NovelToon NovelToon
LUKA YANG MENGANTARKAN KU PULANG

LUKA YANG MENGANTARKAN KU PULANG

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:506
Nilai: 5
Nama Author: NATstory

Tika, seorang wanita yang tumbuh ditengah keluarga yg tidak harmonis,sejak kecil,ia terbiasa hidup dlm kekurangan,menyaksikan Ibunya berjuang sendirian, sementara sang ayah lebih sibuk mengejar gengsi dari pada memperhatikan keluarga nya.
Demi bertahan Hidup&membantu sang Ibu,Tika bekerja sebagai penyanyi Cafe sambil menyelesaikan Pendidikan nya.
ditengah kerasnya kehidupan,hadir Dika,seorang Pria Mapan yg memberikan Perhatian&kehangatan yg selama ini ia tidak pernah rasakan,namun cinta mereka terhalang oleh kenyataan yg Rumit karena perbedaan Dunia serta status Dika yg telah memiliki keluarga.
saat hubungan mereka mulai retak,karena kesalahan pahaman dan luka yang tak kunjung sembuh,Andre,cinta pertama yg pernah meninggalkan nya kembali Hadir,dengan kesabaran dan ketulusan, andre berusaha perbaiki kesalahan masa lalu dan membuktikan bahwa cinta nya masih sama.
Antara luka,keluarga, penghianatan, harapan dan pilihan yang sulit, tika harus menentukan jalan hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NATstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN DITENGAH BADAI

Novel ini mengisahkan perjalanan hidup Tika, seorang perempuan yang tumbuh dalam kasih sayang keluarga angkat, lalu menemukan keluarga kandungnya di usia dewasa. Dengan niat tulus, ia ingin membahagiakan mereka melalui materi, perhatian, dan pengorbanan.

Namun harapannya berubah menjadi luka.

Alih-alih diterima sepenuhnya, Tika justru menghadapi konflik keluarga, pengkhianatan, manipulasi, serta ketidakjujuran yang perlahan menghancurkan kepercayaannya.

Di tengah kehancuran itu, ia bertemu Mas Dharma, seorang pria dewasa yang hadir sebagai sandaran di saat hidup Tika benar-benar runtuh,Hubungan mereka berkembang di tengah luka, kehilangan, dan ketidakpastian status moral maupun emosional.

_________________________________________________

Malam itu hujan turun tanpa jeda,Tika duduk sendirian di sudut sebuah kafe kecil di Jakarta. Secangkir kopi di depannya sudah dingin sejak satu jam lalu. Matanya sembab karena terlalu banyak menangis, tetapi ia sudah kehabisan tenaga untuk menghapus air mata.

Ponselnya bergetar,Nomor tak dikenal,Tika mengabaikannya.

Beberapa menit kemudian, nomor yang sama kembali menelepon,Dengan malas, ia mengangkat telepon.

"Halo?"

"Halo, ini Tika?"tanya dari seberang'

"Iya."balas ku singkat.

"Saya Dharma."

Tika terdiam.

"Maaf, Dharma yang mana?"

Terdengar tawa kecil di seberang.

"Kita kenal waktu ada acara talkshow di kantor minggu lalu, Sepertinya saya terlambat menghubungi."

"Oh..."

Percakapan itu seharusnya biasa saja.

"Kamu sedang sibuk?" tanya Dharma.

"Tidak."

"Tapi terdengar seperti habis menangis."

Tika langsung tersenyum pahit.

"Dokter memang suka menganalisis orang ya?"

"Bukan analisis,Saya hanya mendengar."

Untuk beberapa detik, Tika tidak menjawab.

aku merasa Sudah lama sekali tidak ada orang yang sekadar mendengar.Biasanya semua orang datang hanya membawa kebutuhan.

Hari-hari berikutnya kami semakin sering berbicara,dari Awalnya hanya beberapa menit,Lalu satu jam,Lalu tanpa sadar,hampir setiap malam.

_________________________________________________

"Sudah makan?" tanya Dharma suatu malam.

"Sudah."

"Jujur." dharma mulai memastikan

"Belum."

"Nah kan."ujar dharma.

Tika tertawa kecil.

"Kenapa sih selalu tahu?"

"Karena setiap kali kamu belum makan, nada suaramu berbeda."

setelah sekian lama, tika merasa ada seseorang yang benar-benar memperhatikannya.

Suatu malam,aku akhirnya bercerita Semua,tentang keluarga kandung,tentang pengorbanan.Tentang kekecewaan,tentang rumah yang dijual,Tentang hutang yang terus muncul,Tentang kesepian yang tak pernah selesai.

Dharma mendengarkan tanpa menyela.

Hampir dua jam,Ketika Tika selesai, ia menarik napas panjang.

"Sudah?itu saja?"tanya dharma.

