Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berhasil
Mobil yang dikendarai Bayu melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.
Berbeda saat mengantar Felisyah tadi. Kala itu ia sengaja mengemudi pelan agar sang nyonya merasa lebih tenang. Namun kini, setelah berhasil mengantarkannya pulang dengan selamat, Bayu tak lagi menahan laju mobilnya.
Senyum tipis terus menghiasi wajahnya.
"Syukurlah... akhirnya Nyonya bersedia datang. Bos pasti senang mendengarnya," gumamnya dalam hati.
Entah mengapa, Bayu ikut merasa lega. Selama ini ia melihat sendiri bagaimana Garendra berjuang keras demi mendapatkan kepercayaan Felisyah.
Tak butuh waktu lama, mobil itu memasuki halaman sebuah gedung pencakar langit yang berdiri megah.
Gedung itu adalah perusahaan milik Garendra, kerajaan bisnis yang ia bangun dari kerja keras dan pengorbanannya selama bertahun-tahun.
Mobil berhenti.
Bayu segera mematikan mesin, lalu turun dengan tergesa-gesa. Langkahnya lebar, hampir setengah berlari menuju pintu masuk.
Ia sudah tidak sabar ingin menyampaikan kabar itu langsung kepada sang bos.
"Bos... kali ini saya tidak mengecewakan Anda."
Tak butuh waktu lama, Bayu sudah berdiri di depan ruang kerja Garendra.
Tanpa mengetuk, ia langsung memutar gagang pintu.
Klik...
"Bro! Ada kabar gembira!" serunya antusias sambil melangkah masuk.
Hubungan mereka memang berbeda dari atasan dan bawahan pada umumnya. Bayu adalah sahabat Garendra sejak lama. Hanya saja, saat berada di luar atau di depan orang lain, Bayu selalu bersikap profesional dan memanggilnya "Tuan". Namun, ketika hanya mereka berdua, sapaan "Bro" sudah menjadi kebiasaan.
Garendra hanya mengangkat pandangan sekilas sebelum kembali menatap layar laptopnya.
"Katakan."
Bayu langsung menyeringai lebar.
"Gue berhasil bawa istri lo pulang. Jadi... bonus gue jangan pelit-pelit, ya."
Garendra hanya menganggukkan kepala pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
"Hm."
Sudut bibirnya bahkan terlihat sedikit terangkat.
Bayu yang awalnya semangat langsung memasang wajah kesal.
"Udah? Cuma gitu doang?" gerutunya.
Ia mengangkat kedua tangan.
"Bro, gue capek-capek bujuk istri lo. Harusnya lo loncat kegirangan kek, atau minimal peluk gue gitu."
Garendra tetap diam.
Seolah ucapan Bayu hanya angin yang lewat.
"Eh..." Bayu mengernyit.
"Kenapa lo malah santai banget?"
Karena penasaran, Bayu pun berjalan mendekat ke meja kerja Garendra.
"Emang apa sih yang lo lihat sampai nggak denger gue?"
Begitu matanya menatap layar laptop...
Bayu langsung membeku.
"Buset..."
Di layar itu terlihat rekaman CCTV kamar.
Felisyah tampak berjalan pelan mengelilingi kamar dengan wajah penuh rasa kagum sekaligus canggung. Sesekali ia menyentuh perabot di dalam kamar dengan hati-hati, seolah takut merusaknya.
Tak lama kemudian, gadis itu memilih duduk di atas karpet, memeluk kedua lututnya sambil memandangi ruangan yang terasa begitu asing baginya.
Hingga akhirnya...
Ia tertidur di sana.
Mulut Bayu langsung menganga.
"Astaga... pantesan aja lo santai."
Ia menoleh ke Garendra dengan wajah tak percaya.
"Lo ternyata dari tadi mantengin istri lo lewat CCTV?"
Garendra akhirnya menoleh sekilas.
Tatapannya tetap datar.
"Biar aku tahu dia baik-baik saja."
Mendengar jawaban itu, Bayu hanya bisa menggeleng pelan sambil menahan tawa.
"Bro... ini namanya bukan dingin. Ini mah bucin yang gengsinya setinggi langit."
Garendra tidak menjawab.
Ia hanya menutup laptopnya perlahan, lalu bangkit dari kursinya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah keluar dari ruang kerja.
Bayu yang melihat itu langsung berteriak dari belakang.
"Bro! Bonus gue jangan lupa!"
Namun, Garendra tetap berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Entah sengaja mengabaikan atau memang tidak mendengarnya.
Bayu hanya bisa mendengus kesal.
"Ih, dasar bos pelit. Udah gue bantu jemput istrinya, malah nggak ada ucapan terima kasih."
Ia menyilangkan kedua tangan di dada.
"Harusnya tugas bujuk istri itu kerjaan suami, bukan asisten. Giliran berhasil, yang senyum-senyum dia. Yang capek malah gue."
Bayu menggelengkan kepala sambil terkekeh pelan.
"Nasib... punya bos bucin tapi gengsi."
Sementara itu, Garendra telah memasuki mobilnya.
Begitu mesin menyala, pikirannya kembali tertuju pada satu orang.
Felisyah.
Bayangan gadis itu terus melintas di pikirannya, yang membuat jantungnya berdebar setiap saat.
Tanpa membuang waktu lagi, ia menginjak pedal gas.
Mobil hitam itu melesat meninggalkan area perusahaan, membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.
Saat ini...
Ia hanya ingin segera sampai di rumah.
Namun, di tengah perjalanan, suara dering ponsel memecah keheningan di dalam mobil.
Drrtt... Drrtt...
Garendra melirik layar ponselnya.
Nama Mama terpampang jelas.
Dengan satu tangan tetap memegang kemudi, ia menekan tombol jawab.
"Halo."
"Sayang, kamu sekarang di mana?" tanya Bu Sena dari seberang telepon.
"Di jalan."
"Kapan kamu pulang ke rumah? Kamu terlalu sibuk bekerja. Sudah berhari-hari kamu tidak pulang. Tiga hari lagi Oma ulang tahun, masa kamu masih belum juga datang?" ucap Bu Sena dengan nada sedikit kesal.
Garendra mengembuskan napas pelan.
"Ma..."
Namun, sebelum ia sempat melanjutkan ucapannya, Bu Sena kembali memotong.
"Dengar baik-baik, Garendra."
Nada suaranya kali ini berubah lebih tegas.
"Kalau saat ulang tahun Oma nanti kamu belum juga membawa seorang wanita untuk dikenalkan kepada keluarga, maka kamu harus menerima Monica sebagai calon istrimu. Mama tidak mau mendengar alasan apa pun. Mengerti?"
Garendra terdiam.
Rahangnya mengeras.
Belum sempat ia memberikan jawaban...
Tut...
Sambungan telepon sudah lebih dulu terputus.
Garendra hanya menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum meletakkannya kembali.
Tatapannya kembali lurus ke jalan.
Namun, kini pikirannya hanya dipenuhi oleh satu nama.
Felisyah.
semangat✍️😉