NovelToon NovelToon
Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Suasana di luar gerbang utama Adhitama Mansion mendadak riuh rendah seperti pasar malam. Belasan mobil van stasiun televisi swasta dan puluhan motor jurnalis media daring telah berbaris rapi di sepanjang bahu jalan perumahan elit tersebut.

Rupanya, kabar tentang skandal penahanan Siska Lorenza atas kasus percobaan penyusupan dan perusakan properti milik Adhitama Group telah bocor ke publik sejak sore hari.

Reno masuk ke dalam ruang makan dengan langkah tergesa-gesa, membungkuk hormat di samping kursi Devran.

"Tuan Besar, para pencari berita sudah berkumpul di depan gerbang. Mereka menuntut klarifikasi mengenai keberadaan Nona Siska di dalam mansion malam ini."

Devran menyeka bibirnya dengan serbet kain rajut yang mewah, wajahnya sama sekali tidak terkejut.

"Biarkan mereka masuk sampai ke batas halaman depan, Reno. Buka gerbangnya."

Alana yang sedang membantu Leo meminum sisa jus melonnya langsung mendongak panik.

"Devran? Apa kamu gila? Siska sedang dalam kondisi... seperti itu di dalam toilet basemen. Jika media melihatnya..."

"Itulah poin utamanya, Alana," potong Devran dingin, seulas senyum kejam terukir di sudut bibirnya.

"Dia menyelinap ke propertiku, mengancam keselamatanmu, dan malam ini mencoba meracunimu dengan obat pencahar. Aku tidak akan membiarkannya keluar dari pintu gerbang ini dengan sisa harga diri sekecil apa pun."

"Tapi Om seram," Leo menyela sembari menaruh gelasnya dengan bunyi klak kecil.

"Tante ular kan belum selesai urusannya di toilet. Kalau dia lari keluar sambil menangis, wajahnya pasti akan sangat jelek di televisi. Apakah kamera mereka bisa menangkap bau juga?"

Devran terkekeh, mengusap kepala putranya. "Kamera tidak bisa menangkap bau, Leo. Tapi kamera bisa menangkap kehancuran total karier keluarganya."

"Reno, seret Siska keluar lewat pintu halaman depan sekarang. Pastikan semua kilatan kamera menyorot wajahnya."

"Baik, Tuan," sahut Reno dengan senyum tipis, lalu berbalik pergi untuk melaksanakan perintah.

Sepuluh menit kemudian, halaman depan Adhitama Mansion yang megah berubah menjadi panggung bagi Siska Lorenza. Dua orang penjaga berbadan besar memegangi kedua lengan Siska, setengah menyeretnya keluar melewati pintu lobi utama.

Kondisi Siska saat itu benar-benar mengenaskan. Gaun hitam mahalnya tampak kusut, riasan wajah tebalnya telah luntur oleh keringat dingin hingga maskaranya meleleh membentuk garis hitam di pipinya.

Ditambah lagi, posisi berjalannya sangat aneh, kedua kakinya rapat dan gemetar hebat karena ia masih menahan sisa-sisa gejolak mengerikan di perutnya.

Begitu pintu lobi terbuka, ratusan lampu kilat kamera langsung menyambar wajahnya. Cret-cret-cret-flash!

"Nona Siska! Apakah benar Anda ditangkap karena mencoba menyusup ke kamar Tuan Devran?!"

"Nona Siska, bagaimana kelanjutan hubungan pertunangan palsu yang Anda klaim lima tahun lalu?!"

"Kenapa wajah Anda begitu pucat, Nona Siska?! Apakah Anda sedang sakit?!"

Rentetan pertanyaan dari para jurnalis langsung menghujani Siska yang mencoba menutupi wajahnya dengan tangannya yang gemetar.

"Singkirkan kamera-kamera sialan ini dari mukaku!" jerit Siska dengan suara serak, hampir menangis karena malu.

"Devran! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Papaku akan menghancurkan bisnismu!"

"Nona Siska, tolong menghadap ke kamera kami!" teriak seorang kamerawan dari stasiun TV nasional.

