NovelToon NovelToon
Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: fhadilah

Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

membuatnya takut

Tak lama kemudian, mobil Garendra memasuki halaman rumahnya.

Begitu mobil berhenti, ia segera turun. Langkahnya terlihat tenang seperti biasa, tetapi di balik wajah datarnya, hatinya tak sabar ingin memastikan keadaan seseorang yang sejak tadi memenuhi pikirannya.

Felisyah.

Tanpa membuang waktu, Garendra masuk ke dalam rumah, lalu menaiki tangga menuju lantai dua.

Langkahnya berhenti tepat di depan sebuah pintu.

Klik...

Pintu kamar terbuka perlahan.

Tatapan Garendra langsung tertuju pada sosok gadis yang sedang tertidur meringkuk di atas karpet.

Untuk sesaat, ia hanya berdiri memandanginya.

Senyum tipis perlahan terukir di bibirnya.

"Gadis keras kepala..." gumamnya lirih.

Padahal ranjang besar itu sudah disiapkan untuknya, tetapi Felisyah justru memilih tidur di lantai.

Garendra berjalan mendekat, lalu berjongkok di samping tubuh gadis itu.

Tatapannya tak lepas dari wajah Felisyah.

Meski tanpa riasan dan tampak lelah, wajah itu tetap terlihat begitu cantik. Kulitnya yang putih bersih, bibir mungilnya, serta wajah polos yang menyimpan begitu banyak luka membuat hati Garendra kembali terasa sesak.

Perlahan ia mengembuskan napas.

"Aku akan menunggumu, Felisyah," bisiknya pelan.

"Aku tidak ingin kamu menerimaku hanya karena sebuah kesepakatan. Aku ingin... suatu hari nanti kamu benar-benar mencintaiku dengan tulus."

Dengan sangat hati-hati, Garendra menyelipkan satu tangan di bawah lutut Felisyah dan tangan lainnya menyangga punggung gadis itu.

Perlahan ia mengangkat tubuh Felisyah ke dalam pelukannya.

Begitu ringan.

Seolah gadis itu tak pernah benar-benar merawat dirinya sendiri.

Garendra membaringkannya di atas ranjang dengan penuh kehati-hatian, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.

Ia kembali duduk di tepi ranjang.

Tatapannya tak pernah lepas dari wajah Felisyah.

"Kamu sudah terlalu banyak menderita..." gumamnya lirih.

"Mulai hari ini, biarkan aku yang melindungimu. Aku mungkin tidak bisa menghapus masa lalumu... tapi aku akan berusaha memberikan masa depan yang lebih baik."

Perlahan, tangannya mengusap lembut rambut Felisyah yang sedikit berantakan.

Senyum tipis kembali menghiasi wajahnya.

Tanpa sadar, tubuhnya ikut merunduk.

Ia berniat mengecup pelan ubun-ubun gadis itu sebagai ungkapan kasih sayang yang selama ini hanya ia pendam.

Namun...

Bulu mata Felisyah bergerak.

Perlahan kedua matanya terbuka.

Begitu melihat wajah Garendra yang begitu dekat dengannya...

"AAAAAA...!"

Felisyah menjerit sekeras-kerasnya.

Garendra sontak mundur beberapa langkah.

Ia benar-benar terkejut melihat reaksi Felisyah yang begitu ketakutan.

Dua tangannya perlahan terangkat, seolah ingin menunjukkan bahwa ia tidak akan melakukan apa pun.

Tatapan Felisyah justru semakin dipenuhi rasa takut.

Dengan tangan gemetar, ia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, menyisakan wajahnya yang pucat.

"Mau apa kamu di sini?" tanyanya dengan suara bergetar.

Tatapan itu...

Tatapan penuh ketakutan yang tertuju padanya membuat dada Garendra terasa sesak.

Ia tak pernah berniat menyakiti Felisyah.

Namun, tanpa sadar tindakannya justru membuat gadis itu semakin takut.

"Maafkan aku..." ucap Garendra lirih.

"Aku sudah terlalu lancang."

Felisyah memalingkan wajahnya.

"Pergi..." bisiknya pelan.

"Aku nggak mau melihatmu di sini."

Kalimat itu bagaikan pisau yang menusuk hati Garendra.

Ia menatap Felisyah beberapa saat.

Ada penyesalan yang begitu jelas di kedua matanya.

"Aku benar-benar membuatnya takut..." batinnya.