"Iya."

dharma bertanya pelan.

"Selama ini siapa yang menjaga kamu?"

Tika tersenyum pahit.

"Aku."

"Kalau kamu lelah?"

"Aku tetap jalan."jawab tika.

"Kalau tidak kuat?"tanya dharma kembali

Tika menatap kosong ke luar jendela.

"Aku juga tetap jalan."

Dharma menghela napas.

"Tika,Kamu tidak harus kuat setiap saat."

Kalimat sederhana itu membuat pertahanan yang selama ini dibangun Tika runtuh seketika.

Air matanya jatuh,bukan karena sedih.tetapi karena akhirnya ada seseorang yang mengizinkannya menjadi manusia biasa.

Sejak hari itu, hubungan mereka berubah,bukan karena janji,Bukan karena status,Tetapi karena kehadiran,Dharma hadir saat Tika kehilangan arah.

Saat semua orang menuntutnya untuk terus memberi,Saat dunia terasa terlalu berat untuk dipikul sendirian,Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Tika tidak lagi merasa berjalan sendirian.

Ia belum tahu bagaimana akhir kisah mereka.

Namun malam itu, di tengah hujan Jakarta yang tak kunjung reda, Tika mulai percaya bahwa mungkin Tuhan belum selesai menulis cerita hidupnya.

Hari-hari setelah pemakaman Ibu Asih terasa seperti ruang kosong yang tidak memiliki suara.

Tika menjalani hidup seperti mesin,Bangun.

Makan,Tidur,Ulang lagi.

Mas Dharma beberapa kali menghubungi, tetapi Tika tidak langsung menjawab.

Bukan karena marah,Bukan karena ingin menjauh.Tapi karena ia tidak tahu harus menjelaskan dirinya yang seperti apa.

suatu malam, ponselnya kembali bergetar.

Mas Dharma,Tika menatap layar cukup lama sebelum mengangkat.

"Halo."

"Hai," suara itu terdengar pelan. "Kamu sudah makan?"

Tika terdiam,Pertanyaan yang sama,Tapi justru itu yang membuatnya ingin menangis.

"Sudah," jawab Tika singkat.

"Hm. Bohong,kamu selalu menjawab cepat kalau sedang tidak ingin ditanya lebih jauh."

Lalu Mas Dharma berkata pelan,

"Aku bisa datang kalau kamu mau."

"Tidak perlu," jawab Tika cepat.

Mas Dharma tidak mau membantah,Sampai akhirnya suaranya pecah sedikit.

"Aku capek, Mas."

Aku tahu."balas Dharma.

"Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi."

Lalu suara Mas Dharma terdengar lebih pelan dari sebelumnya.

"Kamu masih punya dirimu sendiri."

Tika menutup mata.

"Diriku sendiri bahkan sudah tidak aku kenal lagi."isakku.

"Aku kenal kamu," jawab Mas Dharma cepat.

Tika terdiam.

"Aku kenal kamu yang selalu mencoba kuat walaupun sebenarnya ingin jatuh

,"Aku kenal kamu yang tetap peduli walaupun sudah berkali-kali dilukai."

"Aku kenal kamu yang tidak pernah benar-benar jahat, bahkan ketika dunia memperlakukanmu tidak adil."

Beberapa hari kemudian, Mas Dharma datang.

Tidak membawa banyak kata,Tidak membawa tuntutan,Hanya membawa sebuah tas kecil berisi makanan.

Tika membuka pintu apartemen dengan wajah pucat.

"mas dharma?"tatapmu terkejut

"Aku khawatir."senyumnya tipis.

"Aku tidak minta dikasihani."

"Aku juga tidak datang untuk mengasihani."

Tika diam,Mas Dharma menatapnya sebentar, lalu masuk tanpa menunggu izin lebih lanjut.

ia meletakkan makanan di meja.

"Kamu belum makan dengan benar, kan?"

Tika tidak menjawab,Mas Dharma menarik napas pelan."Kamu tidak harus kuat hari ini."

Kalimat itu membuat Tika menunduk.

"mas dharma kenapa di sini?" suaranya lirih.

Mas Dharma menjawab tanpa ragu.

"Karena kamu masih di sini."Tika mengerutkan kening.

"Selama kamu masih berjuang untuk hidup, aku tidak punya alasan untuk pergi."

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Tika makan bersama seseorang,Tidak banyak percakapan,Hanya suara sendok.

Dan sesekali tatapan yang tidak lagi menuntut apa pun.

_________________________________________________

Beberapa minggu berlalu setelah malam itu.

sesuatu mulai berubah,bukan dunia di luar,tapi cara ia memandang hari-harinya sendiri,Ia mulai mandi lebih teratur,makan tanpa harus dipaksa,Dan mulai membuka tirai jendela setiap pagi.

