Sepasang kekasih yang terlihat baik-baik saja, pada akhirnya bisa berakhir juga. Ayra Grizelle mengakhiri hubungannya pada Bagas Cakra Wardana kekasihnya, di hari bahagia mereka yaitu saat wisuda. Keduanya tampak bahagia, tapi sayang seribu sayang Bagas mendengar ucapan Ayra bahwa wanita itu ingin mengakhiri hubungan mereka.
Bagas sangat terkejut dan tidak suka dengan keputusan Ayra secara sepihak yang menurutnya egois. Bahkan Bagas belum mengetahui penyebab Ayra memutuskan hubungan mereka.
Maka dari itu, Bagas bertekad untuk membuat Ayra kembali padanya sekaligus ingin mengetahui penyebab Ayra meninggalkan dirinya. Semua usaha Bagas untuk mendapatkan Ayra menjadi miliknya kembali haruslah dia tempuh dengan caranya sendiri. Setiap perjuangan bahkan ujian akan dia hadapi walau itu membuat dirinya kecewa. Tapi kalau jodoh pasti tak akan kemana. Bagas yakin jika Ayra memang jodohnya maka dia pasti akan bersatu dan kembali bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rati Tiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Sangat Kejam
Pagi hari, Ayra keluar dari rumah kost nya hendak berangkat ke kantor menggunakan mobilnya, tapi saat Ayra mau membuka mobilnya, tiba-tiba saja bunyi klakson terdengar nyaring di telinga Ayra hingga dia terkejut bukan main.
TIN TINNNNN
"Astagfirullah, Bagas ngapain kamu kesini?" Pekik Ayra sambil berjalan menuju mobil Bagas.
Lantas Bagas dengan cepat keluar dari dalam mobilnya menghampiri Ayra.
"Aku kemari mau jemput kamu, Ay. Kita pergi bareng ke kantor," ucap Bagas dengan santai.
"Tapi kan...," sergah Ayra terpotong.
"Ssstttt, ada meeting penting dengan klien di luar. Mendadak sih. Jadi kamu harus ikut aku, nggak ada penolakan, paham!" tekan Bagas melanjutkan ucapannya.
"Ayo masuk!" Titah Bagas, berjalan lalu membuka pintu mobil untuk dimasuki Ayra.
Lagi-lagi Ayra mendumel dengan kesal. Dia merutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia menjadi bawahan Bagas yang suka memerintah semaunya saja.
"Bos macam apa dia, sampai mondar-mandir antar jemput karyawannya sendiri? Dasar egois," gumam Ayra dalam hati.
"Jangan-jangan sebelum aku menjadi sekretarisnya, dia memang suka antar jemput karyawan wanitanya? Ah dasar genit, ih mikir apa aku ini," gumam Ayra dalam hati kembali.
Bagas yang melihat ekspresi wajah Ayra cemberut, dia tau bahwa wanita itu sedang berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Terlihat ada raut wajah kesal dari sana.
"Pakai sabuk pengamannya!" perintah Bagas.
Namun Ayra tidak mengindahkan ucapan Bagas. Ayra malah sibuk dengan pikiran yang berkecamuk dihatinya bercampur aduk.
Melihat Ayra tidak ada respon, Bagas mulai memasangkan sabuk pengaman kepada Ayra, tapi saat hendak melakukannya, tiba-tiba Ayra kaget dan sontak dia berteriak.
"Apa yang kau lakukan Bagas?" teriak Ayra memekik telinga Bagas.
"Jangan macem-macem kamu ya. Jangan mentang-mentang sekarang kamu Bos aku, trus kamu...," ucap Ayra terjeda.
"Ssstttt, bisa diem nggak," ucap Bagas sambil mengarahkan jari telunjuknya di mulut Ayra.
"Tapi kamu...," Ayra berusaha berontak.
"Ssstttt, jangan bergerak!" tekan Bagas melotot ke arah Ayra.
Bagas dengan pelan memasang sabuk pengaman kepada Ayra, sedangkan Ayra pandangan matanya seakan-akan tak mau lepas pada kedua bola mata Bagas. Bagas pun begitu, mereka saling pandang. Hingga jantung Ayra kini mulai berdetak kuat, tubuhnya bergetar hebat. Bagas yang mengetahui hal itu pun tak ingin kehilangan kesempatan untuk menggoda Ayra.
"Kau mendadak serangan jantung kah?" tanya Bagas membuat Ayra gugup setengah mati.
"To-tolong jaga sikap kamu dan bersikaplah yang sopan padaku," ucap Ayra terbata, dia sungguh gugup sekali.
"Kau sekarang lebih sering gugup jika bersamaku, Ay. Apakah kau memang masih mencintai...," ucap Bagas yang belum menyelesaikan perkataannya, malah dipotong oleh Ayra.
"Tidak, jangan berpikir bahwa kau dan aku akan bersama kembali. Karena itu tidak akan terjadi dan tidak akan mungkin," sela Ayra dengan kalimat menekan.
Bagas tersenyum smirk kala mendengar ucapan Ayra. Hatinya serasa teriris sakit, pedih dan rasanya ingin sekali dia memeluk erat tubuh Ayra yang cukup mungil. Dia ingin melampiaskan kemarahannya sebagai hukuman atas Ayra mengucapkan kalimat yang membuat hati Bagas hancur.