Karena panik dan terdesak oleh kerumunan jurnalis yang merangsek maju di balik barikade penjaga, Siska mencoba melompat mundur untuk menghindari sebuah mikrofon yang disodorkan ke arah wajahnya.

Namun, gerakan mendadak itu menjadi kesalahan fatal bagi pertahanan terakhir otot perutnya.

PROOOT...

Sebuah suara ledakan gas cair yang cukup nyaring terdengar tepat di depan mikrofon salah satu wartawan yang berada paling dekat dengannya.

Seketika itu juga, bau menyengat yang luar biasa busuk langsung menguar di udara halaman depan yang terbuka.

"Ugh! Bau apa ini?!" seru wartawan wanita di barisan depan sambil langsung menutup hidungnya dengan syal.

"Ya Tuhan! Nona Siska... Anda... Anda buang air di celana?!" teriak seorang jurnalis pria dengan ekspresi wajah yang sangat syok.

Lampu kilat kamera justru semakin menggila, mengabadikan momen di mana bagian belakang gaun hitam Siska tampak basah dan menempel aneh pada kulitnya.

Siska melotot histeris, menyadari bahwa seluruh martabat dan karier sosialnya di kalangan sosialita Jakarta telah hancur lebur malam ini, disaksikan secara langsung oleh jutaan pasang mata melalui siaran langsung digital.

"Aaaakh! Matikan kameranya! Matikan!!" jerit Siska bagai orang gila, sebelum akhirnya para petugas keamanan menyeretnya masuk ke dalam mobil polisi yang sudah menunggu di ujung jalan.

Di dalam kamar utama lantai tiga, suasana kembali sunyi. Alana baru saja menidurkan Leo di kamar sebelah yang kini dijaga ketat oleh tiga pengawal pribadi baru.

Ia berjalan masuk kembali ke kamar Devran dengan perasaan campur aduk setelah menyaksikan drama di halaman depan melalui jendela atas.

Devran sedang berdiri di dekat lemari pakaian besar yang beberapa jam lalu digeser olehnya untuk pelarian. Pria itu tampak sedang merapikan beberapa barang yang sempat berantakan akibat geseran lemari kayu tersebut.

"Apakah menurutmu tindakanmu tadi tidak terlalu kejam, Devran?" tanya Alana pelan, bersandar pada pilar pintu kamar.

"Dia memang jahat, tapi mempermalukannya seperti itu di depan seluruh media..."

Devran berbalik, menatap Alana dengan pandangan yang dalam dan tajam. "Jika aku tidak kejam, Alana, wanita itu akan terus mengincarmu dan Leo. Di duniaku, jika kamu memberikan belas kasihan pada ular yang sekarat, dia hanya akan mengumpulkan racunnya untuk menggigitmu kembali saat kamu lengah."

Alana menghela napas panjang, berjalan mendekat ke arah tempat tidur. "Aku hanya... mengkhawatirkan dampak psikologisnya pada Leo jika dia melihat berita itu besok pagi."

"Leo jauh lebih dewasa dan tangguh daripada yang kamu kira, Alana. Anak itu bahkan menikmati pertunjukannya dari balik tirai tadi," sahut Devran dengan nada bangga yang tidak bisa disembunyikan.

Devran kemudian kembali berbalik menghadap ke arah celah di balik lemari pakaian yang tergeser.

Saat ia menarik sebuah kotak penyimpanan kayu tua yang terselip di sudut dinding bagian bawah, kotak yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia buka, sesuatu jatuh dari celah lipatan kain di dalamnya.

Sebuah kain persegi kecil berwarna putih gading, tampak sedikit menguning di bagian sudutnya karena usia.

Devran mengambil kain itu. Begitu jemari kekarnya menyentuh tekstur sutra halus tersebut, jantungnya mendadak berdegup kencang.

Ia membalikkan kain itu dan melihat sebuah sulaman benang emas kecil di sudutnya, sebuah inisial berbentuk huruf A.K. yang dikelilingi oleh motif bunga lavender kecil yang sangat detail.