Hal-hal kecil yang dulu terasa tidak penting, kini perlahan kembali ia lakukan,Mas Dharma tidak pernah menekan,Ia hanya hadir.

Kadang mengirim pesan sederhana.

“Sudah makan?”

Kadang hanya satu kata.

“Istirahat.”

Dan kadang, tidak ada pesan sama sekali.

Tapi Tika tahu, ia tidak benar-benar pergi.

Suatu sore, Mas Dharma datang tanpa memberi kabar,Tika membuka pintu dengan kaget.

"Kok gak bilang mau datang?"

"sengaja! 🙂

Mas Dharma masuk sambil membawa dua kantong plastik.

"Apa itu?"tanyaku

"Makanan."!

"aku gak lapar mas" balas tika tak bergairah.

"Aku hanya ingin memastikan kamu tidak melewatkan makan lagi."

Tika mendengus pelan.

"Mas dharma kenapa si,selalu merasa bertanggung jawab atas hidup orang lain?"

Mas Dharma menatapnya lama.

"Aku tidak bertanggung jawab atas hidupmu."

Tika mengerutkan kening."Lalu apa?"

"Aku peduli."

Kalimat itu jatuh sederhana Tapi berat.

Tika memalingkan wajah.

"orang yang terlalu peduli biasanya akan terluka."

Mas Dharma diam sejenak,Lalu berkata pelan,

"Aku sudah terluka sebelumnya."

Tika menoleh cepat.

"Apa?"

Mas Dharma tidak langsung menjawab.

Ia duduk di kursi, lalu menatap ke arah jendela.

"Aku juga pernah kehilangan sesuatu yang penting."

Tika menunggu.

Namun Mas Dharma tidak melanjutkan.

aku terdiam menyadari sesuatu,Bahwa pria di depannya ini bukan hanya penolong,Dia juga seseorang yang menyimpan luka.

tiba tiba aku terfikir tentang Mas Dharma.Kenapa seseorang yang terlihat kuat,memilih untuk tetap tinggal di hidupnya yang penuh kekacauan?

Kenapa seseorang yang punya kehidupan stabil… justru mendekati seseorang yang hancur seperti dirinya?

Pertanyaan itu tidak punya jawaban.

Hujan kembali turun malam itu,Tidak deras, tapi cukup untuk membuat lampu kota terlihat buram dari balik kaca jendela apartemen.

Tika duduk di sofa, sementara Mas Dharma berdiri di dekat meja, seperti sedang ragu untuk duduk.

"Aku boleh bicara sebentar?" tanya Mas Dharma.

Tika menoleh.

"Apa?"

Mas Dharma menarik napas pelan."sudah terlalu lama aku tidak jujur sepenuhnya ke kamu."

Tika langsung diam.Tangannya yang memegang gelas sedikit mengencang.

"Maksudnya?"

Mas Dharma tidak langsung menjawab,Ia duduk.

Lalu menatap Tika lama.

"Aku sudah menikah."

Kalimat itu jatuh seperti benda berat yang menghantam lantai,Tapi tidak ada suara pecahan,Hanya sunyi,aku tidak langsung bereaksi.

Tika tertawa kecil

"Mas bercanda?"

Mas Dharma menggeleng."Aku tidak mungkin bercanda tentang ini."Tika meletakkan gelasnya perlahan,Mas Dharma menunduk.

"Aku tidak pernah berniat melibatkanmu dalam situasi seperti ini."Aku hanya… tidak bisa meninggalkanmu saat kamu benar-benar jatuh."

"Tempat pelarian?"Atau sekadar orang yang mas dharma tolong karena mas merasa kasihan?"

Mas Dharma menggeleng cepat.

"Bukan itu."bantah Dharma

"Lalu apa?!"

"Aku tidak pernah melihatmu seperti itu,aku hanya melihatmu sebagai seseorang yang sedang berjuang sendirian."Kata Mas Dharma akhirnya.

Tika tertawa kecil, tapi getir,Mas Dharma terdiam.

"Aku capek, Mas,capek kehilangan orang,Aku capek percaya,Aku takut aku hanya akan kehilangan kamu juga nanti."suara Tika melemah.

Mas Dharma tidak langsung menjawab,Lalu ia berkata pelan,

"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.Tapi untuk saat ini… aku masih di sini" tatap Dharma serius.

Kalau kamu harus memilih… pilih dirimu dulu."

Kalimat itu membuat Tika terdiam,Duduk di ruangan yang sama,Dengan jarak yang tidak lagi bisa disebut aman.

Setelah malam itu, tika lebih diam,Pesan dari Mas Dharma tidak lagi dibalas secepat dulu,Bahkan kadang tidak dibalas sama sekali.

Namun anehnya, ia tetap datang,Tidak setiap hari.