"Maafkan aku, Felisyah," gumamnya lirih.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, Garendra berbalik dan melangkah keluar dari kamar.

Ia memilih pergi.

Bukan karena menyerah...

Melainkan karena sadar, saat ini Felisyah membutuhkan ruang untuk menenangkan dirinya.

Klik...

Pintu kamar kembali tertutup rapat.

Garendra tidak langsung pergi.

Ia hanya berdiri di balik pintu, lalu perlahan menyandarkan punggungnya pada dinding. Kedua tangannya mengepal kuat, sementara tatapannya terus tertuju pada pintu kamar yang baru saja ia tinggalkan.

Ia mengembuskan napas panjang.

"Apa yang sudah aku lakukan..." gumamnya lirih.

Perlahan ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan.

"Kamu harus sadar, Garendra... dia belum menerimamu."

Kalimat itu seolah menjadi pengingat bagi dirinya sendiri.

Felisyah bukan wanita yang bisa langsung menerima kehadiran orang lain di hidupnya. Luka yang selama ini ia pendam terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dalam hitungan hari.

Garendra memejamkan mata sesaat.

Bayangan tatapan takut Felisyah kembali terlintas di benaknya.

Tatapan itu membuat dadanya terasa sesak.

"Maafkan aku, Felisyah," bisiknya pelan.

"Aku terlalu terburu-buru."

"Aku janji... lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi."

Setelah menenangkan diri, Garendra akhirnya melangkah pelan meninggalkan depan kamar itu.

Ia berhenti di pintu kamar yang berada tepat di sebelahnya.

Itu adalah kamar pribadinya.

Sejak awal, ia memang sengaja menyiapkan kamar terpisah untuk Felisyah. Bukan karena tidak menginginkannya berada di sisinya, melainkan karena ia ingin menghargai perasaan gadis itu.

Baginya...

Mendapatkan kepercayaan Felisyah jauh lebih penting daripada memaksakan status mereka sebagai suami istri.

Dengan pikiran yang masih dipenuhi rasa bersalah, Garendra pun masuk ke kamarnya sendiri.

Di dalam kamar, suasana kembali hening.

Felisyah masih memandang pintu yang baru saja tertutup.

Tatapannya kosong.

Entah sudah berapa lama ia hanya diam tanpa bergerak.

Perlahan, ia menurunkan selimut yang sejak tadi dipeluk erat.

"Felisyah... apa yang sudah kamu lakukan?" gumamnya lirih.

Air mukanya dipenuhi penyesalan.

Ia tahu Garendra tidak melakukan hal buruk. Bahkan pria itu langsung meminta maaf dan pergi ketika melihat dirinya ketakutan.

Namun...

Ia juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri.

Setiap kali seseorang tiba-tiba mendekatinya, tubuhnya selalu bereaksi lebih dulu daripada pikirannya.

Rasa takut itu datang begitu saja.

"Aku nggak punya hak mengusirnya..." bisiknya pelan.

"Ini rumahnya... bukan rumahku."

Felisyah memejamkan mata.

Dadanya kembali terasa sesak.

"Apa aku sudah keterlaluan? Apa aku terlalu egois?"

Pertanyaan demi pertanyaan terus menghantui pikirannya.

"Bukankah ini pernikahan yang sudah kamu setujui, Felisyah? Ayah sudah sadar... tujuanmu sudah tercapai. Tapi kenapa kamu masih belum bisa menerima kenyataan bahwa sekarang kamu adalah seorang istri?"

Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya.

Ia merasa tidak adil terhadap Garendra.

Pria itu selalu memperlakukannya dengan baik.

Namun, ia sendiri belum mampu membuka pintu hatinya.

Bukan karena membenci Garendra...

Melainkan karena ia masih terlalu takut untuk kembali mempercayai seseorang.

Lalu pikirannya kembali dipenuhi kecemasan lain.

"Bagaimana kalau keluarga Garendra tidak menerimaku? Bagaimana kalau mereka menghina dan mengusirku? Apa aku benar-benar sanggup menghadapi semua itu... atau sebaiknya aku pergi sebelum semuanya menjadi lebih rumit?"

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.

Malam itu...

Bukan hanya Garendra yang sulit memejamkan mata.

Felisyah pun terjebak dalam pergulatan batinnya sendiri.

1
Alia Chans
Hadir thor, like + bunga🌹
semangat✍️😉
fhadilah: Masha Allah, makasih 😍😍komentar pertama.. bkn hsru😍🙏🙏makasih sayang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!