynard, dan sebagai imbalannya, seluruh biaya kuliah, biaya hidup, serta jaminan keamanan panti asuhanku akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak yayasan. Tidak ada kata tawanan atau mafia di sana.

Semuanya dikemas dengan bahasa hukum yang sangat legal dan bersih.

Namun, mataku terpaku pada satu poin di bagian tengah dokumen Pihak Kedua Aira Pramesti wajib mematuhi seluruh instruksi personal dari Pihak Kesatu Axel Reynard tanpa pengecualian, dan jika terjadi pelanggaran, Pihak Kesatu berhak mengambil tindakan disiplin yang dianggap perlu.

Tindakan disiplin. Itu adalah bahasa halus dari siksaan yang kuterima semalam.

"Kenapa diam? Tanda tangani, Tanganku tidak punya banyak waktu untuk menunggumu melamun," desis Axel, bersandar pada kursi kerjanya sambil melipat tangan di dada.

Aku mengambil pulpen dengan tangan kananku yang memerah. Rasa ngilu langsung menusuk ketika jemariku dipaksa menggenggam batang pulpen yang keras. Aku mencoba menahannya, namun tanganku gemetar hebat, membuat pulpen itu tergelincir dari peganganku dan jatuh berdentang di atas meja marmer.

Aku memejamkan mata, bersiap menerima makian atau amarahnya karena lagi-lagi bertindak ceroboh.

Namun, keheningan yang mengikuti justru membuatku membuka mata kembali. Axel tidak membentak. Dia menatap pulpen yang terjatuh, lalu beralih menatap tangan kananku yang kini gemetar di atas meja.

Matanya yang hitam pekat menyipit samar, menatap buku-buku jariku yang membengkak akibat air es semalam.

Ada jeda beberapa detik di mana pria itu hanya diam, mengamati luka yang dia buat sendiri dengan tatapan yang sulit diartikan. Bukan tatapan puas, melainkan tatapan dingin yang dipenuhi oleh arti yang sulit di mengerti.

Axel berdiri dari kursinya dia berjalan memutari meja kerja, membuatku refleks mundur selangkah karena ketakutan. Namun, dia tidak berniat menyiksaku lagi pagi ini. Dia meraih pulpen yang jatuh, lalu menggenggam pergelangan tangan kananku dengan perlahan tidak kasar seperti semalam, melainkan sebuah pegangan yang kokoh namun hati-hati agar tidak menekan bagian yang bengkak.

"Tu_Tuan Axel..." suaraku bergetar, mencoba menarik tanganku kembali karena teringat aturan ketiga.

"Diam," potongnya dengan suara rendah yang serak.

Dia memaksa jemariku melingkari pulpen itu kembali, lalu tangan besarnya yang hangat membungkus seluruh punggung tanganku, menuntun gerakanku dari atas. Aku bisa merasakan detak jantungku menggila saat punggungku berjarak sangat dekat dengan dadanya. Kehangatan tangannya yang kontras dengan dinginnya kulitku semalam terasa seperti menyengat saraf-sarafku.

Dengan tuntunan tangan Axel yang besar dan kuat, pulpen itu bergerak di atas kertas, menggoreskan tanda tanganku di atas materai. Aira Pramesti Begitu tanda tangan itu selesai, Axel langsung melepaskan tangannya dengan cepat, kembali menjaga jarak mutlak di antara kami seolah-olah dia baru saja menyentuh sesuatu yang beracun. Dia berbalik, berjalan kembali ke balik meja kerjanya tanpa ekspresi.

"BARA!" panggilnya keras.

Pintu ruang kerja langsung terbuka, dan Bara melangkah masuk. "Iya, Tuan Muda?"

"Bawa gadis ini ke mobil. Dan berikan dia salep memar sebelum dia berangkat ke kampus. Aku tidak ingin orang-orang di kampus mengira aku memelihara barang yang cacat," ucap Axel dingin, matanya kembali fokus pada berkas-berkas di mejanya, mengabaikan keberadaanku sepenuhnya.

"Baik, Tuan Muda. Mari, Nona Aira," ajak Pak Bara.

Aku melangkah keluar dari ruang kerja dengan perasaan yang campur aduk. Sentuhan singkat di tanganku tadi... terasa begitu aneh. Axel Reynard adalah pria kejam yang mengurungku, pria yang semalam menyiksaku tanpa ampun, namun pagi ini, dia menuntun tanganku yang terluka untuk menuliskan keputusan yang mengikat seluruh hidupku bersamanya.

Aku tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh sang naga, tapi aku tahu, aku baru saja menandatangani surat penyerahan diriku ke dalam sangkar yang semakin hari terasa semakin mengikat erat.

1
Alia Chans
lanjut, like + 🌹✍️😉🤭


kalo berkenan mmpir juga thor😉
Ti Ara: siap kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!