Mata Devran membelalak. Tangannya sedikit gemetar.

"Alana," panggil Devran, suaranya mendadak berubah menjadi sangat berat dan serak, dipenuhi oleh gelombang emosi yang tiba-tiba meluap.

Alana yang sedang merapikan bantal menoleh. "Ya? Ada apa, Devran?"

Devran tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah cepat ke arah meja kerjanya yang berada di sudut kamar, membuka laci paling atas yang dilengkapi kunci biometrik khusus.

Dari dalam laci tersebut, ia mengeluarkan sebuah dompet kulit kecil yang di dalamnya tersimpan rapi sebuah sapu tangan sutra lain, sapu tangan yang tertinggal di atas tempat tidurnya pada pagi hari tanggal 13 November, lima tahun yang lalu, setelah malam panas yang mengubah seluruh garis hidupnya.

Devran menyandingkan kedua sapu tangan itu di atas telapak tangannya.

Kedua kain itu memiliki tekstur sutra dari produsen yang sama. Warna dasarnya sama.

Dan yang paling mengejutkan, sulaman inisial huruf A.K. dengan motif bunga lavender di sudut kedua sapu tangan tersebut memiliki pola jahitan tangan yang identik, gaya jahitan personal yang tidak mungkin bisa ditiru oleh mesin konveksi mana pun.

"Devran... apa yang kamu pegang itu?" tanya Alana, melangkah mendekat karena penasaran melihat perubahan drastis pada ekspresi wajah pria itu.

Devran mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata Alana dengan pandangan yang begitu intens, seolah-olah ia sedang menembus langsung ke dalam rahasia terdalam jiwa wanita itu. Ia mengangkat kedua sapu tangan tersebut ke hadapan Alana.

"Jelaskan padaku, Alana Kirana," desis Devran, suaranya bergetar menahan gejolak yang luar biasa besar di dadanya.

"Sapu tangan dengan sulaman lavender ini... ini adalah barang lama milikmu yang tertinggal di dalam kotak kenangan masa kecilku yang disimpan mendiang ibuku. Dan sapu tangan yang satunya lagi..." Devran menjeda kalimatnya, napasnya memburu.

"...adalah satu-satunya barang bukti yang ditinggalkan oleh wanita misterius yang menghabiskan malam bersamaku lima tahun lalu sebelum dia menghilang seperti asap."

Alana seketika membeku di tempatnya berdiri. Seluruh darah di tubuhnya seolah turun ke kaki, membuat wajahnya berubah pucat pasi dalam hitungan detik.

Matanya menatap lekat-lekat kedua kain sutra di tangan Devran. Itu adalah sapu tangan hasil sulaman tangan mendiang ibunya yang dihadiahkan kepadanya saat ia masih remaja, sebuah set berisi tiga sapu tangan yang sangat ia sayangi.

"D-Dari mana kamu mendapatkan sapu tangan yang itu, Devran...?" bisik Alana, suaranya nyaris tidak terdengar, sementara air mata mulai menggenang di pelupuk matanya karena rahasia terbesar yang ia sembunyikan selama lima tahun kini telah telanjang bulat di depan pria itu.

Devran maju satu langkah besar, mencengkeram lembut namun erat kedua bahu Alana, memaksa wanita itu untuk tidak berpaling.

"Aku yang seharusnya bertanya padamu, Alana! Jadi selama ini... wanita di malam lima tahun lalu itu... wanita yang selalu kurindukan dan kucari ke seluruh penjuru negeri ini... itu adalah kamu?!"

"Kamu adalah ibu kandung Leo, dan kamu juga adalah desainer yang malam itu menyerahkan segalanya kepadaku?!"

Alana tidak bisa lagi menahan beban kebenaran tersebut. Air matanya runtuh melewati pipinya, ia menggigit bibir bawahnya menahan isak tangis yang pecah di tengah keheningan kamar yang mencekam.

1
Rosa Santika
makasih kk
Icha Kolin
sangat bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!