Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 — Mas Jifan sakit
Malam itu Diara pulang dengan langkah cepat.
Pikirannya masih penuh.
Perasaan yang tadi siang ia lihat di kantor Jifan belum sepenuhnya hilang. Bayangan itu terus berulang di kepalanya, membuat dadanya sesak tanpa alasan yang jelas.
Ketika pintu mansion terbuka, rumah itu sunyi seperti biasa.
Terlalu sunyi.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Lampu ruang tamu masih menyala.
Diara melepas sepatunya dengan cepat dan langsung berjalan ke dalam.
“Mas Jifan?”
Tidak ada jawaban.
Hanya keheningan.
Ia berjalan ke arah ruang tamu.
Dan di sana…
ia melihat Jifan.
Pria itu tertidur di sofa.
Setengah duduk, setengah bersandar.
Jas kerjanya masih dipakai, kemejanya sedikit berantakan, wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya.
Tangannya terkulai di sisi sofa.
Ponsel masih di lantai dekat kakinya.
Diara langsung membeku.
“Mas…”
Suaranya pelan.
Ia mendekat perlahan.
Lalu duduk di tepi sofa.
“Mas Jifan…”
Tangannya menyentuh bahu Jifan pelan.
“Bangun…”
Jifan bergerak sedikit.
Lalu matanya terbuka perlahan.
Beberapa detik ia tampak bingung.
Namun begitu melihat Diara…
tatapannya langsung berubah.
“Diara…”
Suaranya serak.
Lalu tanpa peringatan—
ia langsung menarik Diara ke dalam pelukannya.
Diara langsung kaget.
“Mas!”
Namun Jifan tidak melepaskannya.
Pelukannya kuat.
Tapi bukan menahan.
Lebih seperti… takut kehilangan.
“Aku minta maaf…”
Suara Jifan pelan di dekat telinganya.
“tentang siang tadi…”
Diara terdiam.
Tangannya masih di udara, tidak tahu harus mendorong atau membalas.
“Itu tidak seperti yang kamu lihat,” lanjut Jifan.
Suaranya berat.
Lemah.
“Tolong… jangan salah paham.”
Diara akhirnya menepuk pelan bahunya.
“Mas… aku belum bilang apa-apa.”
Jifan terdiam.
Lalu sedikit melepas pelukan itu.
Matanya menatap Diara lebih jelas.
“Kamu dari mana?”
tanyanya pelan.
Diara menatapnya.
“…dari rumah Baila.”
Jifan mengangguk kecil.
Tidak bertanya lagi.
Namun tangannya masih memegang lengan
Diara ringan.
Seolah memastikan Diara benar-benar ada di sana.
Diara memperhatikan wajahnya lebih dekat.
Baru sekarang ia menyadari sesuatu.
Panas.
Wajah Jifan terlihat tidak normal.
“Mas…”
Diara menyentuh dahinya.
Dan langsung terkejut.
“Panas banget…”
Jifan tidak menjawab.
Hanya menatapnya.
Matanya sedikit sayu.
Diara langsung berdiri.
“Mas kenapa tidak bilang kalau sakit?!”
Jifan tidak menjawab.
Hanya menarik napas pelan.
Seperti kelelahan.
Diara segera mengambil handuk kecil dan air hangat.
Lalu kembali ke sofa.
“Duduk.”
Perintahnya pelan tapi tegas.
Jifan menurut.
Seperti tidak punya tenaga untuk menolak.
Diara mulai mengompres dahinya.
Gerakannya hati-hati.
Tangannya sedikit gemetar karena terlalu dekat.
“Mas ini benar-benar tidak boleh dibiarkan…”
gumamnya pelan.
Jifan menatapnya.
Tidak bicara.
Hanya melihat.
Beberapa menit hening.
Hanya suara jam dinding dan napas pelan mereka.
“Aku pikir kamu tidak pulang…”
kata Jifan tiba-tiba.
Diara berhenti sejenak.
“Kenapa?”
Jifan mengalihkan pandangan sedikit.
“…karena tadi.”
Diara mengerti.
Namun ia tidak langsung menjawab.
“Aku pulang,” katanya akhirnya.
“Dan aku di sini sekarang.”
Jifan mengangguk pelan.
Seperti itu saja sudah cukup baginya.
Namun tiba-tiba…
Jifan menarik tangan Diara pelan.
“Jangan pergi.”
Diara terdiam.
“Mas…”
“Aku tidak mau kamu pergi lagi.”
Suaranya pelan.
Hampir seperti bisikan.
Diara menatapnya lama.
Lalu menghela napas pelan.
“Mas sedang sakit.”
“Justru itu.”
Jifan menatapnya.
Matanya lebih jujur dari biasanya.
Tidak ada dingin.
Tidak ada jarak.
“Aku butuh kamu di sini.”
Diara terdiam.
Jantungnya mulai tidak stabil.
Diara langsung menunduk.
“Mas… itu…”
Namun Jifan tidak memotong.
Hanya menunggu.
Beberapa detik hening.
Akhirnya Diara mengangguk kecil.
“…iya.”
Jifan langsung terlihat sedikit lebih tenang.
Malam semakin larut.
Diara membantu Jifan berdiri.
“Mas ke kamar.”
Jifan menurut.
Langkahnya sedikit goyah.
Diara menopangnya.
Di kamar, Jifan langsung berbaring.
Diara menutup selimutnya.
Lalu duduk di samping ranjang.
“Minum obat dulu.”
Jifan menurut tanpa protes.
Setelah itu, Diara berdiri hendak pergi.
Namun sebelum ia melangkah…
tangannya ditahan.
“Jangan pergi…”
Suara Jifan lebih pelan dari sebelumnya.
Diara menoleh.
“Mas, aku cuma mau ambil air.”
“…cepat kembali.”
Diara mengangguk.
“iya.”
Ia kembali dengan segelas air.
Namun saat kembali…
Jifan sudah setengah duduk.
“Mas kenapa?”
“Tidur di sini.”
Diara menghela napas.
“Mas sudah bilang tadi.”
“Tapi jangan jauh.”
Diara diam sejenak.
Lalu akhirnya naik ke sisi ranjang.
Jifan langsung berbaring kembali.
Namun tangannya meraih tangan Diara.
“Aku boleh?”
Diara menatapnya.
“Boleh apa?”
“…memeluk.”
Hening.
Diara ragu.
Namun melihat kondisi Jifan…
ia akhirnya mengangguk.
“…iya.”
Jifan langsung mendekat.
Pelan.
Hati-hati.
Lalu memeluk Diara.
Tidak kuat.
Tapi cukup erat.
Diara kaku di awal.
Namun perlahan…
tubuhnya mulai rileks.
“Jangan pergi lagi…”
gumam Jifan pelan.
Diara tidak menjawab.
Namun tangannya perlahan menepuk pelan punggung Jifan.
“Tidur, Mas.”
Jifan mengangguk kecil.
Beberapa menit kemudian…
napasnya mulai teraturm
Dan Diara duduk diam di sana.
Menatap pria yang biasanya dingin itu.
“Kenapa kamu jadi seperti ini…”
gumamnya pelan.
Namun tanpa sadar…
ia tidak melepaskan pelukan itu.
Dan malam itu…
tidak ada lagi jarak di antara mereka.
Hanya dua orang yang perlahan belajar bahwa cinta kadang tidak datang dengan tenang…
tapi dengan kekhawatiran yang diam-diam tumbuh saat takut kehilangan.