"Kau wanita yang sangat kejam, Ay. Sangat kejam!" tekan Bagas diakhir kalimatnya dengan mata yang sedikit memerah menahan amarah.
Ayra yang mendengarkan ucapan Bagas, entah mengapa hatinya sakit dan rasanya dia ingin menangis. Matanya hanya berkaca-kaca hingga dadanya ngilu dan sesak.
"Kau yang sangat kejam Bagas, sangat kejam!" kata Ayra dalam hati.
Ayra memalingkan wajahnya ketika Bagas hendak menjalankan mobilnya. Pandangan matanya dia alihkan ke arah samping jalan. Perlahan Ayra mengusap air mata yang entah kapan air mata itu keluar dari kelopak matanya. Ayra mencoba menetralkan hati dan pikirannya saat itu. Dia tidak ingin kembali mengingatkan kenangan yang dulu bersama Bagas menjadi ladang kesedihan untuk dirinya.
WUSSSSS
"Arghhh," teriak Ayra kaget.
"Pelankan sedikit mengemudinya, Bagas. Bahaya nanti," ucap Ayra memperingati.
Namun Bagas tak mengindahkan ucapan Ayra, dia masih asik dengan kemudinya. Tidak dipungkiri bahwasanya Bagas ingin memberi pelajaran pada Ayra, bisa dibilang bahwa Bagas ingin bermain-main sedikit pada Ayra.
"Biarkan saja, agar kamu tidak melamun lagi seperti tadi," ujar Bagas dengan santai.
Ayra mendengus kesal dan melotot ke arah Bagas. Bisa-bisanya lelaki di sampingnya ini berbicara seperti itu. Tapi sebisa mungkin Ayra masih tenang dan sabar menghadapi Bagas. Perlahan Ayra mengelus dadanya pelan. Sedangkan Bagas tersenyum penuh kemenangan Dali balik kaca spion.
"Baiklah, aku akan fokus kali ini. Tapi tolong pelankan kecepatannya," pinta Ayra cemas.
Bagas melirik sekilas ekspresi Ayra, begitu lucu dan menggemaskan. Bagas tertawa dalam hati.
"Tapi sayangnya meeting saat ini sudah sangat urgent," lagi-lagi Bagas nakal dengan mengedipkan sebelah matanya pada Ayra.
Tak lama kemudian, lama kelamaan Bagas melambatkan kecepatan mobilnya. Itu membuat Ayra menjadi lega sampai memegang dadanya karena sejak masuk mobil bersama Bagas jantungnya serasa dag dig dug dan sekarang mulai berdetak normal kembali.
"Belajarlah untuk bersabar saat bersamaku, karena sekarang ini aku lebih suka petualangan," ujar Bagas.
"Kau sengaja melakukannya, kan?" kesal Ayra.
"Tidak, karena aku ingin permainan yang menantang," ujar Bagas kembali menginjakkan gas mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.
WUSSSSS
"Arghhh, Bagassss!" teriak Ayra dengan mencengkram kuat pegangan sit belt dirinya.
"Upsss, maaf Ay. Itu baru permulaan...haha," tawa Bagas pecah, dia begitu sangat bahagia bersama Ayra.
Namun Ayra begitu sangat ketakutan melihat kelakuan Bagas yang semakin hari semakin aneh dan terlihat seperti membalas dendam padanya. Ayra sadar bahwa dulu mungkin Ayra belum mengenal baik sosok Bagas, atau mungkin Bagas berubah sifatnya sejak mereka putus hubungan.
Memang diakui oleh Ayra bahwa dirinya lah yang bersalah karena sudah memutuskan hubungan mereka terlebih dahulu, tapi cara balas dendam yang baik tidak sampai berubah menjadi lelaki yang sangat keterlaluan sampai membuat wanita menjadi ketakutan dengan trik bahaya seperti ini. Sungguh kejadian saat ini membuat Ayra bingung dan tertekan.
"Dasar gila, kau balas dendam padaku?" ucap Ayra yang terlihat ingin menangis.
Melihat Ayra menjadi sedih, akhirnya pun Bagas menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal seperti biasanya. Bagas tak ingin membuat Ayra semakin ketakutan dan membuatnya kesal berlarut-larut apalagi sampai menangis. Kalau sudah seperti itu, maka keadaan hubungan mereka akan semakin rumit dan Bagas akan sulit untuk mendapatkan kembali hati Ayra, sang pujaan hatinya sedari dulu.
"Maafkan aku, Ay!" Bagas pun akhirnya meminta maaf pada Ayra.
Sayangnya Ayra tak mengindahkan ucapan Bagas. Ayra hanya memalingkan wajahnya menatap ke arah jalan. Mungkin saking kesalnya Ayra karena Bagas sampai membuat dirinya bersedih. Ayra tak menjawab permintaan maaf Bagas. Padahal dalam hati Ayra, dirinya sudah memaafkan Bagas.
"Maafkan aku Ayra," ucap Bagas dengan tulus, namun kali ini dia ucapkan didalam hatinya.
Bersambung....