Tapi cukup sering untuk membuat Tika tidak bisa benar-benar melupakannya.

Sore itu, Mas Dharma berdiri di depan pintu apartemen,Tika membukanya tanpa ekspresi.

"Aku ingin memastikan kamu benar-benar baik-baik saja."

Tika tersenyum tipis.

"Aku baik-baik saja" suara Tika lebih rendah,

"mas,aku cuma mau bilang,mas dharma tidak bisa berada di dua dunia sekaligus."

"Aku tahu,tapi di dunia yang satu… aku merasa lengkap."balas Dharma. "

Tika menegang.

"Dan di dunia yang lain?"

Mas Dharma tidak langsung menjawab,Lalu ia berkata jujur,

"Aku sedang kehilangan arah."

aku berfikir, Kenapa si seseorang yang sudah punya hidup… tetap memilih berada di hidup yang rumit seperti miliknya?

Kenapa seseorang yang tahu ini salah… tetap tidak pergi?Dan yang paling menyakitkan,kenapa aku tidak benar-benar ingin Mas Dharma pergi?

Tika menutup wajahnya."seharusnya aku membencinya,"

Hujan sore itu turun lebih deras dari biasanya.

Tika berdiri di depan jendela apartemen, memandangi jalan yang mulai buram oleh air.

Ponselnya bergetar.

Mas Dharma

"Halo."Suara di seberang terdengar berbeda.

"Aku perlu ketemu kamu," kata Mas Dharma.

"Untuk apa?"tanyaku lagi,

"Ada yang harus aku jelaskan"Aku di bawah apartemenmu," lanjut Mas Dharma.

Tika langsung menoleh ke bawah,Dan benar saja.

Mobil itu ada di sana.Diam.Basah oleh hujan.

Tika turun tanpa payung.Saat pintu mobil terbuka, Mas Dharma sudah berdiri di sana.

Basah,Wajahnya tidak seperti biasanya.

"Ada apa Mas? "

Mas Dharma menatapnya lama.

"Aku sudah memutuskan sesuatu."

Tika langsung mengerti arah pembicaraan itu.

"Mas, aku sudah bilang. Aku tidak butuh diselamatkan dengan cara seperti ini."ujar tika.

"Aku tidak sedang menyelamatkan kamu."

"Lalu apa?!"

Mas Dharma menarik napas panjang.

hujan semakin deras.Tika tertawa kecil,Mas Dharma mendekat setengah langkah.

"Mas, ini bukan cinta yang benar."ujarku mengingat kan.

"Aku tahu."Suara Mas Dharma kali ini hampir seperti bisikan.

."Kenapa mas dharma datang di saat aku baru belajar tidak jatuh cinta lagi?"

Mas Dharma tak menjawab,jujur, aku mulai merasakan kenyamanan, mas Dharma menggenggam tangan ku, dan menyebabkan rambutku.

"kita Menikah,aku tidak mau menjalin hubungan tanpa keseriusan, aku janji akan bertanggung jawab atas hidupmu.

Dititik ini,keputusan diambil,bukan dengan perayaan Bukan dengan restu,Tapi dengan kesepakatan dua orang yang sudah terlalu lelah melawan perasaan masing-masing.

Akhirnya kami menikah secara siri,Tidak diumumkan,Tidak dijelaskan.

Suatu malam, Tika berdiri di balkon.

Mas Dharma di belakangnya,Tika menatap kota di depan.

“Aku takut suatu hari aku akan menyesal.”

Waktu tidak pernah berhenti,meski manusia sering berharap ia bisa,Tika mulai terbiasa dengan hidupnya yang baru bersama Mas Dharma,hanya dua orang yang mencoba menata rasa bersalah dan rindu dalam satu atap yang sama.

_________________________________________________

10 Th, Waktu yang tidak sebentar untuk sebuah hubungan yang lahir dari luka,selama itu, hidupku bersama Dharma berjalan begitu tenang.

Rumah kecil yang dulu terasa asing kini berubah menjadi tempat paling nyaman untukku.

"Bangun, Sayang."

Suara lembut Dharma membangunkanku pagi itu.

Aku membuka mata perlahan. Dharma sudah duduk di tepi ranjang sambil tersenyum.

"Aku kesiangan ya?"

"Tidak. Mas sengaja belum berangkat."

Aku mengerutkan dahi.

"Kenapa?"

Dharma mengulurkan sebuah kotak kecil.

"Apa ini?"tanyaku.

"Buka saja."

sebuah kalung sederhana dengan liontin berbentuk bunga tertata rapi di kotak itu.

"Selamat 10 Tahun."senyum Dharma padaku.

Aku hampir lupa.

Hari itu tepat 10Tahun sejak kami memutuskan hidup bersama,10 tahun itu sangat lama,aku tak menyangkanya